Monday , November 18 2019
Home / Ensiklopedia / Analisis / Inkarnasi Ideologi

Inkarnasi Ideologi

capture-20130513-125725Penulis : Ghuzilla Humeid-Network Associate Global Future Institute

Adalah keniscayaan, tatkala setiap makhluk di alam semesta ini ingin menjadi manusia. Dan suatu kepastian pula bahwa keinginan mulia tersebut semata-mata disebabkan kesempurnaan manusia itu sendiri. Konon bangsa siluman, gondoruwo, wewe gombel, jin bahkan setan alas pun berharap menjadi manusia.

Ia (manusia) itu berakal-budi, berbudaya, beristri cantik, punya mobil bagus, jabatan empuk dan seterusnya, serta juga sering mendapat award politis, gelar akademis atau simbol-simbol lainnya.

Begitu dahsyat dorongan hasrat hati dan keinginan makhluk-makhluk tadi, ketika dilakukan riset oleh seorang ilmuwan dari Barat berbuah hipotesa: “manusia itu berasal (evolusi) dari seekor kera”. Itulah Teori Darwin.

Sekian dasawarsa kemudian, muncul fenomena uniq dengan pola kebalikannya. Gejala uniq tersebut boleh diletakkan sebagai anti tesis atau semacam counter atas teori tadi. Akurasi keilmiahannya mungkin agak rendah,atau barangkali setingkat, dan bisa jadi selangkah lebih canggih daripada teori (kera) Darwin.

Kecenderungan kuat manusia kini berkeinginan, berhasrat bahkan berproses menjadi binatang. Luarbiasa. Mau jadi hewan mana saja, jenis binatang apa saja. Tak masalah. Inilah yang disebut Inkarnasi Ideologi. Hampir tiap-tiap diri, keluarga, kelompok, golongan bahkan berbagai komunitas di dunia mencerminkan geliat seperti itu.

Misalnya, ketika free sex dianggap trend dan dinikmati sebagai gaya hidup di berbagai lapisan sosial masyarakat. Lihatlah! Ketika kaum agama, para birokrat, pejabat hingga penjahat dan para penjahitnya menonton kawin cerai sebagai komoditi menarik.

Laksana selebritis kampungan, aurat yang wajib ditutup rapat justru dipamerkan guna meraih popularitas. Demi profesionalisme, maka etika dan tata krama boleh ditanggalkan. Alasan pembenar diri ialah tuntutan profesi. Dampaknya seperti ayam: cucuk sana cucuk sini, crat-crut disini dan disitu. Intinya bingung, berebut beras dengan cara kurang waras!

Banyak yang suka memakan bangkai — sumber segala penyakit — daripada santapan segar. Bangkai itu jelas barang haram. Ketika input yang ditelan penyakit, sudah tentu output (perilaku)-nya mirip orang sakit (tak waras). Garbage in garbage out – sampah masuk sampah pula keluar.

Dalam konteks nyata, lelaku menipu, berzina, membuat luka sesama, seperti lumrah-lumrah saja. Bahkan membunuh dan merampok uang negara dianggapnya biasa. Demikianlah ideologi pemakan bangkai.

Contoh inkarnasi babi adalah — apa saja dimakan — sampai kotoran-kotoran pun tuntas disikatnya. Tak bersisa. Dalam legenda Tiongkok kuno, kisah siluman babi tidak digambarkan seganas itu, akan tetapi inkarnasinya kenapa menjelma sosok tak berperasaan?

Atau menjelma monyet — serakah –. Perhatikan tata cara makannya. Belum habis dimulut sudah menelan lagi. Meskipun kedua tangannya menggenggam jajanan, kaki kiri kanan tak mau ketinggalan. Ideologi ini banyak dianut kalangan borjuis atas nama individualis, kapitalis serta entah ‘as-is-as-is’ apalagi. Barangkali, Sun Gho Khong bakal menangis melihat refleksi jati dirinya.

Ada yang menjadi kuda. Jalannya kencang tapi ditumpangi majikan. Inginnya dilecuti seperti pecundang. Digelari pendekar dari negara seberang, namun dicap pengkhianat oleh bangsanya sendiri. Itu yang kini banyak terjadi. Demi sedikit harta dan takhta, si pecundang rela menjual borok negaranya kepada (majikan) bangsa luar.

Sementara yang menjadi kambing — pemalas — kerjanya mengembik (meminta). Polah-tingkahnya monoton dari itu ke itu saja. Inkarnasi ini sering diterapkan sebagian aparat juga rakyatnya. Maunya ongkang-ongkang setiap bulan dapat setoran. Dipelihara baik-baik oleh si Bos, setelah besar disembelih layaknya hewan korban.

Tayangan diatas bila dipotret pada jajaran Kabinet dan DPR ‘gotong royong’, begitu banyak saksi beragam bukti. Gotong artinya korupsi bersama atau berjamaah. Royong itu bokong sing dioyong-oyong (ma’af : pantat yang dibawa-bawa). Sudah seringkali kejadian dimana-mana. Baik di pusat apalagi daerah. Hasil korupsi berjamaah cuma untuk hura-hura, main narkoba dan “oyong-oyong” pantat wanita. Istilahnya duit setan dimakan jin. Edan.

Akhirnya para wakil rakyat dan pejabat negara cenderung berpola eksklusif kepada partisannya. Menjaga jarak dengan masyarakat pemilih yang seharusnya diayominya. Pada gilirannya ‘gotong royong’ seperti anjuran dokter: empat sehat lima sempurna. Semua boleh diembat asal bisa mengaturnya. Gila!

Inilah wilayah manakala sekularisasi dibiarkan bebas kian-kemari, sementara tuntunan-Nya hanya boleh bergerak di lorong privacy. Lalu sekularisme mengklaim diri sebagai ajaran modernisasi.

Beginilah teritori ketika hiruk-pikuk demokrasi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Memperkaya diri. Tak sedikit partai politik dibuat alat guna mengkavling provinsi – menjual ibu pertiwi, bukannya untuk berjuang mencapai kesejahteraan bangsa ini.

Persoalannya: siklus apa bakal terjadi, jikalau inkarnasi ideologi ini mewabah di suatu negeri. Ibarat berpesta di pinggir jurang, sekali gempa bergoyang, berbondong-bondong mati. Ya, bahasa Qur’annya ibarat orang yang sholatnya ditepian, mudah tergelincir, mudah jatuh.

Jayabaya bilang: kita seperti ditawari “Endang Sulastri”. Endang maksudnya diendang-endeng (dibawa-bawa). Sulastri ialah kebaikan yang abadi. Maka yang dijinjing serta terjadi dimana-mana adalah Multi Level sebagai konsep bermerek globalisasi. Dijajakan menarik hati dengan modus dan format berwarna-warni.

Multi level dianggap berbagai kalangan, mampu membawa kebaikan (abadi) sesungguhnya. Kedoknya atas nama solidaritas dan rasa kebersamaan. Padahal cuma segelintir orang diuntungkan. Ia adalah konsep “abal-abal” penggiring hancur moral, sekaligus kebangkrutan harta benda umatnya.

Manakala dengan bangga kita menerima ideologi ke-gotong royong-an; atau secara gempita menyambut Endang Sulastri. Silahkan prediksi apa yang akan terjadi. Retorikanya: adakah nusantara ini salah urus, atau pertanda negara gatot koco (gagal total kakean cocot)? Atau NATO, No Action Talk Only.

Kakean cocot maksudnya banyak bicara. Maknanya tidak mengerti situasi. Implementasinya sangat marak demontrasi tetapi seringkali ditunggangi. Berjuang sampai mati namun tidak paham substansi. Tanpa disadari reformasi mencabik-cabik negara sendiri. O, betapa riskan kepak sayap’garuda’-ku ini. Terbangnya jauh tinggi, namun kemana arahnya tak pasti.

Itulah cerita inkarnasi ideologi, sebagai renungan di malam sunyi.

Terimakasih.

http://www.theglobal-review.com

About admin

Check Also

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik

Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ...