Tuesday , December 18 2018
Home / Ensiklopedia / Fenomena / Indonesia Krisis Ulama, Banyak Terjun ke Dunia Politik

Indonesia Krisis Ulama, Banyak Terjun ke Dunia Politik

JAKARTA – Ini menjadi peringatan bagi umat Islam di Indonesia. Sebab, saat ini umat muslim di negeri ini sedang mengalami krisis ulama. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni kemarin (5/4).

Dia menegaskan, masa depan perkembangan agama Islam di negeri ini terancam menurun. ”Ulama-ulama kita semakin habis. Padahal, ulama-ulama inilah penerus nabi. Kita harus bergerak cepat,” tandas Menag dalam sambutannya pada Haul Al Marhumin, Sesepuh dan Warga Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.

Krisis ulama itu sangat ironi dengan kondisi negeri ini sekarang. Sebab, banyak persoalan keumatan yang sedang dihadapi bangsa ini. Di antaranya, peredaran narkoba, maraknya perselingkuhan, dan kasus korupsi. ”Sekarang semua itu sepertinya menjadi hal yang biasa sehingga harus dijawab dengan pendidikan oleh ulama,” tambah Menag.

Krisis ulama itu terjadi menyusul banyaknya ulama yang berpindah profesi. Ada kecenderungan para ulama terjun ke dunia politik, termasuk bergabung menjadi anggota DPR, DPD, dan politikus. Solusinya? Maftuh berharap, fungsi pondok pesantren dikembalikan seperti pada masa lampau. Para pesantren diproyeksikan untuk bisa memproduksi ulama-ulama baru yang berkualitas.

”Saya mohon dengan sangat, saya tahu persis bahwa di sejumlah pondok masih banyak kiai yang potensial. Saya melihat ada potensi yang luar biasa,” jelasnya. Menag menggambarkan bahwa pada masa lampau, santri dan kiai memiliki peran yang cukup luar biasa. Sayang, setelah itu peran mereka mulai dinafikan.

Pemberontakan 1948 oleh PKI juga menelan korban terbanyak dari kalangan santri. ”Pada 1965 kita juga demikian, 1966 juga demikian, kita mempunyai peran yang sangat besar. Namun setelah selesai, kita kembali menjadi penonton yang baik,” tegasnya.

Secara terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan bahwa kecenderungan ulama untuk berpolitik adalah baik. Dia lantas mencontohkan bahwa pada dasarnya generasi ulama pendahulu seperti KH Hasyim Asyari adalah seorang negarawan dan politisi yang hebat. ”Tapi tentunya ketika berpolitik, maka para ulama harus tetap membawa nama baik Islam dan tentunya berpolitik santun,” terang dia.

MUI selama ini telah memiliki program untuk mendorong regenerasi lahirnya ulama-ulama di Tanah Air. Bahkan, program itu telah dijalankan dengan berkoordinasi dengan para ulama di daerah dan pondok pesantren.

Namun, dia mengakui produk ulama masa depan yang menonjol dan memiliki bidang keahlian tertentu di negeri ini memang masih belum tampak. ”Tapi kami optimis bahwa generasi ulama masa depan pasti akan lahir karena bagaimanapun sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia tentu itu adalah sebuah keniscayaan,” pungkasnya.(zul/iro)

Source : Jawa Pos, Quantum Ilahi

About admin

Check Also

Meraba Konflik Umat Beragama

Oleh Alamsyah M. Dja’far  “Membicarakan agama, bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi juga cukup nyali.” ...