Saturday , July 21 2018
Home / Berita / Indonesia, Dari Namanya Tidak Mandiri

Indonesia, Dari Namanya Tidak Mandiri

Indonesia, Dari Namanya Tidak Mandiribahan-bahan tentang nama Indonesia diambil dari berbagai tulisan di internet, antara lain dari Wikipidea dan Sejarah Nama Indonesia, madita18.worpress.com, 3.3.2014)

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, sukakah jika kita disebut sebagai bagian atau pun kepanjangan orang lain? Tentu tidak. Tapi itulah kenyataannya dengan arti dan makna nama Indonesia. Indonesia itu artinya adalah Kepulauan India. Jadi bagian dari India, bagian dari bangsa lain.

 

Memang “apalah arti sebuah nama?” Begitu pertanyaan Juliet Capulet kepada Romeo Montague dalam drama termasyhur karya sastrawan dunia William Shakespeare (dibaptis 1564 – wafat 1616).

Adalah George Samuel Windsor Earl (1813 – 1865), yang pertama kali mencetuskan nama Indonesia, lantaran ia tidak suka nama kepulauan yang sekarang kita sebut Indonesia ini, diangap sebagai bagian dari India (Hindia). Di masa itu, ada sejumlah sebutan untuk kepulauan kita yaitu Indian Archipelago, Indische Archipel, Oost Indie, East Indies, Indes Orientales dan Nederland Indie.

Semuanya menyatakan keterkaitan kita dengan India. Maka pada tahun 1850 ia menulis dalam “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA: Jurnal Kepulauan India dan Asia Timur), “Sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas. Sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain.”

George Samuel Windsor Earl mengajukan dua pilihan nama yaitu Indunesia dan Malayunesia. Nesia dari bahasa Yunani yang berarti pulau. Nesia juga sama artinya dengan nusa. Dari dua nama tersebut Earl lebih memilih Melayunesia dari pada Indunesia, yang juga tetap berarti Kepulauan Hindia.

Lagi pula, bahasa Melayu telah dipakai secara cukup meluas di kepulauan tersebut. Pada hematnya Melayunesia lebih tepat untuk nama ras Melayu. Sedangkan Indunesia memiliki cakupan wilayah dan ras yang berbeda yang meliputi Ceylon dan Maldives (Maladewa).

Menanggapi usulan tersebut, James Richardson Logan, perintis dari jurnal JIAEA, memilih kata Indunesia, tapi huruf u diganti dengan huruf o, supaya ucapan dan kedengarannya lebih enak. Semenjak itu sebagai penguasa jurnal ia sering menggunakan nama Indonesia.
Pada tahun 1884, Guru Besar Etnologi pada Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905) menerbitkan buku “Indonesien Order die Inseln des Malayischen Archipel” (Indonesia atau pulau-pulau di Kepulauan Melayu). Tulisan Bastian ini sangat populer di Belanda dan juga di kalangan pemuda-pemuda kita yang sedang belajar dan atau sedang dibuang ke negeri Belanda, terutama Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantoro).

Tahun 1913 Ki Hajar mulai mempopulerkan nama Indonesia tersebut dengan mendirikan Indonesische Pers Bureau (Biro Pres Indonesia). Namun demikian pada saat itu beliau juga memperkenalkan nama Nusantara sebagai alternatif.

Sementara itu pada tahun 1939, ahli bahasa Purwodarminto menerbitkan Kamus dan mengusulkan nama Nusantara yang berasal dari Bahasa Kawi sebagai nama untuk kepulauan Indonesia.

Menjelang berakhirnya Perang Pasifik, nama Nusantara sempat populer di semenanjung Melayu, sebagai aliternatif untuk nama rumpun bangsa Melayu yang tersebar, membentang luas dari semenanjung sampai ke pulau-pulau yang jauh.

Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Dalam Kamus Bahasa Jawa Kuno – Indonesia karya PJ Zoetmulder, ada 3 arti dari kata antara. Pertama, jarak, jarak waktu, apa yang ada diantara. Kedua, lain, yang lain, berbeda. Ketiga, seluruh daerah-wilayah-lapangan. Jadi nusantara berarti : (1) kepulauan di anatara dua benua; (2) seluruh daerah kepulauan; (3) pulau-pulau yang lain.

Kini jelas bagi kita perbedaan makna antara Indonesia dan Nusantara. Indonesia adalah berarti kepulauan Hindia. Dengan memakai nama itu, maka kita ini hanyalah sekedar kepanjangan dari anak benua Hindia. Nama itu juga bukan orisinal, asli karya anak bangsa sendiri, namun hadiah nama dari George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan. Secara maknawi, kita ini tidaklah siapa-siapa, kecuali hanya bagian dari “wilayah dan bangsa lain”.

Sebagai kepanjangan, maka ya wajarlah jika selama ini kita tidak mandiri, hanya sekedar jadi obyek dari bangsa lain, bahkan dari kekuatan global. Karena memang dari namanya saja sudah tidak mandiri. Beda halnya bila kita pakai nama yang orisinal sebagaimana nama pilihan yang sempat dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantoro dan diusulkan oleh ahli bahasa Purwodarminto, yaitu Nusantara. Apalagi jika ditambah menjadi Nusantara Raya.

Tapi memang tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan sudah hampir seumur hidup. Lagi pula, ada saja yang mengutip pertanyaan Juliet di atas, apalah arti sebuah nama?

Bagi saya, banyak sekali artinya. Nama itu identitas kebanggaan, yang bisa menunjukkan sifat dan juga sekaligus doa serta harapan.

Sebagai orang Islam, tentu tidak mau kita dipanggil dengan sebutan Abu Lahab atau Abu Jahal, musuh-musuh Kanjeng Nabi Muhammad. Sebagai orang Jawa, saya senang dengan pemakaian nama binatang untuk nama orang seperti Gajah, Singa, Elang, Mahesa dan Danu yang melambangkan keperkasaan. Tapi saya tidak suka dengan nama Asu, Bajul, Ulo, Kadal, Monyet yang berkonotasi dengan keburukan dan kelicikan. Demikian pula doa dan harapan yang terkandung dalam sebuah nama. Bagaimana mungkin setiap saat kita mendoakan dan mengharapkan kejayaan Indonesia atau Kepulauan India, yang berarti doa dan harapan bagi kejayaan wilayah dan ras bangsa lain?

Dengan nama NusantaraRaya, kita membayangkan dan berdoa bagi kejayaan sebuah bangsa maritim, yang memiliki pagar halaman di lautan nan luas di sepanjang Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE), yang betul-betul menguasai dan mensyukuri berkah lautan dengan aneka produk dan industri maritimnya, menguasai industri dan armada-armada laut khususnya angkutan antar pulau, mendayagunakan garis equatorial sebagai garis penginderaan.

NusantaraRaya tidak lagi mengenal istilah pulau-pulau terluar, apalagi pulau-pulau terpencil, karena sebagaimana sebuah rumah, maka pagar halaman kita adalah ZEE itu. Daratan dan pulau-pulau adalah bangunan-bangunan serta kamar-kamar di dalam pekarangan rumah kita yang luas, asri nan makmur sejahtera.

Kita dan anak cucu akan selalu bangga menyanyikan “Nenek-moyangku Orang Pelaut”, sebagaimana keturunan orang-orang Viking membanggakan leluhurnya, sebagaimana orang-orang Cina bangga manjadi orang Cina.

Sungguh, lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, bukanlah khayalan semata. Mengenai kemampuan nenek moyang kita bangsa Nusantara pada umumnya dalam menguasai teknologi perkapalan, banyak fakta sejarah yang membuktikan. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, dengan mengutip berbagai sumber tulisan dari Barat, menguraikan betapa pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ke-3 Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Beberapa tahun yang lalu, ahli-ahli perkapalan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi, juga telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya dan melayarkannya dari Bali ke Madagaskar dengan selamat.

Pencatat sejarah Cina anak buah Fa Hsien di akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya 200 kaki (65 meter), tingginya 20 – 30 kaki (7 – 10 meter), dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou.

Sementara pada masa itu, panjang jung Cina terbesar tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu. Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt.R.P.Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halamam 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai pulau Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (Atlas Walisongo halaman 20).

Gambaran tentang kemampuan nenek moyang kita tadi, dicatat pula oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit , oleh Prof.Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Sejarah panjang peradaban Jawa dan juga daerah-daerah lain di Nusantara, banyak dikupas oleh para penulis sejarah asing, yang daftar rincian penulis tersebut sekarang ini bisa dilihat antara lain di buku Atlas Walisongo, yang diterbitkan oleh Pustaka IIman, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012.

Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya saling mengenal dan saling berlomba mengerjakan kebaikan, menganugerahkan kita bangsa negeri kepulauan Nusantara ini ampunan dan pertolongan, sehingga kita bisa bangkit menjadi makmur sejahtera sebagai suatu bangsa dengan rahmat dan berkah-NYA. Aamiin.

Depok 3 Maret 2014.

About admin

Check Also

Peristiwa dipecatnya Khalid bin Walid untuk Kedua Kali

KHALID bin Walid kembali diuji dengan pemecatannya yang kedua. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 17 H.[1] ...