Thursday , October 18 2018
Home / Berita / Internasional / Indikasi Pemicu Kejatuhan Saudi dan Wahabi

Indikasi Pemicu Kejatuhan Saudi dan Wahabi

Pada pertengahan abad ketujuh belas, Muhammad bin Abdul Wahab pendiri sekte Wahabi dan Muhammad bin Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi menyepakati kerja sama saling dukung. Berdasarkan kesepakatan tersebut, rezim Al Saud berkomitmen untuk menyebarkan ajaran Wahabi, dan sebaliknya para pemimpin sekte ini mendukung pemerintahan Arab Saudi. Oleh karena itu, kuat atau lemahnya ajaran Wahabi sangat bergantung kepada pemerintahan despotik Al Saud.

Selama beberapa dekade, pendapatan negara Arab Saudi dari hasil penjualan minyak sebagian digelontorkan untuk mendukung penyebaran ajaran Wahabi. Salah satu hasilnya adalah kemunculan kelompok ekstrem takfiri dan teroris seperti: Al-Qaeda, Taliban, Front Al-Nusra, ISIS, Boko Haram dan lainnya.Tapi, para analis berkeyakinan bahwa indikasi kejatuhan rezim Al Saud semakin dekat, dan dampaknya, Wahabi pun berada diambang kehancurannya.

Salah satu faktor penyebab menurunnya pamor Arab Saudi dan Wahabisme di kawasan dan dunia adalah intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain. Dukungan  terhadap kelompok teroris takfiri yang beroperasi di berbagai negara dunia, terutama di Irak dan Suriah merupakan contoh jelas kebijakan interventif pemerintah Arab Saud.

Rezim Al Saud mengira dengan menggelontorkan bantuan finansial, militer, politik dan propaganda media terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri akan bisa memainkan peran besar di Irak dan Suriah. Tapi faktanya, tidak ada negara manapun di dunia yang menerima intervensi militer asing di wilayah teritorialnya, apalagi menggunakan tangan kelompok teroris haus perang seperti ISIS. Kini, Arab Saudi yang menjadi pendukung utama kelompok teroris takfiri seperti Front Al-Nusra dan Al-Qaeda semakin tercoreng citranya di hadapan publik dunia, terutama rakyat dan pemerintah negara-negara kawasan.

Sepak terjang brutal  dan aksi-aksi kekerasan yang dilancarkan kelompok teroris takfiri di Suriah dan Irak memiliki akar dalam ajaran Wahabi.Tampaknya, fanatisme sektarian, kejumudan dan kekerasan menjadi karakteristik yang tidak bisa dipisahkan dari wahabisme, dan anggota kelompok takfiri memiliki karakteristik tersebut.

Meskipun pemerintah Saudi dan sebagian ulama Wahabi mengecam ISIS karena pertimbangan politik dan tekanan opini publik dunia. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ISIS adalah metamorfosis kelompok takfiri Wahabi yang kelahirannya didukung oleh rezim Al Saud.

Rezim Al Saud tidak puas hanya dengan melakukan intervensi militer tidak langsung di sejumlah negara. Lebih dari itu pemerintah Arab Saudi terang-terangan melancarkan agresi militer demi meraih tujuan ilegalnya di negara target. Sejak awal meletusnya kebangkitan rakyat Bahrain yang memperjuangkan kebebasan, demokrasi dan kesetaraan pada Februari 2011, Arab Saudi telah mengerahkan pasukannya untuk membantu rezim Al Khalifa memberangus protes rakyat Bahrain. Aksi militer rezim Al Saud tersebut tidak bisa dilepaskan dari corak pemikiran jumud Wahabisme yang menolak kebebasan dan demokrasi.

Lebih dari itu, Arab Saudi juga melancarkan agresi militer di Yaman yang menewaskan ribuan orang dan menghancurkan infrastruktur negara tetangganya tersebut. Dengan bantuan antek-anteknya di Yaman, rezim Al Saud berupaya menanamkan pengaruhnya di negara Arab itu. Tapi agresi Saudi tersebut mendapat perlawanan dari gerakan rakyat dan militer Yaman yang membela negaranya dari agresi musuh.

Ketika agresi militer awal Arab Saudi di Yaman dilancarkan tujuh bulan lalu, Riyadh mengira akan berhasil menguasai negara tetangganya itu selama sebulan.Tapi fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Kecanggihan peralatan militer Arab Saudi gagal melumpuhkan tekad baja rakyat Yaman. Para analis politik menilai intervensi langsung maupun tidak langsung yang dilakukan rezim Al Saud di sejumlah negara menunjukkan ketidakmampuannya memberikan pengaruh politik dan budaya di negara lain. Oleh karena itu jalan militer dan kekerasan dipilih oleh rezim Al Saud sebagai opsinya.

Intervensi militer Arab Saudi di negara lain dan posisinya yang semakin terdesak menyebabkan rezim Al Saud mengambil jalan menikung dengan meminta bantuan rezim Zionis Israel. Di Suriah, jet-jet tempur Israel menyerang militer Suriah yang sedang berperang dengan kelompok teroris dukungan Saudi.Tidak hanya itu, Israel juga mengobati milisi teroris takfiri yang terluka dalam pertempuran menghadapi militer Suriah.

Ketika agresi militer Arab Saudi dilancarkan di Yaman, Riyadh meminta bantuan Israel, terutama penasehat militer yang diterjunkan untuk membantu rezim Al Saud. Selama beberapa tahun terakhir, Arab Saudi tidak lagi menjadikan Israel yang terus-menerus membantai Palestina, sebagai musuhnya. Bahkan, Riyadh menyatakan bahwa Republik Islam Iran sebagai musuh yang lebih berbahaya dari Israel. Pembantaian rakyat Yaman yang dilakukan rezim Al Saud dengan dukungan Israel menunjukkan bahwa propaganda Wahabi sebagai front penentang Zionis hanya sekedar isapan jempol belaka.

Masalah lain yang memicu keterpurukan Arab Saudi dan berdampak juga terhadap Wahabi adalah kondisi ekonomi yang memburuk. Bantuan persenjataan dan finansial terhadap kelompok teroris takfiri, dan berlanjutnya perang berbiaya besar di Yaman tidak diragukan lagi mengeruk kocek anggaran Arab Saudi yang bergantung terhadap minyak.

Pada saat yang sama, Riyadh melakukan kesalahan strategis lebih dari setahun lalu dengan mengerek turun harga minyak di pasar global demi menekan Iran dan Rusia. Kebijakan tersebut menjadi bumerang bagi Arab Saudi sendiri, karena negara ini sangat bergantung pendapatannya dari penjualan minyak. Kerugian yang diderita Arab Saudi akibat anjloknya harga minyak global  melampaui 85 miliar dolar. Hal tersebut berdampak terhadap anggaran belanja negaranya.

Di dalam negeri sendiri, Arab Saudi menjadi arena pertarungan perebutan kekuasaan antarpangeran yang semakin memanas belakangan ini. Raja Salman bin Abdul Aziz saat ini memiliki masalah dengan kondisi fisiknya yang sudah tua. Pertarungan siapa yang akan menggantikannya semakin sengit terutama di kalangan cucu Abdul Aziz, pendiri rezim Saudi. Salah satu Imbas dari perebutan kekuasaan ini adalah naiknya orang-orang yang tidak layak menempati pos-pos strategis, termasuk menteri pertahanan. Masalah tersebut menyebabkan kejatuhan rezim Al Saud semakin dekat. Perang Yaman dan tragedi Mina menunjukkan bukti lemahnya kredibilitas para pejabat tinggi Arab Saudi.

Masalah lain yang membayangi Arab Saudi adalah tuntutan rakyat yang menyuarakan hak legalnya yang selama ini diberangus oleh rezim Al Saud. Pemerintah despotik Saudi memilih kepala pemerintahan bukan berdasarkan keinginan rakyatnya, tapi ditentukan oleh kelompok tertentu. Ajaran fanatik Wahabi memperburuk situasi di negara monarki itu dengan munculnya aturan-aturan yang membatasi kebebasan sipil, terutama terhadap perempuan seperti larangan mengemudikan kendaraan dan lainnya.

Mekipun saat ini rezim Al Saud berhasil memberangus protes damai rakyat yang menuntut kebebasan, demokrasi dan hak legal lainnya, tapi cepat atau lambat suara protes itu bisa menjadi bola salju yang terus menggelinding kencang dan membesar. Ajaran Wahabi yang diadopsi sebagai mazhab resmi Arab Saudi selama ini menjadi pemicu tekanan terhadap Syiah yang dianut oleh sebagian warga Saudi. Orang-orang Syiah yang sebagian besar berada di wilayah timur Arab Saudi mengalami diskriminasi dan pembatasan ketat dari aspek lapangan kerja, pendidikan, dan aktivitas sosial.

Mereka melancarkan protes damai menyikapi diskriminasi yang dilakukan pemerintah Saudi. Alih-alih mendengarkan suara protes rakyatnya sendiri, rezim Al Saud justru meningkatkan tekanan terhadap Muslim Syiah, bahkan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Sheikh Nimr Baqir Al-Nimr. Vonis tidak adil yang dijatuhkan pengadilan Saudi terhadap ulama Syiah itu memicu protes luas bukan hanya dari Arab Saudi saja, tapi juga datang dari negara-negara Barat yang selama ini mendukung kebijakan Riyadh.

Rangkaian masalah tersebut mengindikasikan kejatuhan rezim Al Saud semakin dekat. Bersamaan dengan itu, ajaran Wahabi pun yang semakin deras ditentang oleh para tokoh masyarakat, politisi dan pemimpin agama negara-negara dunia dan pengaruhnya kian hari semakin memudar. (IRIBIndonesia/PH)

About admin

Check Also

Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global

Jika pada Perang Dingin kehadiran dan peran negara-negara besar di Asia Pasifik banyak dipengaruhi oleh ...