Friday , June 22 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Imam Husein as dan Yazid bin Muawiyah, Dua Kutub yang Saling Menafikan

Sejak awal manusia menginjakkan kakinya di muka bumi, tidak ada peristiwa seperti peristiwa Karbala. Di dalam peristiwa Karbala terjadi perlawanan antara manusia-manusia suci dan manusia-manusia kotor dan hina. Di dalam peristiwa ini, semuanya memiliki peran mulai dari laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja sampai yang lanjut usia pun. Ali Asghar yang masih berusia enam bulan pun tercatat sebagai syahid terkecil di dalam peristiwa Karbala. Habib bin Mazhahir yang usianya paling tua juga berhasil mencatat namanya dalam sejarah mulia ini. Abu Fadhl al-Abbas saudara lain ibu Imam Husein as dengan pengorbanannya setia mendampingi Imam sampai ke tetesan darah penghabisan. 

Imam Husein as dan Yazid bin Muawiyah, Dua Kutub yang Saling Menafikan

Pasca peristiwa Asyura, Yazid berkhayal telah mencapai kemenangan. Kemenangan khayalannya ini dirayakan dengan pesta pora dan mabuk-mabukan. Ditambah lagi dengan menawan, mengelilingkan dan memukuli keluarga Rasulullah Saw di depan mata umum. Semua ini dilakukan dalam upaya merendahkan keluarga Rasulullah Saw. Namun Yazid tidak tahu bahwa semua perilakunya ini telah berubah menjadi anak panah beracun yang menancap relung hati busuk pemerintahan Bani Umayyah.

Sejatinya Yazid belum merasakan kemenangan khayalannya tapi pada saat yang sama ia telah merasakan kepahitannya. Yazid tidak tahu bahwa darah Imam Husein as dan para sahabatnya telah menyirami dan menyegarkan kembali ajaran Muhammad Saw. Darah Imam Husein as telah menyadarkan dan mengangkat derajat umat Islam. Yazid lupa bahwa Allah Swt berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah jutru menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir membencinya.” (As-Shaf: 8)

Setelah peristiwa Karbala dan rombongan keluarga Rasulullah Saw sampai di Madinah, Ibrahim bin Thalhah bin Ubaidillah mencemooh Imam Ali bin Husein Zainul Abidin as seraya berkata, “Hai Ali bin Husein, siapakah yang menang di dalam perang ini?!”

Imam Ali Zainul Abidin dengan tegas menjawab, “Bila kau ingin tahu siapa yang menang, maka ketika masuk waktunya shalat, kumandangkanlah azan dan iqomat! (Kau akan mengetahui siapa yang menang).” (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal 177, hadis 27).

Dengan jawaban ini Imam Ali Zainul Abidin as ingin memahamkan bahwa tujuan Yazid adalah ingin memberangus Islam dan nama Muhammad Saw, namun gema “La Ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah” senantiasa terdengar di masjid-masjid Kufah bahkan di ibukota pemerintahan Yazid bin Muawiyah.

Bagaimana Yazid bin Muawiyah tidak ingin menghapus Islam dan nama Muhammad Saw? Sementara ia dilahirkan sebagai anak haram, dimana Maisun binti Bajdal Kalbi, ibu Yazid hamil dari seorang budak ayahnya. Peristiwa ini terjadi sebelum Maisun dinikahi oleh Muawiyah. Karena telah hamil terlebih dahulu, secara formal Muawiyah terpaksa mengakuinya sebagai anak kandungnya. Dalam kondisi hamil Maisun diceraikan dan dipulangkan ke kampungnya oleh Muawiyah sampai Yazid lahir. Yazid dibesarkan dikampung ibunya dan diasuh serta dididik oleh guru-guru Kristen karena keluarga ibunya beragama Kristen.

Para pembenci dan musuh keluarga Rasulullah Saw tidak lepas dari tiga golongan, boleh jadi munafik, anak zina atau anak yang pembuahan janinnya terjadi saat ibunya haid. Tiga golongan inilah yang membenci dan memusuhi keluarga Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw dalam sabdanya mengatakan, “Orang yang membenci keluargaku tidak lepas dari tiga golongan; munafik, anak zina atau anak yang pembuahan janinnya saat ibunya haid.”

Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Yang memusuhi kami Ahlul Bait as adalah anak zina atau anak yang pembuahan janinnya terjadi saat ibunya dalam kondisi haid.” (Mulla Muhammad Baqir Majlisi, Hilyah al-Muttaqin, hal.70).

Selain Yazid sebagai kasus nyata musuh dan pembunuh keluarga Rasulullah Saw yang lahir sebagai anak zina, Syimr bin Dziljausyan, Umar bin Saad dan Ubaidillah bin Ziyad juga tidak lepas dari ucapan Imam Ja’far Shadiq as, dimana mereka juga anak-anak zina yang jelas-jelas memerangi dan membunuh keluarga Rasulullah Saw.

Bagaimana Yazid bin Muawiyah tidak memutarbalikkan kebenaran menjadi kebatilan dan sebaliknya, sementara ia tidak pernah mengenyam pendidikan Islam. Yazid bukan saja tidak mengenal Islam, ia bahkan menentang dan memusuhi Islam. Oleh karena itulah ketika menjabat sebagai khalifah pasca Muawiyah, ia lebih memilih penasihat Kristen. Sikap-sikapnya senantiasa bertentangan dengan al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin kalian. Sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (al-Maidah: 51)

Yazid dilahirkan pada tahun 25 Hq dan terkenal sebagai pemuda bejat, suka foya-foya, penjudi, pemabuk, akrab bermain dengan anjing dan monyet.

Setelah syahadahnya Imam Husein as, Yazid menyelenggarakan pesta mabuk-mabukan dengan didampingi Ubaidullah bin Ziyad. Ia berpuisi, “Minumi aku secawan bir untuk mengeraskan tulang-tulang yang lunak ini! Kemudian minumi bir juga si fasik Ibnu Ziyad ini dengan cawan yang sama pula! Dialah penyimpan rahasiaku. Dialah penjaga amanat perbuatanku. Dialah yang menguatkan dan mengokohkan perbuatan dan fondasi kekuasaanku, yakni yang membunuh Husein bin Ali.” (Abu al-Hasan Ali bin HuseinMas’udi, Muruj al-Dzahab Wa Ma’adin al-Jauhar, terjemah Abu al-Qasim Paiband, jilid 2, hal. 71)

Antara Imam Husein as dan Yazid bin Muawiyah adalah dua sosok manusia suci dan manusia kotor. Mengenali kedua sosok manusia ini bisa memberikan kemampuan dan kepastian kepada kita untuk menilai dan memilih antara kebenaran dan kebatilan. Antara Imam Husein as dan Yazid bin Muawiyah bak dua kutub yang saling menafikan satu sama lainnya.

Untuk mengetahui keutamaan dan kelebihan keluarga Rasulullah Saw, bisa kita simak melalui khotbah Imam Zainul Abidin as yang disampaikannya di masjid Syam di hadapan Yazid dan orang-orang yang hadir pada saat itu. Khotbah Imam Zainul Abidin ini bak tsunami yang berhasil menghancurkan dan meluluhlantakkan pamor bani Umayyah. Khotbah yang membangkitkan perasaan dan tangisan orang-orang yang hadir di dalamnya.

Hari itu adalah hari Jumat. salah satu khatib bayaran Yazid naik mimbar dan memulai khotbahnya dengan mencaci maki Imam Husein as dan ayah-ayahnya. Mendengar hal itu Imam Ali Zainul Abidin dengan latang berkata, “Celakalah kau hai khatib! Kau telah membeli kerelaan makhluk dengan harga kemarahan pencipta. Kau telah menyiapkan tempatmu di neraka Jahannam.”

Sebenarnya Yazid tidak ingin Imam Zainul Abidin as naik ke mimbar karena ia tahu akibatnya adalah keruntuhan pemerintahannya. Karena paksaan orang-orang yang hadir akhirnya Yazid menginzinkan Imam Zainul Abidin as naik ke atas mimbar menyampaikan khotbahnya:

“Wahai Manusia, telah diberikan kepada kami enam keutamaan dan tujuh keistimewaan. Kami diberi ilmu, kesabaran, kedermawanan, kefasihan, keberanian dan kecintaan di hati orang-orang mukmin. Keistimewaan itu adalah Muhammad Saw, Shiddiq (Ali bin Abi Thalib), Thayyar (Ja’far bin Abi Thalib), singa Allah dan Rasulullah (Hamzah bin Abdul Muthallib), Hasan dan Husein (pemimpin para pemuda ahli surga) dan Mahdi as (yang akan membunuh dajjal) berasal dari kami. (Nafs al-Mahmum, hal. 450)

Kemudian Imam Zainul Abidin mengenalkan identitas diri dan keluarganya.

“Barang siapa yang mengenalku, maka ia telah mengenalku. Barang siapa yang tidak mengenalku, maka akan aku kenalkan silsilah keturunanku kepadanya.

Hai orang-orang!

Aku adalah putra Mekah dan Mina.

Aku adalah putra Zamzam dan Shaffa.

Aku adalah putra orang yang mengangkat Hajar Aswad dengan bajunya dan meletakkannya  pada tempatnya.

Aku adalah putra sebaik-baik pelaku Thawaf dan Sa’i.

Aku adalah putra sebaik-baik pelaku haji dan pembaca Talbiyah.

Aku adalah putra pengendara Buraq.

Aku adalah putra seorang nabi yang berjalan dari Masjidul Haram ke Masjid al-Aqsa dalam waktu semalam.

Aku adalah putra orang yang dibawa Jibril sampai ke Sidratulmuntaha.

Aku adalah putra orang yang telah mencapai kedekatan kepada Allah dan semakin dekat yang kedekatannya hanya mencapai dua busur anak panah bahkan lebih dekat.

Aku adalah putra orang yang shalat bersama malaikat langit.

Aku adalah putra orang yang mendapat wahyu dari Allah.

Aku adalah putra Muhammad al-Mushtafa.

Aku adalah putra Ali al-Murtadha.

Aku adalah putra orang yang mengalahkan orang-orang sombong sehingga mereka mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (tiada tuhan selain Allah).

Aku adalah putra orang yang berperang menyertai Rasulullah Saw dengan dua pedang dan dua tombak. Dua kali berhijrah dan dua kali berbaiat. Berperang melawan orang-orang kafir di Badar dan Hunain. Tidak pernah mengingkari Allah sekejap mata pun.

Aku adalah putra orang salehnya orang-orang mukmin. Pewaris para nabi. Pemberangus orang-orang musyrik. Pemimpin orang-orang muslim. Cahaya bagi para pejuang. Hiasan bagi para pelaku ibadah. Kebanggaan bagi orang-orang yang menangis.

Aku adalah putra orang yang paling sabar di antara orang-orang yang sabar. Orang yang paling utama di antara orang-orang yang shalat dari keluarga Rasulullah Saw.

Aku adalah putra orang yang didukung oleh Jibril dan ditolong oleh Mikail.

Aku adalah putra orang yang menjaga hak-haknya kaum muslimin. Yang berperang melawan Mariqin, Nakitsin dan Qasithin. Yang berjuang melawan musuh.

Aku adalah putra sebaik-baiknya orang Quraisy.

Aku adalah putra seorang mukmin yang pertama kali menerima ajakan Allah dan Rasulullah Saw.

Aku adalah putra orang yang pertama kali beriman. Yang menghancurkan orang-orang yang melebihi batas dan pemberangus orang-orang musyrik.

 Aku adalah putra orang yang menyerupai anak panah dari anak-anak panah Allah terhadap para munafik. Lisan yang penuh hikmah bagi para ahli ibadah. Penolong agama Allah. Pemimpin urusan Allah. Kebun hikmah Allah. Pembawa ilmu ilahi.

Beliau bijaksana, dermawan, tampan, mencakup segala kebaikan, mulia, terhormat, penduduk Abthah (sebuah tempat di Mekah/nama lain Mekah), rela atas kerelaan Allah, terdepan dalam menghadapi kesulitan, sabar, senantiasa berpuasa, suci dari segala dosa, banyak melakukan shalat, pemutus silsilah keturunan musuh dan penghancur kelompok-kelompok kekufuran. Ia memiliki hati yang teguh, kuat dan berkemauan keras. Ia pemberani bagaikan singa di medang perang, bak penggilingan yang menghancurkan anak-anak panah yang bertaburan dan bagaikan angin yang memporak-porandakannya.

Beliau adalah singa Hijaz dan pembesar Irak. Beliau hadir di Mekah, Madinah, Khaifa, Aqabah, Badar, Uhud, Syajarah dan juga turut berhijrah.

Beliau adalah pemimpin Arab, singa medan perang, pewaris dua Masy’ar, ayahnya dua pemuda Hasan dan Husein.

Iya, beliau adalah kakekku Ali bin Abi Thalib.”

Kemudian Imam Zainul Abidin as melanjutkan:

Aku adalah putra Fathimah az-Zahra.

Aku adalah putra penghulu para wanita.”

Sampai di sini orang-orang yang hadir menangis histeris. Melihat kondisi ini, Yazid merasa ketakutan jangan sampai terjadi revolusi, akhirnya ia memerintahkan muazzin untuk mengumandangkan azan supaya Imam Zainul Abidin berhenti bicara.

Ketika muazzin mengatakan, “Allahu Akbar-Allahu Akbar.

Imam Zainul Abidin menjawab, “Tidak ada yang lebih besar selain Allah.”

Ketika muazzin mengatakan, “Asyhadu An La Ilaah Illallah.

Imam Zainul Abidin menjawab, “Rambutku, kulitku, dagingku dan darahku telah bersaksi atas ke-Esan-Nya.”

Ketika muazzin mengatakan, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.

Imam Zainul Abidin menghadap ke arah Yazid seraya berkata, “Hai Yazid, Muhammad kakekku atau kakekmu?! Bila kau klaim sebagai kakekmu, maka kau telah berbohong dan kufur. Bila kau katakan sebagai kakekku, lantas mengapa kau bunuh keluarganya?!”

Kemudian muazzin melanjutkan azannya dan Yazid datang melakukan shalat zuhur.(Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 137)

 Di dalam riwayat lain Imam Zainul Abidin berkata:

“Aku adalah putra Husein syahid Karbala.

Aku adalah putra Ali al-Murtadha.

Aku adalah putra Muhammad al-Musthafa.

Aku adalah putra Fathimah az-Zahra.

Aku adalah putra Khadijah al-Kubra.

Aku adalah putra Sidratulmuntaha.

Aku adalah putra pohon kebaikan.

Aku adalah putra orang yang bergelimang darah.

Aku adalah putra orang yang ditangisi para peri.

Aku adalah putra orang yang ditangisi oleh burung-burung di angkasa.”

Khotbah Imam Zainul Abidin as mendorong seorang Yahudi menanyakan jati diri Imam kepada Yazid seraya berkata, “Siapakah pemuda ini?”

Yazid menjawab, “Ia adalah Ali bin Husein.”

Yahudi bertanya, “Husein itu siapa?”

Yazid menjawab, “Husein putranya Ali bin Abi Thalib.”

Yahudi bertanya, “Siapa ibunya?”

Yazid menjawab, “Ibunya, Fathimah binti Muhammad.”

 Yahudi berkata, “Maha Suci Allah! kalau begitu, ini adalah anak nabi kalian? Anda bunuh secepat ini? Betapa buruknya anda sebagai khalifah keluarga nabi? Demi Allah, seandainya nabi kami Musa bin Imran meninggalkan anak di antara kami, maka kami akan menghormatinya seakan-akan kami menyembahnya. Sedangkan nabi kalian baru kemarin meninggal dunia, lantas kalian memberontak anaknya dan membunuhnya? Betapa buruknya kalian sebagai umat!

Yazid marah dan memerintahkan untuk memukul Yahudi tersebut. Yahudi bangun seraya berkata, “Kalau mau pukullah aku! Kalau mau bunuhlah aku atau ampuni aku! Aku mendapati di dalam Taurat bahwa orang yang membunuh keluarga nabi, senantiasa terlaknat dan tempatnya di nerakan Jahannam. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 139)

Yazid dipermalukan oleh kata-kata yang benar yang muncul dari hati yang suci dan mengalir dari mulut yang jujur. Ia adalah Imam Maksum Ali bin Husein Zainul Abidin as pengemban risalah Muhammadi setelah ayahnya Syahid Karbala Imam Husein as. 

Betul, Yazid hanya bisa menghentikan khotbah Imam Zainul Abidin as dengan memerintahkan muazzin mengumandangkan azan. Sebagaimana Muawiyah yang menancapkan al-Quran di atas tombak untuk menyelamatkan diri dari ketajaman pedang Imam Ali bin Abi Thalib as di perang Shiffin.

Bagaimanapun juga Yazid dan kakek moyangnya adalah pihak yang kalah dalam segala-galanya. Apalagi dengan pertanyaan yang tak bisa dijawab “MUHAMMAD KAKEKKU ATAU KAKEKMU???”(IRIB Indonesia)

Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Sa’id 

About admin

Check Also

Misi Hidup

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *