Sunday , August 25 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Imam Al-Ghazali: Rindu (dan Cinta) kepada Allah (Bagian ke-2)

Imam Al-Ghazali: Rindu (dan Cinta) kepada Allah (Bagian ke-2)

Dalam konteks bahasa, cinta merupakan suatu istilah untuk kecenderungan nafs/jiwa pada sesuatu yang memiliki kesesuaian dan kecocokan dengannya. Pengertian cinta demikian hanya bisa terjadi pada jiwa yang tidak sempurna serta tidak memiliki sesuatu yang sesuai dengan dirinya, lantas ia ingin memperolehnya dengan sempurna, sehingga ia pun merasakan kenikmatan dengan memperolehnya.

Hal itu mustahil bagi Allah. Semua kesempurnaan, keindahan, kecantikan, dan keagungan adalah mungkin bagi-Nya. Bahkan semua itu ada, terwujud, dan wajib ada bagi Allah selama-lamanya serta azali. Semua itu tidak mungkin hilang dan mengalami proses pembaruan karena berkurang atau usang. Allah tidak melihat kepada selain Diri-Nya. Bahkan, Dia melihat Diri dan perbuatan-perbuatan-Nya sendiri. Dalam alam semesta ini, yang ada hanyalah Dia dan perbuatan-perbuatan-Nya. Karena itulah, ketika Syaikh Abu Sa’ad Al-Maihani dibacakan ayat : Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah : 54), ia berkata, ”Tuhan mencintai mereka dengan sebenarnya. Karena itulah, sesungguhnya Dia tidak mencintai kecuali Diri-Nya sendiri”. Artinya, semua yang ada adalah Dia. Tidak ada di dalam alam semesta ini selain Dia. Dengan demikian, karena Dia tidak mencintai kecuali Diri, perbuatan, dan karya-Nya, berarti cinta-Nya tidak tertuju kecuali kepada Diri-Nya sendiri serta hal-hal yang berkaitan dengan Diri-Nya. Pada gilirannya, Dia tidak mencintai kecuali Diri-Nya sendiri.

Semua kata yang mengungkapkan cinta Allah kepada hamba-Nya perlu ditakwilkan. Sedangkan pengertian yang sebenarnya dikembalikan kepada tiga hal.

Pertama, ketersingkapan tabir dari hati seseorang sehingga ia mampu mengetahuinya dengan mata hati.

Kedua, anugerah kedekatan yang Tuhan berikan kepadanya.

Ketiga, kehendak Tuhan terhadapnya tentang hal itu sejak zaman azali.

Dengan demikian, cinta Tuhan kepada hamba yang mencintai-Nya adalah azali bila disandarkan pada kehendak azali Tuhan yang telah memutuskan untuk memberikan kemampuan kepada seorang hamba untuk berusaha mendekati-Nya.

Namun, bila cinta tersebut disandarkan pada perbuatan Tuhan yang menyingkapkan tabir dari hati hamba-Nya, ia adalah sesuatu yang baru yang terjadi karena sebab yang menghendakinya juga baru. Hal itu sebagaimana firman Allah : Ketika hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan berbagai perbuatan sunnah, Aku pun mencintai-Nya. Upaya pendekatan seorang hamba dengan berbagai perbuatan sunnah tersebut menjadi sebab kejernihan batinnya, terangkatnya tabir dari hatinya, serta keberhasilannya mencapai tingkatan dekat dengan Tuhannya. Semua itu merupakan perbuatan Allah dan kasih sayang-Nya kepada seorang hamba. Itulah makna cinta Tuhan kepada hamba-Nya.

Hal ini tidak bisa dipahami tanpa dijelaskan dengan contoh.

Contoh pertama, seorang raja terkadang mendekati sendiri pelayannya serta mengizinkannya setiap saat untuk menemuinya. Hal itu karena ketertarikan sang raja kepada pelayan tersebut. Adakalanya sang raja ingin menolong sang pelayan dengan kekuatannya; karena ia memperoleh kesenangan dengan menyaksikan sang pelayan; karena ia ingin meminta pendapat pelayan tentang kebijakannya; atau karena ia ingin mengatur sang pelayan dalam menyusun menu makan dan minumnya. Karena itulah orang bisa mengatakan, ”Sang raja mencintainya”. Hal itu berarti ada ketertarikan sang raja terhadap si pelayan karena suatu kecocokan dan keselarasan dengannya.

Contoh keduaterkadang pula seorang raja mau mendekati pelayannya dan tidak melarangnya bertemu dengannya. Hal itu bukan karena sang raja ingin mencari keuntungan dan meminta pertolongan padanya. Namun karena bagi sang raja, pelayan tersebut memiliki akhlak mulia dan tingkah laku terpuji yang membuatnya pantas untuk dekat dengan sang raja dan memperoleh kehormatan yang besar dengan kedekatan tersebut. Sementara sang raja sendiri sama sekali tidak mempunyai pamrih apapun terhadap si pelayan. Maka, ketika sang raja menyibakkan tabir antara dirinya dan si pelayan, ia pun berkata, ”Sungguh, aku mencintainya.” Lantas, ketika si pelayan mengerjakan tingkah laku terpuji yang membuat tersibaknya tabir, maka dikatakan, “Ia menjalin hubungan dan menyemaikan dalam dirinya rasa cinta kepada sang raja.”

Dalam hal ini, cinta Allah kepada seorang hamba adalah hanya dengan contoh kedua, yaitu bahwa Dia mencintai hamba-Nya karena sang hamba memiliki akhlak mulia dan tingkah laku terpuji yang pantas membuatnya pantas untuk Dia cintai.

Dengan demikian, cinta Allah kepada sang hamba bukan karena Allah ingin mencari keuntungan atau pamrih tertentu seperti cinta dalam contoh pertama.

Adalah benar contoh cinta yang kedua, dengan syarat, bahwa anda tidak memahami adanya perubahan ketika terjadi proses pendekatan. Seseorang yang mencintai Allah berarti jauh dari sifat-sifat hewan ternak, binatang buas, dan setan. Berakhlak dengan akhlak-akhlak mulia (yakni akhlak ilahiah) merupakan bentuk kedekatan menurut sifat, bukan tempat.

Sedangkan cinta hamba kepada Allah adalah berarti kecenderungan sang hamba untuk menggapai kesempurnaan Allah yang tidak ia miliki dan punyai. Tak pelak, ia pun merindukan terhadap apa yang tidak ia miliki tersebut. lantas, ketika ia telah memperoleh sebagian dari kesempurnaan tersebut, ia pun merasakan kenikmatan. Rindu dan cinta dalam pengertian ini adalah mustahil bagi Allah.

Bagaimana mungkin seorang hamba bisa diketahui bahwa ia dicintai Allah dan sebagai kekasih-Nya? Hal ini bisa ditunjukkan oleh berbagai tanda-tanda yang ia miliki. Rasulullah Saw bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia pun mengujinya. Jika Dia mencintainya dengan cinta yang mendalam, maka Dia pun menjadikannya kaya”. Lalu, Nabi Saw ditanya, ”Apa yang dimaksud Dia menjadikannya kaya?” Nabi Saw menjawab, ”Dia tidak membiarkan hamba tersebut memiliki keluarga dan harta.” (HR. Thabrani dari Abi ‘Uthbah Al-Khaulani). Tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah Dia buat hamba tersebut tidak terlalu cinta terhadap orang lain, dan Dia bangun dinding antara sang hamba dan orang lain.

Suatu ketika, Nabi Isa a.s ditanya, ”Kenapa Anda tidak membeli seekor keledai sehingga Anda bisa mempergunakannya sebagai kendaraan?” Nabi Isa pun menjawab, ”Bagi Allah, aku terlalu mulia untuk disibukkan oleh seekor keledai yang bisa membuatku melupakan Diri-Nya”.

Dalam sebuah hadits diungkapkan, “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia pun mengujinya. Jika hamba tersebut sabar, Allah pun memilihnya. Jika hamba tersebut rela, Allah pun menyucikannya.” (dari hadits Ali bin Abi Thalib; dari Al-Dailami dalam kitab Musnad Al-Firdaus)

Seorang murid berkata kepada gurunya, ”aku sudah diperlihatkan sebagian cinta-Nya.” Sang guru pun berkata, ”Apakah Dia sudah mengujimu dengan sesuatu yang kau cintai, lantas kau lebih mementingkan Diri-Nya daripada yang kau cintai itu?” Sang murid menjawab, ”Belum”. Sang guru lalu berkata, ”Jangan kau terlalu berambisi untuk meraih cinta-Nya”. Sungguh, Tuhan tidak memberikan cinta-Nya kepada seorang hamba sebelum Dia mengujinya.

Perbuatan yang menunjukkan seorang hamba dicintai Allah adalah bahwa Allah yang mengatur segala urusannya, baik lahir maupun batin; baik secara rahasia maupun terang-terangan. Dengan demikian, Allah yang memberinya petunjuk; mengatur segala urusannya; memperindah akhlaknya; menggerakkan anggota-anggota badannya; meluruskan sisi lahir dan sisi batin dirinya; mengubah berbagai kesusahannya menjadi sesuatu yang justru membangkitkan semangat; menciptakan rasa benci terhadap dunia dalam hatinya; membuatnya tidak senang terhadap selain Allah; membuatnya tenteram dengan kenikmatan munajat kepada Allah; dan menyingkapkan tabir dirinya untuk mengenal Allah. Inilah tanda-tanda cinta Allah kepada sang hamba.

Sumber : Imam Al-Ghazali, “The True Power of Love”- Kitab para Pecinta Allah (dari Kitab Al-Mahabbah wa Asy-Syauq wa Al-Uns wa Ar-Ridla dalam Ihya Ulum Ad-Din)

 

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...