Saturday , September 22 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Hegemoni Amerika Tertantang; Sebuah Hikmah Membangun Nasionalisme

Hegemoni Amerika Tertantang; Sebuah Hikmah Membangun Nasionalisme

Hikmah Kecil atas Perang Dolar Versus LIRA

Dinamika geopolitik global paling aktual yang layak dicermati bersama ialah currency war alias perang mata uang antara Amerika Serikat (AS) melawan Turki. Dolar versus Lira. AS mengancam Turki dengan embargo finansial akibat praktik spioanase Paman Sam di Turki dibongkar oleh Erdogan.

Secara nasionalisme Turki merupakan prestasi, namun sebaliknya justru aib bagi AS. Intelijen kok ketahuan. Trump ingin berdalih tetapi fakta-fakta sulit dielak, dan ujungnya marah lalu mengancam. Apakah dikira Erdogan takut dengan ancaman Trump? Ternyata malah di luar dugaan. Turki total melawan. Meski di mata global, “ras Turki” kerap terlihat abu-abu, sebab bagi kulit putih ia bukan ras Eropa, Arab pun tidak jelas.

Kenapa begitu, selain ia tergabung dalam NATO tapi ditolak menjadi anggota UE, juga di Turki terdapat pangkalan militer AS dimana secara geopolitik bermakna, bahwa kedaulatan Turki terutama teritorialnya tengah digerus oleh asing. Tetapi dalam kasus currency war ini, tampaknya Erdogan keras melawan. Ia tunjukkan dan buktikan kepada dunia, bahwa dalam waktu tidak lama, kurang dari sepekan Turki bisa lepas dari tekanan AS.

Bagaimana caranya? Sederhana tetapi butuh nyali besar yaitu ia serukan kepada semua bank-bank, perusahaan-perusahaan serta ke segenap rakyat Turki agar meninggalkan pemakaian US Dollar dalam setiap transaksi di dalam negeri. Seruan Erdogan direspon cepat oleh rakyat, lalu gunungan dolar pun dibakar oleh segenap komponen bangsa Turki atas nama cinta tanah air serta sedapnya rasa nasionalisme. Itulah jawaban Turki terhadap arogansi AS dalam tema currency warfare di Timur Tengah.

Agaknya, tidak hanya mencampakkan dolar sebagai simbol perlawanan, karena selain beberapa produk AS dibakar, juga atas nama jalinan persatuan kesatuan bangsa, rakyat Turki berbondong -bondong menyumbang simpanan emasnya dan terkumpul sekitar satu ton untuk mengatasi berbagai permasalahan keuangan yang sedang melilit Turki akibat digoyang oleh AS. Itulah gurihnya patriotisme Turki.

Barangkali saat ini, di kalangan pemimpin dunia, Erdogan dinilai sebagai strong leader atau sosok pemimpin yang kuat serta disegani. Terbukti selain gerakan meninggalkan dolar didukung oleh Cina dan Rusia, ia juga dibantu Emir Qatar ratusan triliun untuk kuatkan mata uang lira agar kembali stabil.

Inilah fenomena dahsyat. Betapa untuk saat ini, di atas permukaan, US Dollar tidak dipakai lagi sebagai alat transaksi di Turki. Entah kalau di bawah permukaan. Dan atas peristiwa tersebut, sekurang-kurangnya ada hikmah tersirat bahwa ketika sebuah bangsa memiliki presiden yang kuat, cerdas, berani serta punya nasionalismenya tinggi, maka tidak mudah dipermainkan di panggung global.

Lantas, bagaimana kelanjutan peperangan antara lira versus dolar di Turki? Hingga kini masih berlangsung. Entah nanti ujungnya seperti apa. Unpredictable. Kelak, bukan soal siapa kalah atau mana yang akan menang, tetapi hal ini merupakan potret nyata bahwa pembangkangan dan perlawanan terhadap hegemoni AS adalah fenomena yang senantiasa menggeliat kendati perlahan.

Secara data, beberapa negara yang tidak sepenuhnya memakai US Dollar dalam traksaksi perdagangannya adalah Rusia, Cina, Iran, Jepang (?) dan kali ini Turki.

Mengakhiri catatan kecil ini, beberapa poin menarik perlu diambil atas peperangan mata uang di atas, antara lain:

Pertama, kepemimpinan yang kuat diperlukan pada sebuah bangsa agar tidak dipermainkan oleh negara lain/adidaya;

Kedua, rasa dan cinta tanah air (nasionalisme) mutlak harus ditanamkan kepada setiap warga negara di usia dan di strata apapun, agar bila menghadapi situasi (darurat) tertentu —dari perspektif geopolitik— mampu menjadi “amunisi dahsyat” bagi kedaulatan sebuah bangsa;

Ketiga, selain jiwa nasionalisme ditanamkan sejak dini, juga rasa persatuan dan kesatuan terus dipupuk sepanjang masa di suatu negara.

Demikianlah pointers yang bisa dipungut dalam peristiwa currency warfare antara dolar versus lira.

Terima kasih

  • Oleh: M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
  • Source: The Global Review

 

 

About admin

Check Also

Blunder Pasukan Bhayangkara yang Meruntuhkan Kerajaan Majapahit

Majapahit, Sumpah Palapa dan Pasukan Bhayangkara, adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari Kerajaan ...