Tuesday , September 25 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Hakekat Shalawat

Hakekat Shalawat

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Shalawat Sebagai Tawasul Pembuka Hijab

إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penghormatan kepadanya”. (QS al-Ahzab [33] : 56)

Do’a masih akan terhalang bila orang yang berdo’a tersebut tanpa bertawassul dengan bershalawat pada Nabi saw.  Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. berkata: “Setiap do’a antara seorang hamba dengan Allah selalu diantarai dengan hijab (penghalang, tirai) sampai dia mengucapkan shalawat pada Nabi saw. Bila ia membaca shalawat, terbukalah hijab itu dan masuklah do’a”. (Kanzul ‘Ummal 1:173, Faidh Al-Qadir 5:19)

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. juga berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap do’a terhijab (tertutup) sampai membaca shalawat pada Muhammad dan keluarganya”. (Ibnu Hajr Al-Shawaiq : 88)

Juga ada riwayat hadits yang menyebutkan sebagai berikut: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan tidak membaca shalawat padaku dan keluarga (Rasulullah saw), shalat tersebut tidak diterima (batal)”. (Sunan Al- Daruquthni: 136)

Mendengar sabda Nabi saw., ini para sahabat diantaranya Jabir Al-Anshari berkata: “Sekiranya aku shalat dan di dalamnya aku tidak membaca shalawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad aku yakin shalatku tidak di terima”. (Dhahir Al-Uqba : 19)

Begitu juga Imam Syafi’i dalam sebagian bait syairnya mengatakan: “Wahai Ahli Bait (keluarga) Rasulallah, kecintaan kepadamu diwajibkan Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan, Cukuplah petunjuk kebesaranmu, Siapa yang tidak bershalawat (waktu shalat) padamu tidak diterima shalatnya…. “ .

Pemahaman Hakikat Shalawat

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ ، وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik-bilik (masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS al-Hujurat [49] : 4-5)

Kebanyakan umat Islam, tidak tahu apa arti dari hakekat shalawat, tapi baru mengetahui bacaan shalawat yang berupa tulisan. Padahal tulisan “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad” bukanlah shalawat, ini hanya tulisan. Jika dibaca maka bunyinya –allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad– ini juga bukan shalawat (ketika dibaca terdengar “bunyi bacaan shalawat”).

Kita ambil contoh lain, dari huruf “m-a-k-a-n” kita mendengar bunyi “makan”, ini bukanlah disebut sebagai perbuatan “makan”. Karena, jika huruf “m-a-k-a-n” yang berbunyi “makan” itu dapat disebut sebagai perbuatan, maka harus ada action “makan”; yakni diawali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, hingga menelannya.

Begitupun shalat, dari huruf “s-h-a-l-a-t” berbunyi “shalat”, ada action “shalat”; yakni diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. itu barulah disebut sebagai perbuatan mendirikan shalat. Nah, untuk shalawat, jika bunyi bacaan “shalawat”, maka mana actionnya…? Jika dijawab; “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”, lho, itu kan bacaannya.

Jadi, ada hal yang harus kita pertanyakan; Bagaimanakah action shalawat itu sehingga jika kita melakukan action itu secara otomatis melewati wilayah tulisan dengan huruf-huruf “s-h-a-l-a-w-a-t” dan suara yang berbunyi “shalawat”. Lewat action “makan”, maka di dalamnya kita telah membaca tulisan dengan huruf-huruf “m-a-k-a-n” dan telah melampaui bunyi yang hanya sekedar ucapan “makan”.

Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk setiap konsep, pemahamannya selalu ada tiga. Jadi, ada segitiga pemahaman konsep; menulis (writing), membaca (reading), dan melakukan (doing).

Untuk (kepada) siapakah “shalawat” itu diberikan (ditujukan)? Jika melihat bunyinya, maka shalawat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Bacaannya “innallaaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alan nabiyyi yaa ayyuhal ladziina aamanu shalluu ‘alayhi wa sallimuu tasliimaa“.

Menurut pendapat saya pribadi, sangat pantas beliau mendapat penghargaan seperti itu. Sangat tidak mengherankan jika orang-orang yang hidup di sekeliling beliau siap mati, siap berkorban, siap meninggalkan kemewahan dunia, meninggalkan anak, isteri, jabatan….. karena beliau memberi tuntunan hingga para sahabat dapat “melihat”, dapat “mendengar”, dan dapat “berbicara”.

Apa yang bisa menandingi kebahagiaan tak terukur yang diakibatkan dari bisa “melihat”, bisa “mendengar”, dan bisa “berbicara”. Jawabannya “tidak ada”. Ada ayat yang sangat “keras” menyebutkan :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah [9] : 24)

Nah, bagaimana beliau ber”shalawat” kepada “diri”nya sendiri? Beliau tidak akan membunyikan bacaan shalawatnya, tapi beliau melakukan actionnya. Lalu sekarang ini apakah kita sudah bisa menulis “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”? Dan apakah kita sudah bisa membaca dan menyuarakan tulisan itu? Serta apakah kita juga sudah bisa menyatakan actionnya?

Kita memang kadang sering lupa bahwa cahaya terang di ruangan ini karena ada bohlam. Dan bohlam bisa menyala karena ada gardu. Dan gardu ini tak berarti apa-apa jika tidak ada listriknya. Tentang listrik ini, kita sebenarnya hanya melihat “tanda-tanda adanya (gejala) listrik”, namun tidak bisa melihat listriknya.

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bershalawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penghormatan kepadanya”. (QS Al-Ahzab [33] : 56)

Berdasarkan fiman Allah di atas, umat Islam diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat ini, kita mengenal beberapa jenis kalimat shalawat yang dibuat oleh para Ulama, sesuai dengan keyakinan dan ajaran alirannya masing-masing, diantaranya :

أللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحّمَّدٍ النَّـبِىِ اْلأُمِّىِّ وَعَلٰى اٰلِهِ وَسَلِّمْ

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, Nabi yang ummy, dan kepada segenap keluarganya”

أللّٰـهُمَّ صَلِّ وَسَلِّـمْ وَبَـارِكْ عَـلـٰى سَــيـِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ وَعَـلـٰى أٰلِـهِ كَمَا لَا نِـهَايَـةَ لِـكَـمـَالِكَ عَدَدَ كَـمـَالِـهِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat keselamatan dan keberkahan kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya, sebagaimana tiada batas akhir bagi kesempurnaan-Mu, sebagai hitungan kesempurnaan

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَصِحَّةَ اْلأَبْدَانِ وَعَافِـــيَــتِهَا وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, kepada junjungan kita nabi Muhammad saw yang menjadi dokter semua hati dan obatnya, yang menjadi sehat semua badan dan kesejahteraannya, yang menjadi cahaya semua hati dan kemuliaannya. Dan semoga rahmat terlimpah kepada segenap keluarga beliau dan kepada para sahabat-sahabatnya, serta limpahkanlah salam dan kesejahteraan kepada mereka semua.

Dalam dunia kaum Ma’rifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu : “Dia (Allah) berada dalam qalbu hambanya yang beriman”. (Al Hadits)

Qalbu yang tersebut dalam hadits Nabi di atas oleh kaum Ma’rifatullah dinamakan :

  • Mahligai Allah
  • Keraton Allah
  • Istana Allah
  • Masjid Allah
  • Rumah Allah

Qalbu itu disebut juga “Induknya Rasa” dan juga disebut “Babuning Roh atau Ruhul Qudus atau Hu”.

Induknya Rasa atau “Rasanya Allah“ sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. Sedangkan Babuning Roh itu sama dengan “Hakekat Muhammad” juga. Jadi, “Rasa Allah” (Rasulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu “Hakekat Rasul Allah”.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa Qalbu itu adalah “Muhammad” sebagai makhluk pertama yang Allah ciptakan dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan “Shifatullah” atau “Nurullah” atau “Jauhar Awal” (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu “Hakekat Muhammad”.

“Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku”. (Hadits Qudsi)

“Aku (Muhammad) berasal dari Allah dan Alam ini berasal dari Aku (Muhammad)”. (Hadits Qudsi)

“Telah datang akan kamu dari pada Allah itu “Nur”. (yaitu Nabi kita Muhammad SAW)”. (QS an-Nisa [4] : 174)

“dan Dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada” (atau jika sudah menjadi insan yang suci, Dia selalu bersamamu). (QS al-Mujadilah [58] : 7)

“Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu”. (QS Qaf [50] : 16)

Tujuan Bershalawat

Tujuan bershalawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya, serta sahabat-sahabatnya, terbagi atas 2 (dua) pendapat yang dapat diartikan secara Syari’at dan secara Hakikat yaitu :

  1. Secara Syariat

Umat Islam bershalawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan sahabat-sahabatnya, secara terperinci ditujukan kepada:

  • Rasul dan Nabi Muhammad bin Abdullah, yaitu insan yang dibersihkan dan disucikan oleh Allah SWT. Dan diangkat sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang sekarang sudah tidak ada lagi (wafat).
  • Keluarga Muhammad SAW, yaitu “anak, istri, ibu, bapak, saudara, dan famili yang terdekat”. Mungkin juga termasuk pamannya yang bernama Abu Jahal yang selalu menjadi rintangan tugas Nabi. Kesemuanya itu sudah tidak ada lagi (wafat).
  • Para sahabat-sahabatnya, yang dimaksud yaitu; Abubakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a, ‘Ali r.a. dsb. Ini pun keseluruhanya sudah tidak ada lagi (wafat).
  1. Secara Hakekat

Umat Islam yang sudah menguasai ilmu Syari’at, Hakikat, Tarekat dan Ma’rifat juga bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka bershalawat bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, juga tidak ditujukan kepada para keluarga dan para sahabat Nabi, tapi ditujukan khusus kepada:

“Nabi Muhammad selaku Hakekat Rasul Allah, sebagai makhluk yang pertama kali diciptakan, makhluk yang tercinta dan termulia sesudah Allah, sebagai Rasul awal dan akhir yang diberi rahmat untuk semesta alam. (Ini pun tergantung sampai dimana tingkatan ilmu dan terbukanya hijab yang pernah dianugerahi Allah kepada hamba-hamba-Nya).”

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penghabisan semua Nabi”. (QS al-Ahzab [33] : 40)

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS al-Hujurat [49] : 7)

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab (Kitab Yang Bercahaya), mengenalnya (Muhammad) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri dan sesungguhnya segolongan diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya”. (QS al-Baqarah [2] : 146)

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ ۘ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)”. (QS al-An’am [6] : 20)

“Tugasku selesai setelah kiamat” (Hadits)

Disamping ditujukan khusus kepada Hakekat Muhammad ketika membaca shalawat, ada juga sebagian kaum Ma’rifatullah menyebutkan keluarga dan sahabat-sahabatnya Nabi dalam arti secara hakekat pula yaitu:

  1. Yang dimaksud “Keluarga Muhammad” adalah mereka yang pernah mengenal kepada “Hakekat Muhammad” yaitu yang pernah ma’rifat kepada Dzat dan Sifat Allah.
  2. Yang dimaksud dengan para sahabat-sahabat Muhammad yaitu: mereka yang pernah Allah tunjukan jalan yang lurus; apakah mereka sudah sampai atau belum (tahap ma’rifat kepada Hakekat Rasul Muhammad atau disebut ma’rifat kepada Dzat dan sifat Allah). Hal ini tergantung dari keuletan, ketakwaan, keikhlasan, dan keimanan dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar yang diridhai Allah swt, sesuai dengan ajaran agama Islam.

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu (Muhammad) keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS al-Hujarat [49] : 5).

**Bahagialah buat mereka yang bersabar sampai Hakekat Muhammad menampakan dirinya.

Umat Islam yang sudah sampai ke martabat Ma’rifatullah, selalu bershalawat kepada Nabi karena perintah Allah dalam Al Qur’an, dengan tidak menuntut imbalan jasa atau pahala.

“Bahagialah orang yang bertemu dan mengenal Aku dan beriman kepada-ku”. (Mereka sudah mencapai derajat Itsbatul yaqin kepada Hakekat Muhammad).

“Bahagialah, orang yang tidak bertemu aku, tapi bertemu dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat) dan beriman kepada-ku”.

Mereka baru mencapai derajat ‘ilmul yaqin terhadap adanya Hakekat Muhammad dalam dirinya sesuai dengan ajaran Islam (ilmu) yang diterima dari guru mursyidnya yaitu guru yang pernah bertemu dan mengenal Hakekat Muhammad. Mereka sudah dapat dianggap sebagai para “sahabat Nabi Muhammad” dan apabila mereka tekun dalam menjalankan “tarekat”, dan lebih bersabar serta lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya, Insya Allah dapat meningkat dari “sahabat” menjadi “Keluarga” Nabi Muhammad.

“Bahagialah, orang yang tidak bertemu dengan aku dan juga tidak mengenal dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat), tapi beriman kepada ku”.

Mereka yang tidak bertemu dengan hakekat Muhammad dan juga tidak bertemu dengan orang yang mengenal Hakekat Muhammad (ma’rifat), sehingga tidak dapat “berguru” kepadanya, tetapi beriman kepada Muhammad dan berguru kepada Ulama Syari’at dan bisa mendapat ilmu dari hasil membaca buku yang dikarang oleh para “Ulama” besar, mereka berarti sudah percaya menurut kabar adanya Hakekat Muhammad pada dirinya sendiri.

Pada tahapan tersebut, mereka sudah termasuk umat Muhammad dan mudah-mudahan dengan izin Allah, dibukakan hijab yang menjadi penghalang Qalbu sehingga lambat laun semoga Allah memberikan atau memancarkan Nuurun ‘alaa Nuurin dan meningkat menjadi insan atau sahabat Hakekat Muhammad.

“Rasa Allah” itulah Rasa Muhammad, itulah induknya Rasa atau disebut “Hakekat Muhammad”. Induknya rasa yang bersih dan suci disebut “qalbul mu’min” yang menjadi “Mahligai Allah swt”.

Induk Rasa (Hakekat Muhammad) itu terbagi atas 2 kategori, terdiri dari lima rasa lahir dan satu rasa lahir batin. Jadi, jumlahnya ada enam rasa:

  • Rasa ke 1 : Nyatanya di badan kita yaitu rasa jasad, Rasulnya Adam a.s. dan sahabat Rasulnya “Adam Kholifatullah
  • Rasa ke 2 : Nyatanya di badan kita yaitu rasa pendengaran (kuping), Rasulnya Ibrahim a.s dan sahabat Rasulnya “Ibrahim Habibullah
  • Rasa ke 3 : Nyatanya di badan kita yaitu rasa penglihatan (mata), Rasulnya Daud a.s dan sahabat Rasulnya “Daud Kholilullah
  • Rasa ke 4 “: Nyatanya di badan kita yaitu rasa mulut (lidah), Rasulnya Musa a.s dan sahabat Rasulnya “Musa Kalamullah
  • Rasa ke 5 : Nyatanya d ibadan kita yaitu rasa mencium (hidung), Rasulnya Isa a.s dan sahabat Rasulnya “Isa Ruhullah
  • Rasa ke 6 : Nyatanya di badan kita yaitu rasa Qalbu, rasa lahir-batin yang mencakup kelima (5) rasa tersebut di atas atau disebut “Hakekat Muhammad” atau “Rasul (Rasa) Allah”. Rasulnya Muhammad SAW dan sahabat Rasulnya “Muhammad Rasulullah”.

Dengan adanya penjelasan di atas, semoga pembaca sudah dapat menangkap atau sudah dapat menerima bahwa yang dianggap Hakekat “Keluarga” dari Hakekat Muhammad itu adalah para Rasul dan para Nabi.

“Para Nabi itu adalah bersaudara seayah dan seibu, syari’atnya berbeda-beda, sedangkan asal dan pokok agamanya satu” (Hadits).

Adapun yang dimaksud “Sahabat-sahabat” dari Hakekat Muhammad itu adalah Insan yang benar-benar beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkat tinggi, hingga diberi anugerah Allah untuk dapat ma’rifat (bertemu, melihat dan mengenal) dengan Hakekat Muhammad atau disebut “Sifatullah” atau “Hakekat Syahadat”.

Di mana ada sifat di situ ada Dzat. Di mana ada Muhammad di situ ada Allah. Merekalah yang dianugerahi ‘ilmu ladunni yaitu “Nuurun ‘alaa Nuurin” (ma’rifatullah).

  • Oleh: Kuswanto Abu Irsyad
  • Telah diedit redaksinya tanpa mengurangi maknanya oleh Admin

Source: Alifbraja

 

About admin

Check Also

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Palembang

Pada masa-masa awal penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang tidak terlepas dari adanya peranan keraton Kesultanan ...