Monday , June 17 2019
Home / Agama / Kajian / Hadits Qudsi Tentang Puasa

Hadits Qudsi Tentang Puasa

Bagaimana kita meningkatkan tingkat kewalian atau wilayah kita ini? Kita dapat berpedoman pada hadits-hadits qudsi. Hadits Qudsi adalah petunjuk Allah bagi yang ingin mendekati-Nya.

Dalam salah satu hadits qudsi, Allah SWT. Berfirman : “Demi keagungan-Ku, kebesaran-Ku, kemuliaan-Ku, cahaya-Ku, ketinggian-Ku, dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendak-Ku kecuali Aku cerai-beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya. Aku sibukkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagungan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendak-Ku di atas kehendaknya kecuali akan Aku perintahkan para malaikat untuk menjaga-Nya. Aku akan jaminkan langit dan bumi sebagai rezekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya”

Dalam hadits di atas, Allah menjelaskan kepada kita salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Cara itu adalah dengan menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita sendiri.

Ada dua golongan manusia, Pertama, golongan manusia yang mendahulukan kehendaknya di atas kehendak Allah. Kedua, golongan manusia yang mendahulukan kehendak Allah di atas kehendaknya. Orang yang berpuasa termasuk ke dalam golongan kedua. Ia menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendaknya sendiri. Ketika siang hari, keinginannya adalah makan dan minum, dan keinginan Allah adalah supaya ia tidak makan dan tidak minum. Orang yang berpuasa akan mengutamakan keinginan Allah. Meskipun lapar, ia tidak akan penuhi keinginannya.

Pada saat yang sama, ketika ia lapar, umumnya kita mudah sekali tersinggung. Kalau kita diganggu orang, kita ingin sekali marah. Namun, Allah menghendaki kita di bulan Ramadhan untuk mengekang amarah kita. Rasulullah SAW. Bersabda : “Siapa yang mengendalikan marahnya di bulan Ramadhan, Allah akan menahan murka-Nya pada hari kiamat nanti”. Kita menahan amarah kita demi memenuhi kehendak Allah.

Setiap hari kita dihadapkan pada dua pilihan ini : Apakah akan memenuhi kehendak Allah atau memenuhi kehendak diri kita sendiri. Allah berkehendak agar kita mencari nafkah yang halal untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan keluarga kita. Bila kita memiliki kelebihan harta, Allah berkehendak agar kelebihan itu dibagikan kepada hamba-hamba-Nya. Tapi jika kita mempunyai kelebihan rezeki, kehendak kita adalah memakai kelebijhan itu untuk memenuhi keperluan konsumtif kita.

Kita tumpuk makanan berlebih untuk kita santap ketika berbuka puasa. Seakan suatu kompensasi akan ketidak-makanan dan ketidak-minuman kita di siang hari. Pada bulan puasa ini, kita kesampingkan kehendak kita. Kita utamakan kehendak Allah SWT. Kita penuhi juga kehendak Allah itu dengan bersedekah sebanyak-banyaknya kepada para fakir miskin dan mustadhafin. Itulah puncak perkembangan kejiwaan manusia.

Kiranya dengan tulisan ini, akan menyegarkan jiwa kita dan akan memperbaharuinya dengan lebih arif sehingga kehendak dan keinginan kita hendaknya harus lebih mengutamakan kehendak Allah daripada kehendak kepentingan pribadi.

Selamat berpuasa, selamat beribadah, selamat berjuang menuju dan mencapai ridha Allah di bulan Ramadhan yang mulia ini.[ ]

Sumber: Madrasah Ruhaniah, Mizan

About admin

Check Also

Wacana Martabat Tujuh dalam Kesusasteraan Jawa-Islam (5)

“Seperti ungkapan Ibnu ‘Arabi, penyaksian Tuhan dalam diri seorang wanita adalah bentuk penyaksian paling sempurna. ...