Thursday , November 15 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Geopolitik Membedah Gerakan LGBT

Geopolitik Membedah Gerakan LGBT

Bila dianalogikan arus liberalisasi ini seperti arus besar yang sengaja di buka dari sebuah dam besar yang mengalir secara deras dan meratakan semua bangunan yang ada. Arus Liberalisasi asal Barat ini membawa “aneka sampah” dari mulai paham demokrasi, sipilis, kapitalisme hingga LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).

Akibat arus deras ini meruntuhkan identitas asli bangsa ini hingga runtuh. Setelah semuanya runtuh kemudian mereka membangun kapitalisme di atasnya dan mereka akan duduk manis di atas kapitalisme itu untuk mengeruk sumber daya alam negeri ini.

LGBT saat ini sudah menjadi sebuah gerakan global yang terorganisir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penyebaran dan kampanye kegiatan komunitas LGBT di Indonesia dikampanyekan oleh LSM plat merah yang disokong dana oleh lembaga-lembaga donor Asing Internasional seperti USAID.

Pendanaan juga diperoleh dari AusAID, UNAIDS, dan UNFPA. Ada sejumlah negara Eropa yang pernah mendanai program jangka pendek, terutama dalam kaitan dengan HAM LGBT.

Pendanaan paling luas dan sistematis disediakan oleh Hivos, sebuah organisasi Belanda, kadang-kadang bersumber dari pemerintah negeri Belanda. Kemudian Ford Foundation bergabung dengan Hivos dalam menyediakan sumber pendanaan bagi organisasi-organisasi LGBT. Lagi-lagi Belanda turut bermain, hmmm…

UNDP dan USAID meluncurkan prakarsa “Being LGBT in Asia” pada tanggal 10 Desember 2012. Di antara negara yang menjadi fokus program ini adalah Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand.

Berdasarkan dokumen UNDP, program “Being LGBT in Asia” fase-2 dijalankan dari Desember 2014 hingga September 2017 dengan anggaran US$ 8 juta, woouw..

Pertanyaannya, mengapa mereka bersedia keluar dana besar untuk membiayai gerakan ini?

Tak ada makan siang yang gratis bagi kaum Yahudi. Bagi mereka menggelontorkan dana pasti ada agenda besar yang ingin diraihnya.

Di satu sisi mereka mengumpulkan donasi penggalangan dana untuk menanggulangi virus AIDS, tetapi di lain sisi mereka mengkampanyekan gerakan kebebasan trans gender alias kampanye LGBT. Bahkan mereka juga rela keluar dana besar untuk membiayai gerakan semacam LGBT, sebagai bentuk Investasi jangka panjang.

Sebab dengan maraknya LGBT maka secara tidak langsung hal ini akan meruntuhkan nilai-nilai Agama. Lantas apa agenda mereka? Target utamanya adalah depopulasi penduduk pribumi. Karena LGBT tak akan menghasilkan keturunan, itulah keinginan mereka alias Depolulasi Jumah Penduduk!

Hal ini senafas dengan target mereka untuk mencaplok semua sumber daya alam negeri jajahan. Selanjutnya, bila semua sendi-sendi identitas bangsa ini telah runtuh, maka mereka bisa duduk manis di atas negeri yang kaya sumber daya alam ini.

Tak tanggung-tanggung, zionis Yahudi di balik gerakan ini melibatkan organisasi kelas dunia seperti WHO.

Pada Oktober 2015, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengaku telah menggencarkan perjuangan persamaan hak-hak LGBT. LBGT menjadi agenda terpenting di Amerika Serikat

WHO telah menghapus LGBT dari daftar penyakit mental (Diagnosis & Statistical Manual of Mental Disorders). Menurut mereka, LGBT adalah perilaku normal bukan kelainan mental.

Bahkan sebagai wujud pengakuan terhadap eksistensi kaum LGBT, kini telah ditetapkan hari Gay Sedunia dan ada 14 negara yang membolehkan pernikahan sejenis, dan hanya 3 negara yang menganggap LGBT sebagai kriminal.

Demikianlah adanya..

  • Oleh: Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)
  • Source: The Global Review

 

About admin

Check Also

Devide et Impera (Kembali) di Indonesia?

Hiruk-pikuk dan gempita sosial politik di negeri ini memang terlihat glamour lagi mewah, namun kalau ...