Sunday , July 22 2018
Home / Berita / Gencatan Senjata Saudi di Yaman, Penipuan Publik

Gencatan Senjata Saudi di Yaman, Penipuan Publik

Arab Saudi dan koalisi Arab kembali menipu opini publik dunia. Untuk kesekian kalinya mereka mengumumkan pemberlakuan gencatan senjata sementara di Yaman, padahal laporan-laporan media bercerita lain. Secara praktis sama sekali tidak ada gencatan senjata, dan serangan atas rakyat Yaman terus berlanjut.

Di saat media-media Arab mengabarkan lawatan Raja Saudi dan ratusan pangeran ke Paris, Perancis, petinggi Riyadh mengumumkan pemberlakuan jeda kemanusiaan selama lima hari sejak Ahad (26/7) tengah malam.

Sejumlah laporan mengatakan, gencatan senjata memang sudah mulai diberlakukan, namun ini tidak menghentikan sepenuhnya serangan Saudi ke Yaman. Blokade Saudi atas negara itupun tidak berkurang.

Sekalipun sudah diumumkan bahwa gencatan senjata dimaksudkan untuk membantu menyalurkan bantuan kemanusiaan serta medis kepada rakyat Yaman, tapi sumber Yaman melaporkan bahwa militer Saudi terus menggempur sejumlah wilayah di negara itu.

Gencatan senjata ini diberlakukan setelah ribuan warga sipil Yaman tewas atau terluka akibat agresi militer Saudi yang dimulai sejak Maret 2015 lalu.

Para pengamat menganggap gencatan senjata formalitas Saudi tersebut dilakukan untuk menutupi kejahatan-kejahatan Riyadh di Yaman terutama dalam beberapa pekan terakhir. Pengalaman membuktikan bahwa Saudi justru melakukan pembunuhan lebih besar saat gencata senjata diberlakukan.

Sejak empat bulan lalu, beberapa kali gencatan senjata sudah diberlakukan, namun warga Yaman yang tewas di tangan pasukan Saudi jumlahnya malah lebih besar dibanding hari lainnya. Sebagian pengamat menilai tujuan rezim Al Saud memberlakukan gencatan senjata ini adalah untuk mengumpulkan kekuatan dan menghindari kekalahan lebih besar di Yaman.

Serangan balasan mematikan rakyat Yaman di bawah pimpinan Houthi atas pasukan agresor Saudi menurunkan semangat tempur militer Saudi secara drastis.

Pengumuman gencatan senjata sementara ini memungkinkan rezim Al Saud menjalankan kebijakan menipunya guna mematikan perlawanan rakyat Yaman dan meraih tujuan ekspansionismenya di negara itu.

Target lain pengumuman gencatan senjata Saudi di Yaman adalah membuka peluang mempersenjatai kelompok teroris Al Qaeda dan ISIS di Yaman untuk menyulut konflik internal lebih besar di negara Arab tersebut.

Situasi terkini di Yaman membutuhkan penghentian total serangan brutal Saudi ke Yaman dan pemberlakuan gencatan senjata jangka panjang dan kokoh yang berujung dengan gencatan senjata total dan final.

Publik dunia mendesak penghentian total kejahatan Al Saud di Yaman untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan yang lebih parah. PBB diharapkan dapat melakukan langkah-langkah signifikan termasuk gencatan senjata jangka panjang dan kokoh.

Akan tetapi yang terjadi adalah, PBB selalu mencari-cari alasan untuk lari dari tanggung jawabnya itu.

Sebagian besar langkah PBB dipengaruhi oleh kebijakan Al Saud dan pendukungnya. Masalah ini memberi kesempatan pada Riyadh untuk melanjutkan kejahatannya di Yaman. Saudi bahkan tidak pernah menaati gencatan senjata dan terus melanggarnya. Akibatnya, korban dari rakyat Yaman terus bertambah sekalipun diberlakukan gencatan senjata.

Gencatan senjata yang diinginkan Saudi di Yaman harus berujung dengan pelaksanaan proyek konspirasi Dewan Kerjasama Teluk Persia dan resolusi hipokrit Dewan Keamanan PBB nomor 2216 terkait krisis Yaman.

Resolusi 2216 DK PBB terkait krisis Yaman adalah resolusi yang represif bagi rakyat Yaman dan disusun untuk mendukung konspirasi Dewan Kerjasama Teluk Persia.

Tujuan proyek Dewan Kerjasama Teluk Persia adalah melucuti senjata gerakan perlawanan rakyat Yaman, Ansarullah dan menyingkirkan mereka dari pemerintahan dan mengembalikan kekuasaan rezim terguling Yaman. (IRIB Indonesia/HS)

About admin

Check Also

Arab Saudi Rajanya Minyak, RI Rajanya Panas Bumi

Letak Indonesia yang berada di ‘ring of fire’ membuat negara ini memiliki harta karun energi ...