Wednesday , June 20 2018
Home / Ensiklopedia / Fenomena Bertukar Pasangan Bukti Masyarakat Sakit

Fenomena Bertukar Pasangan Bukti Masyarakat Sakit

Fenomena Bertukar Pasangan Bukti Masyarakat SakitBertukar pasangan dalam berhubungan seksual atau lebih sering disebut sebagai tukar pasangan kini bukan lagi fenomena yang hanya ada di luar negeri. Fenomena ini tidak hanya dapat dijumpai pada kalangan menengah ke atas di Jakarta, tetapi juga di luar daerah.

Penulis buku kontroversial, Jakarta Undercover (Sex in The City), Moammar Emka mengatakan, “Ada beberapa daerah yang jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota, mengadakan pesta tukar pasangan di hutan atau di gunung.”

Hanya, kata Emka, pola dan bentuk tukar pasangan oleh kalangan atas di Ibu Kota lebih variatif dibandingkan dengan tukar pasangan yang terjadi di daerah pelosok.

Melihat fenomena yang mewabah, tidak heran jika beberapa tahun ini tukar pasangan kemudian menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Seksolog Indonesia, dr Boyke Dian Nugraha, mengatakan fenomena bertukar pasangan seksual atau yang dikenal dengan istilah swinger menunjukkan kesehatan psikologis masyarakat yang sakit. Alasannya, kata dia, pelaku swinger merupakan kelompok-kelompok sosialita yang memahami konsekuensi dari saling bertukar pasangan.

“Swinger itu ciri orang-orang yang sakit,” kata Boyke saat dihubungi, Selasa, 19 November 2013.

Boyke menuturkan, swinger yang berasal dari budaya Barat, salah satunya Amerika Serikat, memasuki Indonesia sejak sekitar 1970-an. Kegiatan itu dilakukan sekumpulan orang-orang yang saling mengenal dan memiliki hubungan pertemanan.

Menurut Boyke, kegiatan itu biasanya dilakukan lantaran kebosanan yang dialami dan berusaha mencari kepuasan seksual yang bukan berasal dari pasangan sahnya. “Rasa bosan yang solusinya justru dicari dari pihak luar,” kata dia.

Di Indonesia, Boyke menjelaskan, swinger biasanya terjadi pada pesta-pesta tertutup milik golongan tertentu. Ia mengatakan bahwa tempatnya dapat berupa klub-klub mewah atau perjalanan menggunakan kapal pesiar yang disewa bersama.

Boyke mengatakan pelaku swinger biasanya bukan orang yang tak berpendidikan. Mereka, ujar dia, memahami bahwa perilaku bertukar pasangan dapat menyebabkan penyakit Human Immunodeficiency Virus, namun memilih untuk mengabaikannya. “Moto mereka, mari bersenang-senang selagi masih hidup,” ujar Boyke.

Sementara itu, psikolog seksual Zoya Amirin mengatakan, para pelaku swinger dikenal sangat eksklusif. Mereka hanya mau melakukan tukar-menukar dengan pasangan suami-istri yang sah. Itu dibuktikan dengan surat nikah. “Mereka tidak mau kalau itu istri siri,” kata dia.

Zoya menerangkan, dari saling tukar pasangan ini, apa yang didapat dari pelaku swinger adalahgratifikasi kilat. Mereka mendapatkan kesenangan seksual dari tukar-menukar pasangan. Tindakan tukar-menukar pasangan itu, kata dia, menunjukkan ada gangguan dalam hubungan suami-istri. Sayangnya, penyelesaian gangguan itu dilakukan dengan mengambil cara swinger.

Bagi Zoya, rasa bosan dalam hubungan suami-istri pasti ada. Namun, pasangan suami-istri tersebut mestinya mencari solusi bersama yang tepat, bukan mencari kesenangan dengan swinger. Suami-istri mestinya melakukan investasi emosi. “Lakukanlah ritual-ritual romantis seperti saat pacaran dulu,” kata Zoya.

Hal-hal romantis tersebut, misalnya melakukan bulan madu meskipun sudah punya anak. “Lupakanlah anak untuk sementara dan habiskan waktu romantis berdua,” kata Zoya. Dia menekankan pentingnya suami-istri melakukan investasi emosi agar masing-masing pihak mengerti ritme seksual pasangannya. Bila sudah mengerti ritme seksual pasangan, suami-istri akan lebih mudah mencapai pleasure dan satisfaction. “Bukannya malah melakukanswinger, sebab dalam swinger orang tidak akan mencapai satisfaction,” kata dia.

Tukar pasangan atau lebih sering disebut tukar pasangan bukan lagi fenomena yang terjadi di luar negeri. tukar pasangan kini telah banyak ditemukan di Jakarta.

Penulis buku kontroversial Jakarta Undercover (Sex in The City), Moammar Emka, mengatakan fenomena tukar pasangan bukan hal baru, tapi sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.”tukar pasangan sudah lama, bahkan saat ini lebih beragam,” Emka menjelaskan kepada Tempo, pekan lalu. Menurut Emka, tukar pasangan mengalami banyak gubahan. Bahkan saat ini, tukar pasangan menjadi lahan bisnis.

“Belakangan, muncul beberapa klub atau semacam perkumpulantukar pasangan yang punya jadwal rutin pertemuan untuk melakukan pesta seks.” Tak mengherankan jika dalam beberapa tahun ini muncul beberapa penawaran dari sejumlah ‘pengelola’ yang mengajak para tukar pasangan bergabung di suatu perkumpulan. “Bergabung dalam kelompoktukar pasangan tidak gratis. Mereka dipungut biaya dalam jumlah tertentu,” kata Emka. Pelaku swinger atau saling bertukar pasangan semakin terbuka dengan membentuk klub untuk melakukan pesta seks. Bagaimana pandangan psikolog terhadap pelaku swinger ini?

“Secara psikologi swinger belum dianggap sebagai penyimpangan seksual, seperti fedofilia atau homoseksual, tetapi apakah pelaku swinger mengalami gangguan, mungkin,” kata psikolog seksual Zoya Amirin pada Tempo melalui sambungan telepon, Senin, 18 November 2013.

Menurut Zoya, dalam kultur masyarakat monogami, setiap orang dituntut untuk setia dengan pasangan. Masalahnya, ada sebagian orang yang tidak puas dengan pasangan dan ingin mencari kesenangan dengan variasi lain. Diantara variasi yang diambil adalah berselingkuh. “Tapi kalau selingkuh kan capek, sembunyi-sembunyi. Akhirnya mereka membujuk istri untuk swinger dengan pasangan lain,” kata Zoya.

Para pelaku swinger, kata Zoya, dikenal sangat eksklusif. Mereka hanya mau melakukan tukar-menukar dengan pasangan suami-istri yang sah. Itu dibuktikan dengan surat nikah. “Mereka tidak mau kalau itu istri siri,” kata dia.

Zoya menerangkan, dari saling tukar-menukar pasangan ini, apa yang didapat dari pelaku swinger adalah quick gratification atau gratifikasi kilat. Mereka mendapatkan kesenangan seksual dari tukar-menukar pasangan suami-istri. Sebenarnya tindakan itu, kata dia, menunjukan adanya gangguan dalam hubungan suami-istri. Sayangnya, penyelesaian dari gangguan itu dilakukan dengan cara swinger.

Kehidupan seksual yang membosankan dengan pasangan bisa menjadi alasan orang melakukan aksi bertukar pasangan. Psikolog seksual Zoya Amirin menilai pelaku tukar pasangan hanya akan mendapatkan kesenangan, bukan kepuasan.

“Ada dua aspek dalam hubungan suami-istri, yaitu pleasure dan satisfaction. Bertukar pasangan hanya meraih pleasure. Mereka tak akan mendapatkan satisfaction,” kata Zoya pada Tempo melalui hubungan telepon, Senin, 18 November 2013. 

Menurut Zoya, pleasure atau kesenangan hanya bicara soal fisik, misalnya soal berapa kali orgasme. Sementara satisfaction bicara hal yang jauh lebih penting dan dibutuhkan dalam relasi suami-istri, yaitu kepuasan batin. “Dalam satisfaction itu ada kepuasan psikologi, kita bicara good quality of sex,” kata Zoya.

Lebih jauh Zoya menerangkan, pelaku tukar pasangan yang dilakukan seseorang bisa menunjukan ada gangguan dalam hubungan seksual antara suami-istri. Mereka pun mencari variasi seksual untuk mendapatkan kesenangan, misalnya dengan berselingkuh. “Tapi kalau selingkuh kan capek, sembunyi-sembunyi. Akhirnya mereka membujuk istri untuk tukar pasangan dengan pasangan lain,” kata Zoya.

Bagi Zoya, rasa bosan dalam hubungan suami-istri pasti ada. Namun, pasangan suami-istri mestinya mencari solusi bersama yang tepat, bukan mencari kesenangan dengan saling berselingkuh atau tukar pasangan. Yang justru harus dilakukan adalah suami-istri mestinya melakukan investasi emosi. “Lakukanlah ritual-ritual romantis seperti saat dulu pacaran,” kata Zoya.

Hal-hal romantis tersebut misalnya melakukan bulan madu meskipun sudah punya anak. “Lupakanlah anak untuk sementara dan habiskan waktu romantis berdua,” kata Zoya. Dia menekankan pentingnya suami-istri melakukan investasi emosi agar masing-masing pihak mengerti ritme seksual pasangannya. Bila sudah mengerti ritme seksual pasangan, suami-istri akan lebih mudah mencapai pleasure dan satisfaction. “Bukannya malah melakukan tukar pasangan. Sebab, dalam tukar pasangan orang tidak akan mencapai satisfaction,” kata dia. (IRIB Indonesia/Tempo.co)

About admin

Check Also

Indonesia Krisis Ulama, Banyak Terjun ke Dunia Politik

JAKARTA – Ini menjadi peringatan bagi umat Islam di Indonesia. Sebab, saat ini umat muslim ...