Friday , August 17 2018
Home / Berita / Dunia dan Ancaman Bioteroris Barat

Dunia dan Ancaman Bioteroris Barat

Dunia dan Ancaman Bioteroris BaratSenjata biologi dan teknologinya mendapat perhatian lebih besar – daripada mesin-mesin perang modern – oleh terorisme pemerintah dan negara-negara arogan serta pemilik senjata nuklir. Senjata nuklir adalah bukan sebuah bahaya aktual dan hanya kekuatan pertahanan potensial. Negara-negara nuklir tidak mudah menggunakan mesin perang itu terhadap musuh-musuh mereka, karena dampak penggunaannya sangat luas dan tidak dapat dikontrol. Radiasi dari bahan radioaktif, debu nuklir dan topan atom serta radiasi pengion tidak mengenal batas-batas geografi dan mencemari area yang sangat luas.

Pada Perang Dunia II, Amerika Serikat “menguji coba” bom atomnya di Jepang, sebuah negara yang terisolasi oleh laut dan juga tidak memiliki tetangga dekat. Jika pada waktu itu, AS benar-benar ingin mengakhiri perang, maka sudah seharusnya mereka menjatuhkan bom atom di Berlin, sebagai pihak pengobar perang. Senjata kimia juga bukan pilihan yang jitu untuk kegiatan-kegiatan terorisme. Ada banyak keterbatasan yang dimilikinya seperti, masalah pemindahan, penyimpanan dan pengoperasian serta bahaya pencemaran dan kemudahan untuk melacak penggunanya.

Oleh karena itu, bioteroris atau terorisme biologi mendapat perhatian lebih besar dibanding mesin-mesin perang modern. Senjata biologi – baik di bidang perang maupun terorisme – adalah sebuah instrumen ideal untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Di antara keunggulan senjata biologi adalah kemampuan produksi yang tinggi, kemudahan penyimpanan, potensi proliferasi, kesulitan untuk melacak individu atau kelompok yang menggunakannya, dan dampak yang sangat luas dari mulai manusia hingga sektor peternakan dan pertanian.

Kelebihan itu mendorong kelompok dan pemerintah untuk menggunakan senjata biologi dalam mengejar tujuan mereka tanpa mengindahkan prinsip-prinsip moral. Dalam beberapa tahun terakhir, senjata biologi telah banyak digunakan oleh terorisme negara untuk menghancurkan sektor pertanian dan industri. Meskipun negara sasaran tidak pernah mampu untuk membuktikan tudingannya itu, tapi Eropa mencurigai dinas intelijen AS dan Australia berada di balik merebaknya penyakit sapi gila dengan tujuan merusak pasar ekspor daging Eropa.

Sementara Cina menganggap AS bertanggung jawab atas penyebaran penyakit SARS di negara itu. Dampak aktivitas intelijen-intelijen AS dinilai oleh Korea Utara sebagai penyebab merebaknya kolera di Pyongyang pada akhir dekade 1980. Jelas bahwa militer bukan satu-satunya komunitas yang menghadapi bahaya serangan biologi, tapi masyarakat luas juga terkena dampaknya.

Menurut para pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 17 negara dunia memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata biologi. Penggunaan jenis senjata ini sampai batas tertentu tidak berbahaya bagi teroris, tapi pengamatan patogen dan cara menanganinya biasanya akan bermasalah. Sebagai contoh, wabah diare yang disebarkan di sumber air sebuah wilayah akan terdeteksi beberapa hari kemudian dan ini akan menjadi kesempatan baik bagi teroris untuk mencapai target mereka.

Transmisi mikroba dan bakteri patogen dari satu negara ke negara lain dengan mudah terjadi melalui aktivitas perjalanan. Sebagai contoh, meletakkan bubuk spora antraks dalam kapsul obat dan membawanya ke daerah-daerah target, merupakan salah satu cara yang mudah untuk menyebarluaskan bakteri antraks. Bakteri-bakteri patogen ini akan disebarkan dengan berbagai metode untuk menyerang komunitas tertentu. Metode menyebarkan bakteri-bakteri patogen pernah dilakukan melalui udara, air, bahan makanan, mainan anak-anak dan paket pos.

Teroris telah menetapkan target-target yang ingin dicapai melalui penggunaan bakteri-bakteri berbahaya. Jika mereka ingin menyebarkan sebuah bakteri secara luas, mereka akan menggunakan virus-virus seperti bakteri cacar. Penyakit ini akan mudah menular dan menjangkit siapa saja yang terkena virus tersebut. Sementara jika teroris ingin menyerang individu tertentu, mereka akan menggunakan virus seperti bubuk antraks.

Menurut definisi Interpol pada tahun 2007, bioteroris adalah sebuah operasi penyebaran bakteri atau racun dengan tujuan membunuh atau melukai manusia, binatang dan tumbuhan secara terencana untuk menciptakan ketakutan, ancaman dan memaksa sebuah pemerintah atau kelompok untuk melakukan sesuatu atau memenuhi tuntutan-tuntutan politik dan sosial.

Perspektif baru mengenai fenomena bioteroris telah keluar dari lingkup operasi-operasi teror dan militer. Segala bentuk aksi terencana yang secara langsung atau tidak langsung mengancam keselamatan individu dan kesehatan sebuah masyarakat melalui fisik, makanan dan lingkungan akan dikategorikan sebagai bioteroris. Dengan pandangan ini, masyarakat di negara-negara berkembang selalu menghadapi bahaya penggunaan bioteroris oleh negara-negara industri dan kekuatan-kekuatan utama militer. Kasus ini biasanya terjadi karena ketidaktahuan masyarakat, kelalaian pejabat atau kemudahan birokrasi.

Menurut perspektif baru, bioteroris tidak lagi terbatas pada serangan bakteri dan virus, tapi juga mulai menggunakan alat-alat kosmetik dan obat untuk merusak masyarakat di negara-negara dunia ketiga. Sampah-sampah berbahaya dengan nama baru “barang bekas” dikirim ke negara-negara Asia dan Afrika sebagai hadiah atau produk-produk makanan baru diberikan kepada masyarakat di negara miskin sebagai ajang percobaan. Berbagai jenis multivitamin yang mengandung zat-zat berbahaya disebarkan untuk merusak kesehatan masyarakat secara bertahap atau meracuni sektor pertanian dan peternakan.

Industri farmasi dapat dimanfaatkan sebagai senjata ekonomi dan kesehatan untuk menyerang bangsa-bangsa lain. Pada Oktober 2010, Kementerian Pertanian Iran terkait merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan, mengatakan, “PMK menyebar akibat penyelundupan hewan, tapi juga ada kemungkinan serangan bioteroris oleh negara-negara Eropa atau tetangga.”

Masyarakat di negara-negara miskin biasanya rentan menjadi target serangan bioteroris industri farmasi Amerika Serikat. Mereka dimanfaatkan sebagai ‘kelici percobaan’ sehingga obat tersebut mendapat paten untuk dijual ke pasar AS. Anggaran yang dialokasikan untuk mempercepat pengembangan obat baru bagi anak-anak Amerika, pada akhirnya akan digunakan di negara-negara miskin untuk uji klinis obat tersebut. Lebih dari sepertiga dari uji coba dilakukan di bawah undang-undang Pediatric Exclusivity Provision yang disahkan pada tahun 1997 di negara berkembang atau transisi, seperti Uganda dan India.

Sara Pasquali, seorang dokter anak di Duke University Medical Center di Durham, North Carolina, mengatakan bahwa situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran etis. Sering kali, akses untuk studi mungkin satu-satunya akses ke perawatan kesehatan yang dimiliki sebuah keluarga, katanya mengenai para ‘kelinci percobaan’ di negara-negara berkembang. Namun, setelah pengujian dilakukan, tidak jelas apakah obat yang efektif akan dipasarkan di negara yang bersangkutan, dan apakah harganya akan terjangkau.

Pediatric Exclusivity Provisionbertujuan untuk mengsentifkan pengembangan obat untuk anak-anak di Amerika. Karena banyak penyakit yang jarang terjadi di masa kanak-kanak, uji klinis biasanya menargetkan hanya orang dewasa, dan hasilnya tidak secara otomatis mencakup anak-anak. Provisi  pedriatik memberikan perusahaan tambahan enam bulan paten jika mereka menguji obat mereka pada anak-anak juga.

M. Nabeel Ghayur, seorang farmakolog yang bekerja dalam pengembangan obat di Pakistan sebelum bergabung dengan Universitas McMaster di Hamilton, Ontario, Kanada, mengatakan kondisi serupa terjadi di India dan Pakistan. Dia menuturkan, “Masyarakat benar-benar memiliki kepercayaan buta pada dokter mereka di Asia Selatan. Mereka tidak tahu apa itu pengembangan obat, mereka tidak tahu apa itu uji klinis.” Menurutnya, merekrut orang di sana mudah, mendapatkan persetujuan mudah, membayar pasien dan membayar dokter mudah. Para dokter dan peneliti sama sekali tidak tahu tentang keseriusan situasi ini. (IRIB Indonesia/RM)

About admin

Check Also

UUD Baru yang Sangat Yahudi

Israel punya undang-undang dasar baru. Sejak 19 Juli lalu. Intinya: Israel itu negara Yahudi. Untuk ...