Saturday , April 20 2019
Home / Agama / Kajian / Do’a Fakir Miskin yang Mengalahkan Do’a Nabi Musa as

Do’a Fakir Miskin yang Mengalahkan Do’a Nabi Musa as

Oleh : H. Derajat

Kisah ini ku persembahkan untuk saudara-saudaraku yang kadang masih dibingungkan dengan takdir yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz apakah hal ini bisa dirubah? Dan inilah jawaban aku dalam bentuk sebuah kisah.

Di zaman Nabi Musa AS, terdapat seorang kaya yang senantiasa menolong orang, termasuk Nabi Musa sendiri. Lalu Nabi Musa bertanya kepadanya tentang apa yang boleh dilakukan dirinya sebagai menghargai atas pertolongannya. Ia mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, cuma yang belum orang kaya itu miliki adalah memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi harta kekayaannya.

Lalu Nabi Musa berdoa kepada Allah di Bukit Tursina, untuk meminta hajat orang kaya itu. Kemudian Allah SWT Berfirman kepada Nabi Musa. “Sesungguhnya, Ia belum tertulis di Lauh Mahfuzh”. Setelah mengetahui jawaban tersebut, Nabi Musa kembali menemui orang kaya tersebut, dan memberitahukan berita itu kepadanya.

Tidak lama kemudian, datang seorang fakir miskin memohon sedekah dari orang kaya tersebut. Setelah diberi bantuan, fakir tersebut bertanya tentang apa yang boleh dilakukan untuknya sebagai balasan sedekah dan pertolongannya. Lantas Orang kaya tersebut menyatakan hajatnya yang sama, ia menginginkan seorang anak lelaki bagi mewarisi harta kekayaannya. Kemudian fakir tersebut berdoa dan meminta agar Allah mengabulkan permintaan orang kaya tersebut.

Sembilan bulan setelah itu makbullah permintaan fakir miskin tadi. Orang kaya tersebut mendapat seorang anak lelaki.

Nabi Musa merasa heran, kemudian bertanya kepada Allah bagaimana hal itu boleh berlaku sedangkan ia belum tertulis di Lauh Mahfudz?

Sebelum menjawab persoalan tersebut, Allah memerintahkan Nabi Musa pergi mencari seseorang yang sanggup memotong daging pahanya sendiri dan memberikannya kepada Allah.

Lalu Nabi Musa pergi berjalan mencari orang yang mampu memotong dagingnya sendiri untuk Allah. Semua orang tidak sanggup dengan memberi alasannya masing-masing. Akhirnya, berjumpalah Nabi Musa dengan fakir tadi di suatu kawasan dihujung desa.

Duduklah wahai Nabi Allah”, ucap fakir tersebut. Setelah mengungkapkan hajatnya kepada fakir tersebut, kemudian fakir itu bertanya kepada Nabi Musa “Apakah benar Allah menyuruh kamu mencari daging manusia untukNya…?” Nabi Musa berkata, “Benar”.

Jikalau Tuhan yang minta, tidak akan kutolak, ambillah dagingku”. Diambilnya pisau lalu dipotong daging dari paha kanan dan paha kirinya. Nabi Musa melihat menyaksikan dengan penuh keheranan timbul pula sifat kasihan melihat fakir itu merasa kesakitan.

Ambillah daging ini Hai Musa dan bersegeralah menghadap tuhan mu untuk mendapatkan jawaban yang engkau inginkan itu”, kata fakir miskin tersebut dalam keadaan berlumuran darah dan merasakan kesakitan yang amat-amat sangat.

Setelah mendapat daging tersebut Nabi Musa kembali ke Bukit Tursina menghadap Allah SWT dan menceritakan pengalaman mengharukan dengan fakir miskin yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.

Maka Allah jawab pertanyaan Nabi Musa ”Hai Musa, kalau fakir itu sanggup memberi haknya karena Aku, bagaimana Aku hendak menolak permintaannya…?“.

Doa fakir itu telah dimakbulkan dan Allah telah mengubah apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh, seperti mana firmannya:


يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)“. (Ar-Ra’d : 39)

Fakir itu telah menjadikan dirinya “hak Allah“.

Rasulullah SAW bersabda “Siapa menjadi hak Allah, Allah akan menjadi haknya”.

 

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Peristiwa Metamorfosa Akal

Isra Dari sebagian definisi pada umumnya, barangkali sedikit bisa kita “raba” tentang pengertian umum dari ...