Monday , November 19 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Dinding Penghambat Menuju Tuhan

Dinding Penghambat Menuju Tuhan

Merobohkan Dinding Penghalang

Jalaluddin Rumi bercerita. Dulu, ada seorang yang amat kehausan. Ia berada di sebuah puncak benteng yang amat tinggi. Di bawah benteng itu mengalir sungai yang jernih. Ia sangat ingin memperoleh air itu, tetapi benteng itu menghalanginya sampai ke tempat air mengalir.

Kemudian dengan tenaga tersisa, ia menjatuhkan batu bata dari benteng itu satu per satu. Batu yang jatuh ke dalam sungai menimbulkan suara gemericik air. Entah bagaimana, orang yang kehausan itu mendengar suara gemericik air itu sebagai suara yang amat indah. Lebih indah dari kabar gembira yang disampaikan kepada seorang napi yang akan dibebaskan. Lebih indah dari kabar yang disampaikan kepada orang-orang yang menunggu berita sekian lama.

Makin indah dia mendengar suara gemericik air itu, makin sering dia menjatuhkan batu bata. Akhirnya, air sungai yang dibawah berkata, “Hai manusia, mengapa engkau jatuhkan batu bata itu?” Orang haus itu menjawab, “Aku menjatuhkan batu bata itu karena dua kepentingan.

Pertama, karena aku menikmati suara gemericik air yang ditimpa batu bata; dan kedua, karena dengan meruntuhkan batu bata itu, makin lama aku makin dekat dengan pusat air itu.”

Dengan itu, sebetulnya Rumi ingin mengajarkan kepada kita bahwa air mencerminkan kesucian Allah Swt. Dan orang hanya bisa merindukan Allah Swt dengan merobohkan batu bata hawa nafsunya satu demi satu. Makin sering dia merobohkan hawa nafsu, makin tampak kepadanya keindahan Allah, makin besar kerinduannya kepadaNya, dan makin dekat dia di sisi-Nya.

Marilah kita berusaha menaklukan hawa nafsu kita dan meletakkan akal sehat di atas kekuatan hawa nafsu kita. Hanya dengan itu, kita akan berlayar menuju Allah Swt, menghampiri-Nya, dan melepaskan kerinduan kita kepada-Nya.

Tiga Kekuatan Hawa Nafsu

Dalam setiap diri kita, kita selalu menemukan beberapa kekuatan yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Psikologi Barat menyebutnya sebagai drive atau motive. Para sufi menyebutnya sebagai kekuatan-kekuatan hawa nafsu.

Paling tidak, ada tiga kekuatan hawa nafsu di dalam diri kita.

Pertama, disebut sebagai Quwwatun Bahiimiyyah atau kekuatan kebinatangan. Dalam diri kita, terkandung unsur-unsur kebinatangan. Unsur inilah yang mendorong kita untuk mencari kepuasan lahiriah atau kenikmatan sensual.

Kedua, disebut oleh para sufi sebagai Quwwatun Sab’iyyah atau kekuatan binatang buas. Jauh dalam diri kita, kita memiliki kekuatan binatang buas. Kita senang menyerang orang lain. Kita suka memakan hak orang lain. Kita ingin membenci, menyerang, menghancurkan, atau mendengki orang lain. Kita seperti tokoh dalam cerita Dr. Jekyll and Mrs. Hyde. Dalam diri kita ada satu kekuatan jahat untuk menyerang orang lain.

Ketiga, kita juga mempunyai satu kekuatan lain dalam diri kita yang disebut para sufi sebagai Quwwatun Syaithaaniyyah. Inilah kekuatan yang mendorong kita untuk membenarkan segala kejahatan yang kita lakukan. Kalau kita mengambil hak orang lain, setan membisikkan dalam hati kita agar kita tidak usah merasa bersalah sebab kita mengambil hak orang lain untuk dipergunakan membantu saudara-saudara kita. Kita boleh jadi korupsi satu milyar rupiah; kemudian kita redakan perasaan bersalah kita dengan memberikan infak satu juta rupiah. Setan akan berkata bahwa perbuatan korupsi yang kita lakukan tidak lain adalah untuk membantu kepentingan orang lain juga.

Ketiga kekuatan ini berasal dari hawa nafsu.

Namun, Tuhan juga menyimpan dalam diri kita, sebagai satu bagian penting dari kepribadian kita, satu kekuatan yang berasal dari percikan cahaya Tuhan. Inilah yang dinamakan dengan Quwwatun Rabbaaniyyah, kekuatan Tuhan. Kekuatan ini terletak pada akal sehat kita.

Apabila keinginan untuk mengejar hawa nafsu itu yang menguasai diri kita, maka kita sebenarnya adalah binatang-binatang secara ruhaniah. Walaupun, secara jasmaniah, kita menampakkan penampilan yang seperti manusia.

Apabila kita senang memelihara dendam, perasaan iri hati, kejengkelan, dan kemarahan dalam hati kita, kita adalah serigala-serigala yang buas. Apabila dalam diri kita, yang berkuasa adalah kepandaian mencari dalih dan alasan untuk membenarkan kekeliruan-kekeliruan kita, secara hakikat kita sebetulnya adalah setan yang mempunyai penampilan sebagai manusia.

Sebaliknya, bila akal yang menundukkan ketiga-tiganya, kita akan dibimbing akal untuk menempuh perjalanan ruhani menempuh Allah Swt. Tugas akal adalah mengendalikan seluruh hawa nafsu itu. Dengan cara itulah, kita dapat mendekati Allah Swt. (/JR)

Oleh: A. Rifai

 

 

 

About admin

Check Also

Nasihat Mulia Dalam Taurat Nabi Musa as. (Bagian-1)

Bagian 1 Pesan-pesan hikmah ini adalah nasihat mulia yang dinukil oleh Amirul Mukminin Ali bin ...