Wednesday , April 24 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Dialog seorang Sufi dan Sang Proklamator

Dialog seorang Sufi dan Sang Proklamator

Suatu ketika, sang putra fajar dan sekaligus presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno atau Bung Karno, bertemu dengan beberapa profesor dan petinggi. Yang beliau temui waktu itu adalah Prof. ir. Brojonegoro, Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Bapak Sucipto Besar, Admiral John Lie, Duta Besar Belanda, Kapolri dan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc.

Dari rombongan tersebut, Bung Karno agaknya tertarik dengan sosok terakhir, yaitu Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc. yang selama ini dikenal sebagai selain ahli fisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi Medan, juga merupakan seorang sufi atau penganut tasawuf yang cerdas. Saking tertariknya dengan sosok Prof. Kadirun Yahya ini, Bung Karno pun meminta Prof Kadirun secara pribadi untuk duduk di dekatnya.

Setelah semuanya berada pada tempat duduknya masing-masing, Bung Karno membuka pembicaraan dengan bertanya kepada Prof. Kadirun dengan menggunakan bahasa Belanda sebagai berikut:

Prof, ik horde van jou al sind 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen

(Aku dengar tentang anda sejak empat tahun, namun baru sekarang aku bertemu dengan anda, sebenarnya ada sesuatu yang hendak aku tanyakan pada anda).

“Ya pak, tapi apa gerangan yang hendak anda tanyakan ?”

“Tetang suatu hal yang kira-kira sudah sepuluh tahun, aku mencari-cari jawabannya akan tetapi belum ketemu dengan jawaban yang memuaskan. Aku sudah bertanya kepada para ulama dan intelektual yang aku anggap tahu, namun semua jawaban yang ku peroleh tidak memuaskanku.”

“Lantas soalnya apa pak ?”

“Sebelum aku mengajkan pertanyaan yang sebenarnya, aku mau bertanya dahulu tentang yang lain,” Lanjut Bung Karno.

“Silakan,” Kata Prof. Kadirun

“Manakah yang lebih tinggi, presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan surga ?” tanya Presiden.

“Sorga”, Jawab Prof Kadirun spontan

Accord (setuju)”, lanjut Bung Karno lega.

“Lalu, manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat surga? “Bung Karno melanjutkan pertanyaannya

“Untuk presiden, Jenderal, dan Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk meraih surga maka ia harus berkorban untuk Allah segala-galanya. berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu dan Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabadi, baru barangkali dapat masuk Nirwana, ” Jawab Prof Kadirun.

“Setuju”, jawab Bung Karno.

Nu heb ik je te pakken Professor (Sekarang aku baru dapat menangkap anda profesor). Saya cerita sedikit dulu,” kata Bung Karno.

“Silakan Bapak Presiden.”

“Saya telah melihat, banyak teman-temanku meninggal dunia lebih dulu dari sya, dan hampir semuanya mati jelek karena banyak dosa. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki al-Quran dan al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum. Lantas saya menemukan satu hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut, “Rasulullah bersabda, Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberikan minum kepada anjing yang tengah kehausan itu. Rasul lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberikan minum kepada anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat, ia ahli surga.”

“Nah, profesor. Tandi anda katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk surga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explaint it Professor ?” Tanya Bung Karno lanjut.

Profesor Kadirun Yahya tidak langsung menjawab, beliau hening sejenak. Lantas beliau kemudian berdiri dan meminta disediakan kertas.

Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Bapak Presiden, tadi anda mengatakan bahwa dalam 10 tahun tidak menemukan jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit saja saya coba memberikan jawaban yang memuaskan,” kata Prof. Kadirun Yahya.

Sebagaimana diketahui, Prof. Kadirun Yahya merupakan ahli eksakta karena beliau merupakan ahli fisika. Demikian pula dengan Ir. Soekarno, juga seorang ahli eksakta karena beliau adalah seorang insinyur.

Di atas selembar kertas tersebut Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.

Bung Karno210/10 = 1 ;
“Ya” kata Presiden.
10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden.
10/1000` = 1/100 ;
“Ya” kata Presiden.
10/10.000 = 1/1000 ;
“Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
1000.000 … / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0;
“Ya” kata Presiden.
Dosa / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden.“

Nah…” lanjut Prof,
1 x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden
½ x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
1 zarah x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.

“ini artinya, sang wanita tersebut walaupun hanya satu dzarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar. Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya (amalnya), maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 dzarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.

Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan ?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan.”

“Lihat saja, walaupun satu milimeter jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan  frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Bung Karno kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ” jawab Prof. Kadirun Yahya

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” lanjutnya.

Prof Kadirun Yahya menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr : 29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian Roh-Ku, rebahkanlah Dirimu bersujud kepada-Nya”. Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT”.

Prof Kadirun melanjutkan, “Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!

Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malam dengannya. Kalaulah matahari umurnya satu juta tahun, maka cahayanya pun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya bisa dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak bisa dilihat”.

“Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)”, jelas Prof.

Prof Kadirun Yahya menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari Nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama ?” tanya Presiden. “

Prof Kadirun Yahya menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT. –”Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang”– (HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.

Sontak Sang Proklamator itu berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Bung Karno pun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum”.

Bung Karno3

Dari kisah di atas, marilah kita memperbanyak bershalawat kepada kanjeng Rasul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar kita dapat menangkap frekuensi Allah Ta’ala. Selain itu, dengan memperbanak shalawat, mahabbah kita kepada beliau dapat menjernihkan frekuensi Allah itu sendiri, yang artinya, semakin kita meningkat mahabbah kita kepada kanjeng Rasul, maka insya Allah kedekatan kita kepada Allah juga akan semakin bertambah, sehingga kita akan mendapatkan rahmat serta karunia yang amat besar dari sisi-Nya. aamiin. Banyak sekali shalawat yang dapat kita amalkan, tinggal pilih dan istiqamah menjalankan. Ada Shalawat al-‘Alil Qadri, Shalawat Ibrahimiyah, Shalawat Masyisiyah, dan lain sebagainya.

Majelis Walisongo

 

About admin

Check Also

Cinta Tuhan

Pada hari-hari suram dan kurang menguntungkan ini, ketika hati kita dipenuhi dengan permusuhan, ketika ruh ...