Tuesday , September 25 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Di Balik KTT Kim-Trump, Sebuah Analisis Intelijen
Pertemuan bersejarah antara Presiden Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un terlihat akrab (Foto : businessinsider)

Di Balik KTT Kim-Trump, Sebuah Analisis Intelijen

Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di kawasan Resort Sentosa Singapura pada hari Selasa (12/6/2018) menjadi berita sangat penting yang diliput 2.500 kuli tinta seluruh dunia. KTT dua Negara itu menyangkut keselamatan dunia dari kemungkinan perang nuklir yang akan mematikan jutaan umat manusia.

Menariknya, diplomasi bilateral tersebut adalah sebuah negosiasi yang tidak mengikuti pedoman yang dikenal, karena pada awalnya sangat mengkhawatirkan, implikasinya akan berbahaya. Dua orang pemimpin itu dikenal unik serta keras kepala. Kim berusia 34 tahun, berani dan tidak kenal takut, sementara Trump berusia 71 tahun, temperamental, sering merubah keputusannya tanpa beban. keduanya hidup pada peradaban yang sangat berbeda. KTT menjadi menarik, kedua tokoh eksentrik itu yang akhirnya datang bersama-sama ke Singapura, tersenyum dan berfoto ria mencoba mencari kesepakatan yang berbeda dari para pendahulu mereka. Masyarakat dunia pada enam bulan lalu sangat takut, dimana Kim tanpa rasa takut mengatakan akan menyerang AS serta sekutunya di Asia Pasifik dengan senjata nuklir dan kimia sementara dilain sisi Trump mengancam akan ‘membumihanguskan Korea Utara jika berani mengancam AS’.

Apabila hasil kesepakatan kedua Negara terlaksana seperti yang direncanakan, maka selain Amerika, Korea Utara, negara-negara di kawasan Laut China Selatan juga akan mendapat keuntungan bersama karena akan terselamatkan dari kemungkinan dari Perang dunia ketiga yang bisa menghancur leburkan dunia. Pemerintah Singapura dengan cerdik mengeluarkan kocek sebagai tuan rumah KTT sebesar US 15 juta dolar, selain bertanggung jawab terhadap keamanan kedua pemain utama tersebut. Kecerdikan Singapura terbayar, sebagai Negara yang dinilai aman, tidak ada gangguan sekecil apapun terhadap kelangsungan KTT.

Menlu AS, Mike Pompeo, mantan Direktur CIA menjadi arsitek KTT (Foto : CNBC)
 

Ketika kedua pemimpin bertemu, kapal perang AL Singapura disiagakan penuh, helicopter tempur Apache RSAF terus berpatroli, sementara beberapa jet tempur dan Pesawat Early Warning Gulfstream 550 terus beroperasi. Pemerintah Singapura telah mengubah negara kota yang futuristik tersebut menjadi panggung raksasa bagi Trump dan Kim yang memang butuh popularitas bagi kepentingan keduanya baik di dunia internasional maupun di dalam negeri masing-masing. Nah, mari kita bahas dari sudut pandang intelijen.

Perkembangan Yang Diperhitungkan AS 

Dari sejarah Korea Utara, Kim Il-sung, sebagai presiden pertama Korea Utara adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan gelar sebagai Presiden Abadi bahkan setelah kematiannya. Kim Jong-il sebagai generasi penerusnya, memegang tiga posisi utama negara itu yaitu Ketua Komisi Pertahanan Nasional, Sekjen Partai Buruh dan Panglima Tertinggi Tentara Rakyat Korea. Menurut konstitusi, jabatan terpenting di Korea Utara yang membuat seseorang sangat berkuasa adalah sebagai Ketua Komisi Pertahanan Nasional. Sejak ayahnya meninggal, Kim Jong Un ditasbihkan oleh para pejabat dan media sebagai “Great Successor, Supreme Leader and Great Leader.” Kini dia melengapi kekuasaan menjadi Panglima Tertinggi yang berkuasa atas militer.

Upaya Korea Utara untuk memiliki senjata nuklir dengan rudal balistik adalah prioritas kebijakannya untuk melawan AS serta sekutunya. Kim Jong Un yang dijuluki warga China sebagai “Fatty Kim The Third” menerapkan konsep deterrence untuk mempertahankan diri agar tidak diserang oleh AS.

Jarak jangkau Rudal Korea Utara, memang menakutkan (Foto : Quora)
 

Selama empat tahun berkuasa, Jong-Un telah melakukan pengujian 66 buah peluru kendali (rudal) dua kali lebih banyak dibandingkan yang dikerjakan ayahnya Kim Jong-il yang memerintah selama 17 tahun. Disamping itu jarak jangkauan rudal terus ditingkatkan. Korea Utara diketahui mampu membuat miniatur senjata nuklir yang kini diperkirakan siap ditembakkan dengan warhead 10 hingga 16 bom nuklir. Tercatat, Kim Jong-un padahari Jumat (29/03/2013) memerintahkan persiapan serangan rudal ke pangkalan militer AS, menyusul aksi latihan militer bersama AS dan Korsel, yang menghadirkan pesawat pembom siluman B-2. Hal ini bukanlah ancaman “perang” pertama yang dilontarkan Korut, semenjak negara itu dikenai sanksi internasional akibat uji coba nuklirnya. Korut menyatakan kini atau besok akan menyerang AS dengan menggunakan peluru kendali nuklir yang lebih kecil, lebih ringan dan beragam.

Korea Utara memiliki empat jenis rudal yang berbeda. Rudal Scud memiliki jarak jangkau 500 mil, yang bisa mencapai Jepang, rudal ‘Nodong’ mampu mencapai target baik di China atau Asia Tenggara. Rudal ‘Musudan’ memiliki jarak 2.500 mil dan bisa mencapai India sementara rudal ‘Taepodong’ dengan jarak jangkau 5.000 mil, bahkan bisa mencapai Skotlandia, Alaska, dan Kanada. Dengan suksesnya Korea Utara meluncurkan roket Unha-3 yang mampu mengirimkan satelit Kwangmyongsong-3 (kedua kali setelah yang pertama gagal) di orbit ruang angkasa, Korea Utara cepat atau lambat akan masuk dalam ICBM Club bersama AS, Rusia, dan China. Unha-3 yang diluncurkan Korea Utara pada hari Rabu (12/12) tersebut, menurut teori apabila dipersamakan dengan ICBM, dapat menjangkau jarak sekitar 8.000 hingga 10.000 kilometer (4.970 sampai 6.210 mil). Rudal Unha-3 ini dapat menjangkau Hawaii dan pantai barat laut daratan Amerika.

Korea Utara menyatakan telah melakukan lima uji coba nuklir yang berhasil pada tahun 2009, 2013 serta Januari dan September 2016. Uji coba pada September 2016 dilaporkan berkekuatan antara 10 dan 30 kiloton, yang dikonfirmasi oleh intelijen AS sebagai uji coba yang terkuat. Masyarakat Barat tidak jelas, yang sedang diuji bom atom atau bom hydrogen. Pihak Korea Utara mengklaim uji coba pada bulan Januari 2016 adalah bom hidrogen.

Militer Korea Utara siap untuk menyerang Korea Selatan (foto : PressTV)
 

Intelijen AS dan Korea Selatan pernah melaporkan bahwa Kim Jong-Un memiliki rencana perang barunya dengan ambisinya sendiri berupa invasi serangan militer ke Korea Selatan dalam waktu seminggu. Konsep akan dilaksanakan dengan menggunakan kemampuan serangan asimetris (termasuk senjata nuklir dan rudal). Tujuannya menyatukan kedua Korea di bawah pemerintahan Pyongyang dengan ideologi komunis. Korea Utara kini menyatakan siap perang, dimana sebuah konflik termonuklir dapat terjadi kapan saja.

Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan dalam laporannya, bahwa Korut mulai memproduksi senjata kimia pada tahun 1980-an dan diperkirakan memiliki sekitar 2.500 ton hingga 5.000 ton persediaan senjata kimia, termasuk gas saraf VX, seperti yang digunakan untuk membunuh Kim Jong Nam saudara tiri Kim Jong Un di Bandara Sepang Malaysia.

Sebanyak 600 rudal Scud dengan chemical warhead akan ditembakkan ke semua bandara, stasiun kereta api dan pelabuhan laut Korea Selatan, sehingga tidak mungkin warga sipil melarikan diri,” Korea Utara mungkin melakukan serangan dengan rudal jarak menengah dengan senjata kimia dan meluncurkannya ke basis di Jepang dan militer AS, yang akan membendung aliran bala bantuan langsung ke Korea Selatan.

Pada tahun 2015, diketahui AS pernah mengadopsi rencana perang baru, OPLAN 5015, yang mencakup serangan terhadap fasilitas nuklir dan rudal Korea Utara, serta “serangan pemenggalan kepala” terhadap Kim Jong-Un dan seluruh pemimpin Korea Utara. Disamping itu, Korea Selatan juga mengembangkan rencana serangan (pre-emptive strike) sendiri. Rencana tersebut dan telah diakuisisi oleh pejabat AS dan Korea yang menegaskan bahwa mereka memiliki senjata yang mampu menghancurkan beberapa senjata pemusnah massal Korea Utara. Untuk pertahanan, Seoul juga telah membangun sebuah sistem pertahanan THAAD yang rumit dukungan dari AS yang mampu menembak rudal musuh pada ketinggian.

OPLAN 5015, adalah konsep serangan terhadap Korea Utara (foto : steemit)
 

Para pemerhati militer jelas khawatir apabila perang Korea jilid kedua pecah, korban akan banyak jatuh. Melihat dari sejarah, akibat dari perang Korea, yang berlangsung dari tahun 1950 sampai 1953, dengan teknologi persenjataan yang sudah tua saja, korban yang jatuh demikian banyak. Sekitar 2,7 juta orang Korea kedua belah pihak tewas, bersama dengan 33.000 orang Amerika dan 800.000 orang WN China. Perang masa kini apabila meletus, pada first strike korban yang akan jatuh diramalkan sebanyak satu juta jiwa. Kondisi politik  panas beberapa waktu terakhir jelas membuat rasa tidak tenang baik masyarakat Korea Selatan, Jepang, AS dan bahkan Negara sekitarnya..

Korea Utara kini jelas tidak sama seperti masa lalu, teknologinya sudah semakin maju. Baik kualitas maupun kwantitas alutsistanya yang terus bertambah baik dan banyak , tetapi yang jelas dan tidak berubah adalah militansi dan fanatisme rakyat terhadap kedaulatan dan kesetiaan terhadap dinasti dan negaranya. Korea Utara adalah satu-satunya negara yang hingga kini masih tetap menutup diri, menolak dan menentang faham demokrasi. Rakyatnya miskin dan hidup dalam tekanan dan kesetiaan antara hidup mati kepada rezim. Perekonomiannya dikendalikan secara terpusat, warganya tidak memiliki akses ke media eksternal dan tidak memiliki hak istimewa, tidak ada kebebasan untuk bepergian ke luar negeri. Dengan adanya embargo ekonomi oleh AS dan PBB, kondisi rakyatnya semakin menderita.

Badan Intelijen AS Sebagai Ujung Tombak

Pemerintah AS, dalam menilai ancaman nasional (national threat) serta kepentingan nasionalnya memainkan peran intelijen yang diorganisir dalam lima prioritas yaitu, memerangi terorisme , menghentikan penyebaran senjata nuklir dan konvensional lainnya , menginformasikan para pemimpin AS tentang peristiwa penting di luar negeri , menangkal spionase asing , dan melaksanakan operasi cyber. Setelah serangan 11 September 2001, pemerintah AS telah menghabiskan anggaran sebesar USD 500 milyard dimana dikatakan bahwa AS berhasil menangkal ancaman teroris. Dan hasilnya menurut data Snowden pembelot dari NSA/CIA adalah terbentuknya kekaisaran intelijen,

Badan Intelijen AS mendapat black budget sebesar 53,6 milyar dolar (2013), dimana CIA, NSA dan NRO (National Reconnaissance Office) menerima lebih dari 68 persen dari black budget tersebut. Sementara The National Geospatial-Intelligence Program’s (NGP) telah berkembang lebih dari 100 persen sejak tahun 2004. CIA dan NSA secara agresif melakukan hack ke jaringan komputer asing untuk mencuri informasi atau melakukan sabotase sistem musuh, menggunakan anggaran yang disebut sebagai “ operasi cyber yang ofensif .” Central Intelligence Agency (CIA) bertugas, mengumpulkan, menganalisis, mengevaluasi kegiatan intelijen di luar negeri serta melakukan operasi rahasia. Pada tahun fiskal 2013 mendapat gelontoran anggaran US$14,7 milyard (US$12 milyard pada 2004).

Badan-badan intelijen Amerika (foto : CNN)
 

National Security Agency (NSA) tugas utamanya adalah, melindungi sistem informasi pemerintah dan mencegat sinyal informasi intelijen luar negeri. Pada tahun 2013 mendapat bagian anggaran sebesar US$10,8 milyard (US$6 milyard pada 2004). National Reconnaissance Office (NRO), tugas utamanya adalah mendesain, membangun dan mengoperasikan satelit citra dan pengintai. Pada tahun 2013 mendapat anggaran US$10,3 milyard.

National Geospatial-Intelligence Program, tugas utamanya adalah menghasilkan dan memberikan data base intelijen citra, yang dipergunakan untuk kepentingan keamanan nasional, operasi militer AS, navigasi dan bantuan kemanusiaan. Pada tahun 2013 mendapat anggaran sebesar US$4,9 milyard (US$3 milyard pada 2004). General Defense Intelligence Program, bertugas membuat penilaian niat dari militer asing dan berkemampuan membuat penilain kebijakan para komandan militer. Melakukan koleksi intelijen terhadap teknik dan manusia serta melakukan manajemen terhadap media. Pada tahun 2013 mendapat anggaran sebesar US$4,4 milyard.

Penilaian Intelijen AS Terhadap Korut

Pertemuan antara kedua pemimpin unik tersebut jelas tidak terlepas dari peran tokoh serta Badan intelijen AS dan juga Korea Utara. Dapat dipastikan bahwa CIA serta NSA telah membaca dan menyadap semua sikon Korea Utara dibawah Kim Jong Un. Arsitek utamanya adalah Mike Pompeo, Direktur CIA yang kemudian dipercaya Presiden Trump menjadi Menteri Luar Negeri menggantikan Rex Tillarson. Sementara dari pihak Korea Utara, pejabat yang dikirim ke AS sebelum KTT di Singapura adalah Jenderal Kim Yong-chol (72)  mantan kepala badan intelijen militer. Keduanya menjadi arsitek pertemuan menindak lanjuti upaya terlaksananya KTT tersebut yang terus digencarkan oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Sebuah catatan penting berupa informasi intelijen dasar dari kebijakan Korea Utara yaitu perkiraan intelijen jangka panjang CIA yang dibuat pada Tahun 1969. CIA mengeluarkan sebuah briefing intelijen yang menyebutkan ; “Pyongyang tampaknya bersedia hidup dengan situasi yang melibatkan korban yang cukup besar dan menimbulkan bahaya berupa serangan balasan. Sebuah egoisme yang ekstrem dan semakin berkembang dari pemimpin dan pendiri negara tersebut Kim Il Sung.” Basic descriptive intelligence tersebut menjadi data the past yang selalu dijadikan pegangan oleh dinasti Kim sebagai pemimpin nasional, terlihat dari dinamika the present serta kemungkinan langkah the future.

Kim Jong Un setelah mendarat di Singapore menggunakan pesawat Air China (Foto : Hindustan)
 

Setelah Kim Jong-un menyatakan akan melakukan penyerangan ke Korsel, Jepang dan Guam dengan peluru kendali nuklir, nampaknya kekuatan dan kemampuan Korut tersebut tidak sepenuhnya diketahui 100 persen oleh pihak AS. Korut mampu melakukan pengamanan informasi, hingga kegiatan nuklirnya tidak terdeteksi secara penuh. Yang nampak adalah kesimpangsiuran dan keragu-raguan bersikap dari pihak AS. Ketua Kepala Staf Gabungan AS menyatakan AS tidak tahu apakah Korea Utara telah “weaponized” kemampuan nuklirnya. Washington menyikapi dengan serius, dan kemudian mengirimkan dua kapal perang AEGIS, pertahanan rudal yang diposisikan di dekat semenanjung Korea dan juga menggelar sistem anti rudal di Guam.

Sementara Menhan AS saat itu, Chuk Hagel menempatkan pembom B-2 dan pesawat tempur F-22 di Korea Selatan. Pesawat pembom yang mampu membawa persenjataan nuklir, B-2 dan F-22 adalah pesawat stealth anti radar. Hal tersebut bertujuan sebagai langkah preventif, tidak memprovokasi Korea Utara, hanya merupakan psywar dengan pesan “Serangan terhadap Korsel akan membahayakan anda,” demikian pesannya.

Walaupun mengetahui adanya upaya pengepungan baik sisi politik maupun militer, nampaknya Kim Jong-un tetap bersikeras mengancam akan menyerang AS. Tanpa rasa takut pemimpin negara komunis ini mampu meyakinkan rakyatnya untuk menerima kondisi perekonomian sulitnya. Menurut PBB, dua pertiga dari 24 juta rakyat Korut mengalami kekurangan pangan, termasuk 1,1 juta tentaranya. Disebutkan bahwa mereka makan tiga kali sehari tetapi bukan makanan yang bergizi, sekitar 30 persen melakukan pekerjaan administratif, dan 40 persen mengikuti pelatihan ideologis, karena fisiknya lemah. Para prajurut hidup dengan memakan beras dicampur tepung jagung, kimchi, sup dan acar lobak rumput laut

Diatas kertas bagi Amerika, dalam hitungan menit, alutsistanya akan mampu menghancurkan target militer terpilih dari Korea Utara, baik silo peluru kendali maupun reaktor nuklir. Akan tetapi AS harus memikirkan kemungkinan adanya rudal yang lolos, juga dampak serangan tersebut baik terhadap sekutunya Korea Selatan dan Jepang, maupun reaksi dunia internasional. Sekecil apapun serangan yang dilakukan ke wilayah Korea Utara diperkirakan akan memancing perang besar, karena pejabat Korea Utara juga mengancam akan membalas dengan persenjataan yang mereka miliki.

Sebenarnya AS pernah melakukan langkah diplomasi seperti yang kini dilkerjakan oleh Presiden Trump, tetapi negosiasi pemberian bantuan yang ditukar dengan kesepakatan melucuti senjata nuklir telah gagal, dimana sejak 2003 Korea Utara menarik diri dari Pakta Non-Proliferasi Nuklir NPT. Dari pengalaman masa lalu, Pompeo mengatakan kepada CBS bahwa pemerintah telah “membuka mata lebar-lebar” terhadap tantangan untuk berurusan dengan Korea Utara.

Presiden AS Donald Trump menunjukkan dokumen yang telah ditanda tangani dengan Kim Jong Un (Foto : detik)
 

Dia mengatakan bahwa Korut ingin melakukan pembicaraan karena pemberian sanksi yang dipimpin oleh AS itu telah memukul ekonominya.”Tidak pernah terjadi sebelumnya Korea Utara dalam posisi ekonomi yang begitu berisiko, di mana pemimpin mereka berada dalam tekanan,” katanya pada Fox News. Selama ini, sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS kepada Korut merupakan salah satu faktor yang menghentikan roda perekonomian negara itu.

Sebelum KTT di Singapura, setahun yang lalu, Rabu (25/4/2017), pemerintah Amerika mengeluarkan pernyataan bersama yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, Menteri Pertahanan Jim Mattis dan Direktur Nasional Intelijen Dan Coats. Selain ketiganya, hadir juga Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Joe Dunford. Pernyataan diawali dengan ungkapan, bahwa “Upaya sebelumnya telah gagal untuk menghentikan program senjata ilegal dari Korea Utara dan uji coba rudal nuklir dan balistik. Dengan setiap provokasinya, Korea Utara membahayakan stabilitas di Asia Timur Laut dan menimbulkan ancaman bagi Sekutu kami dan tanah air AS.” Ini ungkapan paling serius dari pejabat AS.

Akan tetapi, setelah Donal Trump menduduki jabatannya, presiden dengan latar belakang pebisnis ini memerintahkan peninjauan menyeluruh atas kebijakan AS yang berkaitan dengan Korea Utara. Pendekatan Presiden bertujuan untuk menekan Korea Utara agar membongkar rudal nuklir, rudal balistik, dan proliferasi dengan mengetatkan sanksi ekonomi dan melakukan tindakan diplomatik dengan sekutu dan mitra regional. Pemerintah AS akan melibatkan anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab untuk meningkatkan tekanan terhadap Korea Utara agar kembali ke jalur dialog. Para pejabat teras tersebut memberi penjelasan kepada Anggota Kongres mengenai peninjauan presiden.

Menhan AS Jim Mattis berteman baik dengan Menhan RI Ryamizard Ryacudu, Mattis pernah berkunjung ke Indonesia, Menhan RI diundang ke Hawai saat perubanhan nama USPACOM menjadi United States Indo-Pacific Command (USINDOPACOM pada 30 Mei 2018 (Foto : VOA News)
 

Sebelumnya Menteri Pertahanan, Jim Mattis salah satu tokoh berpengaruh besar di pemerintahan Trump menegaskan di Korea Selatan, “Setiap serangan terhadap Amerika Serikat, atau sekutunya, akan dikalahkan, dan setiap penggunaan senjata nuklir akan mendapat tanggapan yang akan efektif dan luar biasa,” kata Menteri Pertahanan Jim Mattis yang dikenal tegas sebagai purnawirawan jenderal Marinir. Dilain sisi pemimpin yang nekat itu menyatakan tidak takut dan siap berperang.

Analisis

Kini yang menarik dari fakta-fakta tersebut diatas, mengapa Presiden Trump menyetujui pertemuan dengan Kim Jong Un? Persiapannya hanya sekitar tiga bulan, dinilai terlalu pendek. Disinilah peran besar dari tokoh intelijen AS serta Korea Utara. Pompeo sebagai Menlu telah bertemu dengan Kim Jong Un pada awal Mei 2018 dan berhasil membebaskan tiga WN AS yang ditahan. Menurut laporan apabila KTT ini sukses, akan dilakukan pertemuan oleh first layer kedua di ibu kota Korea Utara itu dengan fokus pada penajaman poin denuklirisasi yang dibahas Trump dan Kim pada Selasa (12/02) pagi.

Pompeo beserta penasihat Keamanan presiden, John Bolton telah memahami bahwa terdapat pergeseran kebijakan Kim Jong Un untuk kembali ke meja perundingan. Bolton mantan Dubes AS di PBB diketahui merupakan tokoh yang memiliki cara pandang keras hampir mirip Trump. Pada 2003, Bolton mencela secara tegas menyatakan Kim Jong-il sebagai diktator tiran yang negaranya menyerupai neraka. Kim nampaknya agak melunak, dia  bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-In dan akan berpartisipasi dalam Olympiade musim dingin di Korea Selatan, dimana warga Korea Utara akan diijinkan bertemu dengan keluarga mereka di Selatan.

Jika pertemuan kedua berlanjut, maka akan dilanjutkan dengan pertemuan selanjutnya yang digelar di Washington, AS, pada Septermber mendatang.Banyak yang menduga bahwa Korea Utara tidak akan langsung bersedia menghentikan program senjata nuklirnya walau negara itu amat mengharapkan penghentian sanksi internasional sebagai imbalannya. Menlu AS Mike Pompeo, bersikukuh denuklirisasi menjadi fokus utama pada pertemuan Trump-Kim di Singapura. “Kami terus berkomitmen pada denuklirisasi utuh, bisa diverifikasi dan kekal di Semenanjung Korea,” katanya. Sebagai imbalannya, AS akan menjamin keamanan Korea Utara serta akan membantu perekonomiannya.

Presiden Trump dengan dua pembantu dekatnya, John Bolton Penasihat Keamanan Nasional (kiri) dan Mike Pompeo, mantan Direktur CIA yang kini menjadi Menlu (foto : the Hill)
 

Dalam hal keamanan, Kim dinilai akan menuntut AS untuk menghentikan aktivitas di pangkalan militernya di Korea Selatan. Selain itu, Kim juga disebut ingin mengembalikan citra negaranya yang selama ini dianggap menutup diri dari dunia internasional dan tak menghargai hak asasi manusia. Terkait kesejahteraan, sanksi ekonomi internasional yang dijatuhkan kepada Korut telah menghentikan roda perekonomian negara itu. Dalam hal ini Presiden Trum menyatakan optimisme masa depan hubungan yang lebih baik antar kedua Negara. Trump memberi isyarat akan menarik pasukannya dari Korsel.

Dari sisi intelijen, ada informasi kunci yang mungkin tidak menonjol tetapi nilainya sangat tinggi untuk masa depan Korea Utara. Setelah Kim Jong-Nam dibunuh di Malaysia, mendadak muncul anaknya Kim Han Sol. Video ini diterbitkan oleh sebuah kelompok, yang menamakan dirinya Cheollima Civil Defense yang mengatakan merespons bulan lalu permintaan darurat dari keluarga Kim Jong Nam untuk “ekstraksi dan perlindungan.” Kelompok ini melindungi keluarga Jong-Nam dan menyatakan bahwa Pemerintah Belanda, Cina, Amerika Serikat, dan satu lainnya yang tidak disebutkan namanya juga memberikan bantuan kemanusiaan darurat untuk melindungi keluarga Jong Nam, kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui video. Kim Han-sol lahir pada 16 Juni 1995 (umur 21 tahun), di Pyongyang, Korea Utara,

Kim Han Sol (kanan), anak Alm Kim Jong Nam, yang juga cucu dari Kim Jong-Il, penulis prediksikan suatu saat berpeluang dapat menggantikan Kim Jong Un, selama dinasti Kim tetap dapat dipertahankan, sosok ini yang sebaiknya di pegang oleh AS (Foto : Daily Star)
 

Pendidikan: United World College di Mostar, terdaftar di Institut d’Etudes Politiques de Paris, dikenal sebagai Sciences Po, pada tahun 2013 setelah sebelumnya lulus dari United World College (UWC) di Mostar, Bosnia dan Herzegovina. Kim muda ini, cucu dari Kim Jong-il dan Song Hye-rim, orangtuanya Hyegyeong dan Kim Jong-nam, pamannya Kim Jong-un, Kim Jong-chul, buyutnya : Kim Il-sung dengan Kim Jong-suk. Nah inilan pangeran muda generasi mendatang yang nilainya jauh lebih penting dibandingkan Jong-Nam. Kim Han Sol kini tinggal di China seperti mendiang ayahnya. Intelijen AS pasti mengetahui nilai Kim muda ini yang sewaktu-waktu bisa menggantikan Kim Jong Un.

Kesimpulan

Pertemuan antara Presiden Donald Trump dengan Kim Jong Un memang terlaksana, tetapi masih harus dilalui jalan panjang agar tercapai kata sepakat. Kim melihat peluang agar perekonomiannya akan dapat membaik dan keamanannya terjamin, sementara Trump melihat dari sisi sebagai pebisnis bahwa apabila keinginan denuklirisasi tercapai, AS akan mengurangi gelar pasukan di Korea Selatan. Perundingan dinilainya jauh lebih murah ongkosnya dibandingkan dengan perang, karena China juga akan tidak senang apabila Korea Utara sebagai bumpernya diserang.

Therapy Trump berbeda dengan pendahulunya saat menangani Libya dan Irak. Sebagai pedagang maka keuntungan harus banyak dan dengan ongkos kecil. Tetapi perlu diingat, Trump juga serius menangani setiap ancaman nasional terhadap AS, dia akan memukul dengan kekuatan militer,  dengan operasi intelijen atau dengan instrument lainnya. Kalau perlu seperti OPLAN 5015  dilakukan, potong kepala Jong Un dan jadikan tokoh yang bisa menjadi mitra AS. Nampaknya Kim Jong Un menyadari hal ini, walau mungkin saja dia akan membelot seperti yang dilakukannya pada tahun 2003, tetapi yang harus dihitungnya, nasibnya akan  seperti Khadafi, terjadi pemberontakan yang didukung AS dan akhirnya dia dibunuh oleh rakyatnya sendiri.   Sebagai penutup, prediksi penulis, bukan tidak mungkin suatu saat Korut akan dipimpin oleh Kim Han Sol, cucu dari Kim Il Sung itu, kita lihat nanti.

Pesan Moralnya : “Jangan coba melawan AS kalau tidak punya senjata nuklir”

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net 

About admin

Check Also

Membaca Hidden Agenda Cina di Xinjiang dari Perspektif Geopolitik

Beberapa sumber menyebut, bahwa saat ini tengah terjadi ethnic cleansing terhadap suku Uigur di Xinjiang ...