Monday , October 14 2019
Home / Ensiklopedia / Analisis / Dengan Mantra “Verdeel en heers”, Kolonialisme Bisa Membangun Kekuasaan di Negara Lain

Dengan Mantra “Verdeel en heers”, Kolonialisme Bisa Membangun Kekuasaan di Negara Lain

Tanggapan pembaca atas tulisan M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI) berjudul “Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua”: Menurut Bung Karno, imperialisme di mana saja, apapun bentuknya, punya slogan yang sama: “Verdeel en heers” (pecahkan dan kuasai). Dengan menggunakan mantra itu, kolonialisme bisa membangun kekuasaan di negara lain.

Itu pula yang terjadi di Indonesia. Negeri yang luasnya 60 kali luas Belanda ini bisa ditaklukkan sampai ratusan tahun. Tentu saja, menurut Bung Karno senjata pamungkas Belanda terletak pada politik “divide et impera”.

Strategi devide et impera dalam perkembangannya sebagai strategi politik, tidak menciptakan pemilahan baru melainkan mengeksploitasi perbedaan dalam identitas kelompok sehingga kelompok-kelompok tersebut membedakan dirinya dengan yang lain.

Eksploitasi perbedaan identitas kelompok, dilakukan dengan mempertentangkan nilai yang ada di dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

Oleh karena itu pengguna strategi ini harus mempelajari persamaan dan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok yang akan dikuasai sehingga mampu memunculkan celah pertentangannya.

Strategi devide et impera mengharuskan penggunanya memiliki model pengorganisiran kelompok dan waktu yang tepat untuk meluaskan isu.

Hal ini hanya dimungkinkan jika pengguna strategi memiliki dominasi pengetahuan dan kekuatan hegemonik atas kelompok tersebut.

Hegemoni dapat diperoleh dari pemilikan teknologi produksi ataupun pemilikan komoditas yang dibutuhkan oleh kelompok yang akan dikuasai.

Hegemoni kelompok ini juga harus dikembangkan dalam bentuk represi untuk memastikan pembelahan kelompok yang dikuasai tetap terjaga.

Model pengorganisiran kekuasaan memegang peran penting dalam mempertahankan kekuasaan.

Ketika kelompok lawan dikuasai untuk memastikan pembelahan horizontal, diperlukan model rotasi kelompok yang menjauhkan kelompok dari kemungkinan persatuan dan kemungkinan menguasai aset kekuasaan.

Oleh karena itu distribusi kekuasaaan dan surplus juga perlu dibatasi, sementara komunikasi antar kelompok pun harus disabotase melalui pelembagaan komunikasi (sensor dan manipulasi isu) untuk menutup terjadinya potensi persatuan kepentingan yang lebih luas.

Kesimpulan

Kekuatan utama dari strategi devide et impera adalah kemampuannya memecah konsentrasi dan keleluasaannya melakukan represi.

Strategi devide et impera dalam sudut pandang politik merupakan strategi penaklukan yang dilakukan dengan mengkooptasi potensi kekuatan lawan.

Kooptasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan pengetahuan, keterbatasan akses informasi, model kepemilikan alat produksi, lemahnya kesadaran politik dan yang paling utama adalah “disorganisasi sosial”.

Strategi ini tidak dapat dilakukan oleh individu secara parsial melainkan oleh kekuatan terorganisir yang memiliki dominasi pengetahuan ataupun sumber daya ekonomi.

Antitesa terhadap strategi ini adalah reorganisasi sosial, distribusi pengetahuan dan kesadaran politik. Dengan memahami strategi ini, kita dapat mengidentifikasi dampak strategi ini sekaligus mengidentifikasi pelakunya.

Keberhasilan “Om Sam” di beberapa negara termasuk Timor Timur dengan strategi berawal dari “devide et impera” berujung “Referendum” dalam “perang modern” (asimetric war, proxy war, hiybrida war) yang dilakukan, merupakan “refrensinya” menguasai Papua.

Kasus “Tolikara” harus kita jadikan “warning” untuk identifikasi dampak strategi sekaligus pelakunya, selanjutnya mengambil langkah-langkah strategis meng “eleminir” sehingga tidak berkembang sesuai skenario mereka.

Suyud Syamsu

About admin

Check Also

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik

Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ...