Monday , October 15 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Cinta dalam Perspektif Psikologi dan Tasawuf

Cinta dalam Perspektif Psikologi dan Tasawuf

Sejak lahir, kita semua mencari cinta. Kita mendambakan cinta. Puisi, musik dan seni, semuanya sarat simbolisme tentang cinta. Darimana sebenarnya datangnya kerinduan ini ? Apa yang mendorong pencarian ini ?

Psikologi biasanya cenderung tidak mau tahu dan tidak menjadikan cinta sebagai salah satu topik pembahasan. Oleh karena itu, cinta tidak dibahas dalam kebanyakan buku-buku psikologi dan tidak termasuk kategori dalam penelaahan literature psikologi.

Menurut Maslow, tidak dibahasnya cinta oleh psikolog merupakan hal yang menggelikan. Kalangan psikolog akademis cenderung mendefinisikan cinta sebagai respon terhadap objek yang hidup maupun mati. Psikolog cenderung membagi cinta menjadi beberapa kategori hubungan, seperti orang tua-anak. Mereka kemudian mempelajari pola-pola perilaku yang terlibat di dalam hubungan tersebut.

Seiring berkembangnya zaman, para psikolog mulai mencoba dan mempelajari cinta dengan menggunakan angket. Mereka membuat skala-skala untuk menggambarkan rasa suka dan cinta. Orang berkata bahwa cinta, maksudnya cinta romantis, melibatkan kedekatan, ketergantungan, ketulusan, kekhusyukan dan keeksklusifan yang melebihi persahabatan. Mereka juga berpendapat bahwa menilai cinta lebih tidak stabil dibandingkan dengan rasa suka.

Berbeda dengan perspektif ilmu tasawuf.  Dalam tasawuf, konsep cinta lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Tuhan. Meski demikian, cinta kepada Tuhan juga akan melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama, bahkan kepada seluruh alam semesta. Hal ini bisa dilacak pada dalil-dalil syara’, baik dalam al-Quran maupun hadits yang menunjukkan tentang persoalan cinta.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mencoba membahas lebih dalam mengenai cinta dari dua perspektif, yaitu perspektif psikologi dan tasawuf.

Definisi Cinta

Ashley Montagu, seorang Psikolog Amerika memandang cinta sebagai sebuah perasaan memperhatikan, menyayangi, dan menyukai yang mendalam. Biasanya, rasa cinta disertai dengan rasa rindu dan hasrat terhadap objek yang dicintai (Widianti, 2006).

Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. (Tambunan, 2001). Menurutnya, kisah tersebut telah ada pada manusia dan proses pembentukannya terbentuk melalui pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini pula yang akan membentuk bagaimana seseorang bersikap dan bertindak dalam suatu pola hubungan.

Erich Fromm menekankan cinta sebenarnya pada cinta yang dewasa. Cinta yang dewasa adalah penyatuan di dalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain; cinta membuat dirinya mengatasi perasaan isolasi dan keterpisahan, namun tetap memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri, mempertahankan integritasnya. (Fromm, 1956).

Elain dan William Walsten lebih menekankan suatu keterlibatan individu yang mendalam saat mendefinisikan cinta. Keterlibatan diasosiasikan dengan timbulnya rangsangan fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskannya.

Erich Fromm: The Art of Loving

Fromm memandang manusia sebagai makhluk yang sadar akan dirinya, mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, kemungkinan masa depannya dan kesadaran akan eksistensinya sebagai sesuatu yang terpisah. Sadar akan keterpisahan ini merupakan faktor utama munculnya kegelisahan, kecemasan dan dapat menjadi pintu gerbang menuju gangguan kejiwaan. Karenanya, dalam buku The Art Of Loving, Fromm menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan.

Banyak cara dilakukan untuk mengatasi keterpisahan pada tiap individu. Fromm mengungkapkan idenya mengenai cinta sebagai jawaban dari masalah eksistensi manusia. Dalam cinta, terdapat jawaban utuh yang terletak pada pencapaian penyatuan antar pribadi dan peleburan dengan pribadi lain. Hasrat akan peleburan antar pribadi ini yang paling kuat pengaruhnya dalam diri manusia. Inilah kerinduan mendasar, kekuatan yang menjaga ras manusia, keluarga dan masyarakat untuk selalu bersama.

Fromm (2005) menjelaskan ada dua tipe cinta : cinta penyatuan simbiosis dan cinta yang dewasa. Penjelasannya yaitu :

© Penyatuan Simbiosis, yaitu memiliki pola hubungan antara pasif dan aktif dimana keduanya tidak dapat hidup tanpa yang lain. Bentuk pasif dari penyatuan simbiosis disebut sebagai ketertundukan (submission). Dalam istilah klinis disebut sebagai masokhisme. Pribadi yang masokhisme keluar dari perasaan isolasi dan keterpisahan yang tak tertahankan dengan menjadikan dirinya bagian dan bingkisan pribadi lain yang mengatur, menuntun dan melindungi dirinya. Bentuk aktif dari penyatuan simbiosis disebut sebagai dominasi (domination), dalam klinis disebut sebagai sadisme. Pribadi yang sadistis ingin keluar dari kesendiriannya dengan membuat pribadi lain menjadi bagian dan bingkisan dirinya.

© Cinta yang dewasa, adalah penyatuan dibdalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain (Fromm, 2005).

Dalam mengatasi keterpisahan pada manusia, hanya cinta yang dewasa yang dapat dijadikan jawaban terbaik. Karakter aktif dari cinta yang dewasa ditunjukkan dengan hasrat untuk memberi daripada menerima. Arti kata memberi disini yaitu perwujudan paling nyata dari potensi diri. Dalam setiap tindakan memberi, individu akan merasakan kekuatan, kekayaan dan kekuasaan atas dirinya sehingga memberi akan lebih membahagiakan daripada menerima.

Dalam kaitannya dengan cinta, penjelasan makna memberi ini berarti : cinta adalah kekuatan yang melahirkan cinta. Pemikiran ini diungkapkan oleh Marx “anggaplah manusia sebagai manusia dan hubungannya dengan dunia sebagai hubungan manusia dan anda dapat bertukar cinta hanya dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan, dan seterusnya” (Fromm, 2005).

Fromm melihat adanya unsur-unsur mendasar dalam segala bentuk cinta sejati. Unsur-unsur dasar tersebut mencakup : kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), rasa hormat (respect) dan pengetahuan (knowledge) (Wilcox, 1995). Fromm (1956) menjabarkannya sebagai berikut :

© Perhatian (Care)

Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Implikasi dari cinta yang berupa perhatian terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya.

© Tanggung jawab (Responsibility)

Tanggung jawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggung jawab berarti mampu dan siap menganggapi.

© Rasa Hormat (Respect)

Rasa hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpesona. Bila menelusuri dari akar kata (Respicere = melihat), rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang perlu tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya. Dalam lagu Prancis kuno dikatakan “l’amour est l’enfant de la liberte“ atau cinta adalah anak kebebasan, sama sekali bukan dominasi.

© Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan yang menjadi satu aspek dari cinta adalah pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya.

Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif.

Triangular Theory of Love

Triangular Theory of Love adalah sebuah teori yang membahas makna, aspek dan jenis-jenis cinta. Teori ini dikemukakan oleh Sternberg dalam journal Psychological Review yang berjudul “A triangular theory of love” pada tahun 1986.

Cinta, menurut Teori Segitiga Sternberg, terdiri dari tiga aspek : keintiman, gairah dan komitmen. Cinta yang sempurna adalah cinta yang memenuhi dari ketiga aspek tersebut. Gairah (passion) cenderung terjadi pada awal hubungan, relatif cepat dan kemudian beralih pada tingkat yang stabil sebagai hasil pembiasaan. Keintiman (intimacy) relatif lebih lambat dan kemudian secara bertahap bermanifestasi sebagai meningkatkan ikatan interpersonal. Perubahan keadaan dapat mengaktifkan keintiman yang dapat menyebabkan intimacy menurun atau justru semakin naik. Komitmen (commitment) meningkat relatif lambat pada awalnya, kemudian berjalan cepat dan secara bertahap akan menetap. Ketika hubungan gagal, tingkat komitmen biasanya menurun secara bertahap dan hilang.

Berdasarkan ketiga aspek tersebut, ternyata tidak semua orang memenuhi syarat sebuah cinta yang sempurna. Bisa saja mereka hanya memenuhi satu atau dua dari tiga aspek tersebut. Stenberg membagi cinta dalam beberapa jenis berdasarkan aspek mana yang terpenuhi. Berikut adalah jenis cinta atau tipe cinta yang dikemukakan oleh Stenberg:

Penjelasannya sebagai berikut :

  • Menyukai (Liking) dalam hal ini tidak diartikan dengan sepele. Sternberg mengatakan bahwa menyukai dalam hal ini adalah ciri persahabatan sejati, di mana seseorang merasakan keterikatan, kehangatan, dan kedekatan dengan yang lain tetapi tidak intens dalam hal gairah atau komitmen jangka panjang. Syarat adanya sifat menyukai adalah terpenuhinya intimacy.
  • Cinta gila (Infatuated love) sering dirasakan sebagai “cinta pada pandangan pertam”. Tetapi, tanpa aspek keintiman dan komitmen pada cinta, cinta gila mungkin akan menghilang tiba-tiba. Syarat adanya cinta gila adalah munculnya intimacy dan commitment.
  • Cinta kosong (Empty love). Terkadang, cinta muncul tanpa ada perasaan keintiman dan gairah dan itu disebut dengan cinta kosong. Tipe cinta ini hanya ada perasaan untuk berkomitmen tanpa ada keintiman dan gairah diatara mereka. Biasanya ini muncul ketika ada budaya perjodohan dan sering diawali dengan tipe cinta kosong.
  • Cinta romantis (Romantic love). Mereka yang memiliki cinta romantis akan terikat secara emosional (seperti pada nomor 1) dan adanya gairah satu sama lain. Syarat adanya cinta romantis adalah munculnya intimacy dan passion (gairah).
  • Pasangan cinta (Companionate love) sering ditemukan dalam pernikahan, di mana gairah sudah tidak nampak lagi, tetapi kasih sayang yang mendalam dan komitmen masih tetap ada. Companionate love umumnya merupakan hubungan antara Anda dengan seseorang yang hidup bersama, tetapi tanpa hasrat seksual atau fisik. Ini lebih kuat dari persahabatan karena dalam hubungan ini ada unsur komitmen. Salah satu contoh cinta yang ada dalam sebuah keluarga adalah bentuk companionate love.
  • Cinta bodoh (Fatuous love) dapat dicontohkan saat pacaran dan pernikahan dalam kerenggangan, dimana cinta masih ada komitmen dan gairah, tanpa ada pengaruh keintiman seperti keterikatan, kehangatan, dan kedekatan.
  • Cinta yang sempurna (Consummate love) adalah bentuk lengkap dari sebuah cinta. Ini adalah tipe yang ideal dan banyak orang ingin mencapainya. Sternberg mengingatkan, mempertahankan cinta yang sempurna mungkin lebih sulit daripada mencapainya. Cinta yang sempurna mungkin tidak permanen. Misalnya, jika gairah hilang dari waktu ke waktu, mungkin berubah menjadi cinta companionate.

Rabi’ah Al-Adawiyah : Perintis Tasawuf Cinta

Sosok sufi perempuan ini sangat dikenal dalam dunia tasawuf. Ia hidup di abad kedua Hijriah, dan meninggal pada tahun 185 H. Meski ia hidup di Bashrah sebagai seorang hamba sahaya dari keluarga Atiq, hal itu tidak menghalanginya tumbuh menjadi seorang sufi yang disegani di zamannya, bahkan hingga di zaman modern sekarang ini.

Corak tasawuf Rabi’ah yang begitu menonjolkan cinta kepada Tuhan tanpa pamrih apapun merupakan suatu corak tasawuf yang baru di zamannya. Pada saat itu, tasawuf lebih didominasi corak kehidupan zuhud (asketisme) yang sebelumnya dikembangkan oleh Hasan al-Bashri yang mendasarkan ajarannya pada rasa takut (khauf) kepada Allah. Corak tasawuf yang dikembangkan oleh Rabi’ah tersebut kelak membuatnya begitu dikenal dan menduduki posisi penting dalam dunia tasawuf.

Sedemikian tulusnya cinta kepada Allah yang dikembangkan oleh Rabi’ah, bisa dilihat, misalnya, dalam sebuah munajat yang ia panjatkan:

Tuhanku, sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu, biarlah diriku terbakar api jahanam. Dan sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkan aku darinya. Tapi, sekiranya aku beribadah kepada-Mu hanya semata cinta kepada-Mu, Tuhanku, janganlah Kau halangi aku melihat keindahan-Mu yang abadi”.

Dengan rasa tulusnya cinta Rabi’ah kepada Allah, seolah-olah cintanya telah memenuhi seluruh kalbunya. Tak ada lagi tersisa ruang di hatinya untuk mencintai selain Allah, bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Tak ada lagi ruang di kalbunya untuk membenci apapun, bahkan kepada setan sekalipun. Seluruh hatinya telah penuh dengan cinta kepada Tuhan semata. Rabi’ah juga menunjukkan dengan memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya, karena ia menganggap seluruh diri dan hidupnya hanya untuk Allah semata.

Tasawuf: Jalan Cinta

Profesor Angha, yang dikutip oleh Wilcox (1995), melukiskan cinta searti dengan tingkat kehidupan yang paling halus dan spiritual. Cinta adalah kekuatan yang mengikat partikel-partikel zat menjadi satu, yang membentuk perwujudan-perwujudan eksistensi menjadi berbagai bentuk dan pola. Cinta adalah perekat eksistensi itu sendiri. Menurutnya, ada tiga tingkatan cinta : cinta biasa, cinta spiritual dan cinta ilahi.

Cinta biasa adalah taraf kehidupan sehari-hari, menyangkut seksualitas, persahabatan dan daya tarik. Hal ini meliputi pelbagai kesukaan kita, daya tarik material kehidupan sehari-hari dan bahkan perilaku biologis. Dalam buku Ilmu Jiwa berjumpa Tasawuf (1995), Hazrat Mir Ghotbeddin menggambarkan bagaimana orang-orang sekarang sering salah mengira bahwa nafsu seksual dan seksualitas sensual adalah bentuk sejati dan tujuan akhir cinta, padahal hal tersebut sebenarnya hanyalah bentuk terendah, yang didasarkan pada hasrat tubuh dan hijab duniawi yang menabiri realitas cinta sejati.

Selanjutnya, tingkatan cinta spiritual. Cinta spiritual adalah rasa kelekatan yang dimiliki antara guru spiritual dengan muridnya. Yesus mengatakan dalam Yohanes 14 “Bila seorang mencintaiku, ia akan mengikuti ucapanku dan Bapakku akan mencintainya dan kita akan dating kepadanya dan membangun rumah bersamanya”. Sedangkan cinta ilahi, merupakan tingkatan tertinggi. Tahap ini dialami oleh para nabi dalam berhubungan dengan Yang Tak Terhingga.

Para nabi dipandang sebagai teladan-cinta yang paling sempurna. Cerita cinta terindah dari masa ke masa bukanlah kisah tentang hubungan antara dua onggok daging yang diikat untuk membusuk. Lambang cinta adalah apabila jiwa telah meninggalkan cinta dunia dan bersatu dengan Kekasih Surgawi dan dengan demikian dapat mencapai puncak teragung eksistensi.

Tiga tingkatan cinta yang telah dipaparkan diatas merupakan sebuah proses. Cinta biasa bermula dari sumber magnetis yang terletak di bawah tulang dada, apa yang disebut solar plexus atau ulu hati. Cinta kedua, cinta spiritual, tumbuh apabila dua sumber magnetis telah menyatu secara utuh: solar plexus dan otak. Dan, cinta ilahi pada diri seorang nabi akan tumbuh apabila tiga sumber magnetis, solar plexus dan otak telah menyatu dan saling berhubungan secara bersamaan.

Tujuan manusia adalah untuk mengenal dan menyaksikan Tuhan, karena seseorang tidak dapat mencintai apa yang tidak diketahuinya. Bagi mereka yang dikuasai oleh kekuatan cinta spiritual, yakni lebur dalam cinta, takdir surga berada dalam diri mereka. Cinta itu harus murni, tanpa berharap ataupun berhasrat, tak bergantung pada perolehan manfaat apapun. Bagi sang pecinta, keinginan sang kekasih menjadi keinginan mereka berdua. Tak lagi ada diri, yang ada hanyalah kehadiran Sang Kekasih yang abadi dan tak terhingga.

Cinta menurut Al-Ghazali

Al-Ghazali juga menguraikan lebih jauh tentang hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta. Pada gilirannya, sebab-sebab tersebut akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Mencintai. Sebab-sebab itu adalah sebagai berikut :

1. Cinta kepada diri sendiri, kekekalan, kesempurnaan dan keberlangsungan hidup

Orang yang mengenal diri dan Tuhannya tentu ia pun mengenal bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki diri pribadinya. Eksistensi dan kesempurnaan dirinya adalah tergantung kepada Tuhan yang menciptakannya. Jika seseorang mencintai dirinya dan kelangsungan hidupnya, kemudian menyadari bahwa diri dan hidupnya dihasilkan oleh pihak lain, maka tak pelak ia pun akan mencintai pihak lain tersebut. Saat ia mengenal bahwa pihak lain itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka cinta kepada Tuhan pun akan tumbuh. Semakin dalam ia mengenal  Tuhannya, maka semakin dalam pula cintanya kepada Tuhan.

2. Cinta kepada orang yang berbuat baik

Pada hakekatnya, setiap orang yang berbuat tentu akan disukai oleh orang lain. Hal ini merupakan watak alamiah manusia untuk menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Namun pada dataran manusia dan makhluk umumnya, pada hakikatnya kebaikan adalah sesuatu yang nisbi. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang dilaksanakan oleh seseorang hanyalah sekedar menggerakkan motif tertentu, baik motif duniawi maupun motif ukhrawi.

Ketika kesadaran bahwa semua kebaikan berujung kepada Allah, maka cinta kepada kebaikan pun berujung kepada Allah. Hanya Allah yang memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya tanpa pamrih apapun. Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya bukan agar Ia disembah. Allah Maha Kuasa dan Maha Suci dari berbagai pamrih. Bahkan meskipun seluruh makhluk menentang-Nya, kebaikan Allah kepada para makhluk tetap diberikan. Kebaikan-kebaikan Allah kepada makhluk-Nya itu sangat banyak dan tidak akan mampu oleh siapa pun. Karena itulah, pada gilirannya bagi orang yang betul-betul arif, akan timbul cinta kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Baik, yang memberikan berbagai kebaikan dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.

3. Mencintai diri orang yang berbuat baik meskipun kebaikannya tidak dirasakan

Mencintai kebaikan juga merupakan watak dasar manusia. Ketika seseorang mengetahui bahwa ada orang yang berbuat baik, maka ia pun akan menyukai orang yang berbuat baik tersebut, meskipun kebaikannya tidak dirasakannya langsung. Seorang penguasa yang baik dan adil, tentu akan disukai rakyatnya, meskipun si rakyat jelata tidak pernah menerima langsung kebaikan sang penguasa. Sebaiknya, seorang pejabat yang lalim dan korup, tentu akan dibenci oleh rakyat, meski sang rakyat tidak mengalami langsung kelaliman dan korupsi sang pejabat.

Hal ini pun pada gilirannya akan mengantar kepada cinta terhadap Allah. Karena bagaimanapun, hanya karena kebaikan Allah tercipta alam semesta ini. Meski seseorang mungkin tidak langsung merasakannya, kebaikan Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini menunjukkan bahwa Allah memang pantas untuk dicintai. Kebaikan Allah yang menciptakan artis Dian Sastrowardoyo nan cantik jelita namun tinggal di Jakarta, misalnya, adalah kebaikan yang tidak langsung dirasakan seorang Iwan Misbah yang tinggal nun jauh di Ciwidey.

4. Cinta kepada setiap keindahan

Segala yang indah tentu disukai, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lagu yang indah dirasakan oleh telinga. Wajah yang cantik diserap oleh mata. Namun keindahan sifat dan perilaku serta kedalaman ilmu, juga membuat seorang Imam Syafi’i, misalnya, dicintai oleh banyak orang. Meskipun mereka tidak tahu apakah wajah dan penampilan Imam Syafi’i betul-betul menarik atau tidak. Keindahan yang terakhir inilah yang merupakan keindahan batiniah. Keindahan yang bersifat batiniah inilah yang lebih kuat daripada keindahan yang bersifat lahiriah. Keindahan fisik dan lahiriah bisa rusak dan sirna, namun keindahan batiniah relatif lebih kekal.

Pada gilirannya, segala keindahan itu pun akan berujung pada keindahan Tuhan yang sempurna. Namun keindahan Tuhan adalah keindahan rohaniah yang hanya dapat dirasakan oleh mata hati dan cahaya batin. Orang yang betul-betul menyadari betapa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan segala sifat kesempurnaan melekat dalam Zat-Nya, maka tak ayal ia pun akan menyadari betapa indahnya Tuhan, sehingga sangat pantas Tuhan untuk dicintai.

5. Kesesuaian dan keserasian

Jika sesuatu menyerupai sesuatu yang lain, maka akan timbul ketertarikan antara keduanya. Seorang anak kecil cenderung lebih bisa akrab bergaul dengan sesama anak kecil. Seorang dosen tentu akan mudah berteman dengan sesama dosen daripada dengan seorang tukang becak. Ketika dua orang sudah saling mengenal dengan baik, maka tentu terdapat kesesuaian antara keduanya. Berangkat dari kesesuaian dan keserasian inilah akhirnya muncul cinta. Sebaliknya, jika dua orang tidak saling mengenal, kemungkinan besar karena memang terdapat perbedaan dan ketidakcocokan antara keduanya. Karena ketidakcocokan dan perbedaan pula akan muncul tidak suka atau bahkan benci.

Dalam konteks kesesuaian dan keserasian inilah, cinta kepada Tuhan akan muncul. Meski demikian, kesesuaian yang dimaksud ini bukanlah bersifat lahiriah seperti yang diuraikan di atas, namun kesesuaian batiniah. Sebagian hal tentang kesesuaian batiniah ini merupakan misteri dalam dunia tasawuf yang menurut al-Ghazali tidak boleh diungkapkan secara terbuka. Sedangkan sebagian lagi boleh diungkapkan, seperti bahwa seorang hamba boleh mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia, misalnya ilmu, kebenaran, kebaikan, dan lain-lain.

Terkait dengan sebab keserasian dan kecocokan ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Allah tidak akan pernah ada yang mampu menandingi atau menyerupainya. Keserasian yang terdapat dalam jiwa orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, sehingga ia mampu mencintai Allah dengan sepenuh hati, hanyalah dalam arti metaforis (majazi). Keserasian tersebut adalah wilayah misteri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang betul-betul mengalami cinta ilahiah.

Source :

  • Syamsun Ni’am. 2001. Cinta Ilahi; Perspektif Rabi’ah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi. Risalah Gusti
  • Wilcox,L. 2003. Ilmu Jiwa berjumpa Tasawuf. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta
  • Fromm, Erich. 2005. The Art Of Loving. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
  • http://www.psikologizone.com/cinta-menurut-psikologi/065113807
  • https://racheedus.wordpress.com/makalahku/konsep-cinta-mahabbah-dalam-tasawuf/
  • http://farzad.devbro.com/the%20art%20of%20loving.pdf

 

About admin

Check Also

Membaca Bencana, antara Ekologis dan Teologis

Mungkin tak salah jika kita merenungkan makna dari syair lagu populer penyanyi legendaris Ebiet G ...