Sunday , March 29 2020
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Cinta, Celaan dan 3 Nesehat Guru

Cinta, Celaan dan 3 Nesehat Guru

Mencintai Tuhan tidaklah semudah yang dibayangkan karena setiap cinta pasti membutuhkan pengorbanan. Mencintai gadis yang paling cantik se kampung membutuhkan banyak pengorban baik berupa perasaan maupun harta benda. Sang Gadis pada posisi “yang dipilih” tentu benar-benar menyeleksi dengan baik siapa yang paling cocok dan berkenan dihatinya. Para pemuda sekampung mati-matian merebut perhatian Sang Gadis dengan berbagai cara. Untuk bisa mendapatkan Gadis Pujaan itu bukan hanya harta yang di korbankan akan tetapi juga perasaan dan harga diri. Berapa banyak pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan Sang Gadis Pujaan. Konon lagi untuk merebut hari seorang gadis yang paling cantik se-kota atau paling cantik di seluruh Indonesia tentu pengorbannya jauh lebih besar.

Ada persamaan dengan memperebutkan Cinta Ilahi, sosok yang paling Jamal diseluruh alam ini, yang paling hebat dan paling diperebutkan oleh manusia dimuka bumi ini, tentu membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Segenap jiwa dan raga dipertaruhkan untuk mendapatkan dan mempertahankan cinta-Nya.

Pengorbanan terbesar dalam menggapai cinta Ilahi adalah korban perasaan. Tuhan Maha Cemburu dan Dia akan terus menguji hati hamba yang mencintai-Nya dengan berbagai macam ujian, mulai dari pujian sampai kepada celaan.

Ketika hati telah memilih Tuhan sebagai tujuan cinta, maka tidak satu makhlukpun bisa memalingkan perhatian kita dari cinta-Nya.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikuti kebenaran, dan yang mengungguli derajat pecinta-pecinta Tuhan, dihormati dan martabatnya diakui semua orang. Akan tetapi ketika Beliau menerima wahyu berupa kebenaran hakiki dan disampaikan kepada manusia kemudian orang-orang dengan sembarang mencela Beliau. Sebagian orang mengatakan, “Dia seorang yang mengada-ada” yang lain, “Dia seorang pendusta” bahkan ada yang mengadakan Beliau sebagai orang gila.

Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Mulia hendaknya diperlakukan dengan sebenar-benar perlakukan dan menyembahnya dengan sebenar-benar perendahan hati dengan perasaan tiada berdaya. Tidak mengherankan, kadangkala seorang penempuh jalan kebenaran yang kaya raya kemudian diambil hartanya oleh Tuhan agar hatinya tetap terus menerus memuja Tuhan dan tidak terpengaruh dan disibukkan dengan harta. Maqam yang tinggi dan sulit sekali untuk capai oleh manusia adalah Maqam “Abid yaitu Maqam Hamba. Bagaimana mungkin kita mengatakan sebagai hamba-Nya sementara kita memperlakukan dia seperti budak kita?

Kita hanya mengerti berdoa meminta kemakmuran sementara tidak bernah berfikir bagaimana cara memakmurkan Dia dan memakmurkan Agama-Nya?

Kita hanya mengerti disenangkan sementara tidak pernah berusaha menyenangkan-Nya?

Kita lebih sering menjadi tuan dari pada menjadi hamba, karenanya kalau diberi sedikit saja kesusahan dengan serta merta kita menyalahkan Tuhan dan kita selalu pada posisi yang benar.

Itulah sebabnya para Sufi zaman dulu lebih memelih menjadi fakir dan berpakaian apa adanya untuk menjaga hatinya tetap mengingat Allah dan mereka tidak memperdulikan celaan dan hinaan orang lain bahkan mereka menganggap celaan itu sebagai ujian cinta.

Di dalam kitab Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri diceritakan suatu hari Syekh Abu Thahir Harami berjalan melewati pasar, mengunggang seekor keledai dan diikuti salah seorang muridnya. Seseorang berteriak, “Ini dia si tua penganut aliran berfikir bebas!” Sang murid yang merasa jengkel Gurunya dihina lalu menyerang orang yang berteriak itu, berusaha memukulnya, dan seisi pasar menjadi gaduh. Syekh itu berkata kepada muridnya: “Jika engkau mau diam, aku akan tunjukkan kepadamu sesuatu yang akan menyelamatkan engkau dari keresahan semacam ini”. Ketika mereka pulang, dia memerintahkan muridnya membawa sebuah kotak yang berisi surat-surat, dan menyuruh sang murid melihat surat-surat itu. “Perhatikan,” kata Syekh kepada muridnya, “Bagaimana penulis-penulis surat ini berkata kepadaku. Ada yang memanggilku Syekh Islam, ada yang menyebut Syekh Suci, Syekh Zuhud, Syekh Dua Tempat Suci, dan seterusnya. Semuanya itu adalah gelar, tidak ada yang menyebut namaku. Aku sama sekali bukanlah gelar-gelar itu, tetapi setiap orang memberiku gelar menurut kepercayaannya mengenai diriku. Jika orang yang tak mengerti dipasar tadi baru saja melakukan hal yang sama, mengapa engkau mesti bertengkar dengannya?”

Hati yang diliputi cinta dan benar-benar mencari Cinta Sejati Tuhan tidak akan terperangah oleh celaan. Seorang Guru Sufi Agung memberikan nasehat kepada murid yang dikasihinya, “Kalau suatu saat nanti sejuta orang mengatakan engkau masuk neraka, tidak usah kau takut asal jangankan yang SATU itu”. Maksudnya, kalau seluruh manusia ini memberikan penilaian buruk terhadapnya, tidak usah dihiraukan selagi Tuhan masih menyertainya. Guru Sufi Agung mengetahui bahwa kelak muridnya ini akan menjadi penerusnya dan akan mendapat banyak sekali celaan dari sesama murid dan orang lain. Ternyata sang murid kemudian benar-benar menjadi penerus Guru dan menjadi seorang Syekh Besar namun dalam perjalanan dakwahnya tetap saja murid-murid Guru Sufi Agung mencelanya.

Bagi penempuh jalan kebenaran, berusaha untuk tidak memberikan penilaian buruk kepada sesama murid dan kepada orang lain agar hati tidak bersih. Dalam hal ini Guru saya memberikan 2 buah Nasehat kepada saya yang sampai saat ini sangat berbekas di hati sebagai nasehat yang luar biasa:

  1. Jangan kau menjelek-jelekkan orang lain, belum tentu yang kau jelekkan itu lebih buruk dari kamu

  2. Jangan engkau menjatuhkan saudaramu tapi angkatlah saudaramu yang sedang terpuruk. Mencari-cari kesalahan orang lain itu sangat mudah tapi sikap itu tidak disukai oleh Tuhan.

  3. Bicarakanlah Guru mu di tempat yang baik niscaya Tuhan akan membicarakan engkau di tempat yang lebih baik

About admin

Check Also

Kisah Asmara Para Ulama

Salah seorang ulama besar bernama Ibnu Aqil al-Hanbali (w. 1119) suatu ketika pergi melaksanakan ibadah ...