Monday , October 15 2018
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Cina dan Arab Korban stereotype Warisan Belanda di Indonesia

Cina dan Arab Korban stereotype Warisan Belanda di Indonesia

capture-20130612-221709Oleh Rijal Mumazziq Z, Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya

Tatkala VOC membantai puluhan ribu Tionghoa Batavia 1740, di antara yang tersisa menyingkir ke pesisir Timur dan pedalaman. Bagi yang mau bekerjasama diberi previlige sebagai cukong yang mengurusi bea cukai maupun rumah madat.

Saat VOC bangkrut dan pemerintah kerajaan Belanda mengambil alih Nusantara, beberapa Tionghoa tetap mendapat keistimewaan sebagai bangsa Timur Jauh/asing, selain Arab dan India. Pribumi jadi kelas ketiga, sebagai inlander yang diperlakukan semena-mena.

Kedatangan bangsa Arab ke Nusantara semakin bergelombang tatkala kisruh yang dilakukan Wahabi di Hijaz dan menyerempet ke Hadramaut, Yaman. Etnis India berdatangan juga akibat kejatuhan Dinasti Mughal di tangan Inggris. Bangsa asing Timur Jauh ini ditempatkan di basis-basis tertentu layaknya ghetto namun dengan akses sosial ekonomi. Pecinan dan Kampung Arab hampir pasti dijumpai di berbagai kota yang menjadi pusat industri dan ekonomi saat Hindia Belanda. Adapun India muslim menempati kampung Pekojan (berasal dari kata Khawja/maulana/sayyid), yang kebanyakan di Jawa, sedangkan subetnik India Tamil dan Kerala Malayalam yang mayoritas Hindu banyak tinggal di kampung India, beberapa di Sumatera, khususnya di Medan.

Belanda dengan licik membuat trikotomi strata sosial ekonomi yang disertai dengan konsep kampung etnik, tentu saja agar lebih mudah mengawasi mereka dan mencegah mereka bekerjasama dengan pribumi melakukan pemberontakan.

Jika anda di Surabaya, lihatlah tata kota warisan Belanda di sekitar Jembatan Merah. Pecinan (Kya-Kya/ Kembang Jepun) berdampingan dengan Kampung Arab. Keduanya menjadi benteng alami dari serbuan laut, karena melindungi basis pemerintahan yang terletak di sebelah kawasan jembatan merah, mapolrestabes Surabaya dan sepanjang kantor pemprov Jatim! cerdik atau licik?!

Begitu dominannya mind control yang disetting Belanda, etnik Tionghoa di zaman revolusi fisik serba repot: memihak Belanda ia diburu pejuang, memihak pejuang dihabisi Belanda, netral dianggap penjilat oportunis dan cari aman. Etnik Arab sedikit mujur karena ada kesamaan agama.

Meskipun banyak Arab dan Tionghoa sudah melebur menjadi Bangsa Indonesia, namun stereotipe warisan Belanda tetap ada secara laten hingga kini. Buktinya? Jarang kita jumpai etnik Tionghoa dan Arab yang berkiprah di militer!

Allahu A’lam

http://www.theglobal-review.com/

About admin

Check Also

Menelaah Konflik antara Ali dan Muawiyah

Konflik politik dan perebutan kekuasaan kerap kita jumpai dalam catatan peradaban manusia. Tidak terkecuali dalam ...