Monday , August 10 2020
Home / Budaya / Filsafat (page 4)

Filsafat

Wejangan Pokok Ilmu Bahagia (4)

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN EMPAT Mengawasi Keinginan Manusia itu semua sama yakni abadi, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah, demikian seterusnya. Bila kebenaran itu dimengerti, keluarlah orang dari penderitaan neraka iri-sombong, sesal-khawatir yang menyebabkan prihatin, celaka, dan masuklah ia dalam surga tenteram dan tabah yang menyebabkan orang ...

Read More »

Wejangan Pokok Ilmu Bahagia (3)

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN TIGA Rasa Abadi Keinginan itu bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Pada hakekatnya keinginan itu langgeng (abadi), artinya sejak dulu sudah ada, kini pun ada, kelak pun selalu ada. Ketika orang masih dalam kandungan ...

Read More »

Wejangan Pokok Ilmu Bahagia (2)

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN DUA Rasa Sama Manusia itu mempunyai keinginan, yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Sifat ini yang menyebabkan rasa hidup orang sejak kecil sampai tua, pasti bersifat sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Siapa saja dan di mana saja rasa hidup ...

Read More »

Wejangan Pokok Ilmu Bahagia (1)

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN SATU Senang-Susah Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian. Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak atau dihindarinya. Bukankah apa yang dicari ...

Read More »

Ketiadaan Cahaya Allah

Seorang professor atheis berbicara dalam seminar dikampus. Professor : “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?” Mahasiswa semua : “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.” “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya prof sekali lagi. “Ya prof, semuanya,” kata mahasiswa itu. Professor : “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan ...

Read More »

Filsafat Ilmu Islami : Manusia Bisa Tahu Yang Benar

Manusia normal pada hakikatnya dapat mengetahui kebenaran dengan segala kemampuan dan keterbatasannya. Ia juga bisa memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq),membedakan (tamyiz), menilai dan menentukan (tahkim) mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berguna dan mana yang berbahaya, dan seterusnya. ‘Kemampuan’ yang dimaksud adalah kapasitas manusia lahir dan batin, mental dan spiritual, dengan segala bentuk dan rupanya. ...

Read More »

SUNAN KALI JAGA DAN PANEMBAHAN SENOPATI MENGGUNCANG ISTANA DASAR SAMUDRA

Setiap kehidupan yang mawana tentu mempunyai alamnya masing masing…baik itu kehidupan mahkluk didaratan diudara maupun dilautan…masing masing dengan dunianya..(alamnya)….tiadalah kita mengetahui ..bagaimana hakekat dari suatu keadaan kehidupan mahkluk mahkluk tersebut tanpa kita menyelami dan memasuki alam dari kehidupannya itu…didalam olah kepribadian..diterangkan….jika hakekat seluruh alam adalah diri kita..maka tiada yang diluar ...

Read More »

Budaya, Identitas dan Jiwa Sebuah Bangsa

Dalam tulisan singkat ini akan diulas mengenai pandangan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei tentang budaya yang disampaikan dalam pidato pertemuan dengan para anggota Dewan Tinggi Revolusi Budaya Republik Islam Iran beberapa hari lalu. Dewan Tinggi Revolusi Budaya adalah institusi budaya terpenting di Iran ...

Read More »

Teologi susastra kidung

Susastra kidung, berbeda dengan kakawin.  Kakawin memakai irama (Chanda) yang berasal dari India, sedang kidung menggunakan irama atau tembang yang memang berkembang di Jawa dan Bali terutama pada saat kejayaan hingga keruntuhan kerajaan Nusantara Majapahit. Di Bali kidung yang dibawa dari Jawa sangat populer ditembangkan, terutama pada saat pelaksanaan upacara ...

Read More »

Mem-Frame Perjumpaan Tuhan dengan Filsafat Islam

Oleh: Muhammad Ma’ruf “Al-Haq tidak bertajalli dalam bentuk yang sama kepada dua orang arif yang berbeda (Ibn Arabi, 3, 384)” Keberhasilan mem-frame pengalaman mistisme dengan pengetahuan husuli (filsafat) terfokus pada pembahasan “ketakjuban menyaksikan al-haq”. Seorang pakar psikologi AS, William James menganalisa  “keterpakuan (inefability)” sebagai pengalaman tak tergantikan dan karenanya tidak ...

Read More »