Saturday , July 22 2017
Home / Budaya / Filsafat

Filsafat

Wongso, The Legend

Jejak-Cinta

Kepada Beruk, Gendhon, dan Pèncèng saya berkisah puluhan tahun silam di sebelah barat perempatan Wirobrajan selatan jalan ada warung wedangan Mbah Wongso. Ini warung legendaris. Khas angkringan Yogya. Tidak hanya nasgithel-nya, nasi kucing dan variasi kecil cemilannya, tapi juga karakter Mbah Wongsonya, filosofi dan budayanya. Sejak sore hingga pagi Mbah Wongso ...

Read More »

Makrifat Suryomentaraman

Pengikut Ki Ageng Suryomentaram di Dusun Balong Yyc (SindoNews)

“RUMAOS LERES punika, yen dipun ucapaken utawi dipun serat, temtu kirang candra langkung warna. Awit saking gaibipun, sampun ingkang pacakan manungsa, sanajan malaikat Mukarabin, boten sumerep. … tiyang ingkang wonten ing sak-intiping naraka TANSAH RUMAOS LERES.” (Buku ‘LANGGAR’) Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan Rabindranath Tagore Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan ...

Read More »

Sebab dan Akibat

mozaik-cahaya

Ki Ageng Suryomentaram Sebab dan akibat merupakan kelanjutan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain yang berurutan dalam dimensi waktu. Peristiwa yang pertama disebut sebab, dan peristiwa berikutnya disebut akibat. Jadi peristiwa pertama dianggap menimbulkan peristiwa berikutnya. Misalnya cangkir jatuh lalu pecah. Jatuh dinamakan sebab, sedangkan pecah dinamakan akibat. Jadi ...

Read More »

Ilmu Jiwa Kramadangsa (4)

lorong-cahaya

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN IV Catatan-catatan yang lain pun semua dapat keliru, tetapi tidak akan saya terangkan satu persatu, karena akan makan banyak waktu. Selanjutnya saudara-saudara dapat meneliti bersama-sama kawan-kawan lain, atau dengan saudara-saudara yang baru mendengarkan sekarang. Jadi catatan-catatan yang berjuta-juta banyaknya dalam diri kita sendiri dapat keliru. Bila ...

Read More »

Ilmu Jiwa Kramadangsa (3)

menunduk

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN III (Bagian ketiga dan keempat disampaikan oleh Ki Ageng Suryomentaram) Tadi sudah diterangkan bahwa Kramadangsa, rasa nama sendiri, ialah pesuruh catatan-catatan; Maka boleh dikata, Kramadangsa ialah budak dari sebelas orang majikan. Setiap gerak-hati sesaat (bhs. Jawa: krenteg) yang muncul dalam rasa, tentu berasal dari rasa-hidup atau dari ...

Read More »

Ilmu Jiwa Kramadangsa (2)

darwish

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN II Sebagai barang hidup, catatan-catatan itu ingin hidup subur, oleh karena jika diganggu, marah, jika dibantu, senang. Bagi binatang, jika diganggu ia akan menggigit, dan jika disayang, bergoyang-goyanglah ekornya. Dalam kelompok catatan-catatan itu, yang kesatu ialah catatan “harta benda“, yang berisi perumahan, tanah, hewan peliharaan, harta ...

Read More »

Ilmu Jiwa Kramadangsa (1)

lampu

Ki Ageng Suryomentaram BAGIAN I (Bagian pertama dan kedua dibawakan oleh Ki Pronowidigdo) Adapun yang saya ceramahkan malam ini adalah llmu Jiwa Gambar Kramadangsa. Ilmu mengenai jiwa orang, dan jiwa adalah rasa. Rasa itu yang mendorong orang berbuat apa saja. Orang bertindak mencari air minum karena terdorong oleh rasa haus, ...

Read More »

Mawas Diri (2)

darwis

Ki Ageng Suryomentaram LATIHAN Orang itu baru merasa ada bila berhubungan, baik berhubungan dengan benda, orang lain maupun dengan rasanya sendiri. Dalam berhubungan itulah orang baru dapat mengetahui diri sendiri. Maka berhubungan itu dapatlah dimisalkan sebagai cermin. Tiap tindakan selangkah, ucapan sekata dan gerak hati sedetik, tentulah orang berhubungan. Tiap ...

Read More »

Mawas Diri (1)

doa-setelah-shalat

Ki Ageng Suryomentaram Orang sering merasa kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat dipecahkan bila orang mengerti diri sendiri. Maka mengetahui diri sendiri dapat memecahkan berbagai macam kesulitan. Pengertian diri sendiri ini disebut “pangawikan pribadi” atau “pengetahuan diri sendiri.” Oleh karena orang itu terdiri atas jiwa dan raga, ...

Read More »

Ukuran Keempat (4)

mawar-merah

Ki Ageng Suryamentaram Rasa benar sebagai penghibur Di sini ada kesukaran dalam perkembangan ukuran keempat, yakni perkembangan rasa untuk menghayati rasa orang lain. Merasa salah itu mengandung rasa berkorban amat besar bagi rasa “merasa benar”. “Merasa benar” inilah yang menjadi gangguan dalam perkembangan ukuran keempat dalam pergaulan. Rasa salah ini ...

Read More »