Wednesday , October 23 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Buka Lembaran Baru, Muharram 1440 H.

Buka Lembaran Baru, Muharram 1440 H.

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

إِنَّ ٱللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11

Di ayat itu sangat janggal: usaha sendiri lebih dominan daripada kehendak Dia yang Mahakuasa. Di mana peran Allahnya, kalau begitu? Kita hanya mengubah diri sendiri saja, cukup. Pasti berhasil. Allah sih ngikutin aja.

Di sisi lain, ada hadits riwayat muslim,

“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya”. (H.R. Muslim).

Di hadits ini, jelas ‘dominasi’ Dia. Keperkasaan Dia, Dia yang tak bisa diganggu gugat. Kok, nggak klop?

Mari kita kaji lebih dalam ayat itu :

“Innallaha la yughayyiru maa bi qoumin, hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim.”

Terjemahan real-nya, bukan interpretatif, adalah:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah ‘apa-apa/keadaan yang ada pada suatu kaum’ (maa bi qoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka  (maa bi anfusihim).’

Itulah masalahnya. Terjemahannya. ‘Apa-apa yang ada/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka’, diterjemahkan jadi ‘keadaan diri mereka sendiri’.

Itulah sebabnya, pemahamannya jadi, ‘kalau saya mengubah diri, maka saya bisa!’. Padahal artinya adalah, ‘Kalau saya mengubah jiwa saya, maka Allah pun akan memperbaiki keadaan/kondisi saya’.

Nafs, adalah ‘jiwa’. Jamaknya, anfus, Jiwa-jiwa.

Apa itu ‘apa-apa yang ada pada jiwa’, atau ‘keadaan jiwa’ yang harus diubah, sehingga Allah berkenan mengangkat kita?

Apa-apa yang ada pada/bersama jiwa (bi anfus), adalah hawa nafsu.

Keadaan jiwa adalah jiwa yang masih dalam tingkat keadaan ‘jiwa yang mengajak pada keburukan’ (nafs ammarah bis su’) atau ‘jiwa yang terombang ambing antara perbuatan dan penyesalan’ (nafs lawwamah), diangkat naik menjadi jiwa yang tinggi, jiwa yang tenang (nafs muthma’innah).

Nah, jadi klop kan ?

Kalau kita memperbaiki kondisi jiwa kita dan hawa nafsu kita, tentu saja Allah akan memperbaiki kita sebagai insan. Pendeknya, kalau kita mau berubah, kita cukup berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta insan kita yang lainnya. Lahir dan batin.

Kalau kita mau berubah, kita cukup berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta insan kita yang lainnya. Lahir dan batin.

Malah semakin terlihat betapa Maha Pemurahnya Allah pada hamba-hamba yang bertaubat, kan?

Jadi, sekali lagi, arti ayat itu bukan, ‘kita usaha, maka kita bisa’. Makna yang ‘meleset’ ini biasanya cenderung dieksploitasi secara tidak pada tempatnya, seperti untuk keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tapi, maksud ayat itu adalah ‘ubahlah kondisi jiwa kita (agar tidak lagi terbelenggu hawa nafsu), maka Allah akan mengubah keadaan kita’.

Selamat Membuka lembaran baru di bulan Muharram 1440 H.

FITRI LAELA DERAJAT
Pasulukan Loka Gandasasmita

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...