Monday , December 17 2018
Home / Agama / Buddha Zen

Buddha Zen

Buddha ZenAgama Budha berasal dari India sekitar abad ke-6 SM disebarkan oleh Siddharta Gautama, putra raja Suddhodhana di Kapilawastu. Ajarannya menerangkan tentang kehidupan dan bagaimana mengakhiri penderitaan dalam kehidupan dengan memutus sebab-akibat samsara. Dibawa ke China pertama kali oleh  Boddhidharma (di Jepang disebut Daruma), dan masuk ke Jepang sekitar tahun 538 – 552 M. Di Jepang agama Buddha beradaptasi dengan agama Shinto, yang merupakan agama asli Jepang.

India adalah tempat kelahiran agama Budha namun seiring perubahan zaman Budhisme yang ada di India mulai hilang, karena desakan Hinduisme. Akan tetapi sebelum diserap kembali oleh Hinduisme, Budhisme memisahkan pengaruhnya, Mahayana adalah salah satu Madzhab Budha yang berhasil dibawa ke Cina pada masa yang awal sekali, walaupun secara tradisional diceritakan bahwa agama Budha mulai dikenal di Cina pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58-75M), yang melihat Budha dalam sebuah mimpi, lalu mengirim utusannya ke India untuk menyelidiki ajaran tersebut. Para utusannya kembali dengan sejumlah Kitab dan benda-benda suci, juga dua orang biksu untuk menerjemahkan kitab-kitab sutra. Pada abad-abad berikutnya barulah berkembang dengan luar biasa, meski perkembangannya yang pesat itu disokong oleh para kaisar, ada juga periode-periode tertentu ketika agama Budha ditindas dan banyak wihara, kitab dan karya seni dihancurkan.

Di Tiongkok (China) madzhab Mahayana berbenturan dengan Taoism dari Lao Tze (604-531 SM) dan dengan Confucianism dari Kong Fu Tze (551-479) dan di Jepang berbenturan dengan Shintoism, dan perbenturan itu menimbulkan saling-pengaruh di dalam sejarah perkembangan aliran-aliran Mahayana di Tiongkok dan di Jepang. Mahayana pertama kali diperkenalkan ke Jepang lewat Korea, ketika raja Kudara mengirimkan Kitab-kitab dan Arca-arca Budhis kepada Kaisar Jepang. Pada mulanya agama baru ini ditentang, akan tetapi lambat laun diterima. Sejak tahun 552 Masehi Budhisme telah masuk Jepang dari Korea dan Tiongkok.Ajaran-ajaran Budhisme dapat tersiar di jepang dengan cepat setelah timbul anggapan bahwa dewa-dewa Budhisme dapat dipersamakan dengan dewa-dewa Shintoisme. Banyak aliran Budha berkembang di Jepang, namun Zen mendapat tempat tersendiri bagi bangsa Jepang, terutama pada masa lalu di kalangan para samurai.

Diperkenalkan pertama kali di Jepang sekitar tahun 1191; di China sendiri disebut Cha’n. Kata Zen adalah bahasa Jepang yang berasal dari bahasa mandarin “Cha”n”. Kata “Cha”n” sendiri berasal dari bahasa Pali “jhana” atau bahasa Sanskerta dhyana. Dalam bahasa vietnam Zen dikenal sebagai “thiền” dan dalam bahasa korea dikenal sebagai “seon”. Jhana atau Dhyāna adalah sebuah kondisi batin yang terpusat yang ditemui dalam meditasi. Meski secara semantik, kata Cha”n sendiri berasal dari kata ‘dhyāna’ (sansekerta) atau ‘jhana’ (pali). Zen tidak bertujuan pada pencapaian jhana. Ini sekadar menunjukkan bahwa ajaran Zen sangat menekankan pada aspek meditasi atau samadhi.

Dalam prakteknya untuk memperoleh pencerahan seseorang harus melaksanakan meditasi dan disiplin diri. Arti umum meditasi adalah cara utama untuk mendapatkan pengalaman langsung dengan realitas tertinggi, dan mungkin orang yang melaksanakan meditasi akan mengalami pemahaman realitas kosmis ini dalam situasi yang penuh inspirasi saat mengalami kesadaran spiritual. Aliran Zen memberikan fokus pada meditasi untuk mencapai penerangan atau kesempurnaan.

Buddha Zen 1Budha Zen

Zen memiliki tiga arti yang berbeda namun berkaitan :

  1. Zen berarti meditasi. Zen adalah istilah Jepang mengungkapkan Bahasa Cina Cha”n, yang berarti ditelusuri,  berasal dari bahasa Sansekerta Dhyana.
  2. Zen adalah nama dari kekuatan absolut atau realitas tinggi yang tidak dapat disebutkan dengan kata-kata.
  3. Zen adalah pengalaman mistis akan keabsolutan kekuatan tersebut, suatu kesadaran tiba-tiba dan diluar batasan. Pengalaman mistis ini biasanya disebut kesadaran atau Wu dalam bahasa Cina dan Satori dalam bahasa Jepang.

Ada dua pendirian dalam Budhisme Jepang  yaitu :

  1. Mencapai kelepasan dengan usaha sendiri. Pendirian inilah yang disebut Zen Budhisme.  Pengikut Zen berusaha mencapai ilham tertinggi dengan kontemplasi (latihan-latihan rohaniah yang mendalam).Untuk itu orang yang berkontemplasi harus dapat mendisiplinkan diri serta memiliki ketenangan batin setinggi-tingginya. Zen adalah salah satu aliran Buddha Mahayana.
  2. Sedang dipihak lain ingin melepaskan diri atas dasar kepercayaan bahwa kelepasan itu dapat ditolong oleh yang maha gaib (dewa-dewa).

Ajaran Zen-Buddhisme pertamakali dibawa ke Jepang oleh bangsawan Dogen (1200 – 1253 M). Dia adalah orang yang menyelaraskan antara Zen yang berasal dari China dengan karakter orang Jepang, utamanya di kalangan pemerintahan militer pada masa periode Kamakura (1185 – 1333 M). Metode yang digunakan oleh bangsawan Dogen dalam menerapkan ajaran Zen-Buddhisme di Jepang sangatlah tegas. Metode yang digunakan berdasarkan prinsip zazen – secara bahasa berarti duduk dan meditasi. Dalam penerapannya, duduk dan meditasi adalah duduk bersila dan meditasi berjam-jam dengan tujuan meghilangkan rasa marah, kesal, dan ego dengan jalan mengosongkan dan menata kembali pikiran.  Ajaran ini mengajarkan bahwa seseorang harus menemukan pengertian tentang kehidupan meski tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seorang rahib dapat menghabiskan seluruh waktu hidupnya dengan melakukan meditasi. Sebagai alat bantu dalam melakukan meditasi, para penganut Zen-Buddhisme sering membuat taman-taman yang indah, yang dikenal dengan Taman Zen.

Salah satu kebiasaan menarik dalam zen buddhism untuk mencapai penerangan adalah koan. Koan adalah semacam ‘puisi’ atau ‘cerita pendek’ mengenai ajaran zen buddhism dan isinya terkadang membingungkan.

Ringkasan

Cha’n diwariskan tanpa menggunakan bahasa lisan atau tertulis, tetapi diteruskan langsung dari pikiran ke pikiran. Cha’n diperkenalkan di Cina. Ketika masa Sesepuh VI, Hui Neng, Cha’n tumbuh dan berkembang menjadi lima aliran, yang menjadi aliran utama agama Buddha Cina.

Apakan Cha’n itu? Mahabhikshu Cha’n, Ch’ing Yuan, berkata bahwa Cha’n adalah “pikiran” kita. Pikiran ini bukan sesuatu yang digunakan untuk membedakan dan mengenali sesuatu. Yang dimaksud ialah “pikiran sejati” kita. Pikiran sejati ini melebihi seluruh eksistensi yang nyata, walaupun demikian, pikiran ini menjelma dalam seluruh eksistensi di alam semesta. Bahkan sesuatu yang sangat umum di alam semesta kita penuh dengan kehalusan-kehalusan ajaran Cha’n.

Zen memiliki tiga arti yang berbeda namun berkaitan :

  1. Zen berarti meditasi
  2. Zen adalah nama dari kekuatan absolut atau realitas tinggi.
  3. Zen adalah pengalaman mistis akan keabsolutan kekuatan tersebut, suatu kesadaran tiba-tiba dan diluar batasan

Ada dua pendirian dalam Budhisme Jepang  yaitu :

  1. Mencapai kelepasan dengan usaha sendiri.
  2. Mencapai kelepasan diri atas dasar kepercayaan bahwa kelepasan itu dapat ditolong oleh yang maha gaib (dewa-dewa).

Sutra-Sutra Yang Dijadikan Pedoman  Zen

  1. Suranggama Sutra
  2. Lankavatara Sutra
  3. Vajrachedika Prajnaparamita Sutra
  4. The Platform Sutra of Sixth Patriach (Sutra Altar dari Hui Neng)
  5. Vimalakirti Nirdesa Sutra.

Sekte Budha di Jepang :

  1. Pure Land Buddhism
  2. Nichiren Buddhism
  3. Sōka Gakkai.
  4. Buddha Zen.  

Aliran Buddhisme Zen

  1. Aliran Lin Chi,
  2. Aliran Chau Tung
  3. Aliran Kuei Yang,
  4. Aliran Yun Men,
  5. Aliran Fa Yen,

Kelima aliran ini dilebur menjadi dua aliran :

  1. Tsao Tung (Soto)
  2. Lin Chi (Rinzai)

Sesepuh Zen dari India, berjumlah 28 orang, sedangkan sesepuh Aliran Zen dari Cina, yakni: Bohidharma,   Hui K`o, Jianzhi Seng Ts`an, Dayi  Tao  Hsin, Hung Jen , Hui Neng / Wei Lang.

Dasar  filsafat Cha’n atau Zen :

  1. Diberikan di luar pelajaran
  2. Tanpa mengunakan kata-kata tulisan
  3. Langsung diarahkan kepada hati manusia
  4. Mengenal sifat asli itu sendiri dan menjadi Buddha

Jepang merupakan negara sekuler maka mereka tidak mengenal hari libur agama. Di dalam Cha’n/Zen, upacara-upacara yang berbelit-belit kurang dilaksanakan, pembakaran dupa wangi dan lilin pun hanya sekali-sekali. Mereka juga mengulang Sutra, namun hal itu bukan merupakan suatu keharusan. Berdoa dilaksanakan dengan melempar sekeping uang  dan berdoa dengan mencakupkan kedua tangan didada.

Tujuan akhir mempelajari agama Buddha adalah untuk mengakhiri penderitaan dalam kehidupan dengan memutus sebab-akibat samsara untuk  mencapai keadaan kedamaian sempurna, Nirvana. Cha’n menganjurkan agar pertama-tama, orang-orang mencari sifat diri, dengan cara:

  1. Meneliti Cha’n melalui keragu-raguan
  2. Mencari penyadaran melalui perenungan.
  3. Belajar Cha’n dengan bertanya.
  4. Menyadari Cha’n melalui pengalaman pribadi.

Sutra-Sutra Yang Dijadikan Pedoman  Zen

Kendatipun kita sering mendengar bahwa kaum Cha’n/Zen tidak terikat kepada Sutra-Sutra, ada juga Sutra-Sutra yang dijadikan ‘teori’ oleh mereka. Ini juga berarti mereka tidak terlalu terikat kepada apa yang tertulis dalam Sutra-Sutra. Naskah Utama Sutra tersbut adalah:

  1. Suranggama Sutra (Leng Yen Cing) terjemahan Siksananda
  2. Lankavatara Sutra (Leng Kha Cing) terjemahan Gunabadra
  3. Vajrachedika Prajnaparamita Sutra (Cin Kang Cing/Sutra Intan) terjemahan Kumarajiva
  4. The Platform Sutra of Sixth Patriach (Liu Chu Th’an Cing/Sutra Altar dari Hui Neng)
  5. Vimalakirti Nirdesa Sutra (Wei Mo Cing) terjemahan Kumarajiva

Sekte Budha di Jepang.

Buddha di Jepang mengenal sangat banyak sekte namun bagi masyarakat umum, keberadaan dari masing-masing sekte ini nyaris tidak memiliki pengaruh apapun dari segi keanggotaan. Tentu saja karena seperti sudah diketahui, kebanyakan orang Jepang menganggap agama adalah kebebasan dan umumnya mereka tidak pernah tergabung dengan kelompok agama apapun atau sekte apapun. Perbedaan sekte ini hanya berlaku di lingkungan organisasi kuil dan pendetanya saja. Jadi perebutan pengaruh, penyebaran agama ataupun merekrut anggota baru nyaris tidak ada dalam kehidupan beragama di negara tersebut. Satu satunya perkecualian mungkin adalah sekte Sōka Gakkai.

Empat sekte diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pure Land Buddhism, sekte ini mempopulerkan upacara kremasi di Jepang.. Sekte ini mempunyai pengikut yang cukup luas meliputi negeri China, Tibet dan Vietnam.
  2. Nichiren Buddhism  Nichiren Shō Shū yang artinya Sekte Benar Nichiren, didirikan pada tahun 1253 oleh pendeta Nikkō, murid pendeta Nichiren. Sekte Nichiren adalah salah satu sekte Buddha yang cukup unik. Keunikannya adalah sekte ini adalah tidak melakukan penyembahan ke arca Buddha seperti yang umum dilakukan pada tradisi Buddha lainya. Sebagai gantinya mereka meletakkan Mandara, tulisarn atau huruf Jepang yang berisikan mantra atau tulisan suci yang dikeramatkan.
  3. Sōka Gakkai. Dalam perkembangan selanjutnya ajaran Nichiren ini melahirkan sekte atau kelompok baru yang lebih modern dan solid yang disebut Sōka Gakkai. Sekte ini berdiri pada tahun 1975 dan merupakan sekte Buddha yang memiliki struktur organisasi dan juga pengikut paling solid dan terbesar di Jepang saat ini. Bahkan dalam satu dasarwarsa ini, pengaruhnya sudah tersebar ke berbagai negara lain. Ajarannya kebanyakan bersumber dari ajaran Nichiren. Sepertinya sekte ini berusaha untuk keluar dari pakem agama yang statis yang berkutat pada masalah dogma dan ritual. Sōka Gakkai tidak menekankan aktivitasnya pada kegiatan tradisi dalam arti ritual seperti sembahyang atau ibadah namun lebih banyak ke bidang pendidikan dan perbaikan prilaku. Kelompok ini juga tidak memiliki kuil atau tempat ibadah apapun, namun sebagai gantinya mereka memiliki rumah atau gedung modern yang dipakai sebagai tempat pertemuan dan diskusi. Mereka percaya bahwa tujuan hidup kita adalah penciptaan nilai. Nilai yang utama adalah kebaikan, kemudian kegunaan, ketiga, keindahan. Sōka sendiri artinya adalah penciptaan nilai, sedangkan Gakkai artinya kurang lebih tempat pertemuan atau tempat belajar atau a learned [scientific] society. Mereka juga mencoba untuk membuat agama lebih berguna bagi masyarakat banyak
  4. Buddha Zen.  merupakan  sekte dari agama Buddha yang sangat berpengaruh di negara tersebut. Membicarakan tentang Buddha di Jepang umumnya selalu merujuk ke pada sekte Budda Zen. Demikian juga halnya dengan budaya yang sama sekali tidak bisa dipisahkan dari peran Buddha Zen. Aliran Cha”n / Zen itu bersikap agak bebas terhadap mempelajari berbagai Mahayana-Sutras, tidak hendak mengikatkan diri kepada Sutras tertentu. Begitu pula terhadap berbagai aliran filsafat dan theogoni didalam madzhab Mahayana. Bahkan tidak hendak membincangkannya secara serius. Aliran ini lebih mengutamakan pendekatan secara kerohanian (intuitif) untuk mencapai kesadaran tertinggi. Sifat kepribadian pada aliran Zen itu amat kuat hingga kurang menaruh hormat terhadap patung-patung pujaan. Dengan begitu aliran ini dapat dikatakan bersifat iconoclastic, yakni menantang pemujaan patung-patung berhala itu, karena pujaan-pujaan lahiriah itu tidak membawa kepada tujuan tertinggi. Titik berat ajaran ini lebih mengutamakan disiplin, yakni : ketaatan dan kidmat yang sepenuh-penuhnya kepada sang guru, Cuma sang guru saja resmi dan pasti dapat menuntun seseorang murid kepada pencerahan dan kebenaran, guna mencapai kepribadian Budha. Karena aliran ini berkeyakinan bahwa kepribadian Budha itu hidup membenam dalam diri manusia, dan melalui renungan di dalam samadhi, maka kepribadian-Budha itu dapat dilihat. Menurut aliran ini, bukanlah dengan kepercayaan yang dapat membawa manusia identik dengan Budha, melainkan dengan samadhi yang dalam. Aliran ini berfaham Pantheistis (kesatuan dewa dengan alam semesta). Manusia dapat menjadi identik (sama) dengan Budha bilamana ia melakukan meditasi yang dalam berdasarkan intuisi. Meditasi demikian  dipengaruhi oleh Taoisme.

(Meditasi adalah latihan yang diterima secara universal oleh semua filsuf, orang suci, dan petapa India dan Budha tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Sebenarnya praktik meditasi merupakan salah satu ciri kebudayaan moral di Timur).

Buddha Zen 2 Meditasi Zen

Samadi yang dilakukan terbagi menjadi dua yaitu :

  1. Tathagatha-Meditation, yaitu cara Samadhi dari Buddha Gautama, mempergunakan kodrat-kodrat renungan.
  2. Patriarchal-Meditation, yaitu cara Samadhi yang diajarkan Patriarch Bodhidharma, yaitu meniadakan pikiran dan memusatkan kesadaran rohani untuk  mencapai kepribadian  Budha.

Aliran-Aliran Budhisme Zen

  1. Aliran Lin Chi, dikembangkan oleh master Lin Chi (kira-kira 850 M).
  2. Aliran Chau Tung,  dikembangkan oleh master Tung San Liang Chie (808-869 M) dan Chau San (840-901 M).
  3. Aliran Kuei Yang, dikembangkan oleh Kuei San (771-853 M) dan Yang San (807-883 M).
  4. Aliran Yun Men, dikembangkan oleh Yun Men (862-853 M).
  5. Aliran Fa Yen, dikembangkan oleh Fa Yen (8885-958 M).

Kelima aliran ini dilebur menjadi dua aliran :

  1. Tsao Tung (Soto). Aliran Soto menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi tenang pengosongan pikiran (kontemplasi), mengembangkan ajaran pencerahan yang hening. Ciri aliran ini adalah ketenangan, menekankan kerja dalam keheningan serta ‘kepatuhan’.Metode yang dilakukan untuk mencapai ketenangan adalah melalui Za-zen, yaitu meditasi dalam posisi duduk bersila.
  2. Lin Chi (Rinzai) menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi yang diarahkan kepada aliran tertentu. Aliran Rinzai berusaha mencapai penerangan dengan menggunakan penerangan cara Koan dan Mondo. Koan dan Mondo merupakan usaha untuk mencapai penerangan secara aktif. Aliran ini sifatnya lebih dinamis dan aktif dibanding aliran Zen. Koan adalah suatu problem semacam teka-teki, kecuali untuk pikiran yang sadar koan biasanya terdiri dari satu kata atau frasa tanpa arti, atau sebuah pernyataan yang tampaknya nonsense dari sudut pandang umum.

Buddha Zen 3 Budha Zen

Sesepuh Zen.

Sesepuh Budha dari India adalah sebagai berikut :

  1. Mahakasyapa
  2. Ananda
  3. Sanakavasa
  4. Upagupta
  5. Dhritaka
  6. Michchaka
  7. Vasumitra
  8. Buddhanandi
  9. Buddhamitra
  10. Parshva
  11. Punyayashas
  12. Ashvaghosha
  13. Kapimala
  14. Nagarjuna
  15. Kanadeva
  16. Rahulata
  17. Sanghanandi
  18. Gayasata
  19. Kumarata
  20. Jayata
  21. Vasubandhu
  22. Monorhita
  23. Haklena
  24. Aryasimha
  25. Basiasita
  26. Punyamitra
  27. Prajnatara
  28. Bodhidarma

Aliran Zen dianggap bermula dari Bodhidharma sebagai sesepuh Zen. Ia berasal dari India dan merupakan murid generasi ke-28 setelah Mahakassapa (dalam Bahasa Pali; bahasa Sanskerta:Mahakasyapa). Sekitar tahun 520 dia pergi ke Tiongkok Selatan di kerajaan Liang. Dia kemudian bermeditasi selama 9 tahun menghadap dinding batu di vihara di Luoyang. Di sinilah juga dipercayai berdirinya vihara Shaolin

Agama  Buddha Cha”n (Cha”n Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Agama Buddha Cha”n mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Bagi agama Buddha Cha”n, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian pencerahan. Ajaran Bodhidharma diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai “Transmisi Bathin/Pewarisan Bathin” terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah Hui Neng (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesepuh Aliran Zen dari Cina, yakni :

  1. Bodhidharma (lahir sekitar 440 – meninggal sekitar 528)
  2. Hui K`o (lahir 487 – meninggal 593)
  3. Jianzhi SengTs`an (meninggal 606)
  4. Dayi Tao Hsin(lahir 580 – meninggal 651)
  5. Hung Jen (lahir 601 – meninggal 674)
  6. Hui Neng / Wei Lang(lahir 638 – meninggal 713)

Dasar Filsafat Cha’n/Zen

Dasar dari Cha’n atau Zen sering diungkapkan sebagai berikut :

  1. Diberikan di luar pelajaran
  2. Tanpa mengunakan kata-kata tulisan
  3. Langsung diarahkan kepada hati manusia
  4. Mengenal sifat asli itu sendiri dan menjadi Buddha

Latihan sesungguhnya memainkan peranan yang sangat penting. Yang dibutuhkan ialah pengalaman nyata dan bukan bergantung pada bahasa tertulis atau lisan belaka. Dalam aliran Cha’n, latihan adalah usaha perseorangan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh jika seseorang hanya menggeluti teori dan tidak melakukan latihan yang nyata. Hal ini sama seperti menuntun seekor kuda ke air; jika menolak untuk minum, akhirnya kuda itu akan mati kehausan. Demikian pula, doktrin yang tercatat dalam sutra agama Buddha hanya dapat menunjukkan kita jalan menuju Kesunyataan.

Alam tidak membedakan kesucian dari kekotoran, atau kecantikan dari kejelekan. Subjektivitas perasaan suka dan tidak suka dalam diri kitalah yang menimbulkan perbedaan itu. Dikatakan dalam Sutra Vimalakirti, “Pikiran yang suci akan menghasilkan tanah yang suci.” Akan tetapi, pikiran kita dikotori lima pengotor (objek-objek yang kita alami melalui lima indria) dan ditipu oleh tampak luar seluruh fenomena, yang menghalangi kita untuk melihat sifat murni seluruh dharma. Apa yang kita anggap kotor adalah bersih bagi seorang guru Cha’n yang telah cerah, karena pikirannya suci. Setiap

tempat adalah tanah suci baginya; oleh karena itu, ia dapat merasa bebas dan tenang ke mana pun ia pergi.

Kuil-Kuil Zen

Buddha Zen 4 Kiyomizu Dera

Kuil Toudaiji, salah satu contohnya yang dibangun pada tahun 728 merupakan banguan kayu tertua di dunia. Bila menyaksikan  salah satu kuil Zen yang sangat terkenal yaitu Eiheiji Kuil  di Prefektur Fukui, kita dapat melihat dengan jelas refleksi dari ajaran Zen tersebut. Di komplek kuil yang sangat luas terasa sangat asri dan menyatu dengan alam. Pohon-pohon besar berumur ratusan tahun berdiri tegak menjulang lurus ke atas. Seperti umumnya bangunan kuil di Jepang yang sepenuhnya terbuat dari kayu terlihat sangat bersih dan terawat. Kebersihan merupakan bagian dari ibadah dan tiap hari puluhan orang (calon rahib) tampak menggosok lantai kayu sampai mengkilat dan sebagian orang lagi tampak sibuk mencabut rumput dan tanaman penganggu di taman. Ketika memasuki bangunan utama yang memiliki lorong yang sangat banyak dan panjang, sandal dan sepatu harus dilepas dimasukkan ke dalam kantong plastik dan di bawa selama berkunjung di areal dalam bangunan

Ritual Agama Zen

Kalau di Indonesia dan beberapa negara lain yang mayoritas Buddha mengenal hari Waisak sebagai hari raya besar umat Buddha, di Jepang hari raya ini sama sekali tidak dikenal dan juga tidak dirayakan. Karena Jepang merupakan negara sekuler maka mereka tidak mengenal hari libur agama. Di dalam Cha’n/Zen, upacara-upacara yang berbelit-belit kurang dilaksanakan, pembakaran dupa wangi dan lilin pun hanya sekali-sekali. Mereka juga mengulang Sutra, namun hal itu bukan merupakan suatu keharusan. Bagi mereka meditasi adalah bagian dari kehidupan mereka, namun meditasi tidak bisa menjamin seseorang menjadi Buddha. Segala sesuatu harus diresapi dan di realisasikan agar dapat menghayati setiap momen kehidupan. Mereka begitu menyintai ketenangan, keheningan serta keindahan alam karena hal-hal demikian banyak membantu dalam usaha untuk mencari diri pribadi dan mengenal diri sendiri. Tentu saja moral kesusilaan sangatlah mereka junjung.

Masyarakat umum hanya tahu satu hal saja yaitu berdoa. Datang ke kuil pada hari kapan saja, melempar sekeping uang dan berdoa dengan mencakupkan kedua tangan di dada supertinya sudah lebih dari cukup dan ritual ini dilakukan tidak lebih dari lima detik. Jadi di kuil Buddha di Jepang sepenuhnya hanya berfungsi sebagai tempat berdoa saja.

Para penganut Zen percaya bahwa ketenangan dalam pelaksanaan ritual, keheningan, sedikit rasa pahit teh di anggap rasa yang menyenangkan, rasa alami, dan jalan tengah antara manis dan asam. Para rahib Zen sering menggunakan teh sebagai media  pada saat melakukan meditasi. Meminumya dengan penuh rasa nikmat, tanpa terburu-buru.

Dalam sebuah ritual yang dilakukan oleh penganut Zen ditemukan pada upacara minum teh. Upacara minum teh dilakukan ditempat khusus, disuatu bangunan disebelah bangunan utama yang terletak dihalaman. Dahulu upacara ini dilakukan dalam suatu kelompok kecil. Biasanya dilakukan seorang lelaki samurai yang mencintai seorang perempuan. Janji seorang samurai, permintaan seorang samurai disampaikan dalam upacara sederhana yang  dianggap sacral. Pada saat modern ini upacara minum teh kebanyakan dilakukan sebagai penghormatan terhadap teradisi. Disamping itu dikalangan orang-orng tertentu, dilakukan oleh orang-orang dikalangan bisnis yang lelah dan pusing dengan persoalan-persoalan duniawi. Upapacara minum teh dilakukan dengan sangat tenang dan ritualistik. Didalam seni minum teh terdapat faedah dan manfaat antara lain menjaga kesehatan tubuh dan memperpanjang usia. Minum teh merupakan salah satu obat teradisional  yang dipercaya oleh orang Cina dan jepang  sangat manjur.

Seni Zen

Seni Zen sebagian besar memiliki ciri khas lukisan asli (seperti sumi-E dan Enso) dan puisi (khususnya haiku). Seni ini diusahakan  untuk mengungkapkan dengan sungguh-sungguh intisari sejati dunia melalui gaya impressionisme dan gambaran tak terhias yang tak “dualistik”. Pencarian untuk penerangan “sesaat” juga menyebabkan perkembangan penting lain sastra derivatif seperti Cha”noyu (upacara minum teh) atau Ikebana; seni merangkai bunga. Perkembangan ini sampai sejauh pendapat bahwa setiap kegiatan manusia merupakan sebuah kegiatan seni sarat dengan muatan spiritual dan estetika, pertama-tama apabila aktivitas itu berhubungan dengan teknik pertempuran (seni beladiri).

Kuil Zen-Buddhisme memainkan peranan penting dalam melindungi seni Jepang, di samping sebagai penyokong olahraga gulat, anggar, dan memanah untuk pasukan pelindung mereka. Kuil Zen-Buddhisme juga sebagai penganjur terhadap seni sajak (puisi), lukisan, kaligrafi, dan seni merangkai bunga (ikebana). Kuil Zen-Buddhisme juga memberikan perhatian khusus terhadap seni membuat taman.

Tujuan Agama Ch’an/Zen.

Zen Buddhisme adalah sebuah aliran yang menekankan pentingnya meditasi dan mengkhususkan diri dalam hal itu. Zen yang mewakili puncak spiritualitas dalam agama Buddha adalah berintikan tentang transimi jiwa ajaran Buddha yang bersifat istimewa.

Tujuan akhir mempelajari agama Buddha adalah untuk mencapai keadaan kedamaian sempurna, Nirvana. “Kedamaian sempurna” ini berbeda dari konsep umum mengenai ketidakadaan gerak. Di kehidupan kita setiap hari, kita mengatakan bahwa sebuah objek tertentu bergerak dan objek yang lain tidak bergerak karena perbuatan pikiran kita. Semua fenomena diciptakan oleh pikiran kita. Sebenarnya, fenomena itu sendiri tidak memberikan perbedaan antara bergerak atau tidak bergerak. Yang membuat perbedaan adalah keterikatan pada pikiran kita yang disebabkan oleh kayalan. Jika kita dapat membebaskan diri dari keterikatan  ini, pikiran kita akan tenteram dan segala sesuatu akan berada dalam keseimbangan.

Sedangkan tujuan hidup Zen  sekte Soka Gakkai adalah penciptaan nilai. Nilai yang utama adalah kebaikan, kemudian kegunaan, ketiga, keindahan.

Jalan Untuk Mencapai Tujuan

Pengetahuan akan menyeret orang-orang untuk memiliki pikiran yang menciptakan perbedaan. Orang-orang akan kehilangan diri di dalam dunia pengetahuan, bahkan kadang-kadang hingga pada kondisi dikendalikan oleh pandangan pembangkangan. Dengan demikian, orang-orang menjadi berbahaya bagi makhluk lain. Cha’n menganjurkan agar pertama-tama, orang-orang mencari sifat diri, dengan cara:

  1. Meneliti Cha’n melalui keragu-raguan. Banyak agama di dunia ini menekankan keyakinan.Agama-agama itu tidak membiarkan penganutnya memiliki  keraguan mengenai doktrin keagamaan mereka Dalam agama-agama lain, tidak ada tempat untuk keragu-raguan. Seseorang harus percaya tanpa syarat. Akan tetapi, Cha’n mendorong seseorang untuk memulai dari sikap ragu-ragu. Sedikit keraguan akan menuju ke sedikit  penyadaran. Keraguan yang besar akan menuju pada penyadaran yang besar. Ketidakadaan keraguan akan menuju pada ketidaadaan penyadaran.
  2. Mencari penyadaran melalui perenungan. Saat keraguan muncul, seseorang perlu merenungkannya  untuk mencapai kesadaran. Tujuan dari banyak koan, seperti “Bagaimana wajah asli seseorang sebelum dilahirkan oleh orang tuanya?”, “Apakah anjing memiliki sifat Buddha?”, “Siapa yang membaca nama Buddha?”, adalah untuk membangkitkan keraguan seorang praktisi Cha’n. Perenungan secara tekun akan koan-koan ini akhirnya akan menuju pada penyadaran. Mereka yang berada dalam khayalan hanya akan duduk dan tidak melakukan apa pun, sementara mereka yang bijaksana akan berlatih dengan tekun.” Ketekunan berarti merenungkan dengan penuh perhatian setiap saat, bukan hanya ketika sedang duduk bermeditasi
  3. Belajar Cha’n dengan bertanya. Ketika merenungkan koan, hal yang paling penting adalah terus-menerus bertanya sampai orang itu sadar. Hal ini sama seperti mencoba menangkap seorang pencuri;  seseorang harus terus mengejarnya tanpa berhenti. Kesadaran akhir akan diperoleh jika seseorang terus menerus bertanya. Cha’n adalah sesuatu yang tidak dapat diuraikan dengan perkataan. Jalan akan lenyap begitu bahasa dipergunakan.  Kondisi itu akan hancur jika direnungkan dengan pikiran.
  4. Menyadari Cha’n melalui pengalaman pribadi. Untuk berlatih Cha’n, seseorang harus mulai dengan keraguan, perenungan, dan pertanyaan, tetapi langkah akhir dan yang paling penting adalah pengalaman pribadi yang menyangkut Cha’n. Cha’n bukanlah untuk diperbincangkan ataupun direnungkan, tetapi untuk dialami. Kesadaran adalah keadaan pikiran yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata. Kesadaran hanya dapat dialami oleh mereka yang sudah mencapainya.Sebenarnya, metode yang paling tepat dari ajaran Cha’n adalah untuk menyadarinya melalui kehidupan seseorang setiap hari, dengan mengenakan pakaian, makan, duduk diam, dan bepergian. Segala sesuatu yang kita lakukan atau berhubungan dengan kita adalah Cha’n.

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA.

(Dari Berbagai Sumber)

About admin

Check Also

Gejolak Jiwa: Rindu dan Cinta Pertama kepada Allah SWT

Gejolak jiwa yang terjadi dalam diri, saat mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan suara yang merdu, ...