Friday , December 13 2019
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Biografi Singkat Pendiri Tarekat Sammaniyah, Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Samman

Biografi Singkat Pendiri Tarekat Sammaniyah, Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Samman

Manaqib Ghaust Zaman al-Akwan Syeikh Muhammad Bin Abdul Karim Samman, Peletak Dasar Tarekat Sammaniyah

Tarekat Sammaniyah meninggalkan banyak warisan kepada bangsa Indonesia, di antaranya Tari Samman, yang di dalamnya menggelora semangat berjihad melawan penjajah.

Tarekat Sammaniyah adalah tarekat yang sangat terkenal di Indonesia. Pendirinya adalah Muhammad bin Abdul Karim Al-Madani Al-Syafi’i Al-Samman. Ia, yang lebih populer dipang­gil ”Syaikh Samman”, adalah seorang ulama besar dan sekaligus sufi.

Tarekat Sammaniyah muncul di Aceh, Sumatera Barat, Banten dan Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta beberapa kantung muslim di Indonesia. Tarekat ini meninggalkan banyak warisan kepada bangsa Indone­sia, di antaranya Tari Samman, yang di dalamnya menggelora semangat berji­had melawan penjajah.

Magnet bagi para Pencari Ilmu

Siapa sebenarnya Syaikh Samman? Dalam kitab manaqib Syaikh Al-Waliy Al-Syahir Muhammad Samman maupun hikayat Syaikh Muhammad Samman, di­sebutkan, pria alim ini lahir di Madinah dari keluarga Quraisy pada 1130/1718.

Masa Kanak-kanak 

Sejak kecil terdapat keganjilan dalam kehidupannya. Suatu ketika orangtuanya meng­hidangkan makanan untuk Syaikh Samman kecil di atas meja makan. Beberapa waktu kemudian, orangtuanya membuka tutup saji dan mendapatkan makanan itu utuh tak dimakan. Setiap kali orangtuanya menghidangkan ma­kanan untuknya, mereka selalu men­dapati makanan itu tak berkurang sedikit pun.Karena merasa kawatir dengan peri­laku anaknya tersebut,

orangtuanya me­laporkan kepada guru yang mendidik anaknya. Guru itu menjawab, “Jangan khawa­tir, anakmu itu akan menjadi seorang wali.” Jika Syaikh Samman tidur dengan bantal empuk, ia selalu berkeluh kesah seperti orang sakit. Sementara ketika orangtuanya tidur, ia bangun tengah ma­lam dan mengambil air wudhu, sedang kala itu musim dingin di Madinah. Ia selalu shalat hingga datang waktu subuh.  Setelah shalat Subuh,  ia membaca ratib sampai matahari terbit. Kemudian ia shalat sunnah Isyraq. Menjelang siang hari, ia shalat Dhuha. Setiap hari ia berpuasa sunnah dan melakukan riyadhah. Rutinitas kegiatan ini dilakukan Syaikh Samman pada masa sebelum baligh. Semasa kanak-kanak ia belajar agama kepada para ulama yang berada di sekitar Madinah dan dalam usia delapan tahun ia sudah hafal Al-Qur’an.

Masa Remaja

Ketika remaja dan setelah menjadi guru di Madrasah Sanjariyah Madinah, ia belajar hukum Islam kepada lima ulama fiqih terkenal: Muhammad Ad-Daqqaq, Sayyid Ali Al-Aththar, Ali Al-Kurdi, Abdul Wahhab Al-Thanthawi (di Makkah), dan Said Hilal Al-Makki. Ia juga pernah berguru kepada Muhammad Hayyat, seorang muhaddits dan pengi­kut Tarekat Naqsyabandiyah. Ketika mengaji kepada Muhammad Hayyat, ia bertemu murid lain yang ber­nama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Wahabbiyah.

Syaikh Samman juga berguru ke­pada Muhammad Sulaiman Al-Kurdi Al-Syafi’i (1125-1194/1713-1780), yang juga guru bagi sekelompok murid Me­layu-Indonesia pada abad ke-18. Mung­kin hal ini yang kemudian membentuk dirinya menjadi pengikut Madzhab Syafi’iyah. Ia juga berguru kepada Abu Thahir Al-Kurani, Abdullah Al-Bashri, dan Musthafa bin Kamaluddin Al-Bakri. Di antara gurunya itu, yang disebutkan terakhir ini rupanya yang paling menge­sankan. Musthafa Al-Bakri (1749), yang juga syaikh Tarekat Khalwatiyah, adalah guru untuk bidang tasawuf dan tauhid. Ia berasal dari Damaskus dan menjadi pengarang yang sangat produktif. Pada waktu muda, Syaikh Samman terpenga­ruh Tarekat Khalwatiyah dan karena itu­lah ia menambah ilmu dari dua guru Khalwatiyah, yaitu Muhammad bin Salim Al-Hifnawi dan Muhammad Al-Kurdi. Akhirnya Syaikh Samman membuka cabang Tarekat Khalwatiyah, tetapi ia memberikan nama tarekat itu ”Al-Muhammadiyah”, yang berarti jalan Nabi Muhammad SAW.

Gabungan antara Khalwatiyah dan Sammaniyah inilah yang kemudian me­narik para pengikut tarekat ini di Sula­wesi Selatan. Para pengikut Syaikh Yusuf Al-Makassari kini menamakan tarekatnya ”Khalwatiyah Sammaniyah”. Syaikh Yusuf sendiri adalah pengikut Tarekat Khalwatiyah. Sebenarnya Syaikh Samman tidak hanya belajar Tarekat Khalwatiyah, ia juga belajar tarekat lainnya, seperti Naq­syabandiyah, Qadiriyah, dan Syadza­liyah. Semua tarekat itu mempengaruhi tarekat yang kemudian didirikannya, yaitu Tarekat Sammaniyah.

Syaikh Samman lebih banyak tinggal di Madinah. Semula ia mengajar di Madrasah Sanjariyah dan kemudian menjadi penjaga makam Nabi Muham­mad SAW. Dua posisi ini menjadikan dirinya tokoh yang paling banyak ditemui kaum muslimin di seluruh dunia. Sebagai tokoh tarekat yang zuhud, shalih, keramat, dan dengan segala kara­mah yang ada pada dirinya, ia men­jadi magnet bagi para tamu untuk me­nimba ilmunya. Peziarah haji yang da­tang dari berbagai penjuru dunia memin­ta untuk dijadikan muridnya. Syaikh Samman sendiri menganggap, keda­tang­an tamu-tamu itu sebagai karunia bagi dirinya sebagai penjaga makam Nabi.

Dalam Tarekat Sammaniyah, Syaikh Samman menyusun ratib, wirid-wirid, ta­wasul, serta berbagai suluk yang dipe­sankan kepada murid-muridnya dalam jama’ah tarekat dzikir Samman.

Tarekat ini kemudian menyebar hing­ga wilayah Sudan, Ethiopia, dan Asia Tenggara. Dari sekian banyak murid Syaikh Samman, yang paling menonjol di an­taranya adalah Syaikh Shiddiq bin Umar Khan Al-Madani, Syaikh Abdul­rah­man bin Abdul Aziz Al-Maghribi, Syaikh Abdul Karim (putra Syaikh Samman), Maulana Sayyid Ahmad Al-Baghdadi, Shuruddin Al-Qabuli, dan Abdul Wahhab Afifi Al-Mishri. Sementara murid yang berasal dari Indonesia di antaranya Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul­rahman Al-Fathani, dan tiga orang dari Palembang: Syaikh Abdul Shamad, Tuan Haji Ahmad, dan Muhyiddin bin Syihabuddin. Ada satu lagi murid Sam­maniyah yang terkenal yaitu Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari, pengarang kitab Ad-Durr Al-Nafis. Namun ia tidak ber­temu langsung dengan Syaikh Samman, ia mengambil ajaran Tarekat Sammani­yah dari Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi, murid Syaikh Samman di Madinah.

Berwasilah

Syaikh Samman pernah berkata, diri­nya tidak mati, hanya pindah dari dunia ke tempat yang tersembunyi, alam bar­zakh. Kalaupun sekiranya ia dianggap mati, ia menyarankan untuk menziarahi kuburnya dan berdzikir di sana. Ia berpesan kepada siapa pun agar berwasilah kepadanya jika menghadapi suasana terdesak. Saat Muqran bin Abdul Mu’in ber­layar dari negeri Suez ke negeri Hijaz, kapalnya diterjang angin topan hingga hampir karam. Saat itulah ia datang menolong.

Tawasul adalah memohon berkah kepada Allah SWT melalui wasilah atau perantara. Yakni Nabi Muhammad, ke­luar­ganya, para sahabat, para wuliya’, para ulama fiqih, para ahli tarekat, para ahli ma’rifat, kedua orangtua, asma-asma Allah, dan lain-lain.

Tawasul lazim dipraktekkan dalam kegiatan tarekat. Begitu juga dalam Tarekat Sammaniyah. Dengan bersan­dar pada sebuah hadits yang berbunyi Dzikr al-awliya’ ’tanzil al-rahmah, yang artinya, ”Sebutlah karamah para wali Allah, maka akan turun rahmah.” Syaikh Samman memang seorang sufi. Meski demikian, ia amat kuat dalam memegang syari’at. Syaikh Samman sangat produktif menulis kitab, seperti Al-Futuhat Ilahiy­yat fi Tawajjuhat al-Ruhiyyat, Al-Istigha­sat, Risalah al-Samman fi adz-Dzikr wa Kayfiyyatihi, Shalawat Nur Muhammad (Shalawat Sammaniyah), Al-Ainiyah. Selain itu, banyak juga kitab Tarekat Sammaniyah yang dikarang oleh murid dan pengikutnya. Seperti Hikayat Syaikh Muhammad Samman, yang ditulis oleh Muhyiddin bin Syihabudiin Al-Falimbani, Ad-Durr Al-Nafis, karya Muhammad Nafis Al-Banjari. Syaikh Samman meninggal pada hari Rabu, 2 Dzulhijjah 1189 H/1775 M, da­lam usia 57 tahun. Jenazahnya di­makamkan di Pemakaman Baqi’, Madi­nah. (dari berbagai sumber)

 

About admin

Check Also

Kontroversi Abu Nawas: yang Menghina, yang Merendah

Pengkaji sastra Arab pasti sudah mafhum dengan kemasyhuran Abu Nawas di kalangan para penyair, baik ...