Wednesday , August 22 2018
Home / Budaya / Kebangsaan / Benarkah Indonesia Bangsa Besar Tak Tertandingi? (Bagian 2)

Benarkah Indonesia Bangsa Besar Tak Tertandingi? (Bagian 2)

Harusnya kita ini sudah hancur berkeping-keping ! Dalam teori matematis mestinya kehidupan kita sudah musnah babak belur, mengapa? Bencana tak kunjung henti….!!! digoncang mega musibah dari beribu penjuru, ada Tsunami di daerah istimewa Aceh, yang terbesar sepanjang abad ini yang dalam tempo 10 menit merengut lebih dari 200.000 nyawa lalu menyusul Tsunami kedua dipantai Jawa menewaskan 600 jiwa, ada gempa tektonik sambung menyambung sepanjang lereng bukit barisan, diantara yang terdahsyat menimpa Daerah Istimewa Yogyakarta 5.800 orang meninggal dan 36.000 terluka akibat goncangan 6,2 SR.

Indonesia adalah pemilik gunung paling aktif di planet ini berada dalam lintasan wilayah ”Ring of Fire” membuat gunung-gunung kita selalu potensial meledakkan lahar panasnya. Ada kebocoran semburan gas lumpur lapindo yang diprediksi baru berhenti 32 tahun yang akan datang yang telah menenggelamkan 3 desa mengusir 50.000 keluarga, kebakaran hutan yang asapnya “diekspor” ke asia tenggara, angin puting beliung, banjir bandang dan tanah longsor telah mengusir lebih 400.000 penduduk pulau Sumatera. Banjir Sinjai menewaskan lebih dari 200 orang.

Tumpukan sampah yang berbau busuk dan tidak diatur telah menimbun kelompok pemulung yang tak berdaya, tanah longsor telah menghanyutkan rumah-rumah kardus ke anak-anak sungai. Rentetan wabah penyakit (demam berdarah & flu burung nomor 1 didunia, TBC-hepatitis-lepra nomor 3 di dunia, malaria hingga malnutrisi).

Pengkonsumsi rokok ketiga terbesar didunia, 57 juta penduduk menurut ASEAN tobacco control adalah prokok aktif atau seekitar 46 % dari penduduk- yang akan menghanguskan 180 trilyun biaya kesehatan akibat rokok atau 5 kali dari pendapat cukai benda kecil berbau apek itu !

Kecelakaan transportasinya? Wow dikepung 4 penjuru mata angin, dari: udara, laut maupun daratan. Pesawat terbang hilang tak juntrung jejaknya atau tergelincir di landasan pacu bahkan sebuah pesawat ”kebanggaan” hangus secara ”Live” dihadapan mata jutaan orang, kapal-kapal ferry tenggelam atau rontok di lautan bebas, kereta api bertabrakan atau tergelincir satu kali seminggu, penumpang yang tak berkarcis berjatuhan dari atap yang berkarat. Indonesia merupakan Negara dengan jaringan jalan yang “paling banyak digunakan” di dunia (hanya nomor dua setelah Hongkong yang bukan merupakan negara): 5.7 juta kendaraan-km per tahun dari jaringan jalan. (2003, The Economist World in Figures, 2007 Edition). Namun, lebih dari 80 orang tewas setiap hari di jalan-jalan Indonesia. Bukalah situs wikipedia, lihatlah statistik disaster dalam ensiklopedia itu, maka Indonesia nyaris menempati ranking pertama dalam kompetisi musibah dan bencana alam, atau dengan sangat terang benderang tragedi yang terjadi di negeri ini secara headline terpampang di berita utama Yahoo. Sehingga seorang aktivis kemanusiaan di australia (dengan setengah guyon kali ya?) menyebut Indonesia sebagai ”Supermarket Disaster”.

Selain bencana alamnya bencana horizontal man made disaster-nya tidak kalah mengerikan, kerusuhan sosial nyaris tanpa henti, kemiskinan yang absolut dengan tingkat pengangguran lebih 30 %, sekitar 100 juta orang Indonesia jatuh bangkrut hidup miskin menurut versi bank Dunia mencapai 49 % dari populasi di negeri ini, hutang negara kita lebih 200 milyard dolar. Sejak pra maupun pasca reformasi semakin terakumulasi warga negara yang hidup dalam dunia abu-abu, disorientasi dan dihantui kondisi ketidakpastian akan hari esok dalam banyak hal. Apakah itu semua teguran-siksaan atas bangsa yang durhaka atau…..sebuah persiapan untuk sebuah bangsa besar yang kelak layak akan memikul amanah yang besar pula? Apakah panen malapetaka itu buah dari korupsi tak terperi, rekayasa jahat dari kelompok elite yang sedang berkuasa, inkompetensi profesionalitas dan kemaksiatan yang sangat telanjang, atau…. Juga bisa ditafsirkan sebagai para pahlawan yang tengah tiarap, pemimpin berjiwa resi yang lagi sembunyi, pejuang-pejuang yang tengah tertidur dan bangsa yang lupa diri akan siapa sesungguhnya dirinya?

Suatu kali Saya teringat kuliah bebas dari guru saya tentang kondisi pelayanan nyeri di Rumah sakit-rumah sakit kita, yang kini menarik dan rasanya aktual dengan tema ini bagi saya untuk merenungkannya. Beliau yang pernah menjabat sebagai presiden Nyeri Asia itu, kira-kira mengatakan demikian :

“Sewaktu Saya masih pendidikan S3 di Amerika, sangat sering sekali bagian Bedah mengkonsulkan bagian anesthesiology untuk menangani nyeri kronik, khususnya perkembangan nyeri akut pasca operasi, namun setibanya di negeri sendiri hal tersebut sangat langka (jika tidak dikatakan malah tidak pernah !)”.

Pertanyaannya kemudian yang mengusik saya adalah : Apakah memang kasus nyeri kronik tersebut ditangani sendiri oleh sejawat Bedah selama ini? atau memang nyeri-nyeri akut pasca operasi itu tidak pernah kemudian berkembang menjadi nyeri kronik karena masyarakat kita adalah “orang-orang yang tangguh, kuat dan tahan menderita”? (catatan smiling center: masih menilai Indonesia sbg negara paling murah senyum).

Analogi untuk hal seperti itu dalam dunia medis sangat banyak contohnya. Jika melihat daftar bala bencana yang telah saya paparkan diatas, maka kesimpulan logika liniernya mestinya bangsa ini sudah hancur sejak dulu? Namun kenapa kita tetap bertahan? Kwalitas mental seperti apakah yang dimiliki pribadi-pribadi rakyat jelata di negeri ini yang masih sanggup hidup “bahagia” meski diselebungi kemiskinan paling absolut itu? Meminjam istilah, Cak Nun, di dalam budaya Jawa ada kata “mupus” yakni menganggap tak ada sesuatu yang bikin pusing (dalam hidup ini) tapi sebenarnya tak pernah bisa diselesaikan. Penderitaan berkepanjangan oleh kemiskinan struktural oleh rakyat cukup dijawab dengan “Gusti Allah mboten sare” (Tuhan tidak tidur).

Puluhan juta keluarga Indonesia bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi, gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab: “cukup pake Bismillah”. Kita pasti sering melihat pemandangan banyak keluarga-keluarga kecil bekerja serabutan mocok-mocok tanpa penghasilan yang layak tapi tetap saja survive dan “bahagia”, atau pemuda-pemuda di kampung yang kerjanya cuma konkow-konkow merokok sambil main gaplek padahal gak bekerja. Didera krisis moneter sampai 4 kali, tapi ya tidak ada berita warga yang mati kelaparan tuh!

Konon istilah “ngalah” hanya dimiliki orang Indonesia, suatu keterampilan mental berendah hati dalam kondisi paling terpuruk sekalipun, menurut Prof.Dr. Damardjati Supajar istilah “ngalah” berasal dari kalimat “meng-Allah” (meniru kesabaran Tuhan yang tak terhingga). Karena etos “ngalah” itu (mungkin) kita tenang-tenang saja biar budaya-budaya kita yang sangat kaya itu diklaim Negara tetangga. Kita nggak pusing milyaran rupiah uang kita diboyong pengusaha hitam untuk disimpan di luar negeri. Kita tak terlalu pusing biar Singapura menggaruk pasir kita, Malaysia menyerobot hutan kita, nelayan Philipina menggarong ikan-ikan kita, Negara barat mengeruk bahan tambang kita. Bahkan kepada Bank Dunia (IMF) yang jelas-jelas akan menjerat leher kita- bila perlu kita sediakan karpet merah terhadap kedatangan mereka. Sekali lagi pinjam istilahnya Cak Nun, “Indonesia itu bangsa besar yang tak butuh kebesaran”.

Keterampilan mental untuk subyektifikasi memaklumi keadaan, betapapun terpuruknya kondisi yang dialami diistilahkan sebagai “teknologi Internal”, rasa-rasanya bangsa kita punya kecanggihan teknologi model ini yang sangat tinggi sehingga model apapun keburukan, kejelekan bahkan kejahatan bisa diperhalus dipolesi dengan ungkapan-ungkapan permakluman, sehingga “eufemisme” berkembang luar biasa dalam tatabahasa kita. Tidak ada istilah dipecat, yang sering disebut purna tugas, tidak terkenal istilah ditangkap tapi diamankan, bahkan pelacur semakin diperhalus menjadi pramunikmat.

Salah satu keluaran dari kebiasaan teknologi internal adalah pupusnya denotasi. Manusia dan masyarakat Indonesia hidup dalam konotasi-konotasi. Di negeri ini, sesuatu tidak bermakna sesuatu itu sendiri, A bukan berarti A tapi bisa A’ atau malah B, kata orang jawa “ngono yo ngono sing ojo ngono” (begitu ya begitu tapi jangan begitu!…. bingung tho?). Setiap kata, setiap perbuatan, setiap langkah dan keputusan, setiap jabatan dan fungsi, selalu tidak berkenyataan sebagaimana substansinya, melainkan ada tendensi, pamrih, maksud tersembunyi, “udang dibalik batu” atau apapun namanya, di belakangnya.

Kalau ia berlaku pada denotasi penderitaan dikonotasikan sebagai “tabungan akhirat”, pada “tempe” dianggap “daging”, pada “kegagalan” disebut “sukses yang tertunda”, “kelemahan” disebut “kesabaran”, “kebodohan” dibilang “kerendahan hati”, “kemiskinan” dikonotasikan sebagai “suratan takdir” – maka masih bisa menguntungkan survivalisme para penderitanya. Mereka bertahan hidup berkat kepandaian menciptakan konotasi-konotasi. Pemerintah selalu beruntung karena tingkat kemiskinan dan penderitaan sedahsyat apapun tak mungkin melahirkan pemberontakan total atau revolusi. Inilah “Negerinya orang-orang tertawa” (City Of Joy).

Musibah seperti apapun tak akan memusnahkan rakyatnya, malapetaka sedahsyat apapun takkan menghancurkan kehidupannya. Lihatlah acara TV yang meliput banjir misalnya? anak-anak korban banjir malah pada lompat kegirangan sambil bermain-main air, atau jelas-jelas seorang pejabat nyolong uang rakyat tapi masih bisa senyum dadah-dadahan di depan kamera depan jeruji besi tanpa rasa malu sedikitpun. Sehari habis bencana bobol bendungan Situgintung besoknya malah jadi situs wisata. Tempat yang kemarin angker menyeramkan itu, lalu dijadikan obyek menarik untuk foto-foto.

Ada ketoprak hukum, dagelan politik yang warna-warni diselingi sumpah-sumpahan para aktornya, sesekali ada adegan menyeka airmata (buaya) lalu ujung-ujungnya cengengesan lagi. Setiap hari tontonannya ketawa-ketiwi-goyang-goyang (segala model goyang ada di negeri ini : ngebor, gergaji, patah-patah, kayang dsb), pesta pora, teka-teki berhadiah di TV, media, doorprized simposium seminar hingga iming-iming “serangan fajar” saat kampanye-kampanye Pilkada.

Mungkin dengan komplikasi persoalan yang multidimensional yang terjadi di negeri ini, kita akan sepakat bahwa “negeri ini sudah mustahil untuk diperbaiki lagi !”. Jika semua kekacauan yang terjadi adalah peristiwa menuju penghancuran yang sempurna, maka dengan stamina mental rakyat Indonesia yang mengagumkan itu, kehancuran itu akan berjalan sangat-sangat lamban. Atau kita mungkin masih punya kesempatan kedua…. Karena ketertindasan rakyat di negeri ini, semoga Tuhan iba melihat nasib kaum mustadh’afiin ini lalu menyelamatkannya.

Dan yang pasti di negeri ini, (Insya Allah) masih tersisa sangat banyak benih-benih baru- generasi penerus yang sangat cerdas jenius luar biasa yang menunggu sentuhan tangan-tangan “martir” kita sebagai “orangtua” mereka, untuk diasah dan diarahkan menjadi manusia-manusia khalifah pembawa sekoci-sekoci penyelamat bagi kapal besar yang mungkin akan karam ini. Yang mengajak bangsanya untuk kembali terbang tinggi seperti Burung garuda di angkasa raya.

(Wallahu’alam bis shawab).

Referensi :

  • Emha Ainun Nadjib, Kagum pada Orang Indonesia, progress Yogyakarta, 2008.
  • Ceramah ”Kenduri Cinta” Emha Ainun Nadjib, September 2009
  • Kick Andy, ”Berprestasi di negeri Orang” Tayangan Metro TV, 2009
  • Artikel Tempo 28 Mei 2010, Pelajar Hebat 2010.
  • Isa Alamsyah, No Excuse, Asma Nadia Publishing House, 2010.
  • Artikel Maiyah, ”Korupsi milik kita semua”, Emha Ainun Nadjib
  • Sumber gambar : Arham kendari Facebook (ketika cicak bersaksi)

 

About admin

Check Also

Ada Kejayaan Bangsa di Balik Panggung Indonesia

Titip Pointers Geopolitik untuk Capres/Cawapres Kumpulan huruf disebut “kata,” di dalam kata ada “arti”. Untaian ...