Monday , September 16 2019
Home / Budaya / Asal Usul / Benang Merah ‘Kabuyutan’

Seperti Terungkap dalam Naskah Sunda Buhun Abad 16-Masehi

Hingar bingarnya pemberitaan beberapa bulan lalu, berkenaan dengan keberadaan Gunung Lalakon, berkelindan erat dengan keberadaan Situs Gunung Padang Cianjur dan Kabuyutan Pasir Ringgit. Demikian pula halnya dengan Pasir Salam, Gunung Bohong, Pasir Selacau, Gunung Pancir dan Gunung Paseban Cipatik, hingga Gunung Singa dan Gunung Sadu, yang keberadaannya berkaitan secara geologis. Kini muncul lagi sebuah gunung yang ditengarai sebagai ‘gunung piramida’, yang berada di daerah Sukahurip Pangatikan Garut. Karena ditengarai memiliki ‘sebuah bangunan’, keberadaan gunung ini, ditetapkan sebagai ‘status quo’ untuk ajang penelitian. Meskipun 14 Januari 2012 lalu, Sujatmiko seorang pakar Geologi Indonesia, membantah ‘anggapan’ Yayasan Turangga Seta yang gencar mempromosikan gunung yang ditengarai sebagai ‘Piramida’ tersebut.

Benang Merah ‘Kabuyutan’

Seperti halnya Situs Gunung Padang dan Selareuma, Gunung Lalakon maupun Gunung Sadahurip ‘Piramida’ yang dianggap sebagai kabuyutan, menurut Naskah Puru Sangkara  dan Carita Ratu Pakuan, juga Sanghyang Hayu, dikeramatkan dan disakralkan sebagai tempat menempa  jiwa untuk menyiapkan pemuka agama yang handal. Pembebasan Gunung Lalakon, Sadahurip,  maupun Pasir Ringgit, yang ditengarai sakral serta memiliki energi  mistik alam semesta  yang tertinggi dan digeugeuh ‘dihuni serta dikuasai mahluk-mahluk halus, berdasarkan naskah Puru Sangkara karena dibantu oleh wadya balad/pasukan  angkatan  perang yang  didatangkan langsung dari Gunung Padang. Hal itu dimungkinkan, karena pasukan Gunung Padang masa itu dikenal, sebagai pasukan mistik berani mati yang gagah perkasa dan terpercaya, sehingga diundang untuk mengusir dan menaklukkan ‘dedemit’ yang berkuasa di Pasir Ringgit dan Gunung Piramida. Dengan demikian, berdasar Naskah Puru Sangkara terdapat benang merah antara Gunung Padang dengan Pasir Ringgit serta Gunung Lalakon dan Sadahurip ‘Piramida’, baik yang berada di Soreang Bandung maupun yang terdapat di Sukahurip Garut.

Dalam naskah dan carita pantun, tersirat bahwa suatu bukit yang di bagian tertentu ditumbuhi pohon beringin atau pohon besar lainnya (pohon Kemenyan), atau bukit yang dijadikan punden berundak, serta kolom-kolom andesit, yang terbentuk akibat retakan sistematis disebut sebagai kabuyutan, pusat kekuatan batin atau puseur dangiang. Menurut cerita lisan yang  berkembang, di sekitar Gunung Padang dan Gunung Piramida, juga Pasir Ringgit, terdapat nama  kampung Ciséla (Gunung Padang), Sélareuma (Pasir Ringgit), atau Sélacau (Gunung Lalakon), maupun Kampung Séla atau Ciéla (Gunung Sadahurip). Nama-nama tersebut, merupakan salah satu ‘ciri’ adanya kabuyutan yang berkelindan erat dengan legenda yang menyertainya.

Gunung Padang, Gunung Lalakon, Pasir Ringgit, maupun ‘Piramida’, berkaitan erat dengan konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis. Manusia pada dasarnya terikat pada alam semesta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan spiritual secara timbal balik antara keduanya. Pandangan tersebut tampak dalam masyarakat Sunda, seperti tercermin dalam Sang Hyang Hayu (SHH). Menurut SHH, tata ruang jagat (kosmos) terbagi menjadi tiga susunan (triumvirate), yaitu: (1) susunan dunia bawah, saptapatala ‘tujuh neraka’, (2) buhloka bumi tempat kita bernaung atau madyapada; dan (3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga’. Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi. Hal serupa terkuak dalam teks Sanghyang Raga Dewata, yang mengisahkan proses penciptaan jagat raya beserta segala isinya. Begitu pula dalam teks Sri Ajnyana yang mengisahkan proses turunnya manusia ke bumi, di dalamnya dilukiskan tentang struktur kosmos.

Sementara itu, undak lima yang terjadi pada tatanan Kabuyutan Gunung Padang, mengacu kepada naskah Sanghyang Siksa  Kandang Karesian yang berdasar atas keberadaan lima arah angin, yang masing-masing memiliki nama dan warna tersendiri (Sanghiyang Wuku Lima di Bumi). Angka lima, menurut naskah kuno, mengisyaratkan ‘keagungan’/kebesaran atau bisa juga menjadi ‘keganasan/kebinasaan’ jika kita sebagai manusia tidak mampu mengendalikannya. Sementara itu, Gunung Sadahurip ‘atau Gunung Putri/Sanghyang Karamat’ Garut, sebagaimana terkuak dalam Peta Ciela’, ditengarai memiliki tujuh undak/tahap. Tahapan Kabuyutan ini sesuai dengan struktur kesadaran spiritual manusia, dalam keberadaannya di tengah yang alami (natuur). Budaya Sunda mengenal adanya 7 jenjang penahapan alam transendental/spiritual seperti ini.

Dalam khazanah sastra Sunda klasik, termasuk naskah, sering diperlihatkan bahwa perjalanan spiritual manusia di alam kehidupan ini, akan melalui Sapta Mandala Panta-Panta ‘tujuh wilayah sakral berjenjang’. Ini menyiratkan bahwa bangunan yang ditengarai seperti ‘piramida’ itu, ditengarai sebagai tempat pelepasan menuju kematian atau identik dengan ‘pemakaman/kuburan atau makam para gégédén baheula ‘pemakaman para pejabat masa lalu’. Naskah Bujanggamanik pun menyebut adanya Sanghyang Kala/Sang Dorakala, yaitu sebagai mahluk penjaga gerbang alam saptabuana ‘kesorgaan’, simbol perjalanan spiritual seseorang ketika mulai memasuki alam niskala. Dalam hubungan ini, dapat disimak sebuah gambaran proses kematian, yakni berpisahnya ruh melepas raga untuk menuju ke gerbang alam gaib. Mengacu kepada uraian sebagaimana terkuak dalam naskah Sunda buhun abad XVI Masehi dimaksud, benarkah Gunung Piramida adalah tempat pemakaman karuhun  urang Sunda?

Dalam arti, bahwa dugaan piramida yang terselimuti Gunung Sadahurip itu adalah bekas makan raja beserta keluarganya? Pertanyaan yang muncul kemudian, makam raja siapakah itu? Abad ke berapa? Kerajaan apa? Ini baru praduga sesuai dengan konstelasi isi naskah Sunda buhun abad XVI M dengan keberadaan ‘Gunung Piramida’ dimaksud.

Masih perlu penelitian lebih lanjut oleh para ahli di bidangnya, meskipun Sujatmiko dan Lutfi Yondri dari Balar sudah ‘memveto’ bahwa Gunung Sadahurip bukan ‘Piramida’, namun untuk pembuktian secara multidisipliner, tidak ada salahnya jika penelitian terhadap kabuyutan tersebut tidak berhenti sampai di situ.

Ada sedikit gambaran sehubungan dengan ‘makam’ yang ditengarai berujud piramid. Berdasar isi teks naskah, keberadaan gunung dan pasir di sekitar Gunung Sadahurip ‘Piramida’, ada hubungannya dengan sarana peribadatan Mandala Kawikuan masa lampau, sebagai sarana spiritual untuk melakukan hubungan dengan arwah suci. Mandala yang juga dikenal dengan sebutan Kabuyutan disakralkan sebagai pusat kekuatan spiritual yang memiliki energi mistik alam semesta yang paling tinggi di tempat itu. Istilah mandala zaman dahulu merupakan pemukiman atau pedukuhan yang diperuntukkan bagi kaum agamawan. Sebuah mandala terletak di bagian hulu dayeuh, yang tidak mudah ditempuh oleh manusia karena terjal dan penuh hutan belantara (Sélareuma, Ciséla, Ciéla, Sélacau).

Di tempat seperti ini, pada bagian hilirnya biasanya terdapat mata air yang menjadi sumber kehidupan penduduk. Bagaimana dengan keadaan Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip ‘Piramida’ dan sekitarnya? Apakah sesuai dengan apa yang terungkap dalam teks naskah? Masalah ini tentu saja bersinggungan dengan masalah folklor yang tersebar di masyarakat sekitar Gunung Piramida dimaksud.

Andai kita simak keberadaan Gunung Padang, sebagaimana diketahui dikelilingi oleh lima gunung  (Karuhun, Emped, Malati, Pasir Malang, dan Gunung Batu), yang juga berorientasi terhadap lima buah gunung (Gunung Batu, Pasir Pogor, Kendeng, Gede, serta Pangrango) dan Gunung Gede sebagai Pancer  ‘pusatnya’. Sedangkan Gunung Sadahurip ‘Piramida’ Garut, selain ada hubungannya dengan Gunung Kaledong dan Gunung Haruman, gunung ini pun berkelindan erat dengan Peta Ciéla, yang menyebutkan bahwa yang dimaksud Gunung Piramida adalah Gunung Sangiyang Karamat atau Gunung Putri, yang keberadaannya tergambar dalam peta tersebut sangat menonjol, berbeda dengan gunung lainnya. Di samping itu, Gunung ‘Piramida’ tersebut, berkaitan erat dengan kisah perjalanan Bujanggamanik yang memaparkan topografi sekitar gunung itu berada.

Gunung Sadahurip ‘Piramida’, Lalakon, Pasir Salam, Gunung  Pancir dan Paseban, jika dilihat dari batu-batuannya, mungkin sepintas ada kesamaan  dengan batu  megalitik  yang terdapat di Gunung Padang dan Pasir Ringgit Selareuma, yang termasuk ke dalam Tatanan Mandala Kabuyutan Cadas Nangtung di lingkungan Gunung Tampomas, Gunung Padang dengan kelima gunung yang mengelilinginya, serta Gunung Pancir/Lalakon yang menurut masyarakat sekitar dianggap sebagai pancer ‘pusat’ Cekungan Bandung. Sementara itu, Gunung Sadahurip Garut berhubungan dengan Gunung Kaledong, Haruman, yang tentunya tidak terlepas dari keberadaan Gunung Galunggung,  sebagai satu kesatuan sistem tata ruang yang komprehensif dan integral, karena adanya benang merah antara ketiganya, baik secara arkeologis, geologis, geografi/toponimi, filologis, historiografi tradisional, antropologi, maupun folklor, yang senantiasa harus kita jaga dan kita lestarikan keberadaannya, Adanya perbedaan pendapat atau apapun istilahnya di antara para ahli, semestinya tidak menjadi jurang pemisah atau polemik yang berkepanjangan, demi kebersamaan dan wahana ilmu pengetahuan yang semakin berkembang.

Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah melalui instansi terkait mengadakan penelitian intensif dan berkesinambungan, sehingga patilasan-patilasan yang menyertainya segera terungkap, dan menjadi wahana ilmu pengetahuan yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan umat manusia di dunia. Tulisan ini tidak bermaksud memperkeruh suasana, hanya sekedar mengungkap benang merah antara keberadaan gunung tersebut dengan apa yang terungkap dalam naskah Sunda buhun secara filologis dan folklor.

Elis Suryani NS,
Dosen dan Pemerhati Budaya Universitas Padjadjaran

Acuan:

Darsa, Undang Ahmad. 2010. Peta Ciale (Peta Unik di Tatar Sunda).
Seminar Rutin Jurusan Sastra Sunda Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Bandung: 18 Mei 2010. 
Suryani NS, Elis. 2009. Peta Ciela: Gambaran Umum dan Deskripsi. Garut : Polwil Priangan. 
Suryani NS, Elis. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia


 

About admin

Check Also

Mengenal Motif Batik beserta Asal Daerahnya

Kain tradisional batik berkembang di banyak daerah di Indonesia. Tiap corak batik dan asalnya mempunyai ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *