Sunday , September 20 2020
Home / Relaksasi / Renungan / Belajar dari Cara Amerika Menjerat Al Capone

Belajar dari Cara Amerika Menjerat Al Capone

Penulis : Nurman Diah

Capone lahir dari keluarga pendatang di Brooklyn, New York di tahun 1899. Hanya sempat menyelesaikan sekolah dasar 6 tahun, ketika dia bergabung dan diterima sebagai anggota geng anak jalanan yang memiliki reputasi buruk. Kepala geng adalah seorang pendatang lainnya bernama Johnny Torrio. Lucky Luciano, yang juga akhirnya menjadi boss Mafia terkenal, termasuk dalam geng ini.

Dalam usia 21 tahun Capone pindah ke Chicago atas ajakan Torio di mana dia sudah menjadi tangan kanan seorang boss Mafia bernama Colosimo yang menguasai jaringan pembuatan dan distribusi bir dan alkohol di era di mana miras adalah barang terlarang.Bisnis ini karenanya sangat menguntungkan.

Hasil dari sini dapat dikembangkan ke bisnis bisnis lainnya yang punya legitimasi dan membangun pengaruh dalam birokrasi kota,negara bagian dan lembaga lembaga Federal via suatu sistem yang dikenal sebagai korupsi yang terorganisir.Walikota Chicago William “Big Bill” Hale Thomson adalah seorang yang masuk dalam “daftar gaji” mereka.

Torio memerlukan bantuan Capone untuk mengambil alih bisnis ini dan mengembangkannya.Dengan kematian Colosimo,Torio menjadi bos dan Caponne menjadi tangan kanannya dengan pengalaman dan ketrampilan yang bertambah.

Di tahun 1925, Capone menggantikan Torrio,yang terluka serius dalam suatu usaha asasinasi,sebagai bos keluarga Mafia Chicago.Capone menjadi bos yang paling ditakuti karena reputasinya yang kejam dalam persaingan antar geng untuk menguasai lahan bisnis ilegal di beberapa tempat di Chicago, seperti prostitusi,kasino berkedok kelab kelab malam dan bar. Dia juga menjadi selebriti dengan dandanannya,sigar yang selalu berada di mulutnya,perhiasan dan perempuan yang mengelilinginya. Dia pun seorang dermawan yang andal.

The St. Valentine’s Day Massacre pada February 14, 1929, bisa disebut sebagai titik nadir dari kekerasan persaingan antar geng di Chicago ketika tujuh anggota atau rekan dari geng “Bugs” Moran ditembak mati dengan menghadap ke tembok oleh para geng pesaing yang berseragam polisi. Pembantaian ini dituduh sebagai perbuatan dari gengnya Capone kendati Al Capone sendiri ketika itu berada di Florida.

Chicago Police Department tidak tertarik untuk menyelidiki kasus ini. Dengan Walikota bagian dari jaringan sistem korupsi,Capone praktis kebal hukum. FBI tidak juga dapat melakukan banyak karena ketika itu jurisdiksinya masih terbatas.

Ketika FBI akhirnya dapat melakukan investigasi terhadap Capone itu pun hanya karena Capone telah melakukan “contempt of court”, pidana ringan. Capone berbohong ketika disubpoena untuk menghadap federal grand jury. Dengan alasan sakit Capone urung menghadap pada tanggal yang ditentukan 12 Maret 1929.FBI menemukan bukti bukti bahwa Capone menyaksikan pacuan kuda di sekitar Miami, Florida, berlayar dengan kapal pesiar dan terbang ke Bimini justru pada tanggal tanggal Capone ditulis terbaring sakit.

Adalah. Elliot Ness,seorang investigator dari biro pelangggaran pelarangan Miras,yang akhirnya menemukan celah membawa Capone ke hadapan hukum.Dibantu seorang akuntan bernama Frank J. Wilson,Ness menemukan pelanggaran pajak yang bisa dikenakan sanksi pidana pada Capone.Atas pelanggaran ini Capone dihukum 11 tahun penjara,denda yang tidak kecil dan tidak sedikit hartanya yang disita.

Aspek pelanggaran pajak sama sekali tidak pernah dipakai di sini untuk menjerat para bandit koruptor. KPK, Kejagung, Polisi sering bicara tidak punya cukup bukti terhadap orang orang yang dicurigai publik atau ditenggarai saksi saksi kasus kasus korupsi sebagai orang orang yang juga terlibat dalam kasus. Padahal dari gaya hidup yang biasanya “mahal” dari orang orang ini cukup bisa dipertanyakan dari mana biaya didapat untuk itu semua? Kalau katanya dari penghasilan resmi, cocokkan dengan yang dibelanjakan, baik untuk barang mau pun kehidupan yang serba wah itu. Bisa dipastikan ada kejanggalan karenanya ada peluang untuk curiga.

Di Indonesia pun banyak Al Capone lokal,bandit bandit berkedok politisi, negarawan, pejabat, conglomerate sekali pun. Unsur pidana pajak pasti dapat dicari pada mereka. Jika mau membumi hanguskan mereka, pasti bisa, kecuali para yang berwenang sudah masuk dalam sistem korupsi yang terorganisir. Indonesia memerlukan seorang Elliot Ness. Adakah dia di antara kita ?

 

About admin

Check Also

Ketika Kitab Ihya Ulumiddin Karya Al-Ghazali Diragukan Ulama

Abul Hasan Ali bin Harzahim pernah meragukan “Ihya Ulumiddin”. Ia sempat berencana membakar salinan-salinan kitab ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *