Tuesday , December 18 2018
Home / Berita / Beberapa Isu Strategis di Balik Bocoran Snowden

Beberapa Isu Strategis di Balik Bocoran Snowden

Beberapa Isu Strategis di Balik Bocoran SnowdenPenulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Meskipun bocoran Edward Snowden bisa kita kategorikan sebagai informasi usang, mengingat informasi yang dia buka ke publik lewat harian Inggris the Guardian merupakan data pada 2009 lalu. Namun berbagai modus operandi penyadapan yang dilakukan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) sebagaimana penuturan Snowden, tetap saja cukup mengagetkan.

Setidaknya ada beberapa fakta penting yang kiranya harus jadi dasar bagi pemerintah Indonesia, khususnya para pemegang otoritas keamanan nasional untuk menyusun gerakan kontra spionase di masa depan.

Pertama, melalui penuturan Snowden, terungkap bahwa Amerika Serikat sangat mendominasi dalam penguasaan infrastruktur di dunia maya. Sehingga para pemimpin dunia, baik yang termasuk sekutu-sekutu straetegis Amerika Serikat, maupun negara-negara berkembang seperti Indonesia, sangat rawan untuk dijadikan obyek penyadapan mengingat luasnya daya jangkau NSA dalam memantau semua gerak-gerik para pemimpin dunia malalui penguasaan teknologi canggih yang mereka miliki.

Kedua, terungkap bahwa setidaknya sejak 2009 lalu pos-pos diplomatik Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara, telah dijadikan sarang operasi intelijen untuk menyadap saluran telepon maupun data base para pejabat senior dan kementerian-kementerian pada pemerintahan di negara-negara kawasan Asia Tenggara, khususnya ASEAN. 

Ketiga, secara khusus pemerintah Indonesia harus mencermati dan menelisik secara lebih mendalam Program Intelijen NSA yang bernama SATETROOM. SATETROOM ini melibatkan penyadapan radio, telekomunikasi, dan lalu-lintas internet dengan menggunakan peralatan yang terdapat di kedutaan besar Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Kanada.

Keempat, beberapa pos diplomatik kedutaan besar Amerika yang beroperasi di Asia Tenggara yang kiranya perlu mendapat perhatian khusus adalah: Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Sedangkan untuk kawasan Asia Timur adalah Cina.

Kelima, Bali yang secara geografis berdekatan dengan Australia, kiranya perlu mendapat perhatian khusus mengingat kenyataan bahwa Bali telah digunakan Amerika sebagai tempat untuk mengumpulkan sinyal penyadapan.

Keenam, dengan merujuk pada dua program NSA yang dibocorkan Snowden, yaitu Pengumpulan Rekaman telepon Pelanggan Verizon dan Penyadapan Data ke server perusahaan raksasa internet Amerika terungkap bahwa Google, Facebook, Microsoft, Apple dan Yahoo, ternyata rawan (vulnerable) terhadap sasaran penyadapan dan aktivitas spionase aparat-aparat intelijen Amerika.

Lebih celakanya lagi, seperti berita yang pernah dilansir oleh BBC, NSA berhasil membajak jaringan yang menghubungkan pusat data Yahoo dan Google. Sehingga jutaan rekaman harian internal dua perusahaan raksasa jaringan internet tersebut dipublikasikan oleh Washington Post yang mengutip bocoran dari Edward Snowden.

Ketujuh, melalui skema penguasaan infrastruktur di dunia maya, Amerika punya daya jangkau pemantauan dan penyadapan terhadap nomor-nomor kontak para tokoh politik dan pejabat strategis pemerintahan di seluruh dunia.

Sebagaimana terungkap melalui penuturan Snowden, Amerika melalui NSA setidaknya berhasil menyadap pembicaraan telepon 35  berdasarkan 200 data nomor telepon yang berhasil diakses oleh para pejabat Gedung Putih dan Pentagon.

Berdasarkan memo pada 2006 yang beredar di kalangan staf Direktorat Sinyal Intelijen Di Amerika,  menyebutkan bahwa lembaga intelijen Amerika Serikat (NSA) menyadap 125 miliar percakapan telepon dan pesan singkat pada Januari 2013. Banyak diantaranya dari Timur Tengah. Di Arab Saudi dan Irak terdapat 7,8 juta penyadapan, Mesir dan Yordania 1,8 miliar dan 1,6 miliar, menurut Cryptome, sebuah perpusatakan online yang membocorkan dokumen tersebut. Angka tersebut mencengangkan. Sebab rekaman saluran via telepon itu dilakukan hanya dalam waktu satu bulan. Penyadapan terbanyak adalah di Afganistan. NSA  telah menguping sedikitnya 21,9 miliar percakapan.

Data lain yang tak kalah mencengangkan adalah, Di Pakistan, NSA mengintai sekira 12, 7 miliar pembicaraan telepon. Bahkan negara-negara sekutu kunci di kawasan tersebut pun tidak bebas dari pengintaian komunikasi Amerika Serikat. NSA juga berhasil menyadap komunikasi telepon 1,73 miliar pembicaraan di Iran. Di India 6,2 miliar pembicaraan telepon telah disadap.  NSA bahkan diduga menyadap kantor Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York AS dan Badan Atom Internasional (IAIE) di Jenewa.

Kedepalan, dengan merujuk pada dokumen terbaru NSA yang diungkap Snowden, NSA telah menyadap data di sejumlah titik yang mengalir melalui kabel serat optik dan peralatan jaringan lainnya.

Jaringan tersebut menghubungkan pusat-pusat data perusahaan, alih-alih menargetkan server sendiri. Data perusahaan tersebut berasal dari metadata yang diubah ke teks, audio dan video, kemudian disaring dengan program NSA yang disebut Muscular. Program tersebut dioperasikan oleh saingan dari Inggris, GCHQ, NSA telah memiliki akses ke akun pengguna Google dan Yahoo melalui program yang sudah disetujui pengadilan, yang dikenal sebagai Prism.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari pengungkapan Snowden, bisa ditarik kesimpulan bahwa penguasaan teknologi dan infrastruktur dunia maya yang dikendalikan Amerika Serikat, sudah pada taraf membahayakan keamanan nasional pemerintahan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Maka dari itu, Indonesia harus berperan aktif menggalang gerakan berskala internasional maupun regional, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mendesak Amerika Serikat untuk mengubah cara pengumpulan data intelijennya, dengan mengedepankan prinsip fair play terkait pengumpulan informasi melalui metode tertutup melalui pendayagunaan teknologi dan infrastruktur dunia maya. Indonesia perlu memprakarsai gerakan internasional agar tercipta tata kelola yang lebih adil di bidang teknologi informasi, khususnya terkait infrastruktur media di dunia maya (Cyber Media). 

Sumber: theglobal-review.com

About admin

Check Also

Devide et Impera (Kembali) di Indonesia?

Hiruk-pikuk dan gempita sosial politik di negeri ini memang terlihat glamour lagi mewah, namun kalau ...