Wednesday , June 20 2018
Home / Deep Secret / Intelijen / Bangun Lautmu maka akan jaya Bangsamu

“Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."

Bangun Lautmu maka akan jaya Bangsamu

Secara kodrati posisi geografis Indonesia terletak antara pertemuan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta pertemuan Benua Asia dan Benua Australia. Hal ini merupakan competitive advantage atas negeri-negeri lain, dalam segi geoekonomis, geopolitis dan geostrategis. Jikalau dengan kata-kata manusia, bangsa Indonesia tidak bergeming untuk bersama-sama membangun lautnya, maka masih ragukah apabila Tuhan Yang Maha Kuasa berkata tentang laut dan keberadaan tentang bumi. Maka apakah ayat Tuhan tersebut di atas masih disangsikan oleh rakyat yang jumlahnya hampir 250 juta jiwa lebih, untuk bersama-sama membangun negeri ini dengan menampilkan sosok-sosok yang memiliki ocean leadership yang berwawasan global guna membangun masyarakat yang memiliki geographical awareness. The Sleeping Giant yang merupakan kumpulan dari puluhan sampai ratusan juta otak yang telah tertidur selama ratusan tahun, sanggupkah bangkit untuk menuai kembali masa-masa kejayaan bangsa sebagai bangsa pelaut yang benar-benar mengerti akan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki gugusan pulau-pulau terbesar di dunia. Mampukah kita menyadari bahwasanya, “ negeri kita adalah sebuah negeri kepulauan di batas dua samudera dan dua benua yang mampu menggenggam jantung perekonomian dunia untuk menuju kejayaan bangsa .”

Missing Link Kejayaan Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Bahari

Dalam catatan I-Ching yang hidup pada abad ke-7, ia menceritakan bahwa seorang raja muda Khmer (yang sekarang Kamboja) pernah membual akan memakan kepala Raja dari Kerajaan Che-Li-Fo-Che yang terkenal pada masanya. Raja Che-Li-Fo-Che menanggapinya dan mengirimkan Angkatan Lautnya yang kuat untuk melakukan serangan yang mengejutkan atas ibukota Khmer dan memenggal kepala rajanya. Kepala raja tersebut dibalsam dan dibawa kembali serta ditunjukkan kepada penggantinya sebagai tanda bukti, yang mengandung arti jangan berbicara seenaknya. Sejak saat itulah Khmer menjadi daerah taklukan Che-Li-Fo-Che, padahal pada masa tersebut, Khmer merupakan kerajaan yang sangat besar dimana wilayah-wilayah yang sekarang menjadi Laos, Thailand, Vietnam dan Myanmar pun tunduk kepadanya. Itulah kedigjyaan Che-Li-Fo-Che, sebutan I-Ching terhadap Kerajaan Sriwijaya, yang telah menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang telah menorehkan catatannya dalam berbagai referensi dan literatur yang berhubungan dengan masa-masa kejayaan maritim bangsa Indonesia. Dari bukti catatan sejarah kejayaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah sebuah entitas besar yang memilki sejarah yang besar.

Ambruknya kerajaan Sriwijaya disusul bangkitnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13. Majapahit yang semula bercorak agraris kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada mampu menyatukan Nusantara dan diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang mempunyai tanggung jawab untuk memimpin kekuatan armada laut Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yang kuat, Majapahit berhasil menguasai wilayah yang amat luas hingga sampai ke Madagaskar. Temaramnya kerajaan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Bukti kekuatan maritim Kerajaan Demak yang jarang diexpose adalah bahwa kerajaan ini mampu mengirim armada laut yang dipimpin Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor dengan mengerahkan 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit untuk menyerbu Portugis di Malaka.

Setelah era penjajahan yang menyesakkan, para pendahulu pengemban amanah rakyat meyakini kekuatan bangsa ini hanya bisa dibangun dengan membangun kekuatan laut yang disegani dan memiliki bargaining power terhadap negara lain. Oleh karena itu, setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno yang memiliki geographical awareness menyadari akan kejayaan bangsa Indonesia di masa lampau, dan dalam usia kemerdekaan yang relatif singkat pada era 1960-an, kekuatan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan termasuk yang terbesar di Asia. Kekuatan armada laut kita saat itu adalah 234 kapal perang, terdiri dari sebuah kapal penjelajah (cruiser), 12 kapal selam, 7 kapal perusak(destroyer), 7 fregat (frigate), dan berbagai jenis kapal perang lainnya.

Era kolonial yang menyebabkan budaya sebagai bangsa bahari dikikis secara perlahan, halus dan sistematik. Kemudian diperparah lagi dengan belum dimilikinya Ocean Policy oleh para pemangku kebijakan, kini kejayaan sebagai bangsa bahari itu tinggal sebuah kenangan. Lantas siapakah yang seharusnya membangkitkan “the Sleeping Giant” itu? Kalau seluruh penghuni Kepulauan Nusantara ini tidur maka kelautan akan tidak tampak gemuruhnya. Yang nampak hanyalah riak-riak gelombang yang hanya menyesakkan tenggorokan pada akhirnya.

Ocean Policy yang Berkarakter Negara Kepulauan Indonesia.

Dengan keunikannya sebagai negara kepulauan yang berada pada posisi silang tersebut, 2/3 wilayah Asia Tenggara berada dalam lingkup ruang yurisdiksi Nasional Indonesia. Kondisi ini membawa implikasi terhadap semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu aspek pertahanan keamanan, aspek politik, aspek ekonomi dan aspek sosial budaya. Konsep Copy Paste dari konsep negara lain hendaknya jangan dijadikan instrumen utama dalam menyusun sebuah strategi pembangunan bangsa khususnya pada penyusunan Ocean Policy.

Dalam penyusunan Ocean Policy terkandung pula visi maritim di dalamnya, seiring dengan langkah-langkah konkrit lanjutan menyangkut industri strategis dan instrumen kemaritiman lainnya. Oleh karenanya, istilah kelautan dan maritim harus dibedakan. Kelautan merujuk kepada laut sebagai wilayah geopolitik maupun wilayah sumber daya alam, sedangkan maritim merujuk pada kegiatan ekonomi yang terkait dengan perkapalan, baik armada niaga maupun militer. Dengan demikian Ocean Policy merupakan dasar bagi Maritime Policy sebagai instrumen aplikatifnya.

Di abad 21 ini, negara-negara di dunia saling berlomba dalam meningkatkan kekuatan maritimnya masing-masing sehingga muncullah Ocean Policy masing-masing. Amerika Serikat membangun kekuatan maritimnya dengan slogan “kekuatan maritim melindungi cara hidup Amerika”. Lahirlah“A Cooperative Strategy for 21st Century Sea Power”, yang dipublikasikan pada Oktober 2007 oleh United States Marine Corps, United States Coast Guard dan Department of Navy. Aliansi dengan NATO membentuk Global Maritime Partnership Initiative yang bertujuan untuk menjaga ketertiban dan perdamain dunia tentunya di bawah pengaruhnya. RRC membangun Ocean Policy dengan strateginya “Chain of Pearl” yang bertujuan untuk membangun dan menyelamatkan urat nadi perdagangannya lewat laut. India membangun Ocean Policy-nya dengan mengeluarkan “Freedom to Use the Seas: Maritime Military Strategy” yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan kekuatan angkatan laut India. Inggris pun tidak kalah dengan mengeluarkan semboyan “Britain Rules the Waves” yang bertujuan untuk membangun kekuatan maritim Inggris dalam menghadapi era globalisasi.

Kini Indonesia berada dalam lingkaran kehadiran negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Australia, India dan RRC. Bahkan Malaysia serta Singapura yang merupakan negera kecil akan berkembang seperti Inggris tentang visi kemaritimannya. Apakah mereka negara kepulauan? Perbedaannya adalah bahwa mereka sudah mempunyai visi dan Ocean Policy. Lantas apa yang terjadi dengan negeri ini? Negeri yang dinamakan Zamrud Khatulistiwa kaya akan sumber daya laut, negeri yang memilki ribuan pulau, berikut bentangan luas wilayah yang bagian terbesarnya adalah wilayah laut. Sudah kah kita memiliki Ocean Policy yang jelas sebagai jati diri bangsa yang merupakan penghuni negara kepulauan terbesar di dunia. Kapankah kita bangkit dan menampilkan sosok yang mempunyai visi dan strategi yang cerdas dan kreatif untuk keluar dari paradigma agraris tradisional ke arah paradigma maritim yang rasional dan berwawasan global?

Penutup dan Upaya Character of Government menuju Ocean Policy

Untuk membangun kekuatan maritim diperlukan enam elemen pokok, yaitu:Geographical Position, Physical Confirmation, Extent of Territory, Number of Population, Character of the People, dan Character of Government. Dari keenam instrumen tersebut, dua di antaranya belum dimiliki bangsa ini, yaitu karakter pemimpin dan warga negaranya. Ketika kita menunggu kebijakan pemerintah tentang Ocean Policy, belum kelihatan geliatnya. Kita lihat makin banyak penata kelola maritim, mulai dari Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian BUMN, Bakorkamla, Polairud, Coast Guard, dll. Lantas apakah yang akan dijadikan pedoman bagi badan-badan ini apabila tidak memilki Ocean Policy? Yang jelas kendala akan sangat banyak ditemukan di lapangan karena tumpang tindihnya aturan yang ada.

Penulis tidak ingin mengajak untuk shifting ke laut namun marilah kita lihat kodrat bangsa kita sebagai negara kepulauan bahwa:

  1. Negara kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.448 pulau. Sebagai ilustrasi, apabila setiap hari kita mengunjungi satu pulau, maka diperlukan waktu 47 tahun untuk mengunjungi seluruh pulau-pulau tersebut. Sungguh suatu anugerah Tuhan yang luar biasa.
  2. Berada pada persimpangan dunia antara dua samudera dan dua benua, hal ini harus diyakini bahwa tersimpan kekayaan yang merupakan sebuah misteri yang harus dipecahkan bersama. Kenapa pendahulu nenek moyang bangsa ini bisa menjadikan negara maritim yang kuat (Sriwijaya, Majapahit, kemudian Demak, lalu Indonesia era 1960-an). Oleh karena itu jangan hanya dibaca tentang kebesarannya namun carilah tahu konsep apa yang digunakan sehingga menjadi negara maritim yang besar. Pernahkah kita memahaminya?
  3. Tepat di daerah tropis pada lintang 0°, masih ragukah akan kekayaan sumber daya alamnya, dengan flora dan fauna yang sangat melimpah dan beraneka ragam, mampukah kita memanfaatkannya? Inilah seharusnya yang kita pikirkan bahwa laut tidak perlu dipupuk seperti lahan pertanian, tidak perlu disemai lautnya, tidak perlu memberikan makan ikan untuk memeliharanya. Kekayaan tersebut tinggal mengambil dan mengolahnya. Sebaliknya, yang terjadi malah pengusaha-pengusahanya dan orang-orang asing yang menikmatinya, dan tetap saja nelayan yang miskin, ataukah miskin jadi nelayan.
  4. Negeri kita memilki kompartemen strategis, alur laut Kepulauan dari utara selatan yang terletak di tengah, barat dan timur, bahkan ada negara yang mengklaim alur tradisional timur barat, dari Selat Lombok, Laut Jawa dan ke barat. Sudahkah kita memanfaatkannya sebaik-baiknya dalam sendi-sendi perekonomian, sosial budaya dan pertahanan?
  5. Luasnya wilayah laut yang hampir mencapai 6 juta km persegi, serta terletak pada jalur pelayaran dunia, mampukah kita mengamankan dan memanfaatkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara guna mencapai kemakmuran rakyat, khususnya pelayaran yang melintasi Selat Malaka dimana pelayaran tersebut merupakan salah satu center of gravity dari international merchandise.

Akhirnya, untuk bangkit menuju kejayaan bangsa, wis gak usah muluk muluk tentang strategi apa yang akan dipakai, namun kenali dan benahi dulu jati diri sebagai penghuni negara kepulauan. Terapkan dalam pembentukan character of the people and government dalam penyusunan Ocean Policy. Bangsa yang memiliki karakter bahari tidak harus diartikan sebagai bangsa yang sebagian besar mengais upah sebagai nelayan, apalagi dikaitkan dengan slogan nelayan miskin atau miskin jadi nelayan. Bangsa bahari adalah bangsa yang menyadari kehidupan masa depannya tergantung pada bagaimana mengeksploitasi Sumber Daya Laut yang tepat dan benar. Intinya, selalu menoleh, menggali, dan memanfaatkan laut sebagai tulang punggung bangsa dan negara menuju kemakmuran rakyat. Ketika kamu ditanya tentang negaramu sebagai negara kepulauan, apa pendapatmu? Blank, diam, acuh tak mengerti, cuek ataukah kamu sudah mempunyai sikap. Ketika negara kamu dibilang negara koruptor, apa pendapatmu? Dengan cepat dan sigap pasti kamu langsung menjawab, karena berita tentang korupsi di negeri ini hampir menjadi menu main course tiap pagi dan petang.

Semoga Tuhan membukakan mata bathin dari 250 juta lebih otak dan otot dari the Sleeping Giant ini, untuk bangkit dan mengulang kembali kejayaan bangsa sebagai bangsa maritim yang besar. “In the sea we are victorious”. Satu-satunya negara di dunia yang memilki semboyan ini adalah Indonesia, bahkan Amerika, Inggris serta negara maritim besar lainnya pun tidak memiliki semboyan ini, tetapi apakah di laut kita telah jaya? Silakan dijawab rakyatku dari Sabang sampai Merauke. Kemana raja kelana melambai kalau tidak ke pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa bangsa sejak dulu kala, itulah tanah airku Indonesia.

Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

http://www.tandef.net/

About admin

Check Also

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya

Kepopuleran serta kefavoritan perang konvensional yang mengerahkan militer secara terbuka, pasca berakhirnya Perang Dunia II ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *