Thursday , August 22 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Bahkan Menyembah Allahpun Kesalahan Mutlak !!!

Bahkan Menyembah Allahpun Kesalahan Mutlak !!!

إِنَّنِيْ أَنَا اللهُ لآ إِلٰهَ إِلَّآ أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيْ

Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS : Thaahaa,14)

Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim sedunia bahwa setiap melaksanakan Sholat, maka yang terbenak dalam fikiran adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Menyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok” (”personal”). Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un” (Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun).

Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimitsalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api dll…dll…dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau di kanan atau di kiri dari diri sang penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah patung, pohon, matahari, api dll…dll…dll…??? Melihat ataupun tidak melihat akan sesuatu yang disembah, tetap saja bertentangan dengan Tauhid yang sebenarnya. Karena Tauhid itu bukanlah “Penyembahan” melainkan “kesadaran akan ke-Esa-an Allah SWT”.

“kesadaran akan ke-Esa-an Allah SWT” mutlak tidak bisa diganggu gugat, karena Allah “Muhitum Fil ‘Aaalamiin” (Allah Meliputi sekalian Alam). Tetapi jika dimaknai dengan “Menyembah”, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu tempat yang berada nun jauh di sana. Ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy yang berada di atas langit ke tujuh. Salahkah jika dikatakan demikian??? Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah penafsiran dari pada ayat tersebut. Apalagi ayat tersebut terdapat dalam al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya. Tetapi…, jika salah menafsirkan maka salah pulalah keyakinan yang ada.

Bahasa Qur’an adalah “Perkataan Allah” (Suara Allah), tentunya tidak bisa dicerna dengan akal fikir manusia, karena akal fikir manusia itu terbatas dan juga akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah baharu dan tidak kekal, apakah bisa sesuatu yang baharu dan tidak kekal itu mengetahui hakikat sebenarnya dari Kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam al-Qur’an…???

Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal fikir semata, maka nyata salahnya penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu laitsa kamitslihi syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat sedangkan Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu menunjukkan tempat, dan hanya makhluklah yang berada dan terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan Allah tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta pengetahuan Allah meliputi setiap ruang dan waktu (tempat).

Karenanya, dalam pandangan Tauhid dan Tasawuf atau Ma’rifatullah, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam kekufuran. Mengapa? Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat.

Para ‘Arief billah (yang mengenal akan Allah) menilik kata-kata “menyembah” itu bukanlah suatu “penyembahan” melainkan “kesadaran akan ke-Esa-an Allah SWT yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta pengetahuan Allah meliputi setiap ruang dan waktu (tempat)”.

Jadi, mendirikan shalat adalah untuk mengenal akan Allah Maha Besar (Allahu Akbar) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa benarlah Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.

Karenanya, renungkanlah….., kenapa pada saat takbiratul ihram mengangkat kedua tangan dan mengatakan “Allaahu Akbar”. Ternyata itu adalah tanda dan bukti bahwa dalam penyerahan diri akan tumbuh kesadaran bahwa Ya, benar!!! Allah Maha Besar dan Maha Meliputi”.

Wallaahu A’lamu bisshawaab

(Mama Derajat)

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...