Wednesday , October 17 2018
Home / Berita / Bagi Para Pemimpin

Bagi Para Pemimpin

Bagi Para PemimpinOleh: Efrial Ruliandi Silalahi**

Akar

Bangsa Indonesia mengalami banyak sekali permasalahan kompleks, sejak jaman dutch indies sampai saat ini. Permasalahan utama saya lihat adalah sikap  mental yang mudah menyerah, mudah pasrah, cepat puas, atau sering narsistik (membanggakan diri/budaya sendiri secara chauvinisme dan tidak rasional)  tidak menganggap penting arti hidup di dunia, atau lebih mementingkan akhirat (seperti ajaran agama), dan terutama sikap kurang inisiatif dan tidak punya pemikiran original yang dikembangkan dari pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya baik dari bangsa lain atau budaya sendiri (sebenarnya sebagai penganut paham internasionalisme, saya tidak mau membedakan budaya sendiri dan budaya luar, atau batas-batas tapal negara.   Bagi saya, sebenarnya nasionalisme mengandung senjata pembunuh matinya manusia yang bernama sense kemanusian/manscheid/humanity.

Penyakit kronis bangsa Indonesia dari nenek moyang hingga sekarang, juga hobby masturbasi pengkultusan individu,  seperti pengkultusan terhadap figur sosok nabi, atau founding fathers. Sebenarnya sifat-sifat tersebut menurut saya akan menjadi bumerang bagi englightenment yang didefinisikan oleh Immanuel Kant. Kant sangat mementingkan pentingnya enlightenment adalah originalitas diri positif diri yang diekspresikan.

Pokok masalah berikutnya adalah budaya-budaya yang ditinggalkan oleh Belanda, misalnya korupsi VOC, dan kita tidak mau mengubahnya. Masa lalu  adalah sejarah, kesalahan masa lalu tidak berarti harus dilestarikan, dan tidak boleh diubah. Revolusi budaya bukan berarti  tidak menghargai nilai-nilai nenek moyang, tapi kita harus menuju kepada sesuatu yang bersifat lebih baik. Perjalanan waktu adalah dielektikal/perubahan.

Dalam langkah konkritnya, saya mempunyai analisa dan visi sebagai berikut: Pertama, masalah utama bangsa Indonesia adalah kebodohan dan sulit berubah, hal ini secara rasional materialistis telah dijelaskan bahwa kecerdasan dan kesadaran secara biologis erat kaitannya dengan gizi/material makanan dan kebudayaan. Kedua, komoditas ekonomi. Menurut saya, bangsa Indonesia terkena demam mitos jaman dinosaurus, yaitu mitos Soekarno dan Tan Malaka yang menulis bukunya di Soviet Russia. Mitos tersebut adalah mitos Indonesia kaya raya alam, tentu  saja tanpa ada inisiatif Belanda yang menentukan tanaman apa yang harus ditanam dan bisa dijadikan  komoditas ekonomi di eropa, maka alam Indonesia tentunya tidak bisa disebut kaya raya. Alam tanpa pengolahan manusia, tidak akan menjadi suatu nilai ekonomis.

Visi Mazhab Sosialisme Modern

Manusia menurut penelitian psikologis/7 multiple intelligence, mempunyai karakter hijau/pasrah dan merah punya kemauan maju yang kuat, tapi saya mempercayai bahwa hal tersebut diakibatkan oleh faktor gen dan  budaya. Budaya pun bisa membentuk perubahan sistematika otak manusia. Ekonomi vital dikuasai penuh oleh negara  (karena negara dalam konsep saya adalah representasi setiap warga negara bukan representasi orang-orang kaya saja) dengan campuran swasta dan dileberalisasi di bursa saham, agar transparan dan profesional. Swasembada/penguasaan kebutuhan dari hulu yaitu pangan, energy dan raw material diutamakan. Tanah dikuasai oleh negara dan penduduk tinggal di flat/apartement, agar tanah dimaksimalkan untuk produksi pertanian dan industri. Membangun industri menengah berbasis entrepreneurship, misalnya dengan consumer goods.

Mengefisienkan birokrasi bisnis, memberi insentif penanaman modal asing berupa fasilitas, membangun infrastruktur bisnis seperti listrik murah, transportasi murah, ataupun biaya energi/BBM murah. Setidaknya dengan adanya penanaman modal asing maka menyerap tenaga kerja dan modal yang masuk yang bersifat long term/agak fundament. Semua transaksi melalui online sistem yang dimonitor oleh pemerintah untuk menghindari tax abuse dan lain sebagainya. Sanksi tegas bagi entrepreneur yang melanggar aturan-aturan.

Ada ratio max/min salary antara CEO dan buruh terendah, dan juga ratio pejabat terhadap pendapatan terendah penduduk dihitung dari pendapatan minimal yang telah ditetapkan. Pajak progresif bagi yang berpendapatan tinggi, pendapatan minimal tidak perlu pajak, pendapatan diatas ratio dikenai pajak 20% atau 30% (angka-angka ini tidak statis, namun dialektika sesuai zaman sesuai situasi kondisi). Negara membuat pendidikan praktis yang berorientasi kepada entrepreneurship dan pekerja BUMN dalam industri berat dan menengah. Negara menjamin ketersediaan pekerjaan bagi penduduk.

Liberalisasi dan nasionalisasi perusahaan murni atas pertimbangan pengembangan profit (bukan pertimbangan dogmatis, atau satu mazhab saja, misal marxisme atau smithisme, tapi should be dialektikal). Mulai mem’visikan pengolahan sumber daya alam oleh tenaga dalam negeri dan perusahaan negara. Dalam hal ini, sejak dini disiapkan generasi cerdas mulai dari sekarang. Parameter kesuksesan di kesejahteraan dan tingkat pendidikan. Target visi jangka panjang adalah ekonomi hitech. Fokus swasembada ekonomi fundamental yaitu pangan, energi, dan raw material (baja, besi, kayu, tanaman, dsb)  karena pada dasarnya ini hulu ekonomi dan yang hal fundamental bagi tingkat kompetitive produk advance yang diproduksi baik yang menengah/consumer goods, atau hi-tech. Natural sains dan pendidikan praktis ekonomi produktif diutamakan,meski tidak mengabaikan pendidikan seni, guru/pengajaran, politik dsb.

Harapan kedepan, jumlah parpol maksimal 3 agar efisien dan tidak menghamburkan subsidi negara. Subsidi gizi dha protein tinggi di sekolah dasar pemerintah agar generasi kedepan mempunyai brain yang lebih baik. Pendidikan ditekankan kemampuan logic dan budi pekerti. Merubah mindset secara umum, saat ini terminologi ‘sukses’ mayoritas rakyat indonesia diasosiasikan dengan kekayaan, dirubah menjadi sukses diasosiasikan dengan pengabdian ke negara (disini perlu peran serta media).  Saya kira, korupsi adalah akibat mindset mayoritas rakyat Indonesia yang seperti ini. Dibebaskan capres independent, non parpol, dan bebas abstain/tidak memilih. Kebebasan mengeluarkan pendapat adalah mutlak/freedom of expression, pembredelan pers prohibited/dilarang, dan negara menjamin kebebasan tidak beragama. Warga negara berhak atas kebebasan mengakses informasi apa saja. Persamaan hak terhadap gender. Lembaga agama dibubarkan, agama tidak diajarkan di sekolah milik negara, dan agama merupakan hak privat. Tidak boleh ada bangunan ibadah di departemen pemerintah. Pemerintah berhak menegur dan mengumumkan media yang tidak kredibel, misalnya media yang tidak mendidik seperti media takhyul. Sistem ekonomi dialektikal, bisa penuh liberal dan kadang bisa penuh kontrol, essensinya policy/kebijakan harus dibuat pro rakyat mayoritas, disini kita menganut paham ekonomi pragmatis, yang penting tujuan pro rakyat adalah essensinya, kebijakan neo-liberal dan sosalisme tidak menjadi hal yang essensial, karena hal tersebut sebenarnya adalah cara/mekanisme saja, tapi lebih essensial ‘kepada siapa cara/jalan ekonomi itu berpihak’. Fokus pendidikan ke fisika ditujukan untuk inovasi energi murah fokus pendidikan ke biologi untuk meningkatkan kecerdasan, inovasi swasembada pangan dan bakat atau mengoptimalkan bakat-bakat warganegara, serta biotek. Membangun jaringan  sistem informasi lokal, dan bidang telekomunikasi dikuasai oleh negara dan digunakan oleh rakyat semurah mungkin. Prioritas fundamental komoditas produk untuk supply produk advance domestik. Aset-aset fundamental tidak boleh diliberalisasi seperti harga internasional karena prioritas supply produksi advanve menengah dan atas.

Dalam hal ini saya melihat ke’dunguan para ekonom yang produk bangku sekolahan tapi tolol dalam essensi pemahaman. Dulu ada kebijakan liberalisasi BBM, karena harga bbm di luar negeri sedang naik, argumen tersebut tentu tolol total karena tidak menimbang faktor bahwasanya BBM adalah faktor fundamental pergerakan ekonomi, baik ekonomi rakyat kecil, menengah dan besar. Subsidi tidak haram untuk dilakukan dengan alasan yang rasional logis dan mempunyai tujuan jelas untuk masa depan yang lebih baik. Di Russia, harga gas dijual ke eropa barat sekitar USD 400, sedangkan didalam negeri di jual seharga UDS 60. Dalam hal ini, apabila aset fundamental ekonomi mementingkan/berorientasi pasar, terutama pasar luar, maka hal ini tentu saja mengabaikan stimulasi ekonomi bagi kalangan menengah kebawah.

Target utama/orientasi profit dari export produk menengah dan atas/advance yang bersifat hi- profit. (Saat ini margin terbesar ekonomi dari teknologi yang lebih dominan oleh rekayasa/pengolahan kecerdasan manusia, selain itu faktor sumber daya alam energi masih melimpah sehingga menjadi komoditas yang sangat terkontrol, selain itu juga manusia sudah melakukan pencarian sumber alternative energi). Merubah mindset masyarakat agar tidak komsumtif. Merubah mindset masyarakat konsumtif di perbaikan gizi daripada kebutuhan eksklusive seperti mobil. Pada dasarnya, negara barat miskin dalam hal kekayaan alam, atau ekonomi komoditas, namun mereka kaya akan intelektual, sehingga mampu merubah situasi. Negara barat menciptakan teknologi, seperti facebook, handphone, karena mereka tidak punya sumber-sumber ekonomi fundamental kebutuhan pokok manusia. Tanpa facebook, handphone, dan produksi ekonomi negara barat sebenarnya manusia tetap hidup. Namun, pada faktanya, kita telah berada di era globalisasi, sehingga penguasaan ekonomi hulu/fundamental sampai hilir adalah visi ekonomi yang saya kira tepat bagi masa depan Indonesia.

Hal yang fundamental dalam ekonomi, sebenarnya adalah kemampuan kemandirian ekonomi, selama kemandirian ekonomi/pemenuhan kebutuhan fundamental ekonomi bagi pasar domestik belum tercapai, maka omong kosong apabila kita membicarakan ekonomi global dan angka-angka statistikal yang seperti nilai raport anak SD (Sekolah Dasar), tapi sebenarnya nilai raport anak SD tidak menunjukan kecerdasan anak tersebut, lebih tepatnya nilai raport SD yang bagus menunjukan anak tersebut sebagai “anak yang penurut”.

Sebenarnya, menurut saya, tema-tema sekarang yang ramai kita diskusikan mengandung dua pokok masalah, Pertama, masalah kesadaran individu, saya kira negara eropa barat dan skandinavia yang mempunyai kesadaran individu yang lebih baik. Dalam hal ini apabila kesadaran individu sudah meluas/merata di tingkat rakyat, maka negara tidak memerlukan banyak aturan. Kedua, lemahnya kesadaran individu, dalam hal ini saya kira lebih baik negara dipimpin oleh seorang otoriter yang baik, positif dan sadar untuk memajukan rakyatnya. Lee Kuan Yew, pemimpin Singapura, saya kira termasuk dalam jenis ini.

Dalam faktanya, komunisme mengakibatkan pertumpahan darah di Soviet Russia dan juga China, ataupun Kamboja, karena saya kira, rakyat mereka cukup lemah dalam hal kesadaran. Tapi saya pribadi tidak mendukung kekerasan dari komunisme yang terjadi di Soviet Russia, Tiongkok, ataupun Kamboja. Di Eropa barat, paham-paham Karl Marx bisa terserap lebih apik, karena melalui idea Eduard Bernstein, maka perjuangan komunisme dilakukan melalui parlementer. Hal ini tentu saja sangat bisa dimaklumi karena rakyat Eropa Barat kesadarannya cukup tinggi.

Dalam tinjauan ini, sebenarnya metode atau cara, misalnya dengan liberalis, atau otoriter, tidak terlalu essensial untuk dipermasalahkan, karena keduanya sebenarnya hanyalah suatu cara demi menuju suatu tujuan,  gagasan/ide/cita-cita. Bagi saya, sebenarnya yang lebih essensial adalah tujuan itu sendiri, sedangkan metode atau cara hanyalah salah satu jurus/teknis untuk mencapai tujuan/gagasan.

Sebagai catatan akhir

Saya kira doktrin agama menjadi salah satu (meski tentu saja tidak satu-satunya) faktor yang menyebabkan mental bangsa Indonesia tidak maju. Misalnya dalam agama mayoritas doktrinnya adalah kepasrahan, mementingkan  kehidupan afterlife, mementingkan iman daripada ilmu, menganggap bahwa semuanya sudah takdir, dan saya kira hal ini yang menjadi permasalahan utamanya, yaitu mempercayai kekuatan lain di luar dirinya, padahal dalam hukum fisika telah jelas, bahwa energi atau kekuatan hanya mungkin/possible bila ada massanya.

Untuk itu, kalau Indonesia ingin maju, jangan seperti pidato Soekarno jaman dahulu,  ‘kemerdekaan atas berkat, rahmat dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa…’

tapi setiap kemajuan/perbaikan yang tumbuh dari semangat anda yang ingin berkembang didalam  jiwa anda, harus anda perjuangankan secara realistis dan tidak secara takhyul,  setiap kemajuan harus kita perjuangkan sendiri tanpa embel-embel takhyul. Setiap cita-cita, harus kita perjuangkan sendiri tanpa embel-embel takhyul, setiap penindasan yang ada di depan mata kita, harus kita lawan sendiri tanpa embel-embel takhyul. Diri andalah yang mempunyai kekuatan untuk merealisasikan dunia yang lebih baik.

A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality. (John Lennon).

**Penulis berdomisili di Sleman, Yogyakarta.

About admin

Check Also

Strategi Perang Dagang: Intelijen dan Gotong Royong!

Permenungan Kecil Tingkat Embuh Tak bisa dipungkiri, bahwa aspek ekonomi —atau silahkan dikiyas atau diumpamakan ...