Sunday , August 19 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Awwaluddin Ma’rifatullah

Awwaluddin Ma’rifatullah

Asal-muasal agama diturunkan agar manusia mengenal Allah S.W.T. Wahai saudaraku, sudahkan kita mengenal Allah? Siapakah Allah itu? Bagaimanakah Allah itu? seperti apakah Allah itu?

Ketahuilah wahai saudaraku, sebelum kita beribadah kita harus mengenal dulu siapa yang akan kita sembah, jika kita tidak tahu maka sia-sialah ibadah kita.

Ada sebuah maqola, ‘Amal tanpa ilmu sesat dan ilmu tanpa amal kufur.’ Jadilah orang Islam yang benar wahai saudaraku, agar amal dan ibadah kita punya esensi. Allah tidak cukup kita kenal namanya saja, tapi harus kita kenali zat, sifat, asma, dan af’al-Nya. Karena jika kita tidak tahu itu, dalam beribadah kita akan ragu-ragu dan selalu bertanya-tanya, apakah ibadah saya sudah benar/belum? Padahal dalam pandangan orang tasawuf jika kita masih demikian maka syiriklah kita. Sebagai iktibar ada gambaran cerita di bawah ini:

Kita  kenal nama Jokowi tetapi kita tidak mengenal zat, sifat dan af’alnya (ciri-cirinya). Suatu saat kita bersalaman dengan Jokowi. Apakah kita tahu kalau itu Jokowi ? Tentu tidak saudaraku, yang terjadi kita akan acuh dan yang lebih parah lagi kita tidak punya adabiyah karena tidak tahu kalau dia presiden kita. Demikianlah walau Allah telah nyata di dekat kita, kita tidak akan mengenal-Nya karena ketidaktahuan kita terhadap zat, sifat, dan af’al  (ciri-ciri-Nya),

Ketahuilah wahai saudaraku ciri dari orang makrifat adalah punya adab yang sempurna (akhlaqul mahmudah) Contoh: Dahulu Sunan Bonang gara-gara mencabut rumput tidak sengaja beliau menangis dan minta tobat dengan Allah SW.T. Ini terjadi karena beliau telah makrifat, bahwa yang berhak mencabut nyawa adalah malaikatul maut, bukan Sunan Bonang. Pernahkan anda merenung hingga demikian? Wahai saudaraku, kita harus menggunakan akal dan fikiran agar kita mempunyai rasa halus dan bersosial tinggi.

Saudaraku makrifat secara bahasa/etimologi/lughot adalah mengenal. Kenapa sekarang kita tidak kenal Allah? Padahal dulu anda telah berdialog dengan Allah dan sanggup untuk memikul amanat dari Allah sebagai kholifah di muka bumi. Kembalilah ke jalan Allah agar kita jadi kholifah yang sempurna.

Inilah hijab-hijab kenapa kita tidak mengenal Allah:

1. KUFUR/INGKAR

Sebagai manusia kita harus menjalankan perintah Allah. Karena banyak orang Islam tapi tidak mau menjalankan perintah-Nya. Bagaimana mungkin kita akan kenal Allah sedangkan kita tidak mau menjalankan perintah-Nya.

Contoh: Kita seorang karyawan pada suatu perusahaan tapi kita tidak mau/memakai seragam perusahaan kita. Bagaimana mungkin atasan anda akan mengenal kita.

Kita mengenal ada 3 golongan muslim :

  1. Golongan yang mendirikan sholat.
  2. Golongan yang kadang sholat kadang tidak (enggan/malas sholat).
  3. Golongan yang tidak mau sholat.

Jika kita mengaku seorang muslim, sholatlah seperti sholatnya Muhammad saw. Padahal beliau sudah maksum. Apa yang kita sombongkan saudaraku? jika kita tidak mau sholat. Hebat mana kita dengan Muhammad saw. Pelajarilah Islam secara kaffah ! Sholat adalah tanda apakah orang itu muslim atau bukan. Dengan sholat anda bisa bertemu Allah. Karena sholat mi’rojnya orang muslim.

2. BODOH/MERASA TIDAK MAMPU

Kita ingin jadi orang yang bermakrifat, tetapi kita bodoh dan tidak mau menuntut ilmu, mana mungkin? Padahal ilmu sebagai pelita hati dalam berjalan menuju akhirat. Kita harus kuasai ILMU, FAHAM, AMAL, dan YAKIN. Bukankah Islam menyuruh kita menuntut ilmu, walau sampai ke negeri china? Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap orang muslim. lihatlah Gus Dur! Beliau benar-benar mempraktekkan hadits ini sehingga mata beliau tidak bisa melihat karena saking banyaknya membaca. Sadarilah saudaraku, ilmu akan membuat kita tinggi baik di hadapan manusia maupun Allah.

Suatu saat setan akan menggoda orang (bodoh) yang sedang sholat, tapi ketika akan masuk di depan pintu ada seorang yang berilmu yang sedang tidur. Akhirnya syaithon takut dan tidak jadi masuk menggodanya, karena tidurnya orang yang alim lebih ditakuti syaithon daripada sholatnya orang yang bodoh. Renungkanlah saudaraku betapa tinggi derajat orang berilmu.

3. SU’UDZ-DZAN

Janganlah kita punya rasa buruk sangka baik dengan manusia ataupun Allah, karena hal ini akan membuat kita tertutup matahati. contoh:

Mentang-mentang kita lebih tua kita tidak mau berguru kepada yang lebih muda. Mentang-mentang Sang Guru berstatus sosial rendah kita tidak mau berguru. Jika kita memandang sosok yang kita gurui maka kita tidak akan mendapatkan ilmu makrifat. Karena manusia tempat salah dan lupa, maka kita akan kecewa bila Sang Guru melakukan kesalahan, tetapi jika yang kita cari ilmu maka sempurnalah musyahadah kita.

Renungkanlah saudaraku ! Sahabat Ali kw. Gara-gara ingin menuntut ilmu beliau mau berguru dengan Sang penggembala kambing. Bagaimana dengan kita? Padahal Sahabat Ali k.w. dijamin masuk surga oleh Allah.

4. KESIBUKAN DUNIA

Janganlah kita tertipu oleh dunia, karena semua harta. anak, dan istri, tidak akan kita bawa mati. Amalan sholihahlah yang akan kita bawa menghadap Sang Kholik. Pandanglah dunia ke bawah dan pandanglah akhirat ke atas. Manusia tidak akan pernah puas dengan isi dunia. Punya sepeda ingin motor dan sebagainya. Lihatlah Nabi Muhammad s.a.w. Beliau satu hari makan satu hari tidak. Kadang perutnya di ganjal pakai batu karena menahan lapar, dan ini semua sahabat pilihan meniru beliau.

Ketahuilah saudaraku, kita tidak akan pernah jadi orang makrifat selama kita masih dalam keenakan makan dan minum. Anda harus merasakan lapar bila ingin dekat dengan Allah. Sahabat Abu Bakar ketika ditanya kenapa tidak pernah makan enak? Jawabnya karena kesenangan adalah bagian dari surga bila kita di dunia bersenang-senang jangan harap di akhirat anda akan masuk surga. Demikianlah kenapa para ahli tasawuf tidak mau bersenang-senang di dunia.

Wahai saudaraku jika kita benar-benar ingin jadi kekasih Allah kerjakanlah apa yang tersebut di atas, renungkan dan kaji ulang terus agar ilmu kita meresap ke hati sanubari dan darah daging. Kurangi tidur dan makan. Jangan makan jika tidak lapar atau karena kita diberi/dijamu makan. Janganlah kita tidur jika bukan karena tidur dengan tidak sengaja. Jika kita mampu maka jadilah kita orang khowas.

 

PASULUKAN LOKA GANDASASMITA
Budaya Beragama, Agama Berbudaya

 

About admin

Check Also

Kau Kira Kau Segala-galanya bagi Umat

Biasanya Sudrun memang mendadak datang di bilik saya lewat tengah malam. Ia mengingatkan agar saya ...