Friday , June 22 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / AS, Israel dan Turki dalam Skenario Perang Dunia III

AS, Israel dan Turki dalam Skenario Perang Dunia III

Eskalasi konflik yang semakin memanas di Semenanjung Korea antara Amerika Serikat versus Korea Utara, sontak menyadarkan kita tentang skenario Perang Dunia III yang sempat dilansir beberapa pakar beberapa waktu berselang. Bagaimana kesiapsiagaan militer AS dan sekutu-sekutunya di Eropa Barat?

Kalau bicara soal Strategi Global AS di bidang kemiliteran, maka ada dua titik simpul yang harus jadi fokus perhatian ke depan. US Strategic Command Headquarters atau USSSTRACOM, markas besar Angkatan Darat Offutt di Nebraska, dan Komando Regional dan Komando Tempur atau Komando Pusat di Florida, yang bertanggungjawab dalam mengontrol kawasan Timur-Tengah dan Asia Tengah.

Ini menarik, sebab fakta bahwa Timur-Tengah dan Asia Tengah masuk kategori top priority berarti kedua kawasan yang sering disebut Heartland atau daerah jantung, tetap merupakan kawasan vital bagi AS maupun sekutu-sekutu Eropa Barat. Selain itu yang tak kalah penting, adalah simpul dari unit-unit komando pasukan koalisi yang mencakup Israel, Turki, Teluk Parsi, serta markas militer Diego Garcia di Samudera Hindia.

Melalui simpul-simpul komando kemiliteran inilah, rencana strategis militer global yang  bertumpu pada AS-NATO diintegrasikan ke dalam rancangan militer global, termasuk dalam mempersenjatai ruang angkasa.

Dari sini kita sudah dapat sedikit gambaran jika sewaktu-waktu AS-NATO harus melancarkan serangan militer berskala besar baik terhadap Korea Utara atau Iran, akan dikoordinasikan oleh USSTRACOM. Kalau kita telisik mandat yang dibebankan pada USSSTRACOM, tugasnya adalah mengawasi suatu rencana serangan  berskala global dengan mendayagunakan persenjataan konvensional maupun persenjataan nuklir.

Yang lebih mengerikan lagi, USSTRACOM ternyata juga disiapkan untuk memainkan peran sebagai integrator global yang diberi misi Operasi Ruang Angkasa, Operasi Informasi, Pertahanan Pertahanan Peluru Kendali Terintegrasi, Komando dan Kendali Global, Penyelidikan Intelijen, serta Penangkal Strategis.

Mengingat salah satu tugas pokoknya adalah sebagai Penangkal Strategis, masuk akal jika USSSTRACOM diberi wewenang untuk memimpin, merencanakan, dan menjalankan operasi-operasi penangkal strategis pada skala gloibal. Sehingga seluruh operasi USSSTRACOM merupakan refleksi dari skema persekutuan strategis AS-NATO.

Maka itu, USSSTRACOM dan Komando Komponen Fungsional Gabungan atau Joint Functional Component Command for Space and Global Strike (JFCCSGS), diserahi tanggungjawab dan wewenang untuk meluncurkan operasi militer dengan menggunakan persenjataan nuklir maupun konvensional sesuai dengan doktrin pemerintahan Presiden George W. Bush pada 2002. Kedua kategori persenjataan ini akan diintegrasikan ke dalam kerangka operasi serangan gabungan di bawah kendali komando yang juga terintegrasi.

Adapun rencana perang strategis yang terpusat ini disebut OPLAN (Operational Plan 8044). Melalui mana opsi-opsi diberikan untuk mencegah, menghalangi/menangkal, dan jika perlu, melancarkan serangan  balik terhadap negara-negara yang dipandang telah mengancam keamanan nasional AS-NATO.

Dalam skenario seperti ini, derivasi atau turunan dari OPLAN 8044 adalah CONPLAN 8022, yang diserahi wewenang untuk mendayagunakan kemampuan Perang Nuklir, Konvensional maupun informasi untuk menghancurkan target-target yang dijadikan prioritas dimanapun di dunia.

Rencana CONPLAN 8022 ini kemudian diterjemahkan oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara menjadi satu paket serangan dari kapal selam dan pesawat pengebom tempur mereka.

Pada perkembangannya kemudian, CONPLAN 8022 kemudian ditinggalkan pada 2008 lalu, namun prinsip-prinsip dasar serangan global dan perang global, tetap dipertahankan dan tidak berubah. Misal JFCCSGS kemudian diganti menjadi Joint Functional Component for Global Strike and Integration. Namun hakekatnya sama saja. Yaitu mengintegrasikan semua elemen kekuatan militer yang mendukung Komando, misi global Komando Strategis AS (USSTRACOM).

Terkait dengan kendali komando USSTRACOM di Timur Tengah dan Asia Tengah, maka keteribatan Israel dalam persekutuan ini layak untuk disorot. Sejak 2004 , Israel telah mendapatkan kiriman kurang lebih 500 buah bom penghancur bunker BLU(Bomb Live Unit) 109 buatan AS. Perintah pengadaan untuk BLU dikeluarkan pada April 2005. Bahkan AS telah mengkonfirmasikan bahwa Israel harus memperoleh 100 buah bom penghancur bunker yang lebih canggih, yaituy GBU 28 buatan Lockheed Martin.

Dari informasi yang dihimpun tim riset Aktual, GBU 28 sebagai senjata konvensional sebesar 5000 pon dengan pembidik laser yang menggunakan hulu ledak penetratif seberat 4.400 pon, senjata jenis ini sudah pernah digunakan sewaktu AS dan NATO melancarkan invasi militer ke Irak pada 2003 lalu.

Maka itu ketika pergolakan di Timur Tengah semakin memanas beberapa waktu ke depan, maka peran Israel dalam persekutuan strategis AS-NATO menjadi sangat vital dan menentukan dengan pengiriman 500 buah hulu ledak BLU 109. Karena merupakan senajta strategis bagi sasaran serangan strategis maupun taktis dari AS dan NATO.

Bahkan dalam persiapan kemungkinan menyerang Iran, Israel telah menerima dua kapal selam  baru produksi Jerman. Yang mana kapal selam tersebut dapat meluncurkan peluru kendali jarak jauh  yang dipersenjatai nuklir untuk menangkal serangan . Yang jelas, keikutsertaan Israel dalam persekutuan AS-NATO memang sangat berbahaya. Sampai sekarang kita tak tahu kemampuan persenjataan taktis nuklir Israel.

Turki, juga masuk kateri sekutu strategis AS dan NATO. Untuk menghadapi kemungkinan pecah perang dengan Iran, Turki memiliki sekitar 90 buah bom penghancur termonuklir B-61 yang bermarkas Angkatan Udara di Incirlik. Sekadar informasi, penumpukan dan peluncuran B-61 di Eropa Barat, ditujukan untuk diarahkan ke target-target di Timur Tengah seperti Suriah dan Iran. Atau diarahkan ke Asia Tengah, dengan sasaran pokok adalah Rusia.

Selain dari itu, Jerman yang resminya merupakan negara non-nuklir, secara de fakto merupakan yang paling banyak memiliki senjata nuklir. Diperkirakan saat ini Jerman punya 150 buah bom penghancur bunker B-61. Yang mana sesuai dengan rencana serangan NATO tersebut di atas, persenjataan taktis nuklir ini diarahkan ke Timur Tengah.

Menariknya, yang orang belum banyak tahu, Jerman ternyata telah memproduksi hulu ledak nuklir untuk Angkatan Laut Perancis.  Sehingga mampu meluncurkan persenjataan nuklir. Jadi, meski secara resmi termasuk negara non-nuklir, Jerman telah menumpuk hulu ledak nuklir sehingga mampu meluncurkan persenjataan nuklir.

Satu fakta penting yang tidak boleh diremehkan terkait kemampuan Jerman dalam mengembangkan industri pertahanan strategisnya, yaitu koloborasi bisnis Jerman-Perancis-Spanyol melalui sebuah perusahaan pertahanan Aeronautika dan Ruang Angkasa Eropa (European Aeronautic Defense and Space Company, EADS). Ini merupakan perusahaan militer terbesar kedua di Eropa, yang memasok rudal nuklir M51 milik Prancis.

Dalam konstalasi demikian, jika AS dan NATO secara bertahapa sedang mempersiapkan serangan militer ke Iran maupun Korea Utara, maka kemungkinan besar Rusia dan Cina tidak akan tinggal diam. Apalagi jika kemudian melancarkan penghancuran melalui pengeboman udara terhadap Iran maupun Korea Utara.

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Source: The Global Review

About admin

Check Also

Hebat dan Jahatnya Kapitalisme oleh para Kapitalis

Sistem Ekonomi Kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi ...