Sunday , November 18 2018
Home / Agama / ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI

ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI

ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI

oleh Jalaluddin Rakhmat

Menurut para sufi, manusia adalah  mahluk  Allah  yang  paling sempurna  di  dunia  ini.  Hal  ini,  seperti  yang  dikatakan Ibnu’Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah  Allah di  bumi  yang  dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat  kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.

Allah  menjadikan  Adam  (manusia)  sesuai  dengan  citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim,  kemudian  Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:

Maka  apabila  Aku  telah  menyempurnakan  kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29)

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau  kendaraan  bagi  rohani  dalam  melakukan  aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir  yang  diciptakan dari  unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.

Karena itu, pembahasan tentang jasad  tidak  banyak  dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-‘aql) dan hati  nurani atau  jantung (al-qalb).

RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS)

Banyak  ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah  dan  memerintah  dan  menggunakan jasad  sebagai  alatnya.  Sedangkan  jasad  berasal  dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi.  Tetapi  para  ahli sufi  membedakan  ruh  dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula.  Ia  selalu  dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.

Karena  ruh  bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia  tetap  suci.  Ruh  di dalam  diri  manusia  berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber  akhlak  yang  mulia  dan terpuji,  maka  lain  halaya  dengan  jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn  Sina  dan  al-Ghazali  membagi jiwa   pada:   jiwa   nabati  (tumbuh-tumbuhan),  jiwa  hewani (binatang) dan jiwa insani.

Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal  bagi  benda  alami  yang organis  dari  segi  makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani,  disamping  memiliki  daya  makan  untuk  tumbuh   dan melahirkan,  juga  memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil  dan  daya  merasa,  sedangkan  jiwa  insani   mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).

Daya    jiwa    yang    berfikir   (al-nafs-al-nathiqah   atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf  dan  sufi, yang  merupakan  hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia  dapat  mengetahui  hal-hal  yang  umum  dan  yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.

Karena  pada  diri  manusia  tidak  hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa  nabati  dan  hewani,  maka  jiwa (nafs)  manusia  mejadi  pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang  tercela  pada  manusia.  Itulah  sebabnya  jiwa  manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.

Apabila  jiwa  menyerah  dan  patuh  pada  kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan,  yang  memang  pada  jiwa  itu sendiri  ada  sifat  kebinatangan,  maka  ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, “Sesungguhnya jiwa  yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat.” (QS. 12: 53)

Apabila  jiwa  selalu  dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia  yang  melakukan  keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya,  “Dan  Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” (QS. 75:2).

Tetapi  apabila  jiwa  dapat  terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang  tenang  (al-nafs al-muthmainnah).  Dalam  hal  ini  Allah menegaskan, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa  puas  lagi diridhoi,  dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. 89:27-30)

Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu  jiwa  yang  telah menjadi  tumpukan  sifat-sifat  yang  tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan  jiwa  yang telah  mencapai  tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga.

Jiwa  muthmainnah  adalah  jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai  sumber  moral  mulia  dan terpuji,  dan  ia  hanya  mempunyai  satu  sifat,  yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen.  Allah sampaikan,    “Demi    jiwa   serta   kesempurnaannya,   Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan.”  (QS.91:7-8). Artinya,  dalam  jiwa  terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.

AKAL

Akal yang dalam bahasa Yunani disebut  nous  atau  logos  atau intelek  (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati”  adalah  daya  jiwa (nafs  nathiqah).  Daya  jiwa  berpikir  yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada   disebut   rasa  (dzauq).  Karena  itu  ada  dua  sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan  akal  (ma’rifat  aqliyah)  dan pengetahuan   hati  (ma’rifat  qalbiyah).  Kalau  para  filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih  mengunggulkan pengetahuan hati (rasa).

Menurut  para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi  –akal  perolehan  (akal   mustafad)–   ia   dapat mengetahui  kebahagiaan  dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian  akan  menjadikan  jiwanya  kekal  dalam  kebahagiaan (sorga).  Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa  yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).

Adapun   akal   yang   tidak   sempurna   dan  tidak  mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang  demikian  akan hancur.  Sedangkan  menurut  para  filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan  manusia  menurut  para  filsuf   terletak   pada kesempurnaan  pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan  yang  tertinggi,  yaitu  ketika  akan  sampai  ke tingkat akal perolehan.

HATI SUKMA (QALB)

Hati  atau  sukma  terjemahan  dari  kata  bahasa  Arab  qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat  dari  qalb  adalah  jantung, bukan  hati  atau  sukma.  Tetapi,  dalam  pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah  biasa.  Hati  adalah segumpal  daging  yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian  ini  bukanlah  objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya  bisa  lebih  luas,  misalnya  hati  binatang, bahkan bangkainya.

Adapun  yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani –daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada  pada  hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut  dengan   rasa   (dzauq),   yang   memperoleh   sumber pengetahuan  hati  (ma’rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, “Mereka mempunyai hati, tetapi  tidak  dipergunakan memahaminya.” (QS. 7:1-79).

Dari  uraian  di  atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia  itu jiwa  yang  berfikir  (nafs  insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan  manusia.  Bagi  para filsuf,  kesempurnaan  manusia  diperoleh  melalui pengetahuan akal  (ma’rifat  aqliyah),   sedangkan   para   sufi   melalui pengetahuan  hati (ma’rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah  sebagai  wadah atau  sumber  ma’rifat  –suatu  alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah  bersih

dari  pencemaran  hawa  nafsu  dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta  menggantikan  moral  yang  tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara’ serta dzikir yang kontinyu, ilmu  ladunni  (ilmu  Allah) yang  memancarkan  sinarnya  dalam  hati,  sehingga  ia  dapat menjadi  Sumber  atau  wadah  ma’rifat,  dan   akan   mencapai pengenalan  Allah  Dengan  demikian,  poros  jalan  sufi ialah moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang  sesuai  dengan  tabiat  terpuji adalah  sebagai  kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh  luar hanya  akan  membuat  hilangnya  kehidupan  di dunia ini saja, sementara  penyakit  hati  nurani   akan   membuat   hilangnya kehidupan  yang  abadi. Hati  nurani  ini tidak terlepas dari penyakit,  yang  kalau  dibiarkan   justru   akan membuatnya berkembang  banyak  dan  akan  berubah  menjadi  hati dhulmani –hati yang kotor.

Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan  oleh hasil  perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah  orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:8-9).

Hati nurani  bagaikan  cermin,  sementara  pengetahuan  adalah pantulan  gambar  realitas  yang  terdapat  di  dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa  nafsunya  yang  tumbuh. Sementara  ketaatan  kepada  Allah  serta  keterpalingan  dari tuntutan hawa nafsu itulah  yang  justru  membuat  hati-nurani bersih  dan  cemerlang  serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt.

Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada  seseorang,  tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis  terhadap dunia,   menghindarkan   diri   dari  hal-hal  yang  berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani  dari  berbagai  pesonanya, dan  menerima  Allah  segenap  hati.  Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai  keterkaitan  dengan nafs  atau  jiwa  nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa  nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

About admin

Check Also

Nasihat Mulia Dalam Taurat Nabi Musa as. (Bagian-1)

Bagian 1 Pesan-pesan hikmah ini adalah nasihat mulia yang dinukil oleh Amirul Mukminin Ali bin ...