Monday , March 25 2019
Home / Berita / Antara Megawati dan Jokowi Soal Capres 2014

Antara Megawati dan Jokowi Soal Capres 2014

Antara Megawati dan Jokowi Soal Capres 2014Pemilu legislatif akan dilaksanakan sekitar tiga bulan lebih, yaitu pada tanggal 9 April 2013, tetapi suhu politik serta penonjolan capres sudah terus disuarakan oleh beberapa parpol. Tercatat Hanura mengajukan pasangan Wiranto-Harry Tanoe, Golkar terus mengiklankan Aburizal Bakrie, nama Prabowo terus dikibarkan dan ada juga Hatta Rajasa dari PAN, belum lagi PKB ,mulai memainkan nama-nama Haji Rhoma Irama, JK dan Mahfud MD. Sementara Partai Demokrat masih berkutat dengan upaya konvenci capres. Yang lainnya masih menimbang-nimbang.

Yang menarik dan sulit diprediksi para pengamat politik adalah keputusan PDI Perjuangan. Sebagai oposan selama pemerintahan SBY, PDIP yang tidak mau menempatkan seorangpun kadernya sebagai pejabat di kabinet, kini  nampaknya akan memetik hasil pada 2014. Dalam beberapa survei, elektabilitas PDIP hanya bersaing dengan Golkar sebagai parpol papan atas untuk mendapatkan tiket capres tanpa harus berkoalisi, mampu mengajukan capres sendiri. Ambang batas  pencalonan capres (presidential threshold) adalah perolehan suara nasional minimal 25 persen atau perolehan kursi di DPR minimal 20 persen dari pemilu legislatif.

Dalam beberapa acara, saat di wawancarai media, Ketua Umum PDIP Ibu Megawati menegaskan bahwa capres PDIP baru akan ditentukan setelah selesainya pemilu legislatif 9 April 2013. Kini PDIP masih berkonsentrasi dalam upaya memenangkan pemilu legislatif. Justru sikap Megawati tersebut menimbulkan rasa gelisah baik parpol maupun capres dari partai lain. Secara perlahan tetapi pasti, elektabilitas PDIP menunjukkan trend yang terus meningkat.

Kemunculan dan menonjolnya nama, citra, popularitas dan elektabilitas Jokowi (Joko Widodo), kader PDIP yang menjadi Gubernur DKI merupakan nilai plus tersendiri bagi PDIP. Tanpa mengiklankan dirinya, Jokowi dengan sikap, gaya, penampilan serta keberanian kejujurannya mampu menyedot perhatian media, jadilah dia media darling, terus diberitakan positif oleh media. Sebagai dampak positif, kini bahkan Jokowi diistilahkan sudah menjadi publik darling. Apa yang dikerjakan, diucapkannya terus dibenarkan oleh masyarakat.

Lembaga survei Cyrus bahkan menyebutkan Jokowi sebagai capres setengah dewa. Istilah ‘setengah dewa’ dari Cyrus Network dinyatakan berdasarkan hasil survei, Jokowi tidak hanya bisa mengangkat suara PDIP ke titik tertinggi yaitu 60 persen.  Apabila Jokowi tidak diusung PDIP dan  menjadi capres partai lain, mantan Walikota Solo itu diprediksi tetap menang, bahkan mampu menaikkan keterpilihan partai tadi.

Bila Golkar resmi menggandeng Jokowi, maka akan tercapai elektabilitas tertinggi 53 persen, dengan Partai Gerindra bisa mencapai 48 persen. Bahkan, Jokowi bisa mengangkat Partai papan bawah seperti Nasdem, Bulan Bintang (PBB), dan PKPI mencapai perolehan tertinggi di atas 40 persen. “Tapi itu jika jauh-jauh hari menyatakan diri sebagai satu-satunya partai yang mengusung Jokowi sebagai capres,” kata Direktur Riset Cyrus Network, Eko David Dafianto dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (15/12/2013).

Survei Cyrus tersebut diambil dari 1.020 responden yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, dengan tingkat margin of eror mencapai 3,1 persen. Survei dilakukan dalam 2 rentang periode, yakni 21-27 Agustus 2013 dan 13-17 September 2013, serta dilakukan pada pemilih yang telah berusia 17 tahun ke atas atau yang telah menikah.

Sementara dari hasil survei Indo Barometer yang diumumkan di Grand Sahid, Jakarta, Minggu (22/12/2013), Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, mengatakan, dalam simulasi 12 capres dari 12 parpol, nama Jokowi teratas dengan 37,7 persen, disusul Aburizal Bakrie (14,6 persen), Prabowo Subianto (13,0 persen), Wiranto (8,9 persen). Sisa capres lainnya di bawah angka dua persen.

Untuk simulasi empat capres dari empat parpol, Jokowi juga terunggul dengan (39,8 persen), Aburizal (15,3 persen), Prabowo (13,8 persen), Wiranto (10,2 persen). Sementara tidak akan memilih (0,3 persen), rahasia (1,8 persen), belum memutuskan (14,3 persen), dan tidak jawab (4,7 persen).

Dalam simulasi tiga capres dari tiga parpol menurut Indobarometer. Jika PDIP memajukan Jokowi, angkanya mencapai 43,5 persen, diikuti Aburizal dari Golkar 16,7 persen, dan Prabowo 16,3 persen. Berbeda jika PDIP memajukan Mega, Prabowo akan teratas dengan 26,3 persen, disusul Aburizal 19,8 persen dan Mega di posisi ketiga dengan 19,4 persen.

Analisis

Hasil survei adalah merupakan upaya mencari gambaran pendapat publik dan merupakan sebuah persepsi dengan metoda tertentu. Kunci dari hasil survei yang terkait dengan kepercayaan dan kebenaran sangat tergantung dengan kejujuran serta independensi lembaga itu sendiri. Memang diakui ada beberapa lembaga survei yang dibayar untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas parpol ataupun perorangan (capres dan cawapres). Tetapi cepat atau lambat hasilnya akan terbaca kalau memang dimanipulasi untuk keuntungan penyewa. Lembaga lain yang lebih fair juga akan mengeluarkan hasilnya dan masyarakat bisa membandingkannya, terlebih para pengamat politik pasti faham dengan kondisi tersebut.

Ketua Umum PDIP Megawati yang selama ini selalu dekat dengan Jokowi sebagai kadernya, juga  tidak mau memberi penjelasan saat ditanya kemungkinan duet dirinya dengan Jokowi.  “Ya sudahlah, tunggu 9 April,” jawabnya singkat. Bahkan Megawati mengatakan bahwa PDIP harus waspada terhadap kemungkinan serangan terhadap citra PDIP. Selain itu Megawati juga selalu menjaga agar Jokowi sebagai tokoh PDIP yang menonjol tidak menjadi sasaran tembak dari pelbagai pihak. Di jaganya agar Jokowi tidak masuk atau dimasukkan kedalam killing ground. Karena itu langkah pengamanan masih disimpannya keputusan capres PDIP sangatlah tepat. Semakin tinggi elektabilitas seseorang, maka  akan semakin besar niatan pesaingnya untuk menjatuhkan, itulah dinamika politik.

Menurut Sekjen PDIP Tjahyo Kumolo,  dari hasil beberapa survei, elektabilitas Jokowi memang terus menanjak. Namun, dikatakannya, “Untuk menentukan capres tidak semata melihat dari hasil survei belaka. Nanti, kami lihat bagaimana sesungguhnya, kami lihat saat hasil terakhir. Partai mencermati, memperhatikan aspirasi masyarakat, partai melihat konsolidasi kami,” ujarnya. Kendati aspirasi publik begitu kuat, Tjahjo menegaskan, partainya belum mengambil keputusan untuk pencapresan. “Nanti ada waktunya. Saat ini, kami masih melihat dinamika yang berkembang. Kami lihat pada April atau setelahnya seperti apa,” tuturnya. PDIP tak mau terburu-buru mengambil sikap untuk menentukan capres yang akan diusung, partainya masih menunggu hasil pemilu legislatif katanya.

Kesimpulannya, seberapa besarnyapun elektabilitas Jokowi yang fantastis dan mencengangkan  menurut ukuran survei, Megawati tetap bersikukuh tidak akan mengumumkan siapa capres PDIP. Kini terlihat semakin banyak mereka yang beramisi dan penghitung politik mencoba merapat ke Jokowi dan PDIP. Elektabilitas PDIP terus merangkak naik, dan berpeluang untuk menjadi the rulling party menggantikan Partai Demokrat.

Kemisteriusan capres PDIP justru menaikkan derajat PDIP yang tetap tenang dan yakin. Sementara kalau ditanya, penulis tetap berpendapat Ibu Mega sebagai capres PDIP. Baca artikel terdahulu penulis, Ramalan Intelijen dan Ramalan Jayabaya Presiden 2014,

Tentang posisi Jokowi, bisa saja dia sebagai vote getter PDIP paling hebat masa kini, dan penulis perkirakan apabila Jokowi mendampingi Ibu Megawati, para pencintanya tetap akan mengikutinya. Bagaimana dengan hasil survei yang menyebutkan Megawati akan kalah melawan Prabowo dan Aburizal? Ada yang dilupakan, faktor Jokowi tidak dimasukkan dalam hitungan kesuksesan pilpres. Kira-kira begitu. Semuanya kini tergantung kepada keputusan ratu banteng yang sudah mendapat mandat dari PDIP.

Oleh : Prayitno Ramelan,

Sumber:ramalanintelijen.net

 

About admin

Check Also

TNI Perlu Segera Disiagakan Menuju Pilpres 2019

Penulis Dan Tiga Panglima TNI Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Jokowi ...