Friday , December 4 2020
Home / Relaksasi / Renungan / Amal Orang yang Sehat Ditulis Pada Waktu Sakitnya

Amal Orang yang Sehat Ditulis Pada Waktu Sakitnya

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad

Ternyata di dalam kasih sayang keluarga terdekat kita ada rahmat dan ampunan Allah. Orang tuamu, anak istrimu adalah harta terpendam dari sebuah ampunan dan rahmat Allah kepada dirimu, sayangilah mereka karena kasih sayang mereka bisa menjadi guyuran rahmat dalam kehidupanmu di dunia maupun akhirat.

Saudaraku terkasih, dalam kisah berikut ini, digambarkan bagaimana pentingnya kasih sayang orang yang terdekat dengan hidup kita baik ibu bapak kita, anak istri kita bahkan ketahuilah wahai saudaraku kasih sayang mereka bisa menembus kepada Allah untuk mengasihi kita di dunia dan akhirat berupa ampunan dan limpahan rahmatNya.

Dari Abi Umamah Al-Bahili ra, bahwa Rasulullah bersabda :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَمَرَ اللّٰهُ تَعَالٰى الْمَلآئِكَاتِ أَنِ اكْتُبُوْا لِعَبْدِ أَحْسَنَ مَاكَانَ يَعْمَلُ فِى الصِّحَّةِ وَالرَّخَآءِ

Artinya : “Apabila orang mukmin sakit, Allah Ta’ala menyuruh para malaikat, “Tulis bagi hamba-Ku amal terbaik yang dikerjakannya di waktu sehat dan sejahtera”.

Al-Kisah, diceritakan bahwa pada masa bani Israel terdapat seseorang lelaki fasik, tidak berhenti melakukan kejahatan, sedangkan penduduk negeri tersebut tidak mampu mencegah dari kefasikannya, mereka (penduduk negeri) berdo’a dengan khusyu’ kepada Allah Ta’ala.

Lantas Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa ada anak muda dari kalangan bani Israel yang banyak berbuat kejahatan, dan Allah Ta’ala berkata kepada Nabi Musa as : “Usirlah dia dari negeri mereka hingga ditimpa neraka.”

Maka Nabi Musa as mengusir pemuda fasik itu dari desanya atas perintah Allah, kisah ini sangat menarik untuk menjadi bahan renungan kita dan di balik kisah ini ada kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya.

Atas perintah Allah Nabi Musa mengusirnya dari desa, pergilah pemuda fasik itu ke salah satu desa. Kemudian Allah Ta’ala menyuruh Musa as mengusirnya dari desa itu, Musa mengusirnya sekali lagi dari desa itu sehingga pergilah pemuda fasik itu ke padang luas dan ke suatu tempat yang di situ tidak terdapat satupun manusia, burung, maupun binatang buas.

Sang pemudapun akhirnya jatuh sakit di tempat itu dan tidak seorangpun menolongnya. ia tergeletak di atas tanah seraya berkata dalam sakitnya.  “Wahai Tuhanku, andaikata ibuku berada di dekat kepalaku niscaya ia akan menyayangi dan menangisi atas kehinaanku.”

“Andaikata ayahku berada di sisiku tentu dia akan menolong, memandikan, serta mengkafaniku. andaikata istriku berada di sisiku tentu ia akan menangis lantaran berpisah denganku.”

Andaikata anak-anakku berada di sisiku, tentu mereka menangis di belakang jenazahku dan akan berkata,  “Ya Allah, ampunilah ayah kami yang asing, lemah, durhaka, serta berbuat kejahatan dan terusir dari suatu kota ke kota lain, dari desa ke tanah lapang dan keluar dari dunia menuju akherat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat Allah”.

Pemuda itu terus berkata, “Ya Allah, jika engkau memutuskan hubunganku dengan ibuku, anak-anakku dan istriku, maka janganlah Engkau putuskan aku dari Rahmat-Mu dan Engkau telah membakar hatiku dengan perpisahan mereka dariku, janganlah Engkau bakar aku dengan api-Mu lantaran maksiatku.

Subhanallah, sungguh mengharukan kisah ini, lihat betapa tidak berdayanya pemuda fasik itu lantaran sakitnya yang tidak seorangpun menolongnya, akan tetapi dengan kerendahan hatinya pemuda itu terus merengek-rengek berdoa kepada Allah agar mendapat rahmat dari Allah Ta’ala.

Alkisah, lantas Allah Ta’ala mengirimkan bidadari yang merupakan ibunya, seorang bidadari yang merupakan istrinya, anak-anak yang merupakan anaknya, dan seorang malaikat yang merupakan ayahnya.

Merekapun duduk di sisinya dan menangisi pemuda itu seakan adalah anak-anak, istri, ibu dan ayahnya yang hadir di sisinya, “Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pemuda itupun berpulang ke rahmat Allah dalam keadaan suci dan terampuni. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa as pergilah engkau ke tanah lapang begini dan tempatnya begini, di situ telah meninggal dunia salah seorang Wali-Ku, mandikan, kafani, dan shalatilah dia.

Tatkala Musa tiba di tempat itu, ia melihat pemuda itu yang diusirnya dari kota dan desa dengan perintah Allah Ta’ala serta melihat bidadari menangisinya.

Nabi Musa as berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah ia adalah pemuda fasik yang ku usir dari kota atas perintah-Mu…?’ Allah Ta’ala menjawab ‘benar hai Musa, akan tetapi Aku kasihan dan memaafkannya lantaran dalam sakit dan kejauhannya dari kampung halaman, jauh dari kedua orang tua dan anak-anak, serta istrinya. Kukirim bidadari dalam rupa ibunya dan malaikat dalam rupa ayahnya, lantaran kasihan atas kehinaan dalam kesendiriannya. Apabila orang asing (yang tidak bersanak keluarga) mati, penghuni langit dan bumi menangisinya lantaran kasihan kepadanya. Karena itu, bagaimana Aku tidak mengasihinya, sedang Aku adalah Yang Maha Penyayang diantara para Penyayang.”

Itulah kasih sayang Allah terhadap hamba-hambanya.

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً

“Wahai Tuhan kami, semoga Engkau berkenan memberikan rahmat (kasih sayang) dari sisi Mu kepada kami dan menyempurnakan kesadaran bagi kami atas petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS: Al-Kahfi: 10)

Sumber: Kitab Mawa’idzhul ‘Usfuriyah Karya Muhammad bin Abu Bakar Al-Usfuri.

 

About admin

Check Also

Cara Berzikir, Bertarekat, Bermursyid dan Bersuluk (Pembahasan Kitab Sabilus Salikin Hal. 186)

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...