Tuesday , September 25 2018
Home / Agama / Aku mencintai engkau dan keluargamu Ya Rasulallah (bag. 1)

Aku mencintai engkau dan keluargamu Ya Rasulallah (bag. 1)

Aku mencintai engkau dan keluargamu Ya Rasulallah (bag. 1)

Putriku, Mengapa Engkau Menangis?

Para sahabat sedang duduk mengelilingi Rasulullah Saw dan dengan penuh hikmat mendengarkan ucapan beliau. Pada waktu itu, Ibnu Abbas melihat Fathimah as yang sedang berjalan mendekati mereka dalam keadaan menangis dan khawatir. Begitu melihat putrinya dalam kondisi demikian, Nabi Saw langsung berkata, “Putriku! Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Fathimah as menjawab, “Hasan dan Husein tadi keluar rumah dan saya tidak tahu kemana mereka pergi.”

Nabi Saw berkata, “Putriku! Jangan menangis. Allah Swt lebih pengasih dari aku dan engkau.”

Saat itu juga Nabi Saw mengangkat tangannya ke atas dan berkata, “Ya Allah! Lindungi Hasan dan Husein.”

Baru selesai Nabi Saw menurunkan tangannya, malaikat Jibril turun dan mendekati beliau lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jangan khawatir. Keduanya tengah tertidur di kebun Bani an-Najjar dan Allah telah meletakkan malaikat untuk menjaga mereka.”

Nabi Saw bersama para sahabatnya bangkit dan berjalan menuju kebun Bani an-Najjar. Sesampainya di sana, mereka melihat Hasan dan Husein yang tengah tertidur dengan tangan masing-masing ada di leher yang lain. Mereka tampak tertidur dengan pulas. Nabi Saw kemudian memeluk keduanya dan mencium mereka, sehingga mereka terbangun dari tidurnya. Setelah itu beliau meletakkan Hasan di pundak sebelah kanan dan Husein di sebelah kiri.

Abu Bakar maju dan berkata, “Berikan salah satunya kepadaku.”

Nabi Saw menjawab, “Tunggangan kedua anak ini adalah tunggangan terbaik dan yang menaiki tunggangan ini juga adalah yang terbaik.”

Sambil memanggul mereka, beliau berjalan hingga ke masjid dan kemudian berkata, “Wahai umat Islam! Apakah saya belum pernah memperkenalkan orang yang kakek dan neneknya orang terbaik di dunia?”

Masyarakat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!”

Beliau kemudian bersabda, “Hasan dan Husein dua anak dan bunga harumku. Kakek mereka adalah Rasulullah, pamungkas para nabi dan neneknya adalah Khadijah binti Khuwailid, pemimpin perempuan surga.”

Setelah itu beliau berkata, “Apakah saya belum memperkenalkan kepada kalian siapa orang yang memiliki ayah dan ibu terbaik?”

Masyarakat terdiam sejenak dan berkata, “Tidak, wahai Rasulullah!”

“Hasan dan Husein. Ayahnya Ali bin Abi Thalib as dan ibunya Fathimah as, putri Rasulullah Saw,” ujar Nabi Saw.

Kemudian beliau menambahkan, “Apakah saya belum pernah memperkenalkan orang yang paman dan bibinya merupakan orang-orang terbaik?”

Semua diam.

Beliau berkata, “Hasan dan Husein. Pamannya adalah Jakfar bin Abi Thalib dan bibinya Ummu Hani, putri Abu Thalib.”

Untuk kesekian kalinya beliau berkata, “Apakah saya belum pernah memperkenalkan kalian orang yang paman dan bibi dari ibunya sebagai orang-orang terbaik?”

Masyarakat tetap terdiam, sampai Nabi Saw melanjutkan kembali ucapannya.

Beliau berkata, “Hasan dan Husein. Paman dari ibunya adalah Qasim, putra Rasulullah Saw dan bibi dari ibunya adalah Zainab, putri Rasulullah Saw.”

Di akhir ucapannya, beliau mengangkat tangannya ke langit dan berdoa, “Ya Allah! Engkau mengetahui Hasan dan Husein di surga, ayah dan ibunya di surga, kakek dan neneknya di surga, paman dan bibi dari ayahnya di surga, paman dan bibi dari ibunya di surga dan siapa saja yang mencintai keduanya berada di surga. Sementara siapa saja yang memusuhi keduanya berada di neraka…”

Apel Nabi yang Berbau Wangi

Hudzaifah Ibnu al-Yamani, seorang sahabat dekat Rasulullah Saw dan suatu hari ia menukil kenangannya tentang Nabi Saw dan cucunya Hasan as:

“Kami bersama Rasulullah Saw dalam perjalanan Hajjah al-Wada’. Tiba-tiba kami melihat Hasan as tengah berjalan ke arah kami. Rasulullah Saw dengan cara pandang penuh wibawanya tengah memperhatikan cucunya. Ketika Nabi mengetahui pandangan kami kepadanya, beliau berkata, “Malaikat Jibril yang membimbing jalannya dan Mikail yang menjaganya. Ia berasal dariku dan cahaya mataku.”

Rasul Saw bangkit dari duduknya setelah mengucapkan kalimatnya. Kami yang melihat perbuatan beliau juga ikut berdiri untuk menyambut Hasan. Setelah dekat, Nabi berkata kepada Hasan, “Engkau adalah buah apelku yang harum, kecintaanku dan bertempat di hatiku.”

Setelah itu beliau memegang kedua tangan cucunya dan jalan bersama. Kami juga ikut berjalan di belakang mereka dan tiba-tiba mereka duduk di atas tanah. Kami juga ikut duduk di sekitar mereka.

Nabi Saw melihat Hasan as dan setelah beberapa waktu beliau berkata, “Segera setelah aku, Hasan adalah pemimpin dan pembimbing masyarakat. Ia adalah hadiah yang dianugerahkan Allah Swt kepadaku guna menghidupkan Sunnahku dan melanjutkan jalanku. Allah Swt punya perhatian khusus kepadanya. Barangsiapa yang mengetahui maqam dan derajatnya, berbuat baik kepadanya karena aku dan penghormatannya kepadaku, maka Allah akan merahmatinya.”

Pada waktu itu kami melihat seorang Arab Badui yang tengah berjalan mendekati kami. Nabi Saw bersabda, “Orang ini tengah mendekati kita dan akan berbicara kepada kita dengan bahasa yang buruk. Ia punya banyak pertanyaan dan ingin mendapatkan jawabannya dari kami. Kalian semua harus mempersiapkan diri mendengar ucapannya yang tidak sopan dan kasar!”

Orang tiba dihadapan kami. Untuk beberapa saat ia memandang Nabi Muhammad Saw dengan penuh kebencian lalu berkata, “Engkau Muhammad?”

Nabi Menjawab, “Iya, benar.”

“Selama tidak melihatmu, saya sering mencacimu. Sekarang ketika saya melihatmu, rasa permusuhanku kepadamu semakin bertambah.”

Kami yang melihat sikap orang itu sudah sangat marah, tapi kami melihat Nabi Saw tampak begitu tenang. Beliau bahkan tersenyum setelah mengetahui kegeraman kami. Kemudian beliau memandang kami dengan penuh makna, ingin memahamkan agar kami bisa tenang.

Orang Arab Baudi itu berkata, “Wahai Muhammad! Engkau mengaku seorang nabi? Padahal engkau tidak mampu membuktikan pengakuanmu!”

Nabi Saw berkata, “Bila salah satu anggota badanku bersaksi akan kenabianku, apakah engkau merasa puas?”

Dengan penuh rasa takjub orang Badui itu berkata, “Memangnya anggota badanmu dapat berbicara?”

Nabi Saw menjawab, “Iya.”

Setelah itu beliau memandang Hasan dan berkata, “Hasan, berdirilah!”

Pria Arab itu kemudian memandang Hasan as dan dengan nada mengejek ia berkata, “Apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil ini?”

Nabi Saw berkata, “Engkau akan melihat bagaimana ia membungkammu?”

Hasan as yang sampai saat sebelum Nabi Saw berkata demikian hanya terdiam mulai membuka mulut, “Wahai pria! Tenanglah dan buka lebar-lebar telingamu! Ucapanmu sudah sampai pada batas kurang ajar dan keluar dari kontrolmu. Ketahuilah bahwa engkau telah menipu dirimu. Saya berharap engkau tidak lagi bersikap keras kepala dan menerima Islam.”

Pria Arab Badui itu tertawa dengan nada mengejek lalu berkata, “Baiklah kita lihat sekarang apa yang ingin engkau katakan!”

Hasan as kemudian berkata, “Kalian para penyembah berhala lewat kebodohan dan mengejek Rasulullah Saw. Kalian mengatakan bahwa Muhammad tidak memiliki keturunan dan semua warga Arab sebagai musuhnya. Engkau berkata bahwa bila Muhammad terbunuh dalam kondisi tidak memiliki anak laki-laki, maka tidak ada yang akan menuntut balas atas kematiannya. Itulah mengapa engkau beranggapan bahwa bila berhasil membunuh Muhammad, maka kaum dan kabilahmu akan memujimu. Engkau berada di sini dengan tujuan membunuh Nabi Muhammad, tapi ternyata engkau justru terjebak dalam kesulitan. Dunia menjadi gelap dalam pandanganmu. Engkau begitu ketakutan dan lututmu gemetar. Baiklah. Saya akan menjelaskan tentang perjalananmu hingga sampai ke sini agar semua orang tahu betapa engkau di malam yang gelap begitu kebingungan dan ketakutan di gurun pasir dengan angin topan yang bertiup kencang. Rasa takut sedemikian rupa menjangkitimu sehingga bila engkau berusaha melanjutkan perjalananmu, maka engkau akan tetap di tempat dan bila ingin kembali, maka engkau akan tewas. Engkau tetap dalam kondisi mengerikan di tengah kegelapan malam, sehingga tiba-tiba ketika engkau membuka matamu, ternyata engkau mendapatkan dirimu berada di dekat kami. Pada waktu itulah rasa takutmu hilang dan engkau mulai merasakan aman.”

Mulut pria Arab itu hanya bisa ternganga mendengar penjelasan Hasan as tentang apa yang dialaminya. Ia berkata dengan penuh takjub, “Wahai anak kecil! Bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu? Jangan-jangan engkau memiliki ilmu gaib dan dapat mengatakan apa yang terjadi padaku?”

Setelah menyampaikan keheranannya itu, ia merasa lebih tenang. Ia mulai berpikir sebentara dan kemudian mengatakan, “Bila aku ingin engkau menjelaskan kepadaku tentang Islam, apakah engkau dapat menjelaskannya dengan cara sebaik penjelasanmu semula?”

Hasan as menjelaskan, “Islam adalah engkau mengimani Allah Swt yang tidak memiliki sekutu dan menerima Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.”

Pria Arab itu langsung menerima Islam dan meminta kepada Rasulullah Saw agar mengajarkan beberapa ayat al-Quran kepadanya.

Nabi Saw membacakan beberapa ayat al-Quran kepadanya.

Ia juga meminta izin kepada beliau untuk kembali ke kaumnya dan menjelaskan kejadian pertemuannya dengan Nabi Saw kepada mereka.

Nabi Saw mengizinkannya dan dengan penuh kegembiraan itu mengucapkan selamat berpisah dengan Nabi Saw dan rombongan lalu kembali ke kaumnya.

Tidak berapa lama, ia bersama sejumlah orang anggota kabilahnya mendatangi Nabi Saw dan menyatakan keimanannya.

Setelah kejadian itu, setiap kali mereka melihat Hasan as, mereka berkata, “Allah Swt memberimu maqam yang tidak pernah diberikan kepada orang lain.”

Cara Nabi Saw Mendidik

Rasulullah Saw biasanya bermain dengan dua cucu kesayangannya; Hasan dan Husein as. Beliau begitu menikmati gaya ucapan dan kenakalan mereka.

Hari itu, setelah bermain dengan mereka, tiba-tiba Hasan meminta air dari kakeknya. Beliau kemudian mengiyakan dan bangkit untuk mengambilkan air minum buat cucunya ini. Nabi Saw langsung mencari kambing yang berada di sekitar rumah dan memeras sedikit susunya dan kembali kepada Hasan sambil membawa secawan susu.

Pada waktu itu, cucu paling kecilnya, Husein juga merasa haus. Ia segera mengambil cawan susu dari kakaknya dan ingin minum susu yang ada di dalamnya. Tapi Nabi Saw mengambil kembali cawan itu dari tangan Husein dan memberikannya kepada Hasan.

Sayidah Fathimah Zahra as yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan berkata, “Ayah! Sungguh aneh, engkau mengambil cawan susu dari Husein yang lebih kecil dan memberikannya kepada Hasan?”

Nabi Saw menjawab, “Putriku! Sekalipun Husein lebih kecil dan lebih lemah dari saudaranya, tapi ia harus belajar menghormati hak orang lain. Ia harus tahu bahwa menghormati hak orang lain itu wajib hukumnya.

Rumah Fathimah Az-Zahra as

Imam Ali as ketika menikah dengan Sayidah Fathimah az-Zahra as hanya memiliki sebuah rumah kecil di samping masjid Nabawi. Rumah ini begitu kecil dan sangat sederhana, sehingga tidak cocok untuk melaksanakan prosesi pernikahan. Oleh karenanya, Nabi Muhammad Saw berkata kepada Ali as, “Usahakan sebuah rumah di dekat sini agar aku dapat menyerahkan istrimu kepadamu.”

Imam Ali as berkata, “Ada rumah Haritsah bin Nu’man di dekat sini.”

Nabi Saw berkata, “Saya sudah meminjam beberapa rumah dari Haritsah untuk orang-orang Muhajirin yang tidak punya tempat tinggal. Sekarang saya malu untuk meminjam rumahnya yang lain darinya.”

Haritsah mendengar percakapan ini dan kemudian mendekati Nabi Saw lalu berkata, “Seluruh hartaku milik Allah Swt dan Rasul-Nya.”

Nabi Saw kemudian mendoakannya dan berkata, “Malam ini pinjamkan rumahmu kepada Ali dan Fathimah as.”

Dengan demikian, acara pernikahan berlangsung, sementara Ali dan Fathimah as pergi ke rumah Haritsah. Setelah itu keduanya kembali ke rumah mereka dan memulai kehidupan yang sederhana. Rumah ini terletak di samping masjid Nabawi dan sampai sekarang tempat itu tetap dikenal dengan “Rumah Az-Zahra”.

About admin

Check Also

Nilai-Nilai Pancasila Selaras Dengan Piagam Madinah

Sebagai orang Muslim, saya sangat bangga dengan lahirnya Pancasila. Bagi saya, Pancasila adalah anugerah terbesar ...