Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Ahlus Shuffah, Sufi Generasi Awal

Ahlus Shuffah, Sufi Generasi Awal

Rasulullah SAW berkata, “Kerapkali orang yang berpenampilan kusut, berdebu, berpakaian lusuh dan disepelekan, jika bersumpah dengan nama Allah, niscaya Allah SWT akan mengabulkan. Sekiranya dia berkata, ‘Ya Allah, saya memohon surgamu,’ niscaya Allah SWT akan menganugerahkan surga kepadanya dan tidak memberikan sedikit pun bagian dari dunia.” (HR. Muslim).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : “Penghuni surga semuanya (berasal dari orang yang berpenampilan) kusut, berdebu, berpakaian lusuh dan disepelekan. Merekalah yang jika memohon izin kepada penguasa tidak diberi izin, jika melamar perempuan tidak diterima dan jika berbicara tidak didengar. Kebutuhan mereka hanya terbetik dalam hatinya. Sekiranya cahaya dirinya dibagi (dipancarkan) kepada manusia pada hari kiamat, niscaya akan mengenai mereka semua”. (HR, al-Bukhari dan Ahmad).

Sahabat Abu Hurairah ra. berkata: “Aku pernah melihat tujuh puluh orang diantara ahlus shuffah, tidak seorang pun dari mereka yang memakai kain yang menutupi bahagian atas tubuh mereka, mereka hanya memakai kain atau sarung yang mereka ikatkan ke leher. Diantara kain yang dipakainya itu, ada yang menutupi hanya separuh betis dan ada yang menutupnya sampai kedua matakaki, juga ada diantara mereka yang memegang kain dengan tangannya kerana khuatir nampak terbuka auratnya.” (H.R. Al-Bukhari)

“(Bersedekahlah) untuk orang-orang miskin yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa meraka orang kaya, karena mereka memelihara dirinya dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada manusia dengan cara paksa. Apa saja harta yang baik yang kamu sedekahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (Q.S. Al Baqarah : 273).

Tersebut dalam tafsir Qurthubi, bahwa ayat ini turun pada mulanya untuk mengerahkan orang bersedekah kepada Ahlus Suffah, tetapi kemudian menjadi umum, yakni bersedekah kepada seluruh orang miskin (Tafsir Qurthubi Jilid III halaman 340).

Saya menampilkan hadist dan Ayat Al-Qur’an di awal tulisan ini tidak lain untuk menambah keyakinan kita semua bahwa pemahaman sufi lahir sejak awal munculnya Islam dan mereka generasi sufi pertama langsung dibawah bimbingan Rasulullah SAW. Kehidupan mereka yang sangat sederhana sangat selaras dengan kehidupan Nabi dan juga para sahabat lain di masa itu. Mereka lebih mengutamakan kepentingan agama dari kepentingan pribadinya.

Rasulullah SAW begitu menaruh perhatian kepada para Ahlus Shufah, bahkan anak peremuan Beliau sendiri Fatimah disuruh untuk memberikan sedekah kepada Ahlus Shuffah.

Disamping belajar langsung dari Nabi, mereka juga berfungsi sebagai tentara yang siap dikirim kemana saja dalam membela agama. Ketika pertempuran dan perang berkecamuk dengan silih berganti mereka memimpin pasukan menjadi laskar Islam yang tangguh. Di kala damai mereka sering mendapat tugas dari Rasululah SAW sebagai duta umat ke negeri-negeri yang ditaklukkan pasukan Islam dan sekaligus menjadi da’i yang menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam di sana.

Sebagian mereka yang syahid di Badar, antara lain; Safwan ibn Bayda, Zayd ibn Khattab, Kharim ibn Fatik al-Asadi, Khubayh ibn Yasaf, Salim ibn Umair, dan Haritsah ibn Nu’man al-Ansari.

Yang syahid di Uhud; Hanzhalah al-Ghazil. Syahid dalam Perang Hudaibiyah; Jurhad ibn Khuwa’ad dan Abu Suraybah al-Ghifari. Syahid di Khaibar; Tariq ibn Amr. Syahid di Tabuk; Abd Allah Dzu al-Bijadam. Syahid di Yamamah; Salim dan Zayd ibn al-Khattab. Dengan demikian, mereka menghabiskan malam hari untuk ibadah dan siang hari untuk berperang.

Pendidikan model ahlus Shuffah ini kemudian menjadi contoh bagi generasi selanjutnya, ulama-ulama pewaris Nabi yang mengajarkan umat secara zahir dan bathin sehingga bukan saja jasmani mereka beragama akan tetapi juga rohani mereka.

Sufi Generasi Terakhir

Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup adalah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal dan ikut merasakan bersama orang-orang yang hidup sangat sederhana, tinggal di rumah seadanya dan makan dengan makanan sangat sederhana pula bahkan mereka lebih sering berpuasa dari pada tidak berpuasa dan mereka semua dibimbing oleh Guru Mursyid dalam mencari keridhaan Allah.

Kehidupan yang sangat sederhana dibawah kebutuhan dasar manusia ini bukanlah bersifat selamanya seumur hidup, akan tetapi hanya berlangsung ketika mereka belajar kepada Guru, langsung dibawah bimbingan Guru dalam jumlah waktu tertentu. Ada yang belajar 100 hari, 1 tahun bahkan ada yang 5 tahun.

Mereka yang pernah mendapat bimbingan ini dikemudian hari terjun ke kehidupan dunia dengan berbagaimacam profesi mulai dari Pegawai Negeri, Pedagang, Pengusaha, Guru, Kiayi dan tentu saja mereka tidak akan pernah melupakan bimbingan dasar semasa mereka hidup bersama Guru, kehidupan para sufi yang amat sederhana.

Mereka tentu saja tidak lagi hidup dengan kekurangan, bahkan ada yang telah menjadi pengusaha sukses tapi hati mereka tetap seorang sufi, rajin berdzikir dan taat beribadah dan selalu melaksanakan puasa-puasa sunnah. Amal ibadah mereka disembunyikan dari pandangan umum agar tidak menimbulkan riya’. Dengan system pendidikan hebat ini maka tidak satu pun manusia yang bisa mengetahui yang mana sufi di dunia ini kecuali mereka adalah sufi juga.

Mereka yang pernah menempuh pendidikan ketat dan disiplin tinggi langsung dari Guru Mursyid tentu saja tidak akan pernah melupakan semua ilmu yang diberikan karena ilmu itu bukan diransfer kedalam akal fikiran mereka akan tetapi langsung kedalam rohani yang akan mereka bawa dari dunia sampai ke akhirat kelak.

Sahabat Nabi yang hidup sebagai Ahlus Shufah dalam waktu tertentu juga dikemudian hari hidup mereka tidak lagi persis sama dengan kehidupan semasa mereka dibimbing oleh Nabi dalam hal kesederhanannya. Disaat Islam sudah berkembang, mereka ada yang menjadi Jenderal, Gubernur dan Pengusaha diberbagai negeri. Mereka tentu saja tidak lagi hanya memakan korma kering segenggam yang membuat perut mereka panas seperti semasa mereka bersama Nabi, akan tetapi hati mereka tidak berubah sedikitpun tetap rindu dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kehidupan duniawi mereka sudah lebih nyaman menyesuaikan dengan kondisi lingkungan akan tetapi hari mereka tetap diliputi cahaya yang pancarannya menerangi hati segenap manusia disekitarnya.

Pendidikan model Ahlus Shufah yang diteruskan oleh Guru Mursyid sampai saat ini adalah pendidikan terbaik di dunia karena yang dibimbing adalah jasmani/rohani dan seluruh ilmu yang disampaikan tentu saja berasal dari Rasulullah SAW secara estafet sambung menyambung tidak terputus sedikitpun sehingga setiap amalan yang dikerjakan bisa dipertanggungjawabkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tulisan ini saya tulis sebagai wujud kerinduan kepada sahabat-sahabat saya yang dulu pernah dibimbing langsung oleh Guru dalam kehidupan yang sangat sederhana, dalam kesulitan dan kesusahan, semoga ilmu yang diberikan tetap bisa terjaga dan hati tetap selalu mengingat-Nya setiap saat.

Menutup Tulisan ini saya mengutip hadist yang sering disampaikan oleh Sang Guru, “Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing“. (HR. Muslim)

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, sMoga tulisan ini bermanfaat!

About admin

Check Also

Dosa dan “Sebab – Akibat”

Dalam sudut pandang sebab-akibat, dosa yang digambarkan sebagai bentuk kemahabijakan Allah Swt. dapat dirunut sebagai ...