Sunday , July 21 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Agama Bukan untuk Tuhan

Agama Bukan untuk Tuhan

Selain pandangan kaum ateis yang anti agama, terdapat dua pandangan yang ekstrim tentang kedudukan agama dan manusia. Yaitu pandangan klasik (fundamentalisme) yang menganggap manusia untuk agama; dan pandangan modern (humanisme) yang menganggap agama untuk manusia.

Menurut pemikiran klasik, kedudukan agama lebih tinggi daripada manusia, dan karena itu manusia mengabdikan dirinya untuk agama, bahkan jiwa pun menjadi tidak bernilai dibanding agama, sehingga manusia dengan mudah mengorbankan jiwanya demi agama. Sementara kaum humanisme tidak memandang kedudukan agama lebih tinggi atau lebih rendah dari manusia, tetapi keduanya diposisikan pada fungsi masing-masing. Dalam hal ini, agama dipandang sebagai fasilitas Tuhan untuk manusia dalam rangka mengemban misi kemanusiaannya, yakni sebagai hamba sekaligus khalifah di muka bumi.

Terlepas pro-kontra terhadap kedua pandangan tersebut, kalau boleh membuat analog, agama ibarat buku atau tulisan ini. Orang bebas berpandangan terhadap tulisan ini, menganggap baik atau tidak baik, benar atau tidak benar, bahkan bebas pula digunakan untuk tujuan apa saja. Tetapi bagi orang yang sadar akan fungsi tulisan ini, tentu akan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yakni untuk dibaca dan dipahami sebagai sarana pengembangan ilmu dan amal demi ’kesempurnaan’ hidupnya. Sementara bagi orang yang berniat jahat, mungkin saja dibaca tetapi untuk bahan menghujat. Dan sebaliknya, bagi yang tidak sadar akan fungsi buku atau tulisan, bisa jadi tulisan ini hanya untuk bungkus kacang. Meskipun demikian harus disadari pula bahwa betapa pun baiknya tulisan ini tidak akan bisa memaksa orang untuk mengakui, apalagi memaksa orang untuk menggunakannya sebagaimana maksud sang penulisnya. Itulah buku atau tulisan yang perannya sebatas obyek, dan selebihnya hanya sebagai perantara dalam membantu tugas manusia untuk merealisasikan tujuan mulianya.

Demikian halnya dengan agama, maka manusialah yang menjadi subyek, bukan agama itu sendiri, dan bukan pula Tuhan Sang Pencipta agama itu. Karenanya agama tidak berkewajiban untuk mengagamakan manusia. Tetapi justru untuk apa dan diapakan agama itu terserah pada manusia. Sebab, manusia pula yang menuai untung atau rugi, yang luhur atau hancur, yang selamat atau sesat, yang bahagia atau sengsara. Bahkan kalau pun seluruh manusia berduyun-duyun meninggalkannya, agama tetap tenang-tenang saja dan tidak akan merugi. Sedang Tuhan, sang Pencipta agama itu, mungkin hanya ’merasa kesal’ melihat hamba-Nya yang tidak tahu diuntung itu.

Jika persepsi terhadap agama demikian itu, maka akal sehat mengatakan, bagaimana mungkin kehadiran agama menyebabkan manusia berkorban untuknya. Kalau pun ditetapkan bahwa manusia dikorbankan untuk agama, sehingga ia dengan sia-sia menghancurkan dirinya atas nama agama, berarti agama itu tidak berperan sebagaimana fungsinya dan menyimpang dari tujuan penciptaannya. Kalau demikian, seharusnya agama semacam ini tidak dihadirkan dan tidak pula dianut sebagai tuntunan hidup.

Adapun konsep ”kesyahidan” dalam agama Islam harus dipahami secara holistik, bahwa pengorbanan harta dan jiwa di jalan agama tidak semata-mata didasarkan pada prinsip kebenaran, apalagi mati syahid sebagai tujuan, melainkan prinsip kebenaran itu harus selalu beriringan dengan prinsip kemaslahatan; bahkan dalam hal ini kemaslahatan lebih utama dan harus diperioritaskan daripada kebenaran. Ini artinya bahwa Islam tidak menghendaki kesia-siaan apalagi mati ’konyol’ atas nama agama. Bahkan Islam membolehkan murtad (lahiriyah) demi keselamatan (baca: kemaslahatan) jiwanya. Atas dasar pemikiran ini, maka kesyahidan bukanlah tujuan dari pengorbanan, tetapi semata-mata sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya demi kemaslahatan.

Al-Qur’an telah menganalogikan agama ini dengan tali Allah, dan diserukan-Nya bagi seluruh umat manusia untuk senantiasa berpegang teguh padanya, karena hanya dengan ’tali’ itulah yang dapat mengantar umat manusia sampai ke puncak keselamatan dan kemaslahatan yang hakiki. Allah Swt. berfirman:

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, …” (Qs. Ali Imran 103).

Menurut Ibnu Kasir, yang dimaksud dengan ”hablillah” (tali Allah) ialah al Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Murdawaih yang meriwayatkan dari jalur Ibrahim ibnu Muslim al Hijri, dari Abu Ahwas, dari Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: ”Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah tali Allah yang kuat. Dia adalah cahaya yang jelas, dia adalah penawar yang bermanfaat, perlindungan bagi orang yang berpegang kepadanya, dan keselamatan bagi orang yang mengikuti (petunjuk)-nya.

Hadits ini akan lebih jelas dan mudah dipahami dengan analog, bahwa al-Qur’an (agama) dalam hal ini adalah ibarat tali yang biasa digunakan oleh para pendaki gunung. Dengan bantuan tali yang kuat, meski gunung yang didaki nyaris berbentuk tegak lurus pun para pendaki mampu mendakinya sampai ke puncak. Dan dengan tali ini pula para pendaki menggantungkan keamanan dan keselamatan dirinya. Mereka menyadari betapa urgen tali ini, sehingga tidak satupun pendaki, bahkan yang merasa terhebat sekalipun, yang tidak berpegang teguh pada tali, kecuali mereka yang menghendaki kesia-siaan, terjatuh ke dasar lembah.

Dengan analog tersebut semakin jelas bahwa agama untuk manusia, dan sekali-kali bukan untuk Tuhan meski Dialah Sang Pencipta agama itu. Indikasinya pun sudah sangat jelas, bahwa di dalam agama, khususnya agama Islam, justru yang banyak adalah dimensi kemanusiaan, atau lebih tepatnya sebagaimana yang diistilahkan oleh Muhammad Imarah, bahwa al Islâm ilâhiyu al Mashdar insâniyu al maudlû’, Islam adalah agama yang bersumber dari Tuhan namun berobjekkan manusia. Ini berarti bahwa Islam adalah agama yang antroposentris dan bukan teosentris.

Oleh karena itu agama Islam menganut prinsip kebebasan dalam beragama. Ini secara tegas dinyatakan oleh al-Qur’an,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan dalam beragama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Qs. Al-Baqarah 256).

Tentang ayat ini, Ibnu Kasir mengatakan dalam tafsirnya, janganlah kalian memaksa seseorang untuk masuk agama Islam, karena sesungguhnya agama Islam itu sudah jelas, terang, dan gamblang dalil-dalil dan bukti-buktinya. Untuk itu, tidak perlu memaksakan seseorang agar memeluknya. Bahkan Allah-lah yang memberinya hidayah untuk masuk Islam, melapangkan dadanya, dan menerangi hatinya hingga ia masuk Islam dengan suka rela dan penuh kesadaran. Barangsiapa yang hatinya dibutakan oleh Allah, pendengaran dan pandangannya dikunci mati oleh-Nya, sesungguhnya tidak ada gunanya bila mendesaknya untuk masuk Islam secara paksa.

Dalam Tafsir al Mizân, Allamah Tabatabai memberi komentar bahwa ”tidak ada paksaan dalam beragama” berarti meniadakan dan tidak menyetujui adanya paksaan dan pemaksaan dalam beragama. Karena agama adalah seperangkat kebenaran yang diyakini dalam hati, dan agama berkaitan dengan masalah kepercayaan dan keimanan. Ini artinya, agama adalah masalah hati nurani, dan hal semacam ini tidak bisa diciptakan dengan cara paksaan dan pemaksaan. Selain itu, ayat ini mungkin diperlakukan sebagai informasi di samping sebagai perundang-undangan. Jika informasi tentang ketetapan ini dimaknai secara kreatif akan memunculkan sebuah tatanan Tuhan bahwa paksaan tidak boleh digunakan dalam hal keyakinan dan keimanan. Sebab, kalimat berikutnya, “jalan kebenaran lebih jelas daripada jalan kesesatan”, memberikan alasan untuk larangan itu. Lagi pula, larangan ini didasarkan pada faktor kreasi, fakta membuktikan bahwa paksaan hanya dapat mempengaruhi tindakan luar (fisik), tetapi tidak bisa mempengaruhi hal-hal yang berkaitan dengan hati dan hati nurani.

Para ahli tafsir menginformasikan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tradisi masyarakat Madinah, sekalipun hukum yang terkandung di dalamnya bersifat umum. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yasar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Syu’bah dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang wanita yang selalu mengalami kematian anaknya, maka ia bersumpah kepada dirinya sendiri, ”Jika anakku hidup kelak, aku akan menjadikannya seorang Yahudi”. Ketika Bani Nadir diusir dari Madinah, di antara mereka ada anak-anak dari kalangan Anshar. Lalu mereka berkata, “Kami tidak akan menyeru anak-anak kami (untuk masuk Islam).” Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (Tafsir Ibnu Kasir).

Dalam hadits lain, Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad al Jarasyi, dari Zaid ibnu Sabit, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan: ”Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang laki-laki Anshar dari kalangan Bani Salim ibnu Auf yang dikenal dengan panggilan al Husaini. Dia mempunyai dua orang anak laki-laki yang memeluk agama Nasrani, sedangkan dia sendiri adalah seorang muslim. Maka ia bertanya kepada Nabi Saw., ”Bolehkah aku memaksa keduanya (untuk masuk Islam)? Karena sesungguhnya keduanya telah membangkang dan tidak mau kecuali hanya agama Nasrani.” Maka Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut (Tafsir Ibnu Kasir).

Hadits ini menegaskan bahwa sekalipun pemaksaan itu dari orang tuanya sendiri, al-Qur’an tetap menolak pemaksaan agama. Karena, iman bukan sekadar kalimat yang diucapkan secara lisan atau gerakan dalam upacara keagamaan yang dilaksanakaan oleh anggota tubuh semata-mata, tetapi pokok iman adalah pengakuan hati, kepatuhan serta penyerahan sepenuhnya. Dengan demikian tidak dibolehkannya memaksakan suatu agama adalah karena manusia dianggap sudah mampu dan harus diberi kebebasan untuk memilih sendiri mana yang benar dan mana yang salah.

Lagi pula, manusia sudah dilengkapi pula dengan piranti yang lengkap (hati dan akal) sehingga Tuhan mengakui hak manusia untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Namun, tentu saja, resiko pilihan adalah tanggungjawab sepenuhnya pada manusia itu sendiri. Sebab, manusia beragama ataupun tidak beragama, memeluk agama Islam ataupun selain Islam, beribadah ataupun tidak beribadah kepada-Nya tidaklah akan menambah ataupun mengurangi keagungan-Nya. Dia telah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

”Wahai seluruh manusia engkaulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs. Fathir 15).

Dengan demikian jika direnungkan secara mendalam justru keberadaan agama (Islam) yang diciptaka-Nya itu menunjukkan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tuhan terhadap hamba-Nya, sehingga dengan beragama Islam itu manusia menyadari kedudukannya sebagai hamba yang selayaknya mengabdikan diri kepada ’majikan’-nya Yang Maha Pencipta, serta menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana tujuan penciptannya. *** Wallahu a’lam bish-shawaab.

Oleh : H. Asmuni syukir

Jombang, 30 Desember 2012, Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam

About admin

Check Also

Rumi: Mana yang Lebih Mulia?

SETIAP bangunan suci pasti didirikan dengan suatu tujuan tertentu. Sebagian dibuat untuk menampilkan kepemurahan pembangunnya. ...