Wednesday , August 22 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Agama Bersaksi Tentang Cinta

Agama Bersaksi Tentang Cinta

Semua orang sepakat, cinta kepada Allah dan Rasulullah itu wajib bagi setiap insan. Bagaimana mungkin akan diwajibkan kalau pada kenyataannya cinta itu bukan sesuatu yang memang ada? Bagaimana mungkin cinta ditafsirkan sebagai ketaatan, padahal ketaatan hanyalah buah dari cinta? Ingat, tak ada ketaatan tanpa cinta. Awalnya cinta, baru kemudian diikuti ketaatan dan kepatuhan pada yang dicintai.

Allah berfirman, “(Allah) mencintai mereka, sedangkan mereka mencintaiNya.” (QS. Al Ma’idah : 54). “Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah : 165). Dua ayat ini secara gamblang mengakui bahwa cinta merupakan sesuatu yang memang ada dan terbangun. Bahkan, Rasulullah SAW menjadikan cinta kepada Allah sebagai bagian dari syarat keimanan. Hal ini dinyatakan dalam banyak hadist, antara lain ketika Abu Ruzayn al-Uqayli bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah iman itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iman itu mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun.” (WR. Ahmad).

Dalam hadist lain disebutkan, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman dengan sempurna sampai Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada apapun.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadist yang lain menyebutkan, “Seseorang belum dianggap beriman sampai aku lebih dicintai jauh melebihi cintanya kepada keluarga, harta, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam riwayat disebutkan “… jauh melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.

Perhatikan juga firman Allah, “Katakanlah, Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara.” (QS . At Taubah : 24). Ayat ini menyatakan ancaman sekaligus pengingkaran (terhadap mereka yang tidak mencintai Allah).

Rasulullah SAW juga memerintahkan kita agar mencintai Allah SWT, “Cintailah Allah, karena Dia telah melimpahkan nikmat kepadamu. Dan, cintailah aku, karena Allah mencintaiku.” (HR. Tarmidzi).

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah! Sungguh aku mencintaimu.” Beliau berkata, “Bersiaplah untuk fakir!” Lelaki itu berkata lagi, “Akupun sungguh-sungguh mencintai Allah.” Beliau berkata, “Bersiaplah untuk menerima cobaan!” (HR. Tarmidzi).

Umar bertutur, “Rasulullah SAW menatap lekat-lekat wajah Mush’ab ibn Umar. Ia tengah memakai kulit domba sebagai penutup tubuhnya. Lalu beliau bersabda, “Coba perhatikan lelaki ini! Lelaki yang hatinya telah dilimpahi cahaya oleh Allah SWT. Saya lihat dia dibesarkan oleh ibu-bapaknya dengan makanan dan minuman yang serba lezat. Namun, cintanya kepada Allah dan RasulNya telah membuat dia seperti yang kalian lihat sekarang ini.” (HR. Abu Nu.aim)

Dalam sebuah hadist terkenal disebutkan, ketika malaikat kematian datang hendak mencabut nyawa Ibrahim AS, beliau bertanya pada malaikat ini, “Pernahkah kamu dapati seorang kekasih ingin membunuh kekasihnya?” Atas pertanyaan Ibrahim, Allah kemudian menurunkan wahyu, “Pernahkah kamu dapati seorang pencinta yang tak ingin berjumpa dengan kekasihnya?” Ibrahim AS pun berkata, “Wahai, Malaikat Kematian, sekarang cabutlah nyawaku.!”.

Pengalaman Nabi Ibrahim di atas hanya mungkin terjadi pada hamba yang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Ketika ia mengetahui bahwa kematian menjadi jembatan menuju perjumpaan dengan Sang Kekasih, hatinya jadi dirundung gelisah, Ia sadar, hanya Allahlah Sang Kekasih. Tak ada yang lain. Ia pun langsung berpaling dari selain Allah SWT.

Salah satu doa Nabi SAW berbunyi, “Ya Allah! Jadikanlah aku orang yang mencintaiMu, mencintai orang yang mencintaiMu, dan mencintai segala sesuatu yang dapat mendekatkan cintaku kepadaMu. Dan, jadikanlah cintaku kepadaMu melebihi air sejuk sekalipun.

Suatu hari orang Badui datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Kapan Hari Kiamat. wahai Rasulullah?” Beliau balik bertanya, “Apa persiapanmu untuk menghadapinya?” Ia menjawab, “Persiapanku bukan shalat dan bukan puasa sebanyak-banyaknya. Hanya satu yang aku siapkan: aku sungguh-sungguh mencintai Allah dan RasulNya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Setiap orang akan berkumpul bersama orang yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Anas berkomentar mengenai hadist ini, “Belum pernah aku melihat kaum muslim merasa bangga dengan apapun selain Islam dan sabda beliau ini.”

Abu Bakr al-Shiddiq ra menuturkan, “Orang yang sudah merasakan nikmatnya mencintai Allah secara tulus akan senantiasa sibuk dengan cintanya itu, sehingga tidak ada kesempatan sedikitpun untuk berurusan dengan dunia. Ia pun akan menghindar dari hiruk pikuk kehidupan manusia.

Al Hasan berkata, “Orang yang mengenal Tuhannya pasti akan mencintaiNya. Orang yang mengenal dunia pasti akan zuhud darinya. Orang mukmin tidak akan bermain-main kecuali dalam keadaan lupa. Ketika sudah ingat dan merenungkan apa yang ia perbuat, ia pasti akan merasa sedih dan menyesal tak terkira.

Abu Sulayman al-Darani bertutur, “Ada sebagian makhluk Allah yang tidak tergiur terhadap surga berikut segala kenikmatannya. Lalu, bagaimana mungkin ia dapat tergiur terhadap dunia?

Ketika berjalan-jalan, Nabi Isa AS berjumpa dengan tiga kelompok orang kurus dengan wajah pucat pasi. Kepada kelompok pertama, bertanya, “Apa yang membuat kalian jadi begini?” Mereka menjawab, “Kami takut neraka.” Lalu beliau berkata, “Kalau begitu, mudah-mudahan Allah akan menyelamatkan orang yang takut nereka.” Ketika melewati kelompok kerdua, beliau melihat mereka lebih kurus dan lebih pucat lagi. Beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian jadi begini?” Mereka menjawab, Kami merindukan surga.” Lalu beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah akan menganugerahkan apa yang kalian harapkan.” Begitu melewati kelompok ketiga, beliau melihat jauh lebih kurus dan jauh lebih pucat lagi. Namun, wajah mereka seolah cermin yang memantulkan cahaya. Nabi Isa AS bertanya. “Apa yang membuat kalian jadi begini?” Mereka menjawab, “Kami semua mencintai Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia.” Lalu beliau berkata, “Kalianlah muqarrabin (orang yang dekat dengan Allah SWT)… kalianlah muqarrabin… kalianlah muqarrabin…”

Abd al-Wahid ibn Zayd bercerita, “Suatu kali aku bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berdiri diatas salju. Aku bertanya, ‘Apa kamu tidak merasa dingin?’ Dia menjawab, ‘Orang yang sibuk dengan cinta kepada Allah tidak akan merasakan dingin sedikitpun..

Sarri al-Saqathi berkata, “Pada Hari Kiamat nanti setiap umat akan dipanggil sesuai dengan nama nabi masing-masing. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai umat Musa!’ ‘Wahai Umat Isa!’ ‘Wahai umat Muhammad!’ Namun, tidak demikian halnya dengan mereka yang mencintai Allah. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai kekasih-kekasih Allah, kemarilah ke sisiKu!’ Hampir copot hati mereka karena saking bahagianya mendengar panggilan itu.

Menurut Harm ibn Hayyan, “Ketika seorang mukmin sudah mengenal Tuhannya Yang Maha Agung dan Maha Mulia, ia pasti akan mencintaiNya. Setelah mencintaiNya, ia pasti akan menghampiriNya. Kala mencicipi manisnya dekat denganNya, ia pasti tidak akan memandang dunia dengan tatapan mata nafsu. Demikian juga ia tidak akan memandang akhirat dengan tatapan mata sayu. Di dunia, menghadap Allah membuatnya begitu lelah. Namun, di akhirat, hal itu membuatnya lega dan nikmat.

Yahya ibn Mu’adz bertutur, “Ampunan Allah mampu menenggelamkan semesta dosa. Bagaimana dengan RidhaNya? Ridha Allah mampu menenggelamkan berjuta harapan. Bagaimana dengan cintaNya? Cinta Allah mampu membuat akal tertegun. Bagaimana dengan cinta kasihNya (wudd)? Cinta kasih Allah mampu melupakan apapun selain Dia. Bagaimana dengan kelembutanNya?

Dalam sebagian kitab Allah disebutkan, “Wahai hambaku, demi hakmu, Aku mencintaimu. Dan, demi hakKu padamu, hendaklah kau mencintaiKu.

Yahya ibn Mu’adz juga menuturkan, “Cinta seberat biji sawi lebih Aku cintai dibandingkan ibadah tujuh puluh tahun tanpa cinta.

Katanya lagi, “Tuhanku, aku luluh (fana’) dalam diriMu. Aku sibuk menyanjungMu. Waktu masih kecil, Engkau rengkuh aku ke pangkuanMu. Engkau beri aku pakaian ma’rifat. Engkau kukuhkan aku dengan kelembutanMu. Engkau pindahkan aku dari situasi ke situasi yang lain. Engkau jadikan aku menapaki berbagai tahapan amal” dari tak tahu apa-apa, kemudian bertobat, zuhud, rindu. ridha, sampai pada tahapan cinta. Engkau beri aku minum dari air kolamMu. Engkau ringankan aku dalam melakukan disiplin ibadah (riyadhah) kepadaMu, melaksanakan perintahMu, dan terbuai dengan firman-firmanMu. Kini aku sudah besar. Sudah tumbuh kumis dan jambang. Sudah tampak otot dan oragan-organ di badan. Bagaimana mungkin aku berpaling dariMu? Bukankah ini semua Engkau yang menyiapkan, sejak aku kecil hingga besar sekarang ini? Bagiku, saat ini tidak tersisa lagi senandung untukMu dan tidak tersisa lagi suara utnuk memohon padaMu, sebab aku sungguh-sungguh mencintaiMu. Setiap orang yang jatuh cinta akan senantiasa terbuai pesona terhadap kekasihnya dan berpaling muka dari yang selainnya!

Banyak sekali hadist dan tradisi ulama terdahulu yang berbicara tentang cinta kepada Allah ini. Tidak mungkin semua dapat tertampung di sini. Yang pasti, masalah ini sudah demikian jelas. Hanya makna sejatinya masih belum begitu benderang, masih perlu diuraikan.

al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha (Imam al-Ghazali)

About admin

Check Also

Sufisme dan Islam Nusantara

Karakter khas manusia Nusantara adalah mampu mengolah nilai-nilai dan sistem kebudayaan luar wilayahnya menjadi bagian ...