Wednesday , November 21 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Aba Abdillah, Kuniyah Imam Husein as

Imam Husein as memiliki banyak julukan seperti Sayid al-Syuhada (penghulu para syahid), Sayid Syabaab Ahli al-Jannah (penghulu pemuda surga), Mazhluum (dizalimi), Maqtuul (terbunuh), Atsyaan (haus) dan masih banyak lagi lainnya. Tapi di balik julukan seperti itu, di Arab ada julukan lain yang disebut Kuniyah, dimana penggunaan kata  Abu dan Ibn untuk laki-laki dan Ummu dan Bint untuk perempuan. Salah satu kuniyah Imam Husein as adalah Aba Abdillah (terkadang disebut Abi Abdillah atau Abu Abdillah). Julukan dengan kuniyah pada intinya digunakan ketika seseorang tidak ingin menyebut nama orang yang diajak berbicara. Penggunaan kuniyah dalam bahasa Arab lebih menekankan pada budaya menghormati orang yang diajak berbicara.

Aba Abdillah, Kuniyah Imam Husein as

Itulah mengapa Imam Ridha as dalam hadisnya mengatakan, “Apabila engkau berbicara dengan seseorang sementara ia berada di hadapanmu, maka gunakanlah (nama) julukannya. Sementara, jika engkau berbicara dengan seseorang yang tidak ada di hadapanmu, maka sebutlah ia dengan nama (asli)nya.”

Banyak hadis mengisyaratkan bahwa kuniyah Abu Abdillah-nya Imam Husein as disandarkan kepadanya sejak masih kanak-kanak. Asma binti Umais meriwayatkan bahwa ketika Imam Husein as dilahirkan, Nabi Saw mengambilnya dari pangkuannya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah! Engkau begitu berharga bagiku.”

Usai berkata demikian, beliau mulai menangis. Asma meriwayatkan, “Aku berkata, “Wahai Nabi, mengapa Anda menangis seperti ini pada hari penuh harapan?”

Nabi Saw menjawab, “Aku menangis karena putraku ini, yang akan dibunuh oleh sekelompok pemberontak dari Bani Umayah.” (Biharul Anwar, juz.43, Bab 11, Uyunul Akhbar ar-Ridha dan Manaqib Ibnu Syahr Asyub)

Dalam buku Kamil al-Ziayarat Imam Shadiq as berkata, “Kepada Imam Husein as, Imam Ali as berkata, “Wahai Aba Abdillah! Sejak dahulu engkau adalah teladan manusia.”

Imam Husein as bertanya, “Aku sebagai tebusanmu, bagaimana dengan keadaanku?”

Imam Ali as berkata, “Engkau mengetahui apa yang tidak mereka ketahui dan seorang alim dengan segera akan memanfaatkan ilmunya. Wahai anakku, dengar dan lihat apa yang akan terjadi denganmu. Demi Allah, Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Bani Umayyah akan mengucurkan darahmu, tapi mereka tidak dapat menyimpangkanmu dari agamamu dan melupakanmu akan Tuhanmu.”

Imam Husein as berkata, “Demi Allah, Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Cukup buatku mengakui apa yang diturunkan Allah Swt, membenarkan ucapan Nabi Allah dan tidak mendustakan perkataan ayahku.”

Dalam riwayat lain Ibnu Abbas berkata, “Ketika itu aku bersama Imam Ali as dalam perang Shiffin dan tengah melewati daerah Nainawa. Beliau lalu berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, apakah engkau tahu tempat apa ini?”

Aku menjawab, “Tidak, aku tidak tahu.”

 Imam Ali as kemudian berkata, “Bila engkau mengenal tempat ini seperti aku, maka sudah pasti engkau akan menangis seperti aku saat melewati tempat ini.”

Setelah itu beliau mulai menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya dan turun hingga ke dadanya. Kami akhirnya menangis seperti Imam Ali as. Begitu hebatnya tangisan Imam Ali as, sehingga beliau turun dari tunggangannya dan pingsan setelah itu tidak lama beliau kembali siuman.

Mencermati hadis-hadis yang menjelaskan kuniyah Aba Abdillah telah disandang Imam Husein as sejak kecil dan diberikan untuk pertama kalinya oleh Rasululla Saw, maka muncul pertanyaan, apa hikmah dan rahasia di balik julukan Imam Husein as sebagai “ayah hamba Allah”?

Ada beberapa jawaban mengenai julukan Aba Abdillah untuk Imam Husein as.

Pertama, sebagaimana diketahui Abdullah dalam bahasa Arab berarti hamba Allah. Perbedaan nama Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim dan lain-lain bila dibandingkan dengan Abdullah kembali pada nama Allah. Karena Allah adalah nama sempurna dan mutlak bagi Tuhan Pencipta alam semesta yang mengandung seluruh nama-nama yang lain. Dengan demikian, kuniyah Abdullah atau hamba Allah diberikan kepada seseorang yang menjadi manifestasi sempurna seluruh nama-nama Allah. Bahkan derajat paling tinggi bagi manusia adalah maqam Abdullah (hamba Allah). Seseorang disebut hamba Allah dengan melihat puncak keikhlasan dalam menyembah Allah Swt.

Itulah mengapa salah satu nama yang diberikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam al-Quran adalah Abdullah. Dalam surat al-Jin ayat 19 Allah Swt berfirman, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Dalam ayat ke-30 surat Maryam, Allah Swt menyebut Nabi Isa as dengan sebutan Abdullah. Allah berfirman, “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

Imam Husein as disebut Aba Abdillah (ayah hamba Allah) karena kesempurnaan yang dimilikinya. Kesempurnaan inilah yang membuat Allah menjadikan beliau sebagai satu dari manusia pilihan Allah yang terjaga dari dosa dan kesalahan. Kesempurnaan itu pula yang ditunjukkan beliau dalam peristiwa Karbala. Saat tinggal seorang diripun, beliau tidak pernah lupa mengingatkan mereka yang ingin membunuhnya akan jalan kesempurnaan, jalan tauhid.

Kedua, Imam Husein as layak diberi julukan ayah seluruh hamba Allah di muka bumi. Karena tanpa kebangkitan yang dilakukannya di Karbala dan pengorbanan yang dilakukannya bersama para sahabatnya, maka tidak akan ada lagi tanda-tanda tauhid dan penyembahan kepada Allah di muka bumi. Bila Imam Husein as tidak bangkit menentang Dinasti Umayyah yang despotik dan Yazid bin Muawiyah yang mewakili front kekufuran, maka tidak ada lagi orang yang akan menyembah Allah dan mengesakan-Nya.

Imam Husein as melihat bila ia tidak bangkit melawan rencana Bani Umayyah menyimpangkan Islam, maka fondasi Islam akan tercerabut dan yang tinggal hanya Islam lahiriah. Kebangkitan beliau yang ditunjukkan dalam aksi heroik di Karbala membuat Islam yang disebarkan kakeknya, Nabi Muhammad Saw dapat bertahan dan bahkan semakin menyebar luas. Itulah mengapa dikatakan bahwa Nabi Muhammad Saw yang membawa Islam untuk umat manusia, tapi Imam Husein as yang membuatnya tetap kekal hingga Hari Kiamat. Kekalnya Islam hingga hari itu berutang pada pengorbanan Imam Husein as. Maka julukan beliau sebagai Aba Abdillah bukan mengada-ada, tapi kembali pada hakikat perjuangan beliau dalam melawan konspirasi yang ingin menyimpangkan Islam sehingga yang tinggal hanya lahiriahnya.

Ketiga, Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadisnya menyebut “Husein Minni wa Ana min Husein” yang artinya Husein berasal dariku dan aku dari Husein. Hadis terkenal ini jelas memiliki multi tafsir. Salah satu tafsirnya kembali pada penyebutan Rasulullah Saw sebagai Abdullah dalam al-Quran. Karena Nabi mendapat gelar tertinggi di hadapan Allah sebagai hamba Allah, maka Imam Husein as juga mendapat gelar yang sama. Bedanya, Imam Husein as disebut ayah hamba Allah, karena dalam hadis-hadis yang lain disebutkan bahwa jalan termudah untuk mengenal Allah dan menjadi hamba Allah adalah jalan Imam Husein as.

Kebangkitan Imam Husein as di Karbala telah menjadi teladan sepanjang masa mengenai perjuangan membela Islam, sekalipun dengan mengorbankan diri sendiri, keluarga dan sahabat. Sisi emosional yang tersimpan dalam peristiwa Karbala dapat dengan mudah membakar rasa cinta manusia akan kebenaran. Kemazluman dan ketertindasan Imam Husein as dalam peristiwa Karbala mampu melumerkan kebekuan hati setiap manusia.

Kekhususan peristiwa Karbala ini yang membuat beliau diberi kuniyah Aba Abdillah atau ayah hamba Allah. (IRIB Indonesia)

 

About admin

Check Also

Kaum Demagog dan Tanda Zaman

Siapakah penulis andal, pembentuk opini, penuntun masyarakat, para pembawa jalan kebenaran dalam dunia yang kita ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *