Sunday , September 20 2020
Home / Relaksasi / Renungan / 9 Dey, Bukti Kepatuhan Rakyat Terhadap Revolusi Islam

Dalam perjalanan sejarahnya sebuah Revolusi pasti menghadapi pasang surut. Terkadang Revolusi berjalan cepat menuju cita-cita yang diperjuangkan dan terkadang juga terjadi penyelewengan sehingga tujuan utama perjuangan rakyat terancam. Revolusi Islam Iran dalam hal ini juga tidak terkecuali. Sejak kemenangannya pada tahun 1979, Revolusi Islam kerap menghadapi berbagai peristiwa dan sesekali kendala yang dihadapinya sangat berat. Namun yang membuat para pengamat takjub adalah kekokohan dan bertahannya Revolusi ini setelah berjalan selama tiga dekade. Kini Republik Islam Iran termasuk pemerintahan yang paling solid, kuat dan kokoh di Dunia.

9 Dey, Bukti Kepatuhan Rakyat Terhadap Revolusi Islam

Peristiwa terbaru yang menjadi ujian bagi Revolusi Islam adalah insiden yang terjadi pasca pilpres kesepuluh pada tahun 2009. Sekelompok orang yang menganggap dirugikan dalam pilpres malah melakukan tindakan arogan dan bukannya menempuh jalur hukum untuk mengemukakan protesnya atas hasil pemilu. Di sisi lain, meski para pejabat memberikan arahan dan penjelasan namun kelompok yang telah gelap mata ini terus saja mengobarkan kerusuhan sehingga mengancam pemerintah. Bersamaan dengan aksi ini muncul ancaman lain yang sangat serius mengancam keamanan nasional Iran. Pihak asing kala ini semakin gencar mempersoalkan program nuklir damai Iran.

Sangat jelas bahwa sebuah pemerintahan akan sangat rentan terhadap ancaman asing ketika ia menghadapi krisis internal dan konspirasi luar sehingga dukungan rakyat terhadapnya pun kian lemah. Ketika itu, musuh asing mendapat peluang untuk melakukan serangan telak ke pemerintahan tersebut. Pergolakan politik di Iran pasca pilpres 2009 membuat kebenaran dan kebatilan sulit ditentukan. Kubu oposisi dan anti pemerintah bukan hanya memprotes mekanisme pemilu. Namun mereka dengan dukungan asing mengagendakan upaya untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, Rahbar serta Velayat-e Faqih. Hal ini diperjelas dengan kehadiran anasir perusak di jalan-jalan yang melecehkan nilai-nilai agama.

Sementara itu, melihat kondisi ini dukungan rakyat terhadap kubu oposisi semakin lemah. Karena rakyat menyaksikan bahwa para pendukung kubu ini tak lebih hanya para kriminal dan anasir perusak yang melecehkan agama. Khususnya sikap mereka saat melecehkan peringatan Asyura di tahun 2009 sehingga kedok mereka yang anti agama kian terbuka. Saat itulah rakyat mulai menyadari bahwa perisitiwa bukan sekedar protes atas siapa yang berhak menjadi presiden, namun lebih dari itu merupakan upaya untuk merusak pemerintahan Islam.

Ketika menyadari hal ini, rakyat langsung turun ke medan untuk membela Islam, negara dan nilai-nilai Revolusi Islam. Rakyat meyakini bahwa sikap mereka tersebut termasuk kewajiban syar’inya. Oleh karenanya kita saksikan saat itu partisipasi luas rakyat turun ke jalan-jalan bukan atas ajakan satu partai atau lembaga tertentu, namun merupakan gerakan spontan untuk menunjukkan pembelaan mereka terhadap negara. Jutaan rakyat berdemo di jalan-jalan menyuarakan dukungannya terhadap pemerintah dan Revolusi Islam serta terbentuklan semangat 9 Dey.

Tak boleh dilupakan bahwa arahan dan kepemimpinan Rahbar, Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam menyikapi konspirasi musuh sangat berperan di peristiwa 9 Dey ini. Velayat-e Faqih atau Rahbar yang adil dan bertakwa merupakan inti dari Revolusi Islam dan anasir penting. Sejak awal revolusi, Rahbar dengan kewaspadaan dan kecermatannya menjadi penjamin dan penjaga keberlangsungan pemerintah serta pencegah krisis internal dan serangan asing.

Di peristiwa pasca pilpres 2009, Rahbar juga terlibat langsung dan dengan arahannya beliau membongkar strategi terpendam musuh kepada rakyat. Beliau dengan jelas menunjukkan jalan yang benar dan keliru. Saat itu, musuh berusaha melemahkan peran Rahbar dalam mengatasi krisis dan memilih melakukan tindakan arogan serta kerusuhan untuk mensukseskan ambisinya. Adapun musuh tidak menyadari bahwa Rahbar mendapat tempat yang luas di hati rakyat dan kepercayaan mereka terhadapnya pun sangat kokoh, sehingga upaya musuh dapat dipatahkan. Selain itu, Republik Islam Iran adalah sebuah pemerintahan yang demokratis dan peran rakyat di pemerintahan tidak dapat dihapus.

Partisipasi dan keikutsertaan rakyat bukan berarti intervensi mereka di urusan negara dan memimpin warga termasuk nilai yang sangat tinggi dalam komunitas manusia. Partisipasi yang sadar dan dibarengi dengan rasa ikut bertanggung jawab dari setiap individu masyarakat akan mengokohkan sebuah bangsa. Partisipasi rakyat merupakan asas terpenting sebuah pemerintahan Islam. Pemerintahan seperti ini berdiri atas dukungan rakyat dan tanpanya negara tidak mungkin terbentuk. Sejatinya pemerintahan Tuhan dan agama akan terbentuk ketika rakyat juga menginginkannya. Contohnya adalah Republik Islam Iran, saat diadakan referendum tahun 1979, sekitar 98 persen rakyat menghendaki pemerintahan Islam.

Peristiwa besar 9 Dey 1388 (30 Desember 2009) ketika jutaan rakyat Iran mengikrarkan kembali kepatuhan mereka terhadap Rahbar, pemerintah dan Revolusi Islam merupakan saat-saat terindah yang menunjukkan kesadaran beragama bangsa Iran. Hal ini mengindikasikan bahwa negara yang diatur menurut ajaran agama akan senantiasan mengikutsertakan rakyat. Peran besar rakyat juga dapat disaksikan ketika mereka dengan antusias mengikuti setiap pemilu pasca kemenangan Revolusi Islam. Di pilpres 2009, tercatat 85 persen mereka yang berhak memilih ikut dalam pemilu. Ini merupakan bukti lain dari dukungan rakyat terhadap Republik Islam Iran. Oleh karena itu, salah besar pendapat yang menuding bahwa Republik Islam Iran bersandar pada kekuatan arogan dan tanpa memperhatikan keinginan rakyat untuk menentukan nasib bangsanya sendiri.

Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan, partisipasi rakyat yang luas dan besar pada 9 Dey  adalah manifestasi dari peran aktif rakyat dalam berbangsa dan bernegara. Menurut beliau, identitas dan esensi revolusi Islam dalam bentuk spirit religiusitas mendominasi jiwa rakyat Rakyat. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai peristiwa 9 Dey bukan momentum kecil, tapi sebuah gerakan besar rakyat yang akan terus hidup dan abadi di bawah naungan agama dan terwujudnya janji-janji Ilahi. Sebab, hanya dengan iman, Anda akan menang dalam kondisi apapun tanpa mengenal kata kalah.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut peristiwa 9 Dey sangat mirip dengan apa yang terjadi di awal sejarah Islam, dan serupa dengan saat bangsa Iran meraih kemenangan revolusi Islam. Di hari itu, rakyat melaksanakan apa yang menjadi kewajiban agama mereka, dan terjun ke tengah medan untuk mementaskan satu fakta besar yang berlawanan dengan apa yang dipropagandakan kubu fitnah. Rakyat menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintahan Republik Islam Iran yang menunjukkan kokohnya tekad dan keyakinan agama mereka.

Partisipasi luas rakyat di hari 9 Dey membuat kagum dan bingung media massa asing. Saat terjadi protes kubu anti pemerintah, media massa ini getol melaporkan aksi-aksi kubu ini secara langsung. Namun mereka lalai dengan aksi demo jutaan rakyat Iran yang membela negaranya. Media asing tidak menyangka bahwa rakyat Iran akan turun ke jalan-jalan membela pemimpin dan negaranya serta menyatakan penolakannya terhadap intervensi asing. Oleh karena itu, petinggi Barat berusaha menutupi aksi jutaan rakyat Iran membela negaranya.

Ayatollah al-Udzma Khamenei seraya mengisyaratkan propaganda keliru media massa asing terkait pawai akbar 9 Dey menandaskan, mereka dengan propagandanya secara tidak langsung telah mengakui kekuatan rakyat Iran, karena tidak ada negara dunia yang mampu menggerakkan rakyatnya sedemikian besar dan meminta puluhan juta rakyatnya turun ke jalan-jalan. Rahbar menegaskan bahwa 9 Dey bukan peristiwa kecil tapi sebuah gerakan besar rakyat yang akan terus hidup dan abadi seperti gerakan besar rakyat ini di hari-hari pertama revolusi Islam. Karena itu harus diusahakan, supaya pesan rakyat yang paling urgen dalam peristiwa ini terjelaskan dengan benar. Pesan itu, adalah bergerak di bawah naungan agama dan terwujudnya janji-janji Ilahi.

Pemimpin Besar Revolusi menyatakan bahwa Imam Khomeini telah melibatkan rakyat ke tengah medan. Ketika rakyat terlibat dengan berani, arif dan tindakan yang sesuai dengan keimanan, maka semua kesulitan akan teratasi dan hambatan sebesar apapun pasti akan tersingkirkan, berkat tekad rakyat.

(IRIB Indonesia)

About admin

Check Also

Ketika Kitab Ihya Ulumiddin Karya Al-Ghazali Diragukan Ulama

Abul Hasan Ali bin Harzahim pernah meragukan “Ihya Ulumiddin”. Ia sempat berencana membakar salinan-salinan kitab ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *