Saturday , September 22 2018
Home / Budaya / Filsafat / Fenomenologi Ketidaktahudirian

Fenomenologi Ketidaktahudirian

Mengapa ada orang yang tidak tahu diri? Pertanyaan ini menjadi penting di tengah pengajuan presiden dan calon presiden untuk Pilpres 2019 nanti. Fenomenologi mencoba mendekati keadaan sebagaimana adanya (zurück zu den Sachen selbst). Pendekatan ini kiranya penting untuk memahami sepak terjang politisi Indonesia sekarang ini.

Nuansa ketidaktahudirian tercium pekat di udara. Masa depan politik Indonesia pun dipertaruhkan.

Tidak Tahu Diri

Tidak tahu diri memiliki tujuh unsur. Pertama, ketidaktahudirian berakar pada ketidaktahuan (Unwissenheit). Orang yang tak sadar kemampuan, lalu berlagak untuk mengambil peran besar, akan menjadi orang yang tak tahu diri. Sayangnya, di Indonesia, banyak orang tak kenal dirinya sendiri, sehingga tak sadar pada kemampuannya. Mereka lalu berlagak di panggung politik untuk menjadi pemimpin yang penuh dengan omong kosong.

Dua, ketidaktahudirian berakar pada miskinnya pengalaman. Pengalaman yang diolah akan membuat orang menjadi bijak. Biasanya, orang-orang semacam itu akan hidup sederhana dan bersahaja, walaupun mereka bermutu dan kaya raya. Orang yang tidak tahu diri itu miskin pengalaman dan kebijaksanaan, tetapi berlagak untuk menjadi pemimpin masyarakat. Politik pun seolah menjadi panggung para badut yang tidak lucu.

Tiga, orang tidak tahu diri melajut pesat karirnya, karena ia pandai menjilat. Keutamaan tertingginya adalah kecerdikan merayu pada penguasa. Uang tentu memainkan peranan disini. Orang berusia muda, namun memiliki banyak harta, tak mungkin berakar pada bisnis yang patuh hukum. Ada permainan curang di belakangnya yang tertutup dari mata masyarakat luas.

Empat, orang tak tahu diri juga suka dijilat. Mereka memilih rekan kerja tidak berdasarkan pada kemampuan maupun integritas, melainkan dari seberapa lezat jilatan yang diberikan. Mereka menciptakan gang-gang mafia di berbagai tempat yang mengikis rasa keadilan dan kedaulatan hukum masyarakat. Dengan politik jilat menjilatnya, mereka mengangkangi semua nilai-nilai peradaban luhur.

Lima, orang tak tahu diri adalah orang yang takabur. Mereka ditipu oleh kisah sukses semu mereka. Kesombongan pun terpancar langsung dari tutur kata maupun tindakan. Padahal, kesombongan adalah pertanda awal dari sebuah kejatuhan.

Enam, selain takabur, ketidaktahudirian selalu bergandengan dengan kerakusan. Karena tak kenal dirinya sendiri, rasa hampa selalu datang menghantui. Rasa rakus tumbuh secara alami, dan berusaha dipuaskan dengan uang dan kekuasaan. Sayangnya, penderitaan tetap menghantui, dan rasa kosong di dalam hati tetap menggerogoti diri.

Tujuh, ketika diberikan kedudukan, orang-orang yang tidak tahu diri akan langsung menyalahgunakannya. Kekuasaan mereka tidak akan berkelanjutan, karena berpijak pada kerakusan dan kebutaan. Yang terjadi justru sebaliknya, kerugian moral, spiritual dan ekonomis akan langsung tercipta di dalam kepemimpinan mereka. Setelah 2017, kota Jakarta menjadi saksi langsung akan hal ini.

Mendidik Tahu Diri

Dua hal kiranya diperlukan, guna mencegah menyebarnya ketidaktahudirian. Pertama, unsur pendidikan yang bermutu amatlah penting disini. Bangsa kita sedang menuai akibat dari buruknya mutu pendidikan selama bertahun-tahun di era Orde Baru dan Era Reformasi. Tak heran, radikalisme agama, kesempitan berpikir dan ketidaktahudirian menyebar begitu luas.

Dua, politisi harus berperan di dalam memberi teladan yang baik bagi masyarakat luas. Ketika politisi bermuka dua, munafik, korup dan tak tahu diri, maka rakyat yang tak kritis akan melihat keburukan tersebut sebagai keutamaan. Ingatlah bahwa ikan membusuk dari kepala. Artinya, masyarakat membusuk dimulai dari kebusukan para pemimpinnya.

Mau sampai kapan kita membiarkan orang-orang tidak tahu diri berlagak menjadi pemimpin masyarakat dan bangsa?

 

About admin

Check Also

Tamparan Hamzah Fansuri untuk Kaum Feodal

Kami sajikan sebagian kecil karya penyair agung Aceh, Hamzah Fansuri, yang bertema kritik sosial. Yang ...